Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA195. Genjer


__ADS_3

"Ya Allah, Yah. Tengok itu, kek dik**** perempuan." Bekas cubitan Ra merah seperti bekas c******n.


"Udah! Ayah yang tau, nanti kalau biyung negur biar Ayah yang jelasin." Ayah menarik kaosku yang aku sibak ke atas. 


"Nakal betul kau ya?! Awas aja kau! Abang laporin juga ke papa sama mama!" Aku mengacungkan telunjukku mencoba mengancamnya. 


"Abang! Ngaduan dih! Kek anak kecil." Ra mengedikan bahunya. 


"Biarin! Aku tidak sanggup menanggung ini semua sendirian!" Aku bangkit dari posisiku, aku takut dicubitin lagi oleh Ra. 


"Ayah nanya, udah jangan debat terus!" Ayah menarik bahu Ra agar menghadap dirinya. 


"Ya, Ayah." Ra menunduk kembali. 


"Mau ikut kursus balap di Banda Aceh?"


Hah? Aku melongo saja ayah malah mendukung. 


"Atlet begitu? Tak mau, Ayah. Aku cuma hobi aja, sesekali aja." Ra menggeleng berulang. 


"Terus terang kalau sama Ayah, Ayah dukung kalau kau nurut diarahkan. Jangan di ladang, bahaya. Di sirkuit aja, di tempat pelatihan aja, tak apa seminggu sekali kau ke Banda Aceh untuk latihan." 


Heh? Bagaimana sih?! 


"Tak, Ayah. Serius, sesekali aja. Tak mau kalau harus rutin seminggu sekali, aku keberatan karena aku memang tak mau rutin." Ra memandang wajah ayah, sorot matanya polos membuat kasihan. 


"Jujur atau benar-benar Ayah larang." Ayah menarik tangan kanan Ra dan ia genggam. 


Seperti pada kekasih. 


"Serius, Ayah. Kek buat nyenengin hati aja, karena rasanya lebih seneng dari naik biang lala."


Ampun, jawaban anak polos ini. 


"Bilang Ayah kalau mau seneng-seneng, Ayah anterin ke sirkuit terdekat. Ada di sini sirkuit sekolah racing, pinjam sebentar tak apa daripada bukan di tempatnya. Ayah takut kau kenapa-kenapa, Dek." Ayah meraup wajah Ra. 


"Tak menantang dong, Yah." Ra menghela napasnya. 


"Kau curi mangga tetangga, menantang itu." Ayah menunjuk arah permukiman warga. 


"Ya bukan begitu, Yah. Ayah tuh, aku bingung sendiri." Ra merapikan rambutnya yang terurai. 

__ADS_1


Rambutnya basah, hitam dan lebat. Ra itu wajahnya seperti biyung, tapi urat wajahnya judes seperti ayah. Cantik sih cantik, tapi nampak tidak ramah. Namun, ia tetap tahu sopan santun. 


"Pokoknya kalau mau jajal, hiburan sama mobil, bilang ke Ayah. Ayah anterin ke sirkuit terdekat nantinya, paham tak? Terus tuh, silahkan modif pakai uang kau sendiri. Tapi tak boleh ikut komunitas apapun, tak boleh ikut perkumpulan apapun. Silahkan berekspresi, tapi konfirmasi ke Ayah." 


Enak sekali jadi anak ayah. Jika aku adalah ayah, aku akan menyiram Ra dengan seember air dan mengurungnya di kamar mandi. 


"Tapi, Yah…." Seperti masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Ra, suaranya menggantung seperti kecewa. 


"Tak ada tapi-tapian! Ayah bisa temani kau ke mana aja. Kau mau ke mana? Ke bengkel? Ayah bisa temani, Ayah pun tak akan ngasih pendapat tentang bagian mobil yang mau kau rubah. Yang penting warnanya tetap pink, suka-suka kau mau kau apakan itu mobil." Ayah nampak lelah sekali. 


"Ayah nanti marah." Ra memeluk lengan ayah. 


Anak perempuan yang manja. 


"Tak, Dek. Ayah marah kalau kau sembunyi-sembunyi dari Ayah, Ayah tak suka dibohongi anak. Anak perempuan Ayah pun harus nurut, kek anak laki-laki Ayah." Ayah mencium kepala Ra cukup lama. 


"Ahh, aku tak mau nikah-nikah. Aku mau sama Ayah aja, mau jadi anak Ayah aja. Temen kuliah aku cerita, dia baru nikah dan dia disuruh-suruh terus sama suaminya. Baru duduk santai, suruh mandi. Baru rebahan, suruh ambil makan. Aduh, ngeri betul." Ra menggosokkan wajahnya di lengan ayah. 


