
"Pembalap, takut orang tatoan." Aku membelokan Ra ke rumah yang ia tinggali.
"Ngeri sekali, apa leher aku bisa diputuskan sama dia?" Ra baru melepaskanku, ketika sudah sampai di dalam rumahnya.
Ampun kamarnya, akan tidur di mana kami nanti?
"Tak, mereka tabib. Bereskan tuh kamar kau! Tidur di mana Abang nanti?!" Aku meratap menatap kamarnya yang seperti rujak ulek.
"Tabib apa? Tabib pengganda uang yang racun korbannya sampai dua puluh orang itu?" Ra naik ke atas kasur.
Ia memegangi ujung spreinya, kemudian mengibaskannya bagai mengibarkan bendera saat upacara. Kemudian memasang ujung spreinya dengan cepat. Kasurnya memang rapi, tapi seketika itu barang-barang di atas kasurnya berterbangan.
"Sini, bobo sama aku." Ra menyusun bantal-bantalnya.
"Tapi kamar kau kek lagi ada pesawat perbaikan, Ra!" Aku berjalan ke arah kasur dengan begitu hati-hati.
Aku takut menginjak barang yang tajam atau berharga.
"Yang penting kasurnya bisa dipakai tidur." Ra sudah merebahkan tubuhnya terlebih dahulu.
Malam ini aku bercerita banyak tentang Dehen dan Balawa. Masalah keluarga mereka tidak aku ceritakan pada Ra, karena usianya belum waktunya memahami permasalahan rumah tangga.
Karakter anak ini ternyata harus pillowtalk, karena ia buka cerita tentang laki-laki yang cukup mengganggunya. Namun, ia pun berkata ia bisa mengatasi hal itu. Ia menunjukkan kontak nomor ponsel laki-laki tersebut, ia pun menunjukkan wajah laki-laki tersebut.
Hal yang membuatku cukup kaget, karena ternyata adik perempuanku ini memandang harta. Harta memang bisa dicari, tapi katanya jika laki-laki tersebut tidak memiliki keluarga yang berpotensi, mungkin laki-laki tersebut akan sukses di usia paruh baya. Intinya, ia tidak mau menyusahkan ayah jika mendapat suami yang status sosialnya tidak sebanding.
Ditambah dengan keadaan tersebut, Ra merasa terganggu karena ia berkata bahwa dirinya lebih suka mengejar ketimbang dikejar. Karena dikejar itu membuatnya risih, ditambah laki-lakinya bukan tipenya.
Siapapun jodohnya nanti, status sosialnya bagaimana pun. Yang terpenting untukku, ia bertanggung jawab pada Ra, sanggup memenuhi nafkah lahir dan batinnya, bisa mendidik dan mengayomi Ra dengan lembut, bisa mengajari anak-anak mereka dengan ilmu yang berguna untuk dunia dan akhirat kelak.
Karena watak Ra itu keras dan kasar, ia cukup temperamen. Maka dari itu, ia tidak pernah dibiarkan lama-lama dengan adik yang kecil. Karena tangannya bisa reflek mencubit, jika ia dibuat kesal. Kadang karena hal ini, aku memikirkan nasib anak-anaknya.
__ADS_1
Ra harus pillowtalk, Cani dan Cala Cali harus mengikuti drama mereka. Oke, aku mencatat rumus abang untuk memahami adik-adiknya ini.
Seperti yang Ra katakan pada Nahda, kami kakak beradik. Jadi, tidur bersama begini ya tidak ada ser-sernya. Meski badan Ra menarik dan profesional seperti pramugari, aku tidak bereaksi sedikitpun karena memang tidak bisa dengan keluarga sekandung. Itu aku, entah jika laki-laki lain.
Paginya, aku buru-buru membawa tiga gadis untuk berangkat ke tempat menimba ilmu masing-masing. Karena suasana di rumah tidak baik-baik saja, bahkan ayah memberikan uang lebih pada Ra dan Cani agar mereka sarapan di luar saja.
Satu gadis lainnya adalah Nahda, papa Ghifar masih terlelap membuatnya ikut berangkat ke tempat kuliahnya bersamaku. Kampus Nahda berbeda dengan Ra. Ra masuk ke perguruan tinggi swasta, sedangkan Nahda mendapatkan perguruan tinggi negeri. Sedikit lebih jauh, melewati terminal tapi tidak jauh dari terminal.
