Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA58. Dalam misi


__ADS_3

Izza melongo saja, saat suaminya datang dengan sekarung umbi-umbian. Chandra hanya melirik istrinya, kemudian ia tertawa bersama lagi dengan para saudaranya dengan mengangkat karung tersebut. 


"Di rumah nenek aja yuk? Malam ini kita nginep di sana, kan enak kek kita kecil dulu," ajak Key dengan merangkul suami Izza dan Zio. 


"Tak lengkap tapi, Kak." Chandra diam tanpa perlawanan, saat lehernya dikunci untuk tetap di rangkulan tangan kakaknya. 


"Tak apa, seadanya aja." Key melepaskan rangkulannya dan tersenyum lebar pada kedua adiknya secara bergantian. 


"Oke."


Mereka langsung sibuk mempersiapkan acara semalam, sedangkan Izza bingung ingin melakukan hal apa untuk membantu mereka. Mengawasi anak-anak? Para anak-anak pun bahu membahu merasakan kerepotan yang ada. Sedangkan, Izza merasa sudah tidak ada pekerjaan lagi untuk ia bantu. 


"Dek sini." Chandra mengajak Izza yang tengah duduk bingung di teras rumah suaminya. 


Izza mengangguk, karena hari sudah semakin malam dan penghuni rumah sudah berpindah berkumpul ramai-ramai di rumah pusaka yang jarang ditempati tersebut. Mereka tidak berniat meratakan rumah tak berpenghuni ini, karena kenangan mereka tumbuh ada di sekitar rumah ini. 


Mereka pernah berpikir, agar cucu-cucu dari orang tuanya menempati rumah itu saja. Tapi ia khawatir anak-anak mereka tidak terkontrol jika jauh dari pengawasan mereka. 


Izza tersenyum, kala halaman rumah itu begitu terang dengan api unggun dan orang-orang yang berbahagia. Ia pun amat senang, karena suaminya senantiasa menggandeng tangannya. 


"Bang, jemputin kak Jasmine sama bang Vano tuh," pinta Canda membuat gandengan tangan Chandra pada istrinya terlepas. 


Seketika itu, Izza menghela napasnya karena suaminya kembali pergi meninggalkannya di tengah-tengah keluarganya. Bertambah kesalnya saja, karena keluarga tersebut tidak menyambutnya dan membawanya ikut berpartisipasi. Mereka semua sibuk sendiri-diri, dengan aktivitas mereka masing-masing. 


Izza merasa ia sendirian, di dalam keramaian tersebut. Ia merasa, keluarga tersebut benar-benar tidak terlihat seperti awal ia masih menjadi calon menantu dan calon anggota keluarga baru mereka. 


"Assalamu'alaikum…" Chandra berseru di depan rumah Jasmine. 


"Wa'alaikum salam." Vano membukakan pintu untuk Chandra. 


Chandra mengerutkan keningnya, ia bingung karena melihat kakak iparnya tersebut sudah mengenakan helm. "Mau keluar, Bang? Sama kak Jasmine?" tanyanya cepat. 


"Mau kerja, Sabtu malam sih biasa cek laporan."


Chandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bertanya-tanya, apa memang seperti itu bekerja di dalam mall? 

__ADS_1


Dering ponsel Vano yang berbunyi lirik, tetap terdengar di telinga Chandra. Vano yang buru-buru pergi, semakin menarik kecurigaan Chandra. Bahkan, Vano mengangkat panggilan telepon itu setelah cukup jauh dari jarak Chandra. 


Barulah, kakaknya muncul. Jasmine terlihat lesu, karena kehamilan barunya itu.


"Ehh, Kak." Chandra memalingkan wajahnya pada Jasmine dan tersenyum. 


"Kenapa, Bang?" Jasmine pun terbiasa memanggil Chandra seperti itu sejak kecil. 


"Ke sana yok? Bang Vano kerja katanya. Dari pada di sini sendirian, abu sama ma pun di sana. Ramai betul loh." Chandra langsung menarik pergelangan tangan Jasmine. 


"Samarasa, Bang. Kakak di rumah aja deh." Jasmine melepaskan cekalan tangan Chandra. 


"Di sana aja istirahatnya. Takut ada apa-apa kalau sendirian di sini, soalnya orang-orang pada nginep di rumah pusaka semua." Chandra khawatir, jika jasmine tidak terkontrol oleh keluarganya. 


"Eummm…" Jasmine terlihat menimbang-nimbang ajakan adiknya itu. 


"Udah ayo." Chandra setengah memaksa. 