"Masa tak mau nikah? Kau cuma belum siap aja itu sih." Ayah merangkul Ra. 


Ah, aku kabur saja. Aku tidak mau melihat haru biru begini-begini, aku terlalu sensitif. 


"Biyung, Biyung cantik." Aku menclok ke arah biyung yang duduk sendirian di ruang keluarga. 


Aku mencium pipi ibuku yang paling gemoy ini. Ayah pandai mencari istri, sudah cantik ditambah sholehah lagi. 


"Sih, kirain lagi belanja online." Aku baru melirik ke ponsel yang tengah biyung mainkan. 


"Lagi hafalan hadist, Bang. Mandi gih, sholat." Biyung tak menoleh sedikitpun padaku. 


Di usianya setua ini, ibuku masih hafalan hadist saja? Luar biasa sekali. 


"Biyung, besok masak bunga genjer sih. Ada rasa pengen deh keknya." Semua tumbuhan yang bisa dimakan, kami sekeluarga pernah mencobanya. 


Umbi eceng gondok pun aku pernah memakannya. Daun ginseng Jawa aku sering mencampurnya dengan mie instan, kebetulan ada di pot bunga rumah megah nenek dan kakek. 


"Iya, nanti masak itu. Mahal loh itu, Bang. Di Jawa sih dibuang-buang, ada pula yang trauma makan itu karena masa penjajahan dulu. Udah mahal, dimasak jadi sedikit betul." Biyung baru menoleh ke arahku. 


"Harganya berapa memang, Biyung? Ikatannya kecil kan?" Batangnya panjang, bunganya kuncup. 


"Bisa tiga sampai lima kali harga seikat kangkung. Dimasak ya jadi sedikit betul kalau satu ikat, paling jadi dua sendok. Sekali masak tuh, Biyung pakai tujuh sampai sepuluh ikat. Hitung-hitung ya makan ayam segelondong."

__ADS_1


Ohh, untuk ukuran sayur hijau memang mahal sih. Yang tidak dikira, jadi makanan elit.


"Aku ganti deh." Aku merogoh saku celanaku. 


"Dikira ayah kau udah bangkrut kah?" Biyung menepis uang ratusan yang aku berikan. 


Aku terkekeh kecil, kemudian memasukkan kembali uangku. "Biyung, aku mau beli mobil." Aku ingin tahu tanggapan orang tuaku. 


"Iya, yang baru."


Biyungku tidak banyak komentar rupanya. 


"Oke siap, Biyung. Aku mandi, terus sholat dulu." Aku mencium pipi biyung lagi, sebelum kabur ke kamarku. 


Kamar penuh kenangan, di mana Izza selalu rebahan dengan rasa lelahnya bergulat dengan aktivitas sehari-hari. Ah, aku jadi rindu. 


Aku terlalu lama di kamar, aku terlalu terhanyut mengirimkan doa dan surah-surah pendek untuk Izza. Sampai Jessie datang untuk mengaji, aku belum sempat melarikan diri. Tentu ayah paham aku selalu pergi menghindari Jessie, bahkan aku tidak pernah mengaji lagi jadinya. 


"Bang Chandra ada di rumah ya, Biyung?" Suara Jessie jelas ada di depan kamarku. 


"Iya, tidur keknya. Dari Ashar tak keluar-keluar." Biyung terlampau polos apa adanya. 


"Waduh, ditengok dong Biyung. Khawatir terjadi apa-apa sama bang Chandra." 


Ucapan Jessie membuatku ketar-ketir. Aku langsung menarik sajadah yang aku duduki, dengan cepat aku bersembunyi di bawah selimut dan berselimut sampai leher. 


Ceklek. 


Pintu dibuka dengan keadaanku yang sudah beracting tertidur. Padahal, jantungku tengah lari maraton. 


"Bang, tidur kah?" Suara kaki biyung melangkah masuk. 


"Hmmm…." Aku pura-pura menggeliatkan tubuhku, seolah terganggu dengan suara biyung. 


"Sakit kah?" Biyung menyentuh dahiku. 


"Tak, Biyung. Capek aja." Mataku terbuka perlahan dan pura-pura menguap. 


"Ohh, jangan lupa makan malam." Biyung kembali berbalik ke arah pintu. 


Sialan, Jessie mengamatiku dari pintu kamar yang terbuka lebar. 

__ADS_1


"Tidur kok ada….. 


...****************...


__ADS_2