Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA144. Pembahasan serius bercanda


__ADS_3

"Ke mana aja kau? Dibeli berapa?" Ayah langsung memeluk Bunga, tapi pertanyaannya membuatku melongo. 


"Ayah sih!" Bunga menghentakkan kakinya ke lantai. 


"Tak bau p***, aman." Ayah mengusap-usap punggung Bunga, kemudian tersenyum lebar. 


Astaghfirullah, ayahku membuatku tepok jidat berkali-kali. 


"Ayah!!!" Bunga merengek dan menghentakkan kakinya lagi, sampai part belakangnya berombak. 


Ampun, ini perempuan. Mendadak keringatan aku karenanya. Ayah menunjukku, kemudian tertawa lepas. Herannya, matanya selalu saja menangkap momen konyolku yang turn on mendadak. 


"Sini, Dek. Makan dulu." Biyung langsung mengajak Bunga pergi. 


"Suruh mandi dulu, Dek. Baju dia ada di kamar depan." Ayah duduk bersamaku di sofa depan. 


"Udah makan aku, Biyung. Tadi minta bakso sama Bang Chandra," ujar Bunga yang tetap mengikuti tarikan tangan biyung. 


"Mantap, udah main kasih bakso aja." Ayah geleng-geleng kepala dengan melirikku. 


"Hai, Yah. Bakso makanan, makan di kedai bakso tadi. Bukan aku kasih makan dia biji aku." Sampai emosi aku. 


Tawa ayah lepas sekali. "Dikasih makan biji pulak." Ayah sampai mengusap wajahnya. 


"Ya memang maksud Ayah ke situ kan? Ayah tuh mikir aku jahat betul rupanya, mana pernah aku bawa dia makan biji-bijian." Rasanya aku ingin menyeruduk ayahku sendiri.


Karena apa? Karena ia malah tertawa saja melihat aku marah. 


"Hamtaro, dikasih makan biji-bijian." Ayah sampai terpingkal-pingkal. 


Salah pengucapan kah rupanya? 


"Tau ah! Ayah tuh bikin males aja!" Aku hendak pergi, karena bingung sendiri. 

__ADS_1


"Ehh, mau ke mana? Ayah belum nanya apa-apa, kok udah mau pergi aja?" Ayah melambaikan tangannya agar aku duduk di tempatku kembali. 


"Mau ke ladang lah, ada orang kerja di sana." Aku masih mengolah tanah, agar siap ditanami porang.


"Sini, duduk dulu. Serius nih, tak Ayah ledek. Ayah mau mode serius." Ayah langsung berpindah duduk di sampingku. 


"Apa?!" Aku melirik ayah sekilas. 


"Dia hubungi kau? Kau jemput di mana?" Ayah menggunakan suara pelan. 


"Siapa? Bunga maksudnya?" Aku memandang ayah dengan bersedekap tangan. 


"Ya iya! Ish! Anak Cendol memang kek cincau." Ayah menepuk pundakku cukup keras. 


"Aku jemput di terminal, Yah. Dia mau kabur, baru mikir tak punya biaya hidup. Jadi dia balik lagi deh." Aku menyingkatnya saja. 


"Tak berniat biayain dia? Jadikan dia peliharaan begitu?" Pertanyaan ayah ini menjebak, padahal aku tengah cerita saja apa yang Bunga sampaikan tadi. 


Bagaimana tanggapan ayah? Ia seperti digelitiki, tawanya sampai geli sekali. 


"Ketawa terus eh, heran aku nih." Aku hanya mampu geleng-geleng kepala. 


"Kocak gadis itu, ingat nenek Dinda caranya bergaul." Ayah meredam tawanya. 


Banyak yang bilang nenek Dinda seperti Bunga. Masa iya nenekku segaul itu di masa lampau, tapi cucunya tamatan pesantren semua. Hidup cucu-cucunya lurus-lurus saja, bahkan fokus di bidang pendidikan masing-masing dan langsung menikah. Maksudnya, tidak ada yang berulah atau sampai mengukir sejarah seperti Bunga. 


"Memang seru? Apa baiknya perempuan begitu?" Jujur saja, aku sering menganggap rendah diri Bunga. Tapi aku tidak pernah merendahkannya. 


