Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA35. Tuduhan


__ADS_3

"Saya tak tau, Pak. Cuma mereka lagi emosi dan bawa RT juga."


Givan panik mendengar kabar dari asisten rumah tangganya itu. Ia merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun, ia pun tidak memiliki sangkut paut hutang apapun pada Bank atau pihak lainnya. 


"Ya udah, Saya pulang sekarang." Givan mendadak bingung dengan anak-anaknya yang masih kecil. 


Karena istrinya tengah berkunjung ke rumah Izza dengan Chandra, jelas tidak ada yang menjaga anak-anaknya yang kecil. Namun, ia ingat jika beberapa saudaranya masih berada di sini dan berniat pulang esok. 


"Iya, Pak. Ditunggu, soalnya mereka tak mau disuruh pulang." Asisten rumah tangganya terdengar panik di sana. 


"Oke, oke." Givan langsung bergerak untuk menghampiri saudaranya. 


Ghifar yang tengah bersantai dengan anak-anaknya, menjadi sasaran utamanya. "Far, ikut Abang dulu. Aca mau tak ya jagain Cala Cali sementara, ada masalah di rumah." Givan tergesa-gesa mengenakan jaketnya. 


"Ayo, Bang. Ngasuh Ra aja mau, jangankan jaga sementara. Biar aku yang bilang ke Aca." Ghifar bergerak mencari keberadaan istrinya. 


Givan bersiap-siap dengan bergerak mencari anaknya yang telah dewasa. Zio diutus untuk tetap di sini, untuk menjaga anak-anaknya yang telah dewasa. Ia tidak mau anak-anaknya keluyuran tanpa penjagaan, pikirannya terlalu buruk untuk itu. 


"Udah, Bang. Ayo cepat berangkat." Ghifar menyampirkan jaketnya di bahunya. Ia berencana untuk mengenakan jaketnya, setelah ia mendapatkan remot mobilnya. 


Ia ingat jika udara terlalu menusuk di kampungnya, ia tidak mau esok nanti libur dari aktivitasnya karena badannya kurang fit. Mobil miliknya perlahan melaju meninggalkan halaman rumah yang masih terdapat beberapa bekas air mineral kemasan gelas yang berserakan. 


Sedikit kebingungan terjadi, kala ia mendapati keluarga Zuhdi di teras rumahnya. Ia sering menekankan beberapa kali, agar tidak mempersilahkan tamu masuk pada asisten rumah tangganya. 


"Ada apa ini?" Givan melangkah menaiki anak tangga menuju teras rumahnya yang cukup tinggi dari halaman rumahnya. 


"Tak begitu caranya, Bang!" Ardi terlihat begitu berapi-api. 

__ADS_1


"Cara apa? Aku tak punya masalah sama kau, sejak aku jadi pemenangnya." Givan masih mencoba rileks, dengan membuka pintu rumahnya lebih lebar. 


Kemudian, ia mempersilahkan dua orang laki-laki dari keluarga Zuhdi tersebut. Beserta, ketua RT di kampung tersebut. 


Ghifar mencoba memahami keadaan, dengan duduk di sebelah kakaknya. Ia khawatir kakaknya diserang dengan fisik, meski ia tahu itu tak mungkin karena adanya ketua RT yang menengahi mereka. 


"Gini, Bang Givan." Ketua RT mencoba membuka percakapan dengan cara baik-baik. 


"Ya, gimana?" Givan menoleh ke arah ketua RT dan ia mencoba memperhatikan setiap kata yang akan keluar selanjutnya. 


"Kejadian ini kurang lebih satu tahun yang lalu katanya, bang Chandra menodai anak perempuan Pak Rohan. Pak Rohan minta itikad baik dan diselesaikan secara kekeluargaan aja."


Meskipun ketua RT bertutur lembut, tetapi givan tetap terpancing emosi. Ia jelas tidak percaya dengan pernyataan tersebut, apalagi hal itu tidak disertai dengan bukti yang menyudutkan anaknya. 


"Saya tak mau diselesaikan secara kekeluargaan, lewat hukum saja, Pak." Karena ia yakin, anaknya tidak mungkin melakukan hal buruk itu. 


Permasalahan yang menyangkut Ceysa dengan Hadi kemarin, ia sengaja tidak mempersulit karena ia ingin anaknya segera hidup tentram dengan cucunya. Ia ingin anaknya bahagia, tanpa mempersulit keadaan anaknya. 


"Abang pengen anaknya merasakan hukum cambuk kek Abang?!"


Givan tidak mengerti dengan Ardi. Ia memiliki masalah dengan kakak iparnya Ardi, tapi Ardi yang terlihat begitu berapi-api. 


