
Aku sudah menghabiskan makananku. Aku dan ibu mertuaku tengah battle asap rokok, kami masih di meja makan dengan exhaust di atas kepala kami yang menyala.
"Mama kenapa tak nasehati anaknya? Masa aku suruh ngerti terus?" Sejak saat di mobil, aku diminta untuk memahami bagaimana kekanak-kanakannya Nahda.
"Udah, diem dulu. Jawab pertanyaan Mama." Mama Aca mengetuk rokoknya di atas asbak.
"Gimana, Ma?" Aku bertopang dagu, menghadapkan rokokku ke atas.
"Kau salah masuk tak?"
Aku melongo bodoh.
"Salah masuk? Tentang apa ini?" Aku khawatir salah paham lagi, pikiranku sudah ke mana-mana.
"S**s."
Jelas dan ringkas sekali penjelasan mama Aca.
"Tak salah masuk, memang coba beberapa posisi pas mau masuk. Ya kali jahat betul rusak pembuangannya." Bahkan aku jijik membayangkannya.
__ADS_1
"Maksudnya gimana?" Mama Aca memicingkan matanya.
Apa aku membuat kesalahan pada Nahda?
"Ya awalnya aku di atas, tapi Nahda nampak gelisah ketakutan. Jadi aku ulur lagi, terus pas di waktu yang tepat, aku ambil posisi sendok dan masukin. Kenapa memang? Nahda ngadu apa?" Aku sampai sedetail ini karena takut membuat kesalahan.
"Bentar, bentar…." Mama Aca menikmati rokoknya kembali dan memandang asap rokoknya dalam diam.
Ada apa sih?
"Pas masukin posisi sendok itu, kau salah tempat tak?"
"Tak salah tempat, Ma. Ya Allah…." Aku yakin seratus persen.
"Kalau malam tadi itu bukan hal yang pertama untuk Nahda, harusnya dia tak sampai demikian. Pas turun dan mau buat sarapan, dia nampak aneh jalannya. Katanya kek sakit bekasnya, agak bengkak apa ya katanya, perih kena air, padahal katanya tak ada lecet. Kok begitu kan? Mama pengalaman melakukan hal yang pertama juga, ya deskripsi rasanya sepintas kek gitu. Jadi…. Kalau memang tak salah jalan, maksudnya ini semalam itu real malam pertama? Kau tak nyolong duluan?" Mama Aca sampai mengetuk meja makan, kemudian menunjukku.
Nyolong lagi bahasanya.
"Kalau aku cerita jujur, Mama mau percaya tak? Terus terang aku udah tak mempermasalahkan hal ini, enak juga aku dapat perawan berkesan." Aku menarik kembali rokokku.
__ADS_1
"Sok jujur, Mama dengerin." Mama Aca menyeruput minuman jahenya.
Merokok dengan wedang jahe juga. Aku tidak pernah melakukan resep itu, jika tidak kopi ya teh pastinya.
"Aku datang ke rumah, masa Mama ada di rumah biyung Minggu pagi itu. Aku sama ayah baru pulang dari Sulawesi, aku kena tegur biyung dan ayah tentang aku mengakui bahwa Nahda itu calon istri aku ke Jessie. Jessie itu perempuan yang suka ikut ngaji ke biyung kalau Maghrib itu, sebelumnya memang aku ada dekat sama dia. Tapi, aku banyak dapat saran untuk jauhin dia. Selain dia DJ, dia b***** besar juga. Hema calon suaminya Bunga itu user si Jessie, dia pun nyaranin aku untuk jauhin dia. Tapi sulit nih, Ma. Dia sampai datang ke rumah pupuk, karena aku sulit dia jumpai. Aku merasa benar-benar terganggu, sampai akhirnya buat kesepakatan bodoh dengan Nahda untuk dia jadi pacar bohongan aku, biar Jessie jauhin aku. Ide itu pun dari Nahda, aku iyain aja karena mana tau berhasil bisa lepas dari Jessie. Setelah aku dan Nahda foto bersama, aku post dan sengaja bisa dilihat Jessie aja. Jessie langsung komen tuh, dia nanya kan, aku jawabnya Nahda itu calon istri aku. Perkiraan aku dan Nahda, Jessie ini bakal nanya ke Ra tentang status kami, karena Ra pernah main bareng Jessie. Tak taunya, Jessie nembusin langsung ke biyung. Dikasih tengok juga chat aku ke Jessie, bahwa aku ngakuin Nahda ini calon istri aku. Terang aja, Ma. Ayah panik, ayah tak mau aku nikah sama Nahda karena ayah punya alasan