
"Ya udah, Pakwa ke rumah. Biar didampingi di rumah sakitnya, kalau misal kau repot nemenin Izza ini itu."
Aku sampai mencuri waktu untuk menghubungi pakwa, saat Izza tengah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia semangat sekali untuk ke sana, aku yang malah takut sendiri.
"Nanti beneran mau jelasin ke Izza?" Aku bingung dan khawatir. Bingung untuk mengambil langkah apa dan khawatir tentang bagaimana Izza nanti, setelah mendapat penjelasan dari dokter.
"Ya gimana lagi? Kalau setelah dokter Fardan jelaskan, kondisi Izza baik, pasti diarahkan untuk tindakan. Dia punya hasil MRInya juga, ini Pakwa pegang yang duplikatnya. Kalau kondisi Izza menurun, ya bisa nanti tindakannya di tempat Pakwa tak apa. Kau tak usah pikirkan biaya, Bang. Tapi tergantung bagaimana hari ini juga. Prosesnya sih sama, tapi di sana kan alatnya lebih canggih."
Aku celingukan sendiri, takut Izza sudah ada di belakangku saja. "Ya udah ya, Pakwa? Ditunggu di sini, aku mau siap-siap dulu." Aku bergerak masuk ke dalam rumah kembali.
"Ya, Pakwa langsung ke sana."
Aku lekas mematikan panggilan teleponku, karena Izza sudah melihatku dan bahkan tersenyum padaku. Ia berjalan menghampiriku, kemudian langsung merapikan kerah kemejaku.
"Telpon siapa, Bang? Kok mukanya panik gitu?" Ia tersenyum lebar.
Biasanya ia marah, jika tahu aku menyembunyikan sesuatu. Bukannya tersenyum seperti ini, itu hal yang tidak wajar.
"Telepon pakwa, suruh nemenin ke RS." Tidak sepenuhnya berbohong.
"Oke, aku percaya. Aku siapin bantal dan juga kain ya? Barangkali sekalian tindakan." Ia pergi meninggalkanku.
"Ya, aku pun siap-siap dulu." Mungkin hanya mencuci muka dan membawa power bank saja.
Arghhh, entahlah. Kacau sekali rasanya, begitu berat untuk berangkat ke rumah sakit sekarang. Karena hatiku seolah mengatakan, bahwa lebih baik tidur di rumah. Tapi aku sudah libur kerja, harusnya hari liburku sedikit berguna, bukan malah digunakan untuk tidur saja.
Makin bimbang, ketika pakwa datang. Bunga pun ada di samping ayahnya, matanya ke mana-mana, tapi ia selalu menggandeng tangan ayahnya.
"Bayi besar, ngintilin terus," ledekku pada Bunga.
__ADS_1
"Biar Ayahnya tak nikah lagi ya, Dek?" Biyung mengantar kami sampai depan teras.
"Tak apa nikah lagi juga, cari yang perawan kali ini." Bunga memeluk lengan ayahnya.
Pakwa melirik anaknya, kemudian ia terkekeh kecil. "Ada-ada aja. Didik kau ajalah sampai matang, Ayah nikah lagi tak ada gunanya." Pakwa melepas pelukan anaknya, kemudian merangkul anaknya untuk berbalik masuk ke dalam mobil mereka.
"Ayah nanti nyusul, Bang. Mau urus tambak dulu, persiapan panenan dan percobaan ekspor kau ini." Ayah belari kecil menuju mobil berwarna pink itu.
"Maaf ya, Yah? Ngerepotin." Aku tahu memang sedang ada persiapan besar di tambak.
"Ya, tak apa. Sehat-sehat ya menantu?" Ayah melambaikan tangannya, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Iya, Yah." Izza tersenyum lebar pada ayah.
Kek yang ia ramah? Izza riang juga tidak seramah ini.
"Berangkat dulu, Biyung." Aku mencium tangan biyung.
Izza bahkan bercipika-cipiki dengan biyung, seperti tamu jauh saja. Biyung pun nampak bingung, sampai akhirnya ia tersenyum lagi saat Izza memandang wajahnya.
"Makasih ya Biyung, udah didik Bang Chandra jadi sebaik ini?"
Loh, kok begini?
"Sama-sama, yang patuh ya biar akur terus." Biyung mengusap kedua lengan Izza.
