Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA118. Membicarakan Bunga


__ADS_3

"Sedikit sesad boy mungkin tak masalah, daripada sad boy terus. Udah kek Ghifar kau." Pak wa menepuk pundakku. 


"Husttt!" Ayah mengusap-usap pundakku yang baru ditepuk oleh pak wa.


"Dari nenek dan kakeknya sesat semua, Van. Sampai ke cucu tak ada yang sesat, tambah tak seru alur novel ini." Pak wa malah terkekeh. 


"Cukup anak kau aja yang sesat, anak-anak aku janganlah. Minta Bunga buat novel sendiri, biar mereka yang kangen sesat-sesat bisa baca ke Bunga." Ayah merangkul pundakku. 


Pak wa tertawa lepas. "Sial! Kena aku ini. Kau pikir aja, Van. Kalau Bunga tak dibawa pulang sama keluarga Riska, mungkin aman aja." 


"Dia tak cocok sama ini sambungnya. Kau tengok aja, dari seminggu Bunga ada di tempat aku tiga hari. Belum lagi, setiap pagi sampai sore dia ada di sana. Rumah itu tempat ternyaman untuk anak gadis, beda dengan anak laki-laki. Warung kopi free wifi, tempat ternyaman untuk anak laki-laki main. Masa iya, Bunga malah dari rumah mainnya ke rumah lagi untuk recokin Canda aja. Biyung makan belum, kak Izza sini aku bantu jemur baju. Mau kuupah dia, takut tersinggung dikira ART. Mau didiamkan aja, kok kasihan anak gadis butuh aktivitas. Aku udah bilang Fa'ad, suruh urus pendaftaran kuliah Bunga. Aku bilang, tak apa bayar lebih karena daftar telat. Fa'ad udah iyakan, dia pun bilang bakal carikan universitas dengan fakultas psikologis terbaik, yang artinya tak di tempat Fa'ad ngajar. Ehh, anak kau bilang aku mau nganggur dulu satu tahun. Takutnya, dia keenakan nganggur dan malas lanjutin kuliah. Keingat Ghifar kalau sulit kuliah gini, cita-cita pengen jadi tukang ladang, tapi ternyata takdir bawa dia jadi pengusaha besar. Tuh, takutnya dia kaget dan tak punya basic masalah itu. Bukan satu dua tahun loh Ghifar aku ajari, sekarang pun masih mantan gimana bang terus. Mana tau, Bunga punya takdir sebagus Ghifar tapi basic tak mumpuni. Jadi kata aku, ya lanjut kuliah aja."


Kupingku keluar masuk obrolan mereka. Mereka ingin menemaniku, atau menjadi wasit antar obrolan mereka. 


"Memang Bunga pernah nurut sama aku? Percuma kau bilang ke aku Bunga begini begitu. Lagian, anak kecil memang tau apa tentang ibu sambung. Lebay betul, tak cocok sampai buat tingkah begitu." Mendengar jawaban pak wa, aku langsung ingat dengan Bunga yang bersikap seperti j****g. Jangan-jangan, pak wa tidak tahu bahwa anaknya semenggoda itu. 


"Kau terlalu ngekang, terlalu banyak aturan. Istri kau pun sama, kek penderita OCD. Bunga yang maunya sat-set sat-set, tak bisa dengan aturan kek gitu. Lagian lain juga, anak aku pesantrenan semua." Ayah menghela napasnya. 


"Apa kuncinya harus dipesantrenkan? Ceysa tak dipesantrenkan, punya anak nasabnya dia."


Jangankan ayah, aku pun langsung tersinggung dan ingin marah. 


"Itu dia kena musibah, Pak Wa. Tak sengaja melakukan secara terus menerus kek Bunga. Secara tidak langsung, dia diperkosa oleh laki-laki dalam pengaruh obat yang buat tubuhnya tak bisa dikontrol." Aku buka suara di sini. 

__ADS_1


"Iya, terus rahimnya kek biyung kau. Sekali diteteskan air, langsung bunting. Paham untuk itu, tapi maksudnya tuh apa karena tak ada rekam jejak pesantren kah jadinya anak tuh begitu? Bunga begitu, karena memang tak pesantren sekalipun." 


Mungkin aku yang terlalu sensitif, tanggapan pak wa sesantai ini tapi aku yang meradang. 


"Nasib lah, mana tau Ceysa bernasib begitu. Kau harus tau, pilihan Bunga untuk berubah itu besar. Tapi dia punya rasa sakit hati, yang buat pikirannya rusak di sini. Kau lah jadi ayahnya, olah pikiran anak kau," ujar ayah kemudian. 


