
"Udah tidur anak kau, Dek?" Givan menghampiri Ceysa yang berada di kamarnya.
"Iya tidur, Yah. Di pesawat tadi melek aja sama Hadi." Ceysa menepuk-nepuk paha anaknya yang terlelap di atas ranjang milik orang tuanya.
"Ya udah, sini keluar. Pintu kamarnya dibuka aja, biar kedengaran suara tangisnya." Givan memilih ruang keluarga, yang lebih dekat dengan kamarnya.
"Iya, Yah." Ceysa menempatkan beberapa bantal di dekat bayinya.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga, mereka saling memandang menunggu Givan membuka suaranya. Givan pun masih menimang dan menyaring ucapannya, ia khawatir ucapannya melukai hati anaknya.
Ia menghela napasnya, kemudian merangkul Ceysa yang duduk di sampingnya. "Kuat ya anak Daeng?" Givan mengusap kepala Ceysa.
"Tapi capek, Yah." Ceysa terisak, kala teringat akan perjuangannya kemarin. Hanya kakaknya, yang menjadi penyemangatnya. Hanya kandungannya, yang membuatnya bertahan untuk tetap menjaga kuat.
"Kau lahiran normal?" Givan menekan kelopak matanya, ia begitu tidak terima dengan keadaan ini.
"Sesar, Yah. Tiga hari aku nunggu pembukaan, diinduksi tak ada kemajuan." Ceysa teringat susahnya dirinya saat melahirkan anak Hadi.
"Ya ampun, Nak." Isakan lirih Givan terdengar. Ia langsung memeluk Ceysa erat, agar air matanya tidak terlihat oleh orang lain.
"Lukanya masih baru, Yah. Hari ini, hari kesebelas dari waktu sesarnya. Waktu dia pulang, dia baru tujuh hari dari waktu dia disesar," jelas Chandra kemudian.
"Kau nekat pulang, Dek?" Givan membingkai wajah anaknya.
"Ayah marah terus." Ceysa menyeka air matanya.
"Karena kau tak pulang-pulang, Dek. Ayah tak tau kalau kau pasca sesar. Sekarang luka kau gimana?" Givan melepaskan tangannya dari rahang anaknya.
"Baik, Yah. Masih linu aja, masih sakit kadang-kadang." Ceysa meraba perutnya.
"Nanti siang kita cek ya?" Givan menelan ludahnya, mencoba menetralkan suaranya yang terdengar menyedihkan.
Ia merasa tidak berwibawa, jika terlihat begitu cengeng seperti ini. Ia hanya begitu merasa terluka, kala nasib anaknya tidak beruntung ditambah penuh perjuangan. Belum lagi cucunya lahir di luar pernikahan. Ia berusaha anak-anaknya menikah cepat, agar tidak kejadian hal-hal yang seperti ini.
"Iya, Yah." Ceysa mengangguk dan tertunduk.
Givan menoleh ke arah kamarnya, untuk melihat kondisi cucunya. Ia melihat wajah bayi tersebut dari kejauhan, bayi itu terlelap pulas di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Jadi Dayyan baru sebelas hari?" tanya Canda kemudian.
Chandra mengangguk. "Iya, Biyung. Emang bantet badannya, kek Hadi kecil." Chandra melirik ke arah calon adik iparnya.
"Cucu kakek Adi loh, bantet-bantet gitu." Givan meledek menahan tawanya.
"Aku tinggi, Bang." Hadi membela dirinya.
"Iya sekarang, karena sekolahnya jalan kaki terus." Chandra terkekeh geli meledek Hadi kembali.
"Kek kau tak sama aja?!" Giska tidak terima, anaknya diledek terus menerus.
"Tak lah." Tawanya lepas begitu puas.
"Sekarang gini, Di. Kau sanggup kah emban tanggung jawab untuk Ceysa dan Adib? Ayah tak maksa kau harus nikahin…." Givan belum menyelesaikan ucapannya, tapi langsung terpangkas oleh sahutan Hadi.
"Nikahin sekarang, Yah." Ia terlihat begitu memaksa.
"Maksud Ayah, kau sanggup kah kasih makan mereka?" Zuhdi memperjelas maksudnya.
Hadi memandang ayahnya. "Hadi bisa kerja sama Ceysa, Bu."
"Di, ini bukan rumah-rumahan waktu kau kecil dengan kemahnya Saya yang buat," timpal Keith kemudian.
Givan menunjuk Keith. "Setelah ini, aku mau ada ngobrol sama kau."
Keith mengangguk mengiyakan. "Siap."