"Damagenya bukan main insafnya seorang pendosa itu. Effortnya bukan kaleng-kaleng, apalagi kalau udah ingat Tuhannya. Ayah tak pernah menjodohkan kau sama dia juga, tapi kalau memang ada feel ya nikah. Biarpun dia pendosa, Ayah tak mau anak laki-laki Ayah punya beban selang*****n di akhirat nanti." Tatapan matanya dalam sekali, ayah menaruh harapan yang besar padaku. 


"Maksudnya, bisa setia tak? Takutnya aku, dia masih mainan laki-laki aja meski udah punya suami." tanyaku kemudian. 


"Bisa, malah lebih mampu. Tapi Ayah tak bisa menjamin semuanya sama, karena komitmen seseorang itu pasti beda-beda. Memang kau ada feel sama dia?" Telunjuk ayah sampai menyentuh perutku. 

__ADS_1


"Tak ada juga, Yah. Cuma ada bayangin, gimana modelan Bunga kalau udah punya suami." Aku hanya menganggapnya seorang teman dan adikku saja. 


"Ditunggu insafnya aja, kalau memang mau sih. Terus, dia gimana lagi tadi? Kenapa dia mau kabur?" tanyanya kemudian. 


"Soalnya tuh, Yah. Dia ini…." Aku melirik ke arah pintu penghubung, khawatir Bunga berdiri di sana. 


"Kenapa dia ini?" Ayah sampai berbisik-bisik. 


Aku geli sendiri mendapat tanggapan beliau, entah kapan seriusnya karena sejak tadi bercanda terus. Tapi katanya, mau ngobrol serius. 


"Berantem sama ibu sambungnya, karena ibu sambungnya tau kalau Bunga ini merokok. Kata Bunga sih memang bener ucapan ibu sambungnya itu, tapi penyampaiannya salah. Segala, dia malah diusir pas pulang kuliah tuh. Jadi, dia mau minta tinggal sama tante Ria aja. Aku bilang kan, pakcik Gavin tuh masih muda, bisa-bisa nanti dituduh ada main sama dia. Bunganya bilang, mau sama biyung tuh takut dituduh ada main sama aku. Dia tak mau tinggal di sana lagi, tapi dia pengen tetap di sini dan lanjutin pendidikan." Aku berharap semoga ayah memiliki jalan keluar. 


"Kau tak mau kah nempatin rumah kau?"


Kok ayah kesannya mengusir? 


"Ayah mau aku tinggal di sana? Aku kepengen diperhatikan dan diurus loh, Yah. Aku laporin juga biyung juga sekalian." Aku menyipitkan mataku. 


Rumah yang terkena ledakan itu memang sudah jadi, bahkan kak Jasmine sudah menempati kembali rumahnya seorang diri. Namun, Cala dan Cali terlanjur trauma. Meski beberapa kali bolak-balik ke trauma center, tapi mereka tetap kapok tinggal di sana. Mereka menempati kamar di rumah biyung, alhasil memang rumah berantakan tiada henti. Tetapi, ayah dan biyung mewajari hal itu dan tidak menyalahkan ART karena rumah tidak bersih-bersih. 


"Bunga aja kah suruh di situ?" Ayah terlihat tengah berpikir keras. 


"Apa bedanya? Tetap satu pagar, orang lain tak tau kebenaran yang terjadi di dalam pagar." Bunga muncul dengan pakaian yang sudah berbeda. 


"Ngagetin aja." Ayah mengusap-usap dadanya, karena memang ayah membelakangi posisi datangnya Bunga. 


"Di rumah nenek Dinda aja kah? Berani tak?" Mata ayah memperhatikan Bunga yang kini duduk di sofa single. 


"Kost pun tak apa, tapi kepercayaan ayah Ken ke aku itu terlanjur rusak. Jadi aku yakin, aku tak akan boleh untuk kost sendiri. Sedangkan, aku pun bingung untuk menyampaikan ke ayah secara baik-baik. Aku pun tak yakin bisa ngomong jujur ke ayah, tentang permasalahan yang sebenarnya. Maksud aku, dengan aku pindah ke kak Ria atau ke biyung kan. Aku bisa jadikan orang ketiga, untuk ikut beralasan ke ayah Ken. Setidaknya, orang ketiga bilang ke ayah biar aku sama dia aja gitu." Sorot matanya sedih penuh harapan. 


Bagaimana cara membantunya? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2