Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA169. Tertoel


__ADS_3

"Abang keknya tertarik sama dia." Aku bingung mengakuinya jika tidak jujur. 


"Hm, sudah kuduga." Bunga menghela napasnya. 


Ia mendadak bersila menghadapku, kemudian ia bertopang dagu. "Bukan aku cemburu, tapi kenapa tak aku aja ketimbang dia? Kasarnya, kami sama-sama rusak. Aku tak akan tanya alasannya kenapa Abang bisa suka dia, karena perasaan itu tak bisa dipaksakan. Cuma nih, Bang. Kita baru kenal seminggu loh, aku sama Abang kenal Jessie baru seminggu. Terus, Abang bilang tertarik gitu? Ini tak logis sih." Bunga geleng-geleng kepala. 


"Memang kau mau, kalau Abang ngincer kau? Kan rasanya tak sopan juga, Dek. Kita kakak adik, masa malah suka-sukaan? Laki-laki jatuh cinta, cuma butuh sepuluh detik. Tapi Abang tak jatuh cinta sih, rasanya tak sama masa jatuh cinta ke Izza dulu." Ke Izza pun entah namanya jatuh cinta bukan, karena rasanya lebih ke tidak tega dengannya. 


"Kasarnya begitu, Bang. Berarti bukan karena cita rasa nakalnya kan Abang bisa suka sama itu perempuan?" Bunga memandangku serius. 


"Abang suka lihat damage perempuan merokok, awalnya karena kau juga sih. Tapi setelah tengok foto puser dia, kek agak oleng gitu." 


Eh, dia malah terbahak-bahak. 


Bunga memukul perutku pelan. "Itu n**** namanya!" Tawanya masih begitu ringan terdengar. 


"Iya kah? Abang pulang-pulang langsung c***," akuku yang membuatnya tertawa terbahak. 


"Gara-gara puser doang? Ya ampun, Anda lemah sekali, Tuan." Bunga mengusap sixpackku. 


"Kalau sama kau, malah p*****l kau. Makanya, Abang menghindar jalan di belakang kau." Tanganku reflek mencolek dadanya. 


Aduh, latah pada Izza sering begini jika bercanda di ranjang. 


Nyata kan? Mata Bunga langsung membulat, kemudian ia langsung memeluk dadanya sendiri. 


"Ya ampun, Abang!!!" Ia menangis meraung tanpa air mata. "Aku tak pakai wadah PD lagi. Bagian ini sensitif untuk aku, jangan diulangi." Ia bangkit menjauh. 


Wajahnya merah padam dan matanya langsung sayu. Mengerikan, ia langsung terbangkitkan. 


"Serius? Kok bisa? Jadi gimana nih Abang? Harus gaya apa?" Aku sedikit bangkit dan bertumpu dengan sikuku. 


"Abang!!!" Bunga malak menghentakkan kakinya berulang kali di depan jendela besar. 


Aku tertawa lepas, gemas sekali padanya ini. Gemes, aku ingin mencubitinya jadinya. 


"Heh! Heh! Heh! Apa tuh? Ngapain kau?!" Ibu sembilan anak itu langsung bertolak pinggang di ambang pintu kamar. 


"Ehh, Tante Ria." Aku langsung berganti dalam posisi duduk. 


"Abang colek-colek dada aku, Kak." Akting Bunga kurang ajar sekali. 

__ADS_1


"Dih, kek pakcik kau." Tante Ria masuk ke dalam kamar Bunga. "Ngobrolnya jangan di kamar. Janda gatal! Duda gatal!" Tante Ria melihatku dan Bunga bergantian. 


"Tante pun dulu gatal ke pakcik kan?" Aku meledeknya. 


"Pakcik kau yang iseng, Tante mana ada duluin." Tante Ria berjalan ke arah Bunga. 


"Makanan di meja dapur tuh. Dipanggil biyung kau ini, suruh bantuin beresin rumah untuk ditempati Ra." Tante Ria membuka hordeng pintu balkon kamar. 


"Aku belum mandi, Kak." Bunga mengangkat tangannya dan mencium ketiaknya sendiri. 


"Tak pakai wadah PD ya kau?" Tante Ria menunjuk dada Bunga. 


"Heem." Bunga tersenyum kuda. 


Memang bagaimana bentuknya jika tidak memakai wadah? 


"Kenapa baju kau tak dikancing semua?" Tante Ria menunjuk dadaku. 


"Gerah, Tan." Aku membenahi kemejaku. 


"Bohong!" Tante Ria memicingkan matanya. 


