Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA296. Mengapeli Ra


__ADS_3

"Bener ini Ra diapelin? Ada yang berani datang tuh betulan?" Ayah mengerutkan keningnya, menghampiriku yang tengah duduk bersama Nahda di teras rumahku. 


"Ya betul kali, Yah." Aku melirik ke arah teras rumah ayah, di mana laki-laki yang kuberi kartu nama itu benar datang ke rumah. 


"Siapa namanya? Kau sapa tadi, kau kenal dia?" Ayah duduk di dekat Nahda. 


Tadinya Nahda dan aku ikut mengobrol bersama Syuhada dan Ra di teras rumah ayah, tapi Nahda memberikan kode agar kami memberikan waktu untuk Ra dan Syuhada mengobrol. Toh, mereka di teras rumah dan kami pun mengawasi mereka dari teras rumah kami. 


"Namanya Syuhada, Yah. Teman kuliahnya setau aku sih. Tapi dia lakik, berani izin minta berkunjung dan minta alamat." Aku tersenyum samar dengan melirik ke arah laki-laki yang duduk berjarak bersama Ra. 


Terlihat ia canggung, beberapa kali ia menoleh ke arah kami. Ayah saat keluar rumah pun melewati mereka padahal, ayah tidak menegur atau menyapa. 


"Orang mana? Anaknya siapa?" Ayah melirik ke arah pandangku. 


"Tegur aja, Yah. Kurang tau aku." Aku mengedikkan bahuku, kemudian mengangkat gelas tehku dan menikmatinya. 


"Janganlah, masa baru satu kali main ditegur. Main sih main aja, barangkali memang cuma teman." Ayah mencolek lengan Nahda. 


"Teh, Dek. Pakai gula aman ya?" Ayah memamerkan giginya yang kebanyakan sudah tidak asli. 


"Oke, Ayah ganteng." Nahda tersenyum lebar dan masuk ke dalam rumah. 


"Istri kau belum isi, Bang?" tanya ayah bisik-bisik. 


Pasti ayah menjaga perasaan Nahda, sampai ia bertanya pun memberikan Nahda perintah dulu. 

__ADS_1


"Belum, Yah." Aku mengambil sebatang kembali rokokku. 


"Kau tak pengen cek air kau?" Pertanyaan ayah langsung membuatku tersinggung. 


"Kemarin duda, nakal-nakalnya aku itu mainan sendiri. Tak jajan perempuan, tak ganti-ganti perempuan. Sebelum nikah pun cek darah juga, aku bersih, Nahda bersih. Kami pun vaksin juga." Ayah beranggapan aku nakal kemarin rupanya. 


"Bukan, bukan kek gitu. Maksud Ayah, kualitas s***** yang hidupnya itu berapa persen. Apa harus program bayi tabung, atau memang cuma perlu gaya hidup sehat aja." Ayah celingukan ke arah pintu rumahku. Mungkin khawatir Nahda ada di belakangnya. 


"Maksud, aku kek Ayah dulu gitu? Kan latar belakang kita aja beda, Yah. Aku tak miras tak rutin dilepaskan juga, kek mana bisa kek Ayah dulu?" Emosi mudah terpancing jika dengan ayahku, panutanku dan sekaligus lawan debatku. 


Helaan napas ayah terdengar berat. "Karena masa Ayah mau punya kau, keadaan Ayah kek gitu. Jadi Ayah khawatir, takut benih Ayah yang paling kuat ini, ternyata punya keadaan yang sama kek Ayah dulu." Aku mengusap bahuku lembut, bahkan tutur katanya pun lembut sekalipun aku ngegas saja. 


"Tak mau bahas begini-begini aku, Yah. Nikah juga belum ada setahun." Aku membuang wajahku ke arah lain. 


Aku tidak selera untuk membahas apapun, moodku sudah hancur tidak jelas. Aku tersinggung dan ingin marah pada ayah rasanya. 


"Masa? Ayah tanya langsung, sambil nungguin teh dingin." Ayah bangkit dan meninggalkan tempatnya. 


"Hmm, nanti aja lah, Yah. Tehnya baru siap kok." Nahda terlihat kecewa. 


"Ayah tak pernah minum teh panas-panas, Dek. Pasti Ayah minum kok, ditutup aja dulu gelasnya biar tak kena debu airnya." Ayah menoleh dan melanjutkan langkahnya. 


