Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA52. Footstep belakang


__ADS_3

"Jangan lepas baju terus dong, Bang." Izza menghampiri suaminya dengan membawa secarik kertas. 


"Gerah, tak kek di rumah biyung. Kipas di setiap sudut, AC bisa on semaunya." Chandra mengusap keringatnya dengan kemejanya. 


"Jadi Abang mau ngadem di biyung kah?" Izza tersinggung, ia berpikir suaminya tidak mau menikmati waktu dengannya. 


"Yuk? Ngadem." Chandra menggandeng tangan istrinya. 


Izza berat melangkah, wajahnya langsung masam. Ia ingin menikmati waktu berdua mereka, ia ingin jauh dari keramaian. Namun, suaminya seolah tidak mengerti perasaannya. 


"Kenapa? Hm?" Chandra menarik dagu istrinya. 


Izza menggeleng, ia membuang wajahnya ke arah lain. Otomatis, cekalan jari Chandra pada dagu istrinya terlepas. 


"Kok gitu sih? Kenapa?" Chandra merangkul istrinya. 


Izza menggeleng. "Kalau Abang mau ke biyung, ya udah ke sana aja. Aku mau istirahat." Izza meninggalkan suaminya di ruang tamu mereka. 


Bukan ia menyesali pernikahan yang terburu-buru tersebut. Hanya saja, ia merasa kecewa karena suaminya tidak mengerti inginnya. Ia hanya ingin mereka bersama dalam satu bantal, bukan Chandra seolah memberi jarak dengan terus ingin berkumpul bersama orang tuanya. Ia berpikir, Chandra tidak menganggap penting dirinya. 


Chandra tidak mengerti, ia berpikir bahwa istrinya benar-benar ingin beristirahat karena kelelahan dengan aktivitas mereka semalam. Ia berpikir positif saja, ia benar-benar berkunjung ke rumah orang tuanya dan menutup pintu rumah mereka. 


Izza mengusap air matanya, ia berpikir suara pintu tertutup itu karena suaminya ingin datang ke kamar mereka. Nyatanya, lama menunggu tidak ada suara langkah kaki juga yang mendekat. Ia sekarang benar-benar yakin, jika suaminya pergi ke rumah orang tuanya dengan alasan sepele. 


Chandra merebahkan tubuhnya di karpet ruang keluarga orang tuanya, ia membaca secarik kertas daftar isi peralatan rumah tangga yang ingin dibeli oleh istrinya. Sapuan kipas angin dari plafon rumah, membuat dirinya menguap beberapa kali. Kantuknya semakin datang, menghipnotis kesadarannya. 


Givan melirik keberadaan anaknya yang tergeletak pulas tersebut. Ia membuka pintu kamarnya, berpikir bahwa menantu barunya ada di kamar bersama istrinya. Nyatanya, Canda tengah tertidur di tengah ranjang. Tidak ada orang lain di kamar itu, menantunya tidak ada di sekitar rumahnya. 


Ia jadi teringat akan interaksi Canda saat ia masih menjadi pengantin baru. Ia ingat sekali, saat Canda terus berada di sisi ibunya meski hanya duduk bersama dalam diam, dengan pandangan ke arah televisi. 


Kenapa menantunya tidak berada di rumahnya ini? Givan mulai bertanya-tanya, dengan menyusuri ruang tamu dan teras rumahnya. Sampai di halaman rumah pun sepi, ia pun memperhatikan rumah anaknya yang tertutup rapat. 


Apa Izza tengah pulang ke rumahnya untuk mengambil barang-barang pribadinya? Tapi, Givan merasa itu tidak mungkin. Karena, anaknya terlelap pulas di ruang keluarganya. 


Givan kembali mengingat akan Canda yang terus mendekatinya dan memasang senyum lebar, kala mereka masih berstatus sebagai pengantin baru. Kenapa anak dan menantunya tidak terlihat seperti itu? Givan langsung berasumsi mereka tengah berselisih paham. 

__ADS_1


Pagar rumahnya terbuka, menantu dari anak asuhnya masuk ke halaman rumah dengan motor matic. Givan terus memperhatikan gerak-gerik Revano, suami dari Jasmine. Ia merasa jam kerja Vano tidak jelas, karena pagi sudah berangkat dan tengah hari pulang.


Bukankah jam kerja kurang lebih delapan jam? Apalagi, seorang manajer swalayan besar. 


"Baru pulang, Van?" Givan merasa seperti menyebutkan nama panggilannya sendiri. 


Ia melangkah turun dari teras rumahnya, ia menghampiri menantunya yang tengah menarik standar tengah motornya. Ia langsung menelisik sorot mata Vano, pemuda tersebut terus memutuskan pandangan mereka. Hingga Givan memperhatikan keadaan kendaraan milik Vano, sampai akhirnya ia mendapatkan sedikit kecurigaan. 


