Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA24. Tangis kejar


__ADS_3

"Ya, karena Hadi pun setengah sadar ngelakuinnya." Chandra memarkirkan kendaraannya di halaman rumah orang tuanya.


"Kau harus tau, kalau semua laki-laki itu b******n di waktunya! Ayah tak percaya!" Givan membuka pintu mobilnya, ketika selesai mengatakan hal itu.


"Yah, jangan pakai kekerasan." Chandra terburu-buru untuk menarik rem tangan.


Givan mencoba mendengarkan pesan anaknya, tapi ia kesulitan untuk meredam emosinya. Ia terus melangkah cepat, untuk menemui pelaku yang menghamili anak sambungnya.


Namun, emosinya luntur seketika. Kala melihat Canda dan Giska menangis tergugu, dengan bayi kecil di dekapan Canda. Bertambah harunya, Hadi dan Ceysa memeluk lutut kedua ibu tersebut. Isak tangis terdengar menggema, bagaikan suasana duka yang menyakiti mereka semua.


"Maafin Hadi, Biyung. Hadi tak tau kalau Ceysa sampai melahirkan sendiri." Hadi terlihat seperti Hadi kecil, yang menangis sambil berbicara kala memohon maaf telah membuat Ceysa terjatuh dengan permainannya.


"Kenapa harus Ceysa?" Canda menangisi bayi di dekapannya.


Ia memiliki pemikiran, suaminya lah yang jahat. Ceysa bukan anak kandung suaminya, tapi Ceysa yang mendapat karma dari perbuatan-perbuatan suaminya. Ia lupa, jika mantan suaminya yang merupakan ayah kandung Ceysa, memiliki dua anak di luar pernikahan.


"Udah, Biyung." Chandra mendahului ayahnya, kemudian ia memeluk ibunya.


Tangis mereka menguat, terdengar lepas mengusik pendengar Ghifar yang menjadi tetangga rumah Givan. Ia merasa penasaran, tapi ia tengah memiliki kesibukan. Ia mencoba menunda pekerjaannya, untuk mengetahui asal suara tangis tersebut.


Tangis lepas bayi langsung terdengar kencang. Dayyan terbangun dalam posisi yang kurang nyaman, tangisnya lepas merasakan ketidaknyamanannya.


Ceysa dan Hadi panik, karena Dayyan sampai meronta di pelukan Canda. Ceysa dengan sigap mengambil alih anaknya, kemudian ia beralih