Izza mengangguk, kemudian mendongak memandangku. Matanya berbinar, begitu terpancar bahwa ia sangat mencintaiku.
"Yuk berangkat?" Makin berat saja untuk pergi, aku tidak ingin membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Yuk." Izza menggandeng tanganku.
Ia bersenandung, berfoto dan mengajakku bercanda dalam perjalanan. Aku ingin ia tetap seperti ini, tapi perubahannya yang mendadak membuatku mencurigainya lain. Memang seperti inilah Izza yang aku harapkan, tapi aku malah tidak rela ia mendadak berubah seperti ini.
"Do'ain, semoga aku bisa melewati hari ini dengan mulus tanpa banyak drama ya?" Ia berbicara dengan mengukir senyum, ketika kami sampai di parkiran rumah sakit.
"Tak apa, tak jadi ambil tindakan sekarang pun tak apa. Kau tak harus maksain semuanya dilakukan hari ini, Za." Aku menggenggam tangannya, setelah mengantongi kunci mobil milik istriku.
"Biar plong, Bang. Biar tak kepikiran terus, biar Abang pun tak sefrustasi ini. Aku malu, pas istrinya Zio ada ngomong kalau Abang nambah kurus. Aku yang ngerasa ngurus Abang tuh, keknya nyesek betul. Aku tau kalau Abang mikirin aku, makanya aku pengen cepat-cepat selesaikan fibroid ini, biar Abang merasa tak punya beban." Izza memeluk lenganku, sembari berjalan untuk mencari pintu masuk.
Aku celingukan, untuk mencari keberadaan pakwa dan Bunga. Ternyata, mereka malah sudah berdiri di teras pintu masuk. Rupanya, mobil mereka sudah ada di depan kami.
"Aku tak maksain, Za. Jangan buru-buru mutusin untuk ambil tindakan, lihat keadaan kau dulu. Biarin orang bilang aku tambah kurus juga, memang aku yang malas workout lagi." Sebenarnya tetap rutin workout juga, setiap mencuci baju aku meninggalkan mesin cuci dan melakukan peregangan dan gerakan menjaga massa otot di halaman belakang.
Segila itu aku ingin memiliki tubuh gagah dan tegap, sejak SMP aku bahkan meminta untuk dibelikan susu tinggi protein. Karena aku pernah mendengar penjelasan dari guru olahraga, jika massa otot membutuhkan konsumsi makanan yang baik didukung juga dengan susu tinggi protein.
"Tak apa, aku tak apa. Aku siap kok untuk tindakan hari ini, Bang. Memang Abang kenapa sih? Kok keknya tak mau aku cepat sembuh?
Kenapa manusia diperlukan aji diri, atau membaca keadaan diri sendiri, intropeksi diri kerennya. Biar apa? Biar tidak terluka, ketika orang lain berpendapat bagaimana kita. Jika aku mengatakan kondisinya mudah stress dan juga lemah, sudah pasti ia akan sedih. Harusnya ia menyadari bagaimana dirinya, sehingga tidak perlu membuatku sulit untuk menjawab begini.
"Tak kenapa-napa, kan bisa nanti gitu loh." Aku merangkulnya dan mengusap belakang kepalanya yang terlapisi hijab berwarna baby blue ini.
Izza suka sekali dengan warna-warna cerah. Ditambah lagi, kulitnya yang putih membuatnya cocok menggunakan pakaian dan kerudung warna apapun asal senada. Ia seperti iklan kosmetik dalam negeri yang berhijab.
"Lebih cepat lebih baik, Bang. Biar Abang tak fokus sama aku aja gitu kan? Malu jadi beban suami terus. Udah jadi beban materi, eh jadi beban pikiran juga. Kan jangan gitu kan? Kita kan partner hidup, aku tak sepantasnya jadi benalu untuk Abang terus. Kita itu harus bisa menjadi partner yang memberikan kebahagiaan satu sama lain, kalau salah satunya tak bisa, kan perpisahan menjadi jalan keluarnya."
Aku langsung membungkam mulutnya, dengan tanganku yang menjuntai dari bahunya. Kebetulan sekali, kami sudah sampai di hadapan pakwa dan Bunga.
"Ini nih, mulut nih. Ngaco aja tau." Aku menggoyangkan pelan tanganku yang membungkam mulutnya.
__ADS_1
Izza tertawa geli, dengan berusaha melepaskan tanganku dari mulutnya.
...****************...