Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA240. Tips dari ayah


__ADS_3

"Terserah Ayah mau percaya tak, aku udah jujur nih. Aku pun kaget pas tau kalau Nahda tinggi betul b*****nya, di sisi lain aku senang, tapi aku sedih nih karena tak sebanding dengan h*****nya." Aku memberikan pernyataan lagi, karena ayah masih diam saja. 


"Jujur?" Ayah menaikan satu alisnya. 


Ya ampun, masih kurang yakin aja. 


"Iya, Demi Allah." Aku mengangkat tangan kananku ke atas kepala. "Aku udah tak mempermasalahkan, aku udah nerima semua ini. Yang jadi masalah sekarang, aku tak bisa memenuhi kebutuhan batin Nahda. Aku tak mau terlihat lemah, tak enak hati aku nolak dia," akuku kemudian. 


Semoga, ayah memberikan solusi untuk masalahku kali ini. 


"Jadi, kalian tak pernah s**s pranikah?" Ayah masih memasang wajah tegangnya. 


Harus bagaimana lagi aku berkata? 


"Iya, tak pernah. Aku jujur tentang hal yang aku ceritain kemarin." Ayah kira aku jago zina. 


"Kenapa kau tak bilang Ayah?" Ayah menggoyangkan lenganku. 


Kapan aku tidak bilang? 


"Ayah tak enak hati sama papa Ghifar, bukan? Aku udah bilang, Ayah tak mau dengar. Terus gimana???" Ayah ingin membahas hal ini rupanya. 


"Ya Allah, Nahda." Ayah memandang jauh ke depan.

__ADS_1


Ada apa dengan Nahda? 


"Kenapa sama istri aku?" Ayah seolah mengkhawatirkan Nahda. 


"Masih kecil, udah harus menikah karena kesalahpahaman. Ayah jadi khawatir dia kek biyung, di mana ada fase bosen berumah tangga dan milih jadi janda muda." Ayah jadi seperti Nada yang doyan negatif thinking. 


"Kalau masalah bosan, kan bisa ganti gaya." Aku berpikir ini tentang s**s.


"Ish! Anak Cendol! Maksudnya, dia bosan aktivitas jadi seorang istri. Dia suntuk, dia iri sama teman-temannya yang bebas nongkrong dengan teman sebayanya. Dia pengen lanjutin hidupnya ngerasain indahnya dunia, aku melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakuin di masa lajangnya dan mengejar impiannya. Contohnya Nahda, mungkin dia pengen daki gunung Anak Krakatau mungkin. Hal itu belum kesampean, jadi setelah dia berpikir ingin bebas dari suami, ya dia lanjutin perjalanannya menaklukkan gunung-gunung tinggi lainnya."


Waduh, ngeri juga gunung Anak Krakatau. 


"Aku baru mau membatasi dia biar tak chatting sama grup pecinta alam itu." Aku tidak mau ia masih keluyuran dengan teman laki-lakinya, apalagi dengan panggilan sayang. 


Pantesan, apa-apa biyung selalu menunjukkan pada ayah dulu. Ternyata, ayah memiliki aturan untuk itu. 


"Kalau Nahda pengen daki gunung lagi, gimana?" Aku tidak suka dengan hobinya. 


Hobiku pun tidur. Memiliki waktu senggang, aku akan tidur. Tapi memiliki waktu luang dengan Nahda, malah aku menidurinya. 


"Ya ajak berkemah aja di halaman belakang rumah Ayah, atau rumah papa kau. Atau mungkin, sana tidur di tambak kau."


Waduh, ya bisa-bisa pondok tambak akan roboh terkena guncangan kami. 

__ADS_1


"Aku tak suka, Yah. Mending juga di kamar aja buat kemahnya." Aku akan membiarkannya jika Nahda mau. 


"Kek bocah! Ya atur aja lah, yang sekiranya kau mengertikan dia. Buat dia betah hidup sama kau, biar dia tak minta pulang ke orang tuanya. Itu nasehat dari kakek kau, masa mau boyong biyung kau ke sini. Memang sulit dipraktekkan, kita akan merasa tersakiti sendiri. Tapi istilahnya, dia dengan orang tuanya keturutan semua dan kesampaian semua. Masa iya dengan suaminya, teman hidupnya, dia dibatasi segalanya. Ya wajar lah dia mau pulang ke orang tuanya, gitu lah istilahnya. Karena untuk perempuan, jauh dari keluarga atau orang tua yang membuatnya nyaman sepanjang masa itu besar pengorbanannya. Kek biyung kau ke nenek kau, rumah misah pun, tiap hari biyung kau ada di sana." 


Aku manggut-manggut mengerti. Intinya, aku harus bisa meratukan Nahda. Sebagaimana seperti yang papa Ghifar berikan pada anak perempuan yang aku persunting itu. 


"Terus gimana ini masalah staminaku?" Aku kembali ke pokok permasalahan utamaku. 


"Olahraga yang rutin, habis subuh tuh entah sepuluh menit kah lima belas menit. Aktivitas fisik jangan tinggal, jadi badan kau terlatih untuk lelah. Pernah dengar juga, tentang manfaat main futsal itu bisa untuk memperlambat e******** pada pria. Ayah lihat sepintas aja, tak tau pasti riset akuratnya."


Oke, aku akan mengusahakan hal ini. 


"Jadi dia itu maunya setelah selesai itu nyambung, Yah." Terang saja, aku butuh waktu untuk tegang lagi. 


"Pas ronde pertama, kau harus bisa buat dia lelah dan keluar berkali-kali. Dia berapa kali keluar kalau sekali permainan?"


Aku mengingat kembali permainan kami. "Sekali, satu banding satu." 


"Kau salah, kau harus kejar-kejaran sama jumlah dia keluar. Perbandingannya tiga banding satu, kalau model dia kurang terus tuh. Baru nih masuk, kau buat dia kelojotan dah tuh. Jangan berbangga dulu kalau dia udah keluar, karena ada beberapa wanita yang turn off kalau udah keluar. Itu permasalahan lagi, karena kau harus mulai nyentuh dari awal. Kek gitu lah taktiknya, pahami dulu diri pasangan kau. Kejar-kejaran keluar, bukan berarti kau gosok terus daging kecilnya, bisa-bisa dia bahal rasa itu. Sambil kau kasih dia kebutuhan batinnya, sambil kau asah skill kau. Jangan monoton, jangan gitu-gitu aja, perempuan bosan dia tak akan bilang. Jadi tak harus pemanasan sambil pegang ini, usap itu. Sesekali, gigit ujung dadanya sambil masukin. Katanya sih, sensasinya luar biasa. Ayah laki-laki, jadi kurang tau juga. Cuma paham caranya memperlakukan dan memberi yang terbaik, tapi kalau kata dia tak enak atau sakit, ya jangan diulangin." Ayah menyeruput es oranye lagi. 


"Masalahnya dia selalu bilang sakit-sakit, tapi ujungnya ditambahkan enak. Aku bingung mau lanjut pompa atau tak, kalau dia udah bilang sakit bang, tapi pas aku berhenti dia bilang enak."


Jangankan aku, ayah saja melongo loh. Ya bagaimana ya? Aku juga bingung sendiri harus berbuat apa, jika Nahda sudah membingungkanku seperti itu. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2