Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA64. Tidur siang bersama


__ADS_3

Pintu kamar tamu terbuka lebar, dengan Izza yang terlelap pulas di pelukan suaminya. Ketika Givan masuk ke rumah, pemandangan tersebut jelas di depan matanya ketika ia menoleh ke kamar untuk melihat isi dalam kamar tersebut yang terbuka lebar. Karena tidak biasanya, pintu kamar itu terbuka lebar. 


Pemandangan dahi Izza yang berselimut handuk, menandakan bahwa Izza tidak baik-baik saja sekarang. Givan tahu menantunya sakit. 


Givan bergerak untuk menarik pintu kamar tersebut, kemudian lanjut melangkah ke dalam untuk mencari keberadaan istrinya. Pemandangan rutin seperti biasa, yang membuat Givan tenang setiap harinya adalah Canda berada di kamarnya dengan bermain ponsel. Ia tahu istrinya hanya mencari hiburan, tidak untuk bermain api dengannya. 


"Canda…." Givan masuk dan menutup pintu kamarnya. 


"Ya, Mas." Canda menoleh dan kembali fokus pada istrinya. 


"Izza sakit-sakitan terus tuh kenapa?" Givan duduk di tepian ranjang dan bersandar di kepala ranjang. 


Ia memperhatikan layar ponsel istrinya, yang dimainkan sambil rebahan tersebut. Givan tahu jelas, jika istrinya hanya bermain game saat ini. 


"Tak biasa begadang kah? Padahal udah disuruh tidur juga kok." Fokus Canda terbagi. 


"Ada hal lain, dia ini kek tak enak hati terus. Nahan lapar, sungkan untuk ambil karena tak disuruh. Kita tak suruh, karena dia tak ada di depan mata kita. Mana kita tau, kalau di dalam rumah Chandra tak ada makanan atau cemilan. Begadang pun, dia tahan-tahan karena tak enak kali sama kita kalau mau tidur duluan. Entah karena dia tak berani untuk tidur di dalam, karena rumah lama kosong. Tapi masa semalam aku ngayun Kaleel, Izza nih ada di ruang tamu sambil nangis. Kasian liatnya, cuma aku sifat mertua laki-laki, mau nanya sungkan, mana tak ada saksi mata. Nanti malah kek yang viral itu, nanti giliran aku viral karena ayah mertua sama menantu perempuan." Givan mengusap-usap kepala istrinya. 


"Terus harus gimana? Namanya juga baru, wajar. Apa harus ribut aja kek mamah Dinda? Canda sini dulu, Canda makan, Canda jemurin baju, Canda jagain Gavin Gibran, Canda ayo ke warung, ayo ke pasar, ayo belanja, ayo beli skincare, ayo ke klinik kecantikan." Canda keluar dari aplikasi permainan itu. 


"Nah, kau bisa tak jadi BESTienya Izza?" Givan merebahkan tubuhnya di samping istrinya, karena istrinya memberinya tempat. 


"Aku kan yang penting didekati. Sama ipar yang lain pun aku BESTie, dengan catatan mereka awalnya memang dekati aku dan akrabin aku dulu. Udah kenal sih, ya ayo-ayo aja ke minimarket jalan kaki juga." Canda melirik suaminya. 


Givan tahu tabiat istrinya yang ramah dan asik, bahkan dengan para adik laki-lakinya pun Canda dekat. Tak jarang, adik laki-lakinya sering bertukar ledekan dengan istrinya. 


"Ya kau dekati dulu gitu, dia kan sungkanan orangnya." Givan memejamkan matanya, ia mulai mengantuk saat kepalanya sudah menempel pada bantal. 


"Izza kemarin tuh tak begini, pas nikah ini dia agak lain. Datang main, nyapa, ngobrol." Canda mengingat kebiasaan Izza kemarin. 


Canda mendorong dada suaminya, sehingga suaminya meluruskan punggungnya. 


"Ehmmm." Givan tetap memejamkan mata, meski tahu lengannya tertekan dengan bobot tubuh istrinya. 


Canda setengah tengkurap dengan mengagumi wajah suaminya yang rutin ke klinik bersamanya itu, hal itu terjadi sejak Canda kehilangan teman baiknya, yaitu ibu mertuanya. Kegiatan rutin itu, kini Canda lakukan bersama suaminya. 


"Kenapa dia tak begitu sekarang? Itu pertanyaan aku." Canda mengusap-usap dagunya. 

__ADS_1


"Karena kemarin dia pulang, sekarang dia tetap tinggal. Jadi selama dia jadi tamu itu, dia cuma pura-pura asik. Kan paling lama dia main cuma dua jam." Givan membuka matanya yang terasa berat tersebut. Rona merah di matanya terlihat begitu merata, rasa kantuk Givan sulit ditahan kembali oleh kekuatan otot kelopak matanya. 


"Iya sih bener juga. Jadi aku harus gimana?" Canda memutar bola matanya mencari ide. 


"Harus tidur dulu." Givan menarik kepala istrinya agar bersandar pada dadanya. 


"Kalau aku tidurin gimana?" Canda kembali menegakkan kepalanya, ia memperhatikan bibir tipis suaminya. 


"Dasar!" Givan terkekeh kecil, dengan menarik kepala istrinya. 