pribadi. Pagi itu baru sampai dari Sulawesi, ayah tau Mama sama biyung lagi ngobrol. Ayah panik, langsung negur aku. Aku kalap lah, pusing dan tertekan aku ini lihat kepanikan ayah. Aku datang ke rumah, ada Kaf juga di teras rumah Mama. Aku panggil papa beberapa kali, sampai aku naik ke lantai dua. Tak ada sahutan, tak ada orang-orang. Aku datangin Nahda, pengen bawa Nahda jelasin ke ayah bahwa kami ini hanya bohongan, kami tak benar-benar pacaran. Aku cari papa juga, pengen izin ke papa untuk ajak Nahda ke rumah dan minta papa panggilkan Nahda. Tapi karena papa tak ada, aku langsung ketuk pintu kamar Nahda. Dibukakan sama Nahda, tapi dia masih dandan dan masih berdaster. Bercanda kami ini, entah ada obrolan apa, akhirnya aku gelitikin pinggang Nahda. Posisi aku rangkul dia, pas dia berontak ke belakang itu kan badan aku ketarik, karena tangan aku lagi rangkul dia. Otomatis, posisi kami absurd. Detik itu juga, papa nonton. Dikiranya lagi anu kali, soalnya daster Nahda kan naik sedikit karena dia rebahan dan aku tindihin. Papa langsung jatuh, Nahda panik. Terus aku dituduh, papa paling merasa tersakiti. Ditambah lagi pas Nahda ditanya sama Mama tentang di luar apa di dalam, Nahda jawab di dalam. Nahda itu polos loh, Ma. Dia jawab di dalam, karena memang aku masuk ke dalam kamarnya. Mungkin itu yang ada di pikirannya, beda sama pemahaman kita." Aku menceritakan sejujur-jujurnya dan seterang-terangnya.
Mama Aca masih terdiam, ia menghela napas dan tetap memandang wajahku. Cukup lama ia diam, sampai asap dari mulutnya berhembus beberapa kali.
"Ayah kau tak ada cerita apapun, Mama pun bingung nanya sama Nahda. Mama datangi dia, dia bawa obrolan lain. Dia excited juga loh jadi pengantin, senangnya dia milih dan nyoba gaun. Jadi Mama ini bingung, mau minta dia jujur juga Mama khawatir dia malu ke Mama. Dengan dia senang akan pernikahan kalian, ya Mama mikirnya benar aja kejadian di kamar itu," ungkapnya kemudian.
Kacau.
"Ayah tak mau dengar aku, ayah berubah kolot dan pemarah. Hari-hari sebelum aku nikah, ayah ini banyak diam dan ngurung diri. Ditanya, jawabnya tak enak hati terus, bawa permasalahan yang dulu-dulu. Sesak hati juga aku nerima, kek tak punya hak untuk bersuara. Mau marah ke siapa, pengen jelasin tak ada yang mau dengarin. Aku bukan nolak Nahda sebagai istri aku, aku cuma belum pengen terikat. Aku menikmati jadi ojeknya adik-adik aku, jagain mereka, ngawasin mereka. Kalau aku beristri, istri aku takutnya tekanan batin karena aku keluyuran dan ngurusin keluarga aku aja. Tapi gimana lagi? Pernikahan bukan permainan, Nahda juga jelas lebih baik dari Jessie itu, perempuan yang gangguin hidup aku. Ya aku nikmati aja, aku terima aja. Toh respon Nahda tentang adik-adik aku, tak kek musuhin gitu. Dia santai, bahkan ngobrol enjoy. Aku izin nganter, boleh aja, tak banyak ini itu kek almarhumah. Cara dia menanggapi bahwa aku pernah hidup dengan Izza pun, dia tak ambil cemburu dan tak buat fakta itu menyakitkan untuknya." Aku berharap Nahda mengerti bahwa aku memiliki banyak adik.
"Perempuan, cemburu itu wajar. Tapi dengan kau cerita tanggapan Nahda begitu, dia paham bahwa adik-adik kau itu bergantung dengan kau. Termasuk juga…. Dia masih merasa bahwa kau adalah abangnya. Tidak ada rasa cemburu untuk seorang adik dengan abangnya sendiri, dia memaklumi kau urus adik kau, karena dia pun nantinya bakal andil jadi adik kau juga. Sampai tak pemikiran ini?" Mama Aca sudah menghabiskan satu batang rokoknya.
"Masalah cinta maksudnya? Masalah tentang itu… . .
...****************...
__ADS_1