
"Siapa yang sakit?" Kenandra memasuki rumah Givan.
"Pengantin baru." Givan menunjuk kamar tamu.
Ia tetap duduk di sofa tamu, dengan memangku cucunya yang dititipkan karena anaknya tengah melakukan ibadah sholat Dzuhur. Kaleel begitu anteng bermain ponsel milik kakeknya itu, anak itu bisa anteng hanya dengan bermain ponsel.
"Waduh, waduh. Ngelembur rupanya." Ken masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Givan.
Izza masih tetap memejamkan matanya, ia sudah muntah-muntah parah sejak di meja makan tadi. Chandra bingung bercampur kalut, melihat istrinya begitu pucat dan lemas.
"Begadang, Bang?" Kenandra ingin memastikan keadaan Izza sebelum diperiksa.
"Tak, Pak Wa. Telat makan, sedangkan dia selalu disiplin makan." Mendengar penjelasan keponakannya, Kenandra merasa ada kejanggalan.
Karena, jika hanya telat makan tidak sampai seperti ini. Kecuali, ada penyakit penyerta. Penyakit penyerta pun tidak akan begitu terlihat parah, jika hanya telat makan satu kali saja.
"Berapa kali telat makannya, atau ada makan makanan yang pedasnya kelewat batas ketahanan?" Kenandra mulai mengeluarkan peralatan medisnya.
"Satu kali siang ini, tak makan pedas kok." Chandra memberi tempat untuk Kenandra bisa memeriksa istrinya.
"Maaf ya?" Kenandra menyentuh perut atas Izza.
"Ada muntah?" Kenandra menggantinya dengan stetoskop.
"Ada," jawab Izza lirih.
"Udah tiga kalian, Pak Wa. Baru makan sesuap aja, keluar semua," tambah Chandra dengan memperhatikan istrinya yang tengah diperiksa.
"Sebelumnya punya riwayat sakit maag?" Kenandra mewawancarai, semata-mata agar tahu pasti penyebab utama yang membuat Izza dalam kondisi seperti ini.
"Punya, tapi terakhir kampuh itu kelas tiga SMA," terang Izza kemudian.
"Puasa lancar kan?" Kenandra menekan kembali perut Izza, ternyata perut itu benar-benar kosong.
"Lancar," jawab Izza kemudian.
__ADS_1
Kenandra menggunakan logikanya, tidak berpuasa tapi membiarkan perut tetap kosong? Rasanya, itu bukan sifat dasar manusia sekali. Bahkan tidak lapar, melihat makanan, manusia mendadak menjadi lapar.
Canda masuk ke dalam kamar, hal itu menjadi perhatian Kenandra. Ia tidak mau salah memberi obat, meski efek negatifnya kecil ditimbulkan. Namun, tentu tidak efektif untuk membantu Izza agar lekas membaik.
"Tinggal di sini mereka, Canda?" Kenandra masih memperhatikan Canda yang terlihat khawatir itu.
"Tak, Bang. Di rumah Chandra, tapi memang belum ada apa-apa. Maksudnya tuh, perkakas, alat dapur ya belum ada. Jadi ikut gabung makan di sini." Canda melangkah lebih dekat ke ranjang Izza.
"Ohh…" Kenandra menyimpulkan sesuatu.
Ia memperhatikan Izza kembali. "Kau tak perlu obat, tapi kau jangan banyak pikiran. Olah stress kau, Dek. Maag tak kambuh hanya satu kali telat makan, buktinya masa puasa aja kau lancar katanya. Jangan dibuat pikiran tuh, lapar makan, haus minum. Pengen jajan ini, beli. Pengen jajan itu, beli. Itu perut kosong betul, terakhir makan jam berapa?"
"Jam setengah delapanan." Izza memperhatikan orang-orang yang masuk ke kamar tamu tersebut.
"Ya iya, pantes. Minimal dua jam sekali, ada makanan masuk. Tak harus makanan berat, cemilan atau apa gitu. Kan tak lagi puasa juga, lain ceritanya kalau memang lagi puasa. Coba ambilkan air hangat yang cenderung panas aja, Bang. Sering-sering meludah dulu ya? Sampai enakan perutnya. Minum air panas lagi, kalau udah mending langsung makan sedikit. Perut udah lega sedikit, lanjut makan lagi. Kalau saran dari Pak Wa tak berhasil, nanti telepon Pak Wa lagi. Atau gini aja deh, Pak Wa tungguin." Kenandra tersenyum ramah dengan menunjukkan ibu jarinya.
"Itu maag bukan sih, Pak Wa?" Chandra bangun, hendak mengambilkan apa yang dibutuhkan Izza.
"Ya udah apa aja, yang penting sembuh. Kata Pak Wa sih bukan, itu lapar ditahan, jadi kan efeknya tak enak di peut. Ditambah dengan dia stress, jadi mau makan tuh kek hilang n**** makan. Keburu sesak tuh, keburu kesal." Meski Kenandra tidak mengerti pasti, tapi Kenandra menyimpulkan sesuai ilmu yang ia miliki.