Tante Ria tertawa geli, kemudian meraup wajah Bunga. "Cepat mandi! Makan. Bantuin biyung kau, biar diterima jadi menantu. Humor kau dark betul, cocok sama keluarga kita." Tante Ria merangkul pundak Bunga. 


"Tak lah, Tan. Bang Chandra mabuk perempuan lain." Bunga melirikku. 


Sialan, bergurau tapi aku yang jadi tidak enak hati sendiri. 


"Kau pun mabuk bujang kempot kan? Kenapa Fortuner ngantar kau sampai minimarket aja? Tak apa lah sampai depan pagar, yang penting memang tak ada main belakang."


Oh, tante Ria sudah tahu tentang laki-lakinya Bunga. 


"Siapa yang bilang, Kak?" Bunga terlihat panik. 


"Ayang Apin, orang parkirnya itu temennya ayang. Terus, ayang juga sering nongkrong depan minimarket sana."


Romantis sekali panggilannya, tapi aku menyebutnya alay. Aku geli sendiri dengan panggilan sayang seperti itu, seperti bagaimana gitu menyebutnya. 


"Tapi baru temenan aja yakin, Kak. Aku gampang akrab sama orang, kebetulan dia orangnya asyik meski kempot pipinya. Nanti deh beberapa bulan kemudian, aku ajak main ke sini kalau udah gagah. Bukan apa-apa, akh ilfeel sendiri." Bunga tertawa lepas. 


Dasar, perempuan saja ternyata mandang fisik. 

__ADS_1


"Yang penting, jangan diulangi lagi. Nanti dibantu untuk jalan tengahnya, kalau memang udah berani berkomitmen. Tak semua laki-laki bajingan kok, ada juga yang stay halal kek ayang." Tante Ria memegangi kedua pipinya dengan senyum tersipu. 


Aku tahu siapa yang begitu cinta di rumah tangga mereka. 


"Iya, iya. Ayang tak ada obat sih, si paling stay halal tapi kalau toel-toel tak tau tempat. Si gampang ngambek juga, kalau tak dipenuhi n****nya." Bunga menyipitkan matanya dengan meraih handuknya. 


"Kok kau tau, Dek?" Aku menurunkan kakiku ke lantai. 


"Iyalah, kan aku selingkuhan ayang Apin." Dari pengakuan Bunga, ia mendapatkan karmanya langsung. 


Sebuah bantal melayang dan menghantam punggungnya, hingga membuatnya menoleh dan hanya bisa tersenyum kuda. 


"Gurau, Kak Riut. Kan Kakak sendiri yang cerita gimana ayang Apin, jadi aku tau lah." Bunga berjalan ke arah kamar mandi, setelah selesai berbicara. 


"Ayo pulang, Bang." Tante Ria melambaikan tangannya padaku. 


Aku mengangguk, kemudian mengangkat alas dudukku dari ranjang. Hari Minggu tak ada rencana, aku hanya berniat bersosialisasi dengan saudara-saudaraku saja hari ini. 


Namun, ada sebuah mobil Fortuner terparkir di depan pagar. Wah, jangan-jangan itu si kempot. Siapa ya namanya? Aku tidak yakin, jika Bunga pernah memberitahukan nama teman laki-lakinya itu. 


"Siapa ya, Bang?" Tante Ria menyetarakan langkahnya selaras denganku. 


"Teman laki-lakinya keknya, yang punya Fortuner itu, yang orang Bekasi." Aku tidak bisa mengingat namanya, sepertinya Bunga memang tidak pernah memberitahukan namanya. 


Ah benar, orangnya kempot. Tetapi, ternyata mirip seseorang dari keluarga kami. Ia seperti…. Seperti salah satu personil keluarga kami. Familiar, tapi siapa ya? Hanya mirip, tidak persis. 


Ia cukup tinggi, jadi kempot juga tetap terlihat tegap. Dilihat dari jam tangannya, sabuknya yang mengintip dan juga sneakersnya, barang-barang itu memiliki merek ternama semua. 


"Selamat pagi." Ia tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya padaku dan tante Ria yang baru keluar dari pagar. 


"Pagi." Aku menyambutnya dan tersenyum ramah. 


"Saya Hema dari kampung Blang Ujong." Ia memperkenalkan diri dengan senyum. 


Ia tidak jelek, tapi tidak ganteng juga. Biasa saja, tapi manis masuknya dengan kulit sawo matang. 


"Oh, ya. Cari siapa ya?" Tante Ria yang bertanya. 


"Saya cari….


...****************...

__ADS_1


__ADS_2