"Iya udah deh, tunggu ya?" Jasmine kembali masuk untuk mengambil ponselnya. 


"Mana suami kau?" Givan sudah menebak bahwa menantu laki-lakinya itu tidak akan ikut meramaikan kebersamaan mereka. 


"Kerja, Yah," jawab Jasmine dengan tertunduk. Ia malu pada ayahnya, karena suaminya sibuk sendiri saja. 


"Baru pergi?" Givan ingin sekali tahu gerak langkah suami jasmine dengan matanya sendiri. Jika memang benar-benar bekerja, Givan akan bersyukur karena menantunya adalah seorang pekerja keras. Namun, jika sebaliknya. Givan akan langsung membicarakan ini dengan anaknya, karena ia tidak mau anaknya berlarut-larut ditipu oleh suaminya sendiri. 


"Iya, Yah. Tadi pas aku datang, dia pergi," jelas Chandra kemudian. 


"Ya udah, sana kau duduk sama Izza tuh." Givan menunjuk menantu barunya. "Kau sama Izza jangan banyak aktivitas, kau ingat bayi kau, ingatkan Izza kalau dia pun lagi pemulihan." Givan mengusap pundak anak asuhnya. 


"Iya, Yah." Jasmine melangkah ke arah Izza. 


"Bang, dengerin Ayah." Givan merangkul anak laki-lakinya itu. 


"Gimana, Yah?" Chandra langsung dalam mode serius. 

__ADS_1


"Bawa motor, ayo kita pergi ke mall tempat Vano kerja." Givan cenderung berbisik. 


"Serius, Yah?" Chandra tidak menyangka, dirinya akan terlibat dalam misi. 


"Serius, Ayah banyak curiga. Takut suudzon, tambah dosa nantinya. Ayah ke rumah dulu, ambil motor, helm dan jaket. Jaket kau di mana? Biar Ayah ambilkan sekalian. Izin ke Izza dan bilang ke biyung, bilang aja ada kerjaan mendadak di luar, Ayah butuh bantuan kau gitu." Givan menepuk pundak anaknya dan ia berlalu pergi dengan langkah cepat. 


"Siap, Yah. Jaket aku ada di belakang pintu kamar tamu." Chandra berbalik badan dan menghampiri istrinya lebih dulu. 


Ia melihat istrinya sedang mengobrol dengan Jasmine, mereka hanya duduk dengan memperhatikan aktivitas semua orang. Izza tidak tahu akan membantu apa, karena semua orang menolak tenaganya. 


"Dek, aku diminta ikut ayah sebentar. Ada kerjaan mendadak. Nanti tidur di rumah ini aja, nanti bareng sama kau ya, Kak? Barangkali aku lama gitu." Chandra memandang kedua perempuan yang ada di hadapannya itu bergantian. 


Izza menginginkan malam romantis bersama suaminya kembali. Tapi, suaminya rupanya memiliki urusan yang lebih penting dari malam-malam pertama mereka. 


"Oke, siap." Jasmine tersenyum lebar. 


"Sama Kak Jasmine ya, bareng? Aku tak tau lama taknya, tapi kau tau usah tunggu aku." Chandra tersenyum lebar pada istrinya. 


Izza mengangguk, meski ia setengah mengizinkan. "Ya, Bang. Ati-ati ya?" 


"Oke, aku ke biyung dulu." Chandra langsung berlalu menghadap ibunya. 


Di bayangan Izza, Chandra sedikit romantis seperti hubungan ayah mertua dan ibu mertuanya. Di mana ibu mertuanya yang selalu berpegangan pada suaminya, dengan suaminya yang sering mencium pucuk kepala istrinya. Hal kecil yang dilakukan oleh mertuanya itu, membuatnya iri karena ia tidak seperti itu. 


"Mana ayah kau? Kenapa kau yang minta izin, Biyung jadi curiga." Canda mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya. 


"Lagi ambil motor, Biyung." Chandra paham, jika ibunya banyak curiga pada ayahnya. 


Bukan sekali dua kali, ibunya ribut dengan ayahnya ketika ayahnya akan pergi tanpa ibunya itu. Chandra tidak tahu sejarah apa, yang membuat ibunya kini ingin selalu mengerkori ayahnya. 


"Mana? Kau diminta tunggu di mana? Izin kok nyuruh anak?" Canda mulai kesal. 


"Di depan pagar." 


Canda langsung melangkah ke depan, meninggalkan pekerjaannya itu. Ia harus benar-benar memastikan, jika suaminya pergi untuk bekerja. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2