
"Kenapa sih tak berani bilang atas nama sendiri? Kenapa harus kata pakcik Gavin? Males Ayah, kalau sisi Cendol kau keluar." Ayah melirikku malas, kemudian ia memandang ke arah lain.
"Memang sarannya datang dari sana kok." Aku membela diri lah, kalau begini saja aku dibilang 'Cendol'.
Ampun sekali ayahku ini.
"Apa? Apa?" Ayah memandangku dari samping.
"Adik-adik suruh pakai sopir pribadi, aku disuruh bangun perusahaan minuman herbal ekstrak jahe. Pakcik Gavin minta kerjasama sama aku, Ayah," ungkapku kemudian.
"Ayah tanya nih, Yah! Kau harus jawab cepat!" Ayah mengetuk dahiku.
Meski saja begini jika pada anaknya.
"Apa, Yah?" Aku mencocol kembali roti kering ini, pada kopi yang sudah terhidang.
"Sanggup tak?!" tegas ayah kemudian.
"Tergantung keputusan Ayah aja, kan Ayah yang kasih modal."
Ehh, ayah malah tertawa dengan menjitak kepalaku.
"Ayah kira kau punya modal sendiri, Bodoh. Ayah lagi aja ini sih." Tawa ayah renyah sekali.
"Pakcik Gavin bilang, Ayah cover kok modalnya." Biar saja aku berlindung di bawah naungan nama pakcik Gavin, daripada aku dijitak lagi.
"Cover sih cover, cuma Ayah kiranya kau cuma butuh pertimbangan aja. Ayah sih oke aja, nanti kita cari tau bareng caranya. Soalnya Ayah belum pernah berkecimpung di olahan konsumsi begitu, Bang. Ikan pedih juga, barang mentah. Pupuk, tambang, material, kayu. Tak punya Ayah pabrik pengolahan susu, atau minuman bersoda, jadi harus punya wacana dulu tentang minuman ekstrak jahe itu. Kecuali, pakcik kau mau bantu. Dia pasti punya lah kenalan, atau wawasan tentang hal itu. Tapi kau bicarakan ke Nahda ya? Minta doa dari dia, misal ada niat untuk bangun usaha itu. Tapi kau udah pastikan kan, kalau porang aman sampai panen? Sebelum kau mulai usaha baru, ada baiknya telisik dulu usaha kau sebelumnya. Apa stabil, apa terkendali, apa ada sabotase, apa ada kecurangan? Pokoknya, kau terjun ke lapangan dulu untuk cek usaha kau yang lain dulu. Biar masa kau fokus ke usaha baru, tak tiba-tiba datang masalah dari usaha yang lama. Nanti kau bukan keteteran lagi, tapi kerepotan. Kek Ayah dulu baru adem pegang tambang lagi, udah harus mendadak punya istri, ditambah dikasih tanggung jawab dua usaha yang tak paham cara kerjanya. Itu titik kalap Ayah, titik repot Ayah, titik lelah Ayah. Mana biyung kau suruh minum pil KB, malah hamil duluan lagi." Ayah geleng-geleng kepala dan meratap sedih.
"Ya nanti aku bilang Nahda. Terus tentang sopir pribadi gimana, Yah?" Tentang itu belum selesai.
"Iya, sekalian antar Nahda. Biar kau fokus kerja, Bang. Nanti Ayah ambil mobil satu lagi, mobil pink untuk peranti Ra jajal arena, sama kendaraan Ayah. Mobil baru, untuk antar jemput para putri itu. Mobil keluarga aja, biar agak muatan banyak. Terus, permasalahan kau sama Nahda udah teratasi kah?" Ayah tersenyum jahil.
"Belum ada pergulatan lagi, dia ada lecet keknya. Orang baru, pengennya rutin aja, Yah. Agak ngeri juga aku ini sama istri sendiri, khawatir aku keluar angin."
Ayah tertawa lepas mendengar penuturanku.
"Pakai sarung, biar agak tahan lama." Hanya itu saran ayah, mungkin sudah habis tips darinya juga.
Yang jelas, aku pun pasti akan mencoba semua saran dari orang-orang terdekatku.
Tiba malamnya, ia benar-benar mau tertunduk di bawah sana. Namun, aku langsung menggap-menggap dengan servis darinya.
__ADS_1
"Aduh, kata siapa caranya begitu?" Aku menahan wajahnya, sedangkan milikku tengah berdenyut keenakan.