Mama Aca tidak mendaftarkan kuliah, tapi papa Ghifar. Mungkin, beliau kurang paham tempatnya sehingga mengira Ra dan Nahda satu perguruan tinggi. Jika Bunga dan Ra, ya memang satu kampus tapi beda fakultas. Abang Fa'ad pun mengajar di kampus yang sama tempat Ra dan Nahda menimba ilmu.
"Sampai ke depan fakultas sih, Bang. Soalnya jauh betul jalannya." Kepalanya muncul dari bangku tengah.
"Memang boleh mobil masuk?" Biasanya dikelilingi taman yang motor saja tidak boleh melewatinya.
"Ada jalur khusus, Bang. Misalkan parkir pun, pintu masuk dan pintu keluar ini tak sama. Jadi ya ikutin jalan sampai ke pintu keluar, kek di mall gitu." Nahda si badan besar bisa berpindah ke bangku depan melewati perbatasan kursi.
Aneh-aneh saja.
"Oke, oke." Aku baru putar balik dari kampus Ra.
Melobi.
Aku meliriknya dan menahan senyum. Anak perempuan ini di rumah terus, ia jarang keluar rumah jika tidak ada acara keluarga. Pulang sekolah, ya ia langsung dijemput dan berada di rumah.
"Makan apa nih?" Aku menoleh padanya dengan tersenyum manis.
"Ish, Abang tak mau makan aku kan? Abang kalau senyum begitu malah buat aku negatif thinking." Nahda sampai beringsut.
"Ya ampun!" Aku geleng-geleng kepala. "Semalam dipojokin ma kau, sekarang kau berpikir buruk."
"Ya senyumnya penuh arti gitu. Beda tarikan bibir, beda makna loh." Nahda duduk seperti biasa kembali.
__ADS_1
"Ya kau nyogok Abang pakai traktir makan, uang Abang aman untuk stok makan Abang setahun juga. Kasih pilihan yang lain gitu." Aku ingin tahu ia akan memberikan iming-iming apa saja.
"Apa? Ikut naik gunung? Capek nanti, varises. Jangan! Tapi apalagi?" Ia mengetuk-ngetuk dagunya.
Mulutnya ada saja, aku jadi terkekeh geli.
"Apa gitu?" Aku meliriknya kembali.
Ia tidak secantik Bunga, tapi matanya sayu dan wajahnya ekspresif. Ia indah sesuai karakternya yang sederhana.
"Apa? Baju? Celana? Nanti jawabnya Abang bisa beli sendiri. Apa Abang mau dikenalkan ke teman aku? Aku kasih nomor WA aja ya? Apa mau dikenalkan langsung pulang kuliah?" Mimik wajahnya ceria dengan senyuman sumringah.
Ia mirip cara Bunga berekspresi.
"Gini, gini…. Bisa tak usir satu perempuan yang cukup mengganggu untuk Abang? Abang tahan informasi tentang pod ke papa, sampai kau bisa usir perempuan itu kurang lebih dalam waktu satu bulan." Giliran aku melobinya.
"Perempuan? Siapa? Coba nepi dulu, aku masih punya jam kosong satu jam sih." Nahda melirik ke tangan kirinya.
Aku menepi di depan terminal bus.
"Ya ada, Abang sedikit tertarik tapi merasa terganggu. Soalnya, tertarik karena n****." Aku ingin membuatnya penasaran.
Aku ingin dia menyerah, karena aku pun tidak sungguh-sungguh juga. Masalahnya, aku ingin tetap papa atau mama Aca tahu tentang anak perempuannya yang menggunakan pod itu.
Biarlah aku menjadi cepu sejati untuk kebaikan adik-adik atau sepupu perempuanku.
"Siapa? Bunga ya? Aku udah curiga sih, tapi aku masa bodoh juga." Ia terkekeh sejenak. "Tinggal Abang jangan ladenin aja, nanti juga mundur sendiri kok," lanjutnya kemudian.
"Bukan Bunga, kalau Bunga ya Abang tak masalah juga." Tawaku menggema.
"Terus siapa? Aku tak keluar rumah pun, aku tau dari status Bunga yang sering sama Abang. Kadang lihat juga dari jendela, kalau Abang ke tempat Bunga, atau kalian pergi bareng." Nahda memutar matanya ketika menyebutkan satu persatu fakta itu.
__ADS_1
"Tapi bukan Bunga, Dek. Namanya….
...****************...