"Awas ya kau, kalau anak-anak perempuan kau mulai dewasa. Kau pasti tau sendiri, sulitnya didik anak perempuan. Anak sambung aku, laki-laki, tak begitu dia. Bisa ngikutin ala militer, bisa ngikutin ala ustad. Bunga digitukan didiknya? Ada biyung dan yayah yang kasih dia tempat ternyaman dan aturan yang longgar. Perempuan itu butuh kenyamanan, bukan didikan aku yang kurang disiplin." Pak wa menunjuk ayah dengan setengah tertawa. 


Kekerabatan mereka itu unik. Perselisihan datang lebih banyak dari persaudaraan, debat terus, musuhan sesekali, tapi akhirnya akur lagi. Sering begini sejak aku SMP dulu, sebelum aku pergi ke pesantren. 


"Dia tak cocok sama ibu sambungnya, Bang. Kau tau itu," terang ayah cepat. 


"Tau, Van. Aku tau tak cocok sama Bunga, tapi kau bilang dia cocok sama aku dan anak spesial aku. Kau dukung di awal, tapi nyalahin sekarang." Pak wa berusaha mencubit perut ayah. 


Ayah tertawa dan menahan tangan pak wa. "Ya kau cari jalan keluarnya lah. Masa kau bau balik sama adik ipar aku, ya jelas aku larang, apalagi dia udah sama adik aku. Ya mending aku dukung kau sama yang lain gitu kan?"


"Sialan!" maki pak wa, yang disambut tawa saja oleh ayah. 


"Tapi kan cocok sama Pak Wa. Satu pemikiran, saling mengerti dan melengkapi." Aku tahu istrinya dan sebaik apa istrinya. 


"Ya cocok, memang. Tapi kan, pikir Pak Wa mending rujuk karena ada anak kandung kita. Toh, Bunga pun cocok sama bibi kau dari dulu." Pak wa berbicara lirih. 


"Masalahnya ada suaminya, Bodoh! Kau buat emosi lama-lama. Jangankan Gavin, aku pun meradang lah tengok kau terus terang begitu." 

__ADS_1


Pak wa hanya tertawa lepas saja, mendengar respon dari ayah. Rumitnya begini karena menikah dengan saudara, makanya ayah melarang kami menikah antar saudara dan sepupu agar tidak memutus silaturahmi. Sebenarnya sih boleh saja, tapi karena ada contohnya yang tidak baik malah membuat mereka takut jika ada yang menikah antar saudara. 


"Dokter Ken, maaf mengganggu." Seorang perawat menghampiri kursi kami. 


"Iya, gimana?" Pak wa langsung menoleh pada seseorang yang datang tersebut. 


"Mari ikut Saya, ada diskusi sedikit dari dokter Fardan dan dokter Azizah." 


Pasti ini menyangkut dengan Izza. Semoga pak wa memberikan jalan keluar dan arahan terbaik untuk istriku, aku sudah pusing tujuh keliling karena kondisi Izza yang semakin memburuk ini. 


"Baik." Pak wa langsung pergi. 


"Tenang, dia handal di profesinya. Tidak di rumah tangganya." Ayah merangkulku dan tertawa geli. 


"Kek Ayah lah." Aku tertawa tipis dengan menoleh pada ayah. 


"Mana? Rumah tangga oke, istri oke, anak oke, usaha oke, minusnya di masa lalu aja. Tapi kan ini di masa depan, Bro. Ayah udah upgrade cara pandang berkali-kali, ngikutin tumbuh kembang kalian. Kau jadi Ayah dong." Ia berbicara padaku tapi matanya lurus tajam seperti harimau mengincar mangsanya. 


"Ya oke, selagi biyung tak tau." Ternyata ayah memandang dokter wanita berusia setengah baya yang berpenampilan kinyis-kinyis. 


Ia menutupi wajahnya, kemudian tertawa geli. Mungkin begitu laki-laki, aku pun malah menikmati keindahan perempuan indah yang lewat di depanku. Hanya sebatas itu, tidak lebih berani untuk mencolek


"Mana ayah? Katanya, ini untuk injeksi. Suruh dikasihkan, biar bisa dipakaikan segera." Bunga berjalan menghampiri kami, dengan membawa plastik dan sesuatu di dalamnya. 

__ADS_1


Kini giliranku yang seperti harimau mengincar mangsanya.


...****************...


__ADS_2