Padahal ia perawan, mak. Pandai sekali cara servisnya.
"Kata mama sih, sakit ya sampai meringis gitu? Padahal, tak kena gigi kok." Ia memamerkan gigi putih kinclongnya.
"Ya ampun, Adek minta belajar ke mama?" Aku menarik lengannya, agar ia menghentikan aktivitas itu lagi.
Baru tiga kali bergerak menyelam di mulutnya, aku sudah menggap-menggap tak karuan.
"Tak minta belajar, mama kasih tau aja. Katanya, sapu bagian bawah kepala. Terus, basahi bibir dan langsung makan cepat tanpa kena gigi."
Orang suhu yang ngajarin, anak muda kemarin sore sepertiku langsung gelapakan.
"Yang santai aja tuh, jangan cepat langsung kedalaman sangat." Masalahnya, aku akan kalah.
"Abang bilang dulu, Abang kenapa? Apa yang Abang rasain?"
Ya apalagi coba?
"Enak, Nahdatillah." Aku berkata dengan menghela napasku.
"Kok menggap-menggap?"
"Ya enak sekali, Adek aja keenakan sampai ribut aja." Ia seperti tidak merasakan sendiri sensasinya.
"Ya kan aku perempuan." Ia hendak menunduk lagi, tapi segera aku cegah.
Dikiranya, jika laki-laki tak boleh keenakan kah?
"Udah, Dek. Sini gantian aja." Aku merebahkan tubuhnya.
Lebih baik aku yang mengalah, daripada aku yang K.O duluan.
"Tapi, nanti aku dikasih izin untuk gerak ya?" Dengan suka rela, ia membuka kakinya.
Surga pasti untukmu, istriku. Semoga, aku tidak mendapatkan neraka karena tak bisa memenuhi kebutuhan batinnya.
"Iya, yang santai aja." Aku mulai bekerja.
Hingga pada di masanya, Nahda berulah lagi. Miliknya tiba-tiba hidup, seperti ada alatnya. Aku sampai berceceran, heboh keenakan dan meraung tak tertahan.
__ADS_1
Mama Aca keterlaluan mengajari anaknya, aku yang kalah telak. Bahkan sekarang, Nahda tidak mau turun meski milikku sudah lemas di dalamnya.
"Abang, aku belum meledak." Ia merunduk dan membelai wajahku.
"Mati Abang, Dek." Mataku sampai berair.
Sejak tadi aku menahan sampai air mata tak tertahankan, gugur juga akhirnya.
"Jangan sih, Abang. Kan baru nikah." Nahda menciumi pipiku.
"Istirahat dulu sepuluh menit, Dek. Abang usahain lagi nantinya." Biasanya sih selalu berhasil, meski akhirnya lututku terasa seperti keropos.
"Tapi aku udah tinggi, udah tanggung, Bang."
Ya ampun, bagaimana ini?
"Ya udah turun, pakai ini ya?" Aku menunjukkan jariku.
"Tak mau, kurang besar, tak enak." Ia malah merajuk dengan menuruniku.
Mengsedih, katanya tidak besar jariku.
"Kan dua." Sebelumnya, memang belum pernah sih.
Maklum lah perawan, rugi sekali jika rusak karena jari.
"Tak mau, Abang. Udahlah, tidur aja!" Ia langsung memunggungiku.
Jangan sampai aku benar-benar tidur jika begini.
Airku benar-benar berceceran di mana-mana. Bukan cuma di area milikku, tapi sampai tumpah ke sprei.
Ia istri yang baik, yang cekatan, yang rapi dan yang rajin. Pekerjaan rumah selalu beres, makanan aman, meski ada drama order. Ia akrab dengan keluargaku, aku pun akrab dengan keluarganya. Di ranjang pun oke, malah kelebihan. Mungkin satu permasalahan rumah tangga kami, yaitu aku tidak bisa menandinginya.
"Abang bangun!" Ia bersuara tinggi dan langsung menghadap padaku.
Ya ampun, kaget sekali.
"Bujuk aku! Bukan malah tidur beneran!!!" Ia merengek dan mendorong-dorong tubuhku.
Aku jadi terkekeh geli. Ia pun istri yang suka terus terang, terbuka segala-galanya. Ngambek pun, minta dibujuk sendiri.
__ADS_1
"Jadi, Abang harus gimana nih?" Aku merengkuh pinggangnya untuk lebih dekat.
...****************...