"Kalau anak Saya begitu, harusnya pacarnya udah rusak dari dulu. Pacarnya masih segar dan bugar. Kau pasti tau ciri gadis rusak atau tak." Givan mencoba tidak terpancing, agar ia tetap dihormati oleh pihak yang menuduh anaknya tersebut. 


"Bisa jadi dia rusak perempuan lain, daripada rusak pacar sendiri," timpal ayah kandung Sekar. 


"Logika dia tak mungkin bermain kek gitu. Anak Saya memang laki-laki, tapi dia berhati dan berperasaan. Lagian, untuk apa dia merusak dirinya sendiri dan membiarkan pacarnya tetap utuh? Pacarnya dapat jaminan dari dia, jelas dia berpikir akan banyak rugi jika ia berniat merusak dirinya sendiri tidak dengan kekasihnya. Logikanya pasti begitu, Saya bisa nebak sepak terjang anak Saya." Givan tidak terima dengan persepsi Rohan. 

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya dengan anak, Bang. Abang aja banyak mengecewakan orang tua. Abang tak sesuai harapan orang tua, Abang juga tak sesuai dengan kepercayaan orang tua ke Abang." Tersirat emosi Ardi dalam mimik wajahnya. 


"Untuk apa bahas masa lalu Saya? Toh, Saya pun sudah mencoba untuk berubah menjadi lebih baik." Givan tidak suka setiap ada orang lain membahas tentang masa lalunya. Ia tidak bangga sama sekali dengan masa lalunya, menurutnya hal itu harus dikubur dalam-dalam agar tidak mengganggu fokusnya yang terus memperbaiki diri. 


"Kalau begini, menurut Saya musyawarah ini tak akan pernah bener karena pihak terkait tak ada. Saya juga tak langsung percaya, dengan hal ini. Baiknya menurut Saya, silahkan anak perempuan Anda dijemput. Saya pun akan minta anak Saya untuk datang, biar mereka sendiri yang terus terang dan cari jalan keluarnya kalau memang kejadiannya begitu. Dengan Anda minta diselesaikan secara kekeluargaan, Saya juga paham Anda meminta pernikahan. Tapi terus terang saja, Pak. Saya tak pernah menghendaki pernikahan putra Saya dengan perempuan lain, kasian calonnya udah nunggu sepuluh tahun. Itu bukan hal yang mudah, itu bukan perjuangan yang gampang. Saya telepon anak Saya sekarang, silahkan Anda jemput anak Anda. Saya tunggu sekarang juga, kita selesaikan sekarang juga." Givan tidak ingin masalah ini berlarut-larut. 


"Saya juga sering dengar tentang tabiat Anda yang selalu lepas dari tanggung jawab. Saya juga tau, tentang anak-anak Anda yang lahir di luar pernikahan. Kalau anak Saya tak dapat keadilan, Saya yakin hal itu akan jatuh di anak-anak perempuan Anda!"


Jelas Givan langsung naik pitam, ia tidak suka dengan ucapan Rohan. "Kau tak punya hak untuk hakimi kesalahan orang! Kalau kenyataannya anak Anda sendiri yang udah rusak dari dulu gimana?! Kalau memang anak Saya sehina itu, Saya tak bisa kasih keadilan kalau memang anak Anda sudah rusak sebelum dengan anak Saya. Sebentar, Saya telepon anak Saya sekarang." Suara lantangnya sudah lepas terdengar sampai ke dapur. 


Asisten rumah tangga sedikit khawatir akan percakapan di depan. Ia khawatir akan jatuh korban, jika tidak ada majikan perempuannya di rumah. 


"Hallo, Bang. Pulang cepat! Ayah ada di rumah! Ada masalah di sini." Givan berbicara dengan ponselnya. 


"Iya, Yah." Chandra tidak tahu, jika masalah tersebut menyangkut tentang dirinya. Apalagi, ayahnya tidak memberitahukan apapun dalam panggilan telepon tersebut. 


"Ayo, Dek. Ikut yuk?" ajak Chandra pada kekasihnya. 


"Ada apa, Bang?" Canda bingung dengan ajakan anaknya itu. 


"Pulang, Biyung. Katanya, ada masalah di rumah." Chandra mengenakan hoodie-nya di luar kaosnya. 


"Oh, yuk." Canda langsung membenahi tas miliknya. 


"Nginep aja, Za. Nanti tidur sama Biyung." Canda pun tidak tahu ada masalah apa, ia pikir hanya masalah pekerjaan saja. 


"Oke, Biyung. Aku siap-siap dulu." Mood dan perasaan Izza sudah jauh membaik berkat obrolan Canda dan kedatangan kekasihnya. Namun, tidak tahu bagaimana perasaannya jika mendengar kabar buruk tersebut di rumah kekasihnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2