"Pagi tadi, kau bonceng Jasmine pakai motor kau?" Givan bersedekap tangan, ia kembali memperhatikan menantunya yang tengah melepaskan helm. 


"Tak, Yah. Tak bonceng siapapun, pagi tadi aku langsung buru-buru berangkat." Dari gelagat Vano, Givan menyimpulkan bahwa Vano tengah menutupi sesuatu. 


"Oh ya?" Sorot mata Givan terus mencurigai footstep belakang sebelah kiri dari motor tersebut. 


"Iya, Yah. Kenapa memang?" Vano melepaskan jaketnya dan menaruhnya di atas speedometer kendaraannya. Bermaksud agar kaca speedometernya tidak pecah, karena panas matahari. 


"Diturunin di mana?" Givan langsung memberikan tatapan tak bersahabat. 


"Maksudnya?" Vano menyatukan alisnya. 


"Turun di mana?" Isyarat Givan begitu jelas. 


Vano memperhatikan ayah mertuanya tersebut, ia melirik ke arah footstep belakang dan kembali memandang ayah mertuanya. "Maksudnya gimana, Yah?"


"Rasanya tak mungkin, kalau laki-laki duduk dengan pakai satu footstep. Apa teman laki-laki kau itu pakai rok span?" jelas Givan dengan tatapan tajam. 


Vano langsung mengusap wajahnya dan membuang pandangannya ke arah lain. "Mungkin, beberapa hari yang lalu Jasmine bonceng." 


Givan makin meyakini gelagat mencurigakan dari Vano. Ia berkedip lama, kemudian turun dari motor tersebut. 


"Ya, mungkin." Givan tidak percaya begitu saja, tapi ia bertekad untuk mencari informasi lebih lengkap. 


"Iya, Yah. Aku duluan ya? Panas betul." Vano melirik ke arah langit, kemudian ia melarikan diri meninggalkan ayah mertuanya. 


"Begini ya cara main kau?" Givan tersenyum miring. 

__ADS_1


"Yah, lihat bang Chandra tak?" tanya Hadi yang muncul dari pintu samping penghubung halaman rumah mereka. 


"Di dalam rumah Ayah, lagi molor." Givan berjalan kembali ke arah teras rumahnya. 


"Loh? Tidur? Katanya mau ngopi." Hadi duduk di anak tangga teras. 


"Pengantin baru, capek kali semalam begadang. Lagian, abang kau sih nempel molor modelnya." Givan duduk di samping menantunya. 


"Ngeri, Yah. Dayyan tidur mesti diayun aja, pedas ini bahu pakai kain gendong. Bayi juga berat tuh." Hadi meregangkan lehernya, dengan satu tangannya ditempatkan di bahunya. 


"Namanya juga baru, Di. Ceysa lebih kasihan, ngandung sembilan bulan di perut kecilnya. Kau bayangkan beratnya, karena bukan cuma bayi, tapi ada cairan dan lain-lainya." Givan melirik ke arah lengan menantunya. 


"Kenapa kau? Ada bekas gigi gini." Givan menyentuh lengan menantunya. 


"Ceysa gigit semalam, kesal katanya. Baru-baru serumah, dia nampaknya pengen ngamuk aja." Hadi teringat perdebatannya semalam. 


Givan teringat tentang kebiasaan anaknya itu. "Berantem?" tanya Givan ringkas. 


"Uang habis, aku bilang nanti minta abu. Dia tak mau, dia mau kita ngehasilin. Tadi ngobrol sama ma, karena abu lagi ke kantor design, katanya aku ini suruh cuti aja dan fokus kerja dulu. Aku terus terang aja, Yah. Aku tuh bingung harus kerja apa? Aku harus bagaimana? Aku pun harus berbuat apa?" Hadi menumpahkan kepasrahannya dengan keadaan. 


Givan paham, Hadi belum bisa untuk diminta bekerja. Bahkan, minat anaknya bekerja pun di usia lewat dari dua puluh tahun. 


"Ngandelin sawit aja sih butuh waktu, Di. Ayah tak bisa bantu kalau tak tau keminatan kau di bidang apa. Apa mau ikut kerja dulu? Tapi kau harus tau, kalau pekerja ya tak akan bisa jadi bos." Givan memahami, bahwa anak perempuannya pasti jauh lebih dewasa daripada Hadi. 


"Ceysa suruh aku jual sarung. Ya Allah, Yah. Mental aku ini tak kuat kuliah bawa tas jinjing besar isi sarung semua."


Givan langsung menoleh ke arah tatapan anehnya. "Kau tau kan biyung jualan daster?" 


Hadi mengangguk, ia tertunduk lemah memperhatikan sandalnya. 


"Apa biyung keliling pakai tas jinjing besar? Apa biyung ke tetangga sambil jajakan dasternya? Kan tak begitu konsep jualan jaman sekarang." Givan menepuk pundak Hadi. 


Givan tidak akan merendahkan pedagang, karena sebagian besar usahanya adalah berdagang dalam skala besar. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2