Chandra muncul, ia berniat mengambil air hangat untuk istrinya. "Kok aku, Yah? Orang Izza yang tak makan." Chandra merasa heran, karena ayahnya malah menyalahkannya.
"Ya iyalah! Kau tak mampu ngenyangin perut istri kau." Givan melirik sinis anaknya, dengan cucunya yang masih anteng di pangkuannya.
"Kau kasih dia uang tak hari ini? Kau kasih dia uang untuk belanjanya tak? Pela*** aja selesai bertugas, dikasih upah. Istri, malah suruh cari makanan sendiri di rumah orang tuanya. Hei, Ayah aja tak pernah makan ambil sendiri, waktu habis nikah di Solo sana. Dua hari di sana, ya disajikan. Itu terlepas dari menantu laki-laki atau perempuan, tapi kan kita yang jadi mantu itu sungkan. Pikiran kau sama Biyung kau sama aja! Jangan sungkan, tinggal ambil aja. Tak bisa begitu, Chandra! Apalagi kau sendiri tak ngajak." Omelan ayahnya, membuat Chandra berhenti melangkah.
"Kok Ayah nyalah-nyalahin aku aja!" Chandra berbalik badan.
"Ambilkan air hangatnya dulu, Bang," seru Kenandra yang melangkah keluar dari kamar tamu tersebut.
Chandra langsung berbalik badan kembali, kemudian ia berjalan ke arah dapur. Pikirannya berkecamuk, karena ayahnya tiba-tiba memarahinya padahal itu adalah kesalahan istrinya menurutnya.
Kenandra duduk di sofa tamu, ia mencolek cucu Givan yang anteng di pangkuan Givan. Namun, Kaleel kembali tertunduk fokus ke ponsel tersebut.
"Suruh masak bareng, kalau udah selesai suruh dibawa ke rumah aja tuh, Van. Sementara, sampai punya barang-barang. Ditambah mereka pengantin baru, pasti butuh tenaga ekstra. Paling nanti aku resepkan multivitamin aja, untuk menjaga daya tahan tubuhnya." Kenandra berbicara lirih.
__ADS_1
"Iya, anak akunya yang memang Cendol betul. Tak ada nyadarinnya tuh, mesti aja dijabarin satu persatu. Jadi curiga, apa itu penyebabnya sampai Yang Kuasa mundurin terus pernikahan mereka? Yang Kuasa kasihan sama Izza, karena harus dapat Chandra yang begitu." Givan memendam kekesalannya, karena respon anaknya yang tidak mau disalahkan tadi.
"Pa…" Kaleel turun dari pangkuan Givan.
"Pa…," teriaknya dari teras rumah Givan.
Ia mendengar dan hafal suara motor ayahnya, ia terus memanggil-manggil ayahnya meski ayahnya sudah menyahutinya.
Kenandra turun, ia memiliki keperluan dengan Fa'ad. "Mau keluar lagi kah? Pak Wa mau ada perlu." Kenandra menahan bahu Kaleel.
Fa'ad berjalan ke teras rumah mertuanya, kemudian ia mencium tangan Kenandra. Di usia tiga puluh tahun, ia sudah mampu menjadi dosen dan membiayai kehidupan anak istrinya dengan penghasilannya sendiri.
"Tak, mau makan aja. Iya nanti aku tunggu di rumah, Pak Wa." Fa'ad tersenyum ramah dengan mengangkat tubuh anaknya.
"Pa…" Kaleel begitu girang, dengan bertepuk tangan.
"Iya, Sayang. Mam belum? Bobo belum?" Fa'ad membawa anaknya melongok ke dalam ruang tamu ayahnya.
Melihat urat wajah ayah mertuanya, ia sudah paham bagaimana suasana hati ayah mertuanya sekarang. Namun, Fa'ad tetap masuk untuk mencium tangan ayah mertuanya.
"Key lagi sholat, udah dari tadi sih. Mungkin sekalian beres-beres rumah." Givan memasang wajah datar, mencoba tidak emosi pada orang yang tidak membuatnya marah.
"Iya, Yah." Fa'ad membawa anaknya keluar dari rumah orang tuanya lagi.
Givan teringat akan Vano, suami jasmine. Vano begitu berbeda dengan Fa'ad, berbanding terbalik.
"Bunga tuh tak diterima di universitas negerinya. Telat tak ya, untuk daftar ke tempat Fa'ad ngajar?" Kenandra masuk kembali ke dalam rumah Givan.
"Bisa aja. Seumuran Ceysa ya? Ceysa gelarnya udah berlipat-lipat, teman-teman seumurannya baru pada masuk." Givan menoleh sekilas padan anaknya yang kembali dengan membawa segelas air dan sepiring makanan.
"Heem, baru masuk." Kenandra menghempaskan kembali alas duduknya di sofa.
"Pak Wa, sini dulu," seru Chandra dari dalam kamar.
...****************...
__ADS_1