Aku memiliki feeling jelek tentang Bunga, sepertinya pun sama dengan ayah juga. Buktinya, ayah sampai gerak cepat. 


"Gimana? Parcel hantaran udah siap semua belum, Dek?" Mungkin sudah sekitar seminggu lebih, dari waktu aku dan Hema bertemu di rumah pupuk. 

__ADS_1


"Belum lah, Bang. Aku beli online, tapi di official shop, jadi terpercaya. Hema kasih sekian, harus dapat banyak yang komplit katanya. Tapi aku bilang, kalau memang habis budget terus terang aja, aku bantu tambahin parcelan. Kata Hema, ya memang maunya cukup dua puluh juta aja aja udah komplit katanya, karena sisanya untuk keperluan yang lain. Ya aku bilang, ya udah kurang-kurangnya aku tambahin, nanti setiap pembelian produk pun aku screenshot biar kau tau jumlah totalnya ke mana aja uang yang dia kirimkan ke aku itu. Si Hema bilang, ya kalau tambahin kasih tau dan screenshot juga katanya." Nahda menarik napasnya lebih panjang. "Kata aku sih tak usah gitu ya, Bang? Kek aku ngasih dia hutang aja, kan aku kasih bantuan gitu." Nahda tersenyum sekilas dan menoleh ke arah Ra. 


Matanya menyipit, ia tengah memperhatikan dengan jeli dua muda-mudi yang tengah mengobrol dan fokus mereka pada sebuah ponsel. 


"Ya mungkin Hemanya tak enak hati, udah ngerepotin, malah Adek nambahin juga. Mungkin dia ada pikiran untuk ganti senilai yang Adek tambahkan untuk bantu dia." Aku mencoba memberi pandanganku tentang ceritanya. 


"Ya kan bakal jadi keluarga, bakal titip-titipan anak." Senyuman Nahda terlihat pilu. 


Ia belum hamil dan aku masih belum sukses untuk menghamilinya. Apa benar aku perlu tes kualitas airku? Tapi aku merasa sehat, aku pun yakin airku tak bermasalah. Mungkin hanya butuh waktu saja, karena aktivitas ranjang kami yang terlalu sering, mungkin telurnya Nahda bingung mencari benih andalan. 


"Ya, uang kan memang sensitif. Tinggal kasih aja yang Hema mau, masalah ganti taknya biar jadi masalah Hema. Kita tak usah pikirkan, kek shodaqoh aja biasa. Jangan diharapkan bahwa Hema bakal balikin, namanya juga Hema tak enak hati ya mungkin basa-basi aja ngomong gitu." Aku mengusap-ngusap punggungnya, kemudian tersenyum saat ia menoleh padaku. 


"Abang bawa tehnya ayah gih, aku mau nimbrung ngobrol. Nampak depan mata juga, aku jadi curiga." Nahda meninggalkanku, ia mendekat ke arah teras rumah ayah. 


Nahda curiga? Ia khawatir pada adik iparnya? Aduh, manis sekali istriku ini. Sepeduli itu ia pada adikku yang aku jaga ke sana ke mari. 


"Abang ke Bunga ya, Dek?" Aku membawa gelas teh milik ayah. 


Nahda hanya mengangguk, ia sudah berada di sebelah Ra. Aku melangkah pergi, memenuhi rasa penasaran dan kecurigaanku juga. Nikah kok tiba-tiba dimajuin? Kan sudah daftar untuk tanggal sekian. 


Sepi sekali, tapi benar ada sandal ayah di sana. Aku terus melangkah, masuk ke dalam rumah dan menuju lantai dua. Rumah ini tetap terpelihara, meski sedikit berdebu di dekat jendela. 


Benar atau tidaknya ini rumahku, aku hanya ingin rumah ini terawat dan terjaga. 


Pintu kamar Bunga terbuka lebar, ada suara orang mengobrol juga. Aku yakin ayah ada di dalam kamar Bunga bersama Bunga, bukan keluyuran mengecek keadaan rumah. 

__ADS_1


"Hei, loh…. Kenapa?" Aku bergegas masuk begitu melihat keadaan di dalam kamar. 


...****************...


__ADS_2