"Memang Ayah tega lihat Dayyan besar tanpa ayah? Lihat Ceysa besarkan anaknya tanpa suaminya?" Bukan maksud Hadi untuk menentang, hanya saja ia ingin orang tua tersebut mengerti keadaan mereka.
"Sebenarnya ada apa?" Givan mulai menyudutkan Hadi.
"Maksudnya gimana, Yah?" Hadi berkedip rapat.
"Jujur aja, di sini juga orang dewasa semua. Pasti semuanya bijak dan paham tentang cerita dari kau. Kau terus terang aja, biar Ayah terima. Sejujurnya, kau memang dari dulu udah sering melakukannya kah sama Ceysa? Ayah berpikir, kau selalu main dokter-dokteran dan akhirnya ke arah dewasa." Givan berkata perlahan, agar anaknya tidak tersinggung.
"Mana ada, Yah. Aku di sini, Ceysa di Singapore. Aku tak mungkin transfer sentuhan, terus Ceysa download sentuhan aku di sana." Hadi terlihat tegang saat mulai disudutkan.
__ADS_1
"Kan kau pernah liburan ke sana beberapa kali." Givan terus mengamati gelagat Hadi.
"Iya! Tapi memang tak ada aku gitu-gituin Ceysa, Yah." Hadi tidak suka dirinya dituduh seperti ini.
"Laki-laki itu tak alim dan polos seperti kelihatannya, Di. Ayah tau kalau kau pun laki-laki normal." Givan semakin mengintimidasi Hadi.
"Iya, Yah. Betul." Ceysa menambahi, karena ia suka melihat ekspresi tertekan Hadi.
Ia pun menahan tawanya, dalam memojokkan Hadi. Apalagi, saat Hadi memasang ekspresi tidak percaya akan ucapan Ceysa.
"Ceysa kan tau sendiri? Jangan iya yah, iya yah aja." Hadi kalap karena Ceysa seolah tidak mempercayainya.
"Kan Hadi berkali-kali." Ceysa dan Hadi seperti anak kecil yang tengah berdebat.
Hadi meraup wajahnya, ia tidak enak sendiri karena mendengar ucapan frontal Ceysa. Ia ingin menjelaskan pun sulit, karena ia kebingungan untuk mendeskripsikan rasa yang ia rasakan saat itu.
"Tuh kan?" Givan memicingkan matanya pada Hadi.
Hadi terpojokkan. "Yah, rasanya tuh kek mimpi gitu loh. Tapi gerah betul, kek mimpi pas lagi sakit demam. Keringat aku di mana-mana."
Givan mulai memahami gambaran dari Hadi. "Terus?" tanyanya dengan fokus pada Hadi.
"Pusing, gatal di permukaan kulit. Jadi kek kena kutu gitu, gatalnya gak jelas titiknya di mana," tambah Hadi kemudian.
Givan mengangguk. Ia mulai mengerti, ke mana arah yang Hadi rasakan saat itu.
"Memang kau tak punya kuasa untuk nolak? Memang kau tak bisa tahan? Memang kau tak dapat perlawanan dari Ceysa?" Pikiran lelakinya, Givan berpikir bahwa anaknya pun menikmati sentuhan Hadi.
"Aku ada cakaran di dada, di rusuk, di bahu pas besoknya. Kek mimpi gitu, Yah. Kek tubuh ini sat-set gitu untuk ngelakuin sesuatu." Hadi tengah mencoba menyampaikan bahwa dirinya antara sadar dan tidak sadar.
"Kau tau itu Ceysa kan? Kenapa esoknya kau tak ada nanya Ceysa, atau datang ke Ayah untuk kasih pertanggungjawaban atas perbuatan kau ke Ceysa?" Givan semakin memojokkan Hadi.
"Tuh…." Hadi mengedarkan pandangannya pada beberapa orang secara bergantian. "Aku tak tau siapa lawan main aku masa itu. Pagi-pagi bangun, udah tak jelas pakaian ini. Badan sakit semua, pipis sakit, beberapa badan perih karena luka. Belum lagi kepala pengar, mata pedas puyeng," akunya kemudian.
"Loh? Memang kau tak bisa melek?" Givan pernah merasakan mabuk dan pernah merasakan panasnya obat perangsang waktu ia mengumbar keliarannya bersama ibu kandungnya Key.
"Melek juga gelap. Cahaya flash temaram ngarah ke tembok, malah silau mata aku. Jadi merem aja."
__ADS_1
Givan menyimpulkan bahwa lampu sengaja dimatikan. Ia menoleh ke arah anaknya, korban sadar yang kini Givan curigai bahwa anaknya tak sepolos kelihatannya.
...****************...