Ia ingat, sudah lama sekali ia memberi nafkah batin untuk istrinya. Mungkin terakhir, adalah dua hari sebelum pernikahan Ceysa. Dengan mata tetap terpejam, ia mencoba membangkitkan n****nya sendiri. Ia sadar istrinya jauh lebih muda lima tahun darinya, kebutuhan akan hal itu jelas masih dibutuhkan oleh Canda. 


Beberapa jam kemudian, Givan memerintahkan Chandra untuk menjemput adiknya di bandara. Izza menghela napasnya, karena ia baru bersantai bersama menikmati waktu yang indah dengan suaminya, tapi suaminya sudah diberi perintah untuk keluar kembali. 


"Iya, Yah." Chandra keluar dari kamarnya setelah mereka melakukan sholat Ashar bersama. 


"Bentar ya?" Chandra mencium bibir istrinya sekilas, kemudian ia segera keluar dari kamar. 


Terdengar perbincangan ayah dan anak itu di luar kamar, ditambahkan datangnya seorang tamu yang menyatakan memiliki keperluan dengan Chandra. Izza amat penasaran, sehingga ia turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. 


"Nanti maleman aja, Bu." Chandra masih berada di ambang pintu, saat Izza keluar dari kamar. 


Seperti kesempatan untuk Givan untuk membuat Izza dekat dengan istrinya. "Dipanggil Biyung, Dek. Tuh, Biyung di ruang keluarga." Padahal, Canda tidak sama sekali memanggil menantunya tersebut. 


"Iya, Yah." Izza mengangguk dan menutup pintu kamar yang mereka tempati itu. 


"Sembako untuk apa?" Givan duduk menemani Zuhdi. 


"Ada urusan sama Chandra, Van." Zuhdi menutupi permasalahan yang tak Givan ketahui tersebut. 


Izza menghentikan langskahnya sesaat, kemudian ia menoleh ke arah orang-orang tersebut. Ia bertanya-tanya, apa hubungannya sembako dan suaminya. Ia mulai bingung, karena suaminya pun tidak bercerita apa-apa padanya. 


Namun, ia kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ke ruang keluarga. "Iya, Biyung. Gimana?" Izza menghampiri ibu mertuanya yang tengah melipat baju dan menemani kedua anak perempuan yang lahir beda hari tersebut. 


"Heh?" Canda mengerutkan keningnya, ia bingung dengan kedatangan Izza yang bertanya tak jelas tersebut. 


"Kata ayah, katanya Biyung panggil aku," jelas Izza dengan menunjuk ruang tamu yang terlihat dari tempatnya. 

__ADS_1


"Iyakah?" Canda menggaruk kepalanya. Ia bukanlah manusia yang mengerti tanpa diberi kejelasan dan perintah lebih dulu. 


"Loh? Gimana?" Izza pun kebingungan sendiri. 


"Udahlah! Udah, duduk sini aja." Canda menepuk tempat di sebelahnya. 


"Iya, Biyung." Izza mematuhi perintah ibu mertuanya. 


"Udah makan kau?" tanya Canda, dengan pandangan terarah ke televisi. 


Izza mencoba meringankan pekerjaan Canda, dengan membantu melipat pakaian mereka satu rumah. "Udah siang, Biyung," jawab Izza sesuai apa yang ditanyakan Ibu mertuanya. 


"Makan lagi lah, apa mau delivery?" Canda menoleh sekilas pada gerakan tangan menantunya, kemudian ia menggulirkan pandangannya pada aktivitas kedua anaknya yang anteng duduk di atas sofa dengan memainkan mainan barunya. 


"Tak, Biyung. Udah kenyang." Izza kembali teringat, jika suaminya belum memberikan uang pegangan. 


"Ck, tapi Biyung lapar." Canda langsung menarik ponselnya yang tergeletak. 


Izza langsung ketar-ketir, karena sadar dirinya tidak menggenggam uang sepeserpun. Uang yang tinggal puluhan saja, ia tinggalkan di rumah suaminya. 


"Dek, bilang ayah isi uang di sini." Canda memberikan ponselnya pada Cali. 


"Ayah di mana?" Cali turun dari sofa. 


"Di ruang tamu tuh, Dek," jawab Izza, mencoba mendekati adik paling bungsu di keluarga ini. Izza pun tahu, bahwa Cali adalah sepupu suaminya, bukan benar-benar adik kandungnya. 


"Ayah…." Cali langsung berlari dengan membawa ponsel Canda. 


Izza sedikit plong, karena dirinya tidak diminta untuk mengeluarkan uang. Atau, sebatas rasa tidak enaknya saja. 


Tetapi, ayah mertuanya muncul dengan membawa ponsel ibu mertuanya kembali. "Aku belum urus mobile bankingnya, Canda. Pakai cash aja dulu ya? Jajan apa sih? Aku masih punya tiga ratusan." Givan mengembalikan ponsel tersebut, kemudian memberikan uang dari sakunya. 


"Loh? Besok nanti gimana belanjanya?" Canda menyambut uang dari suaminya. 


Izza tertunduk, ia tersinggung dan merasa mertuanya terbebani karena ia tidak membantu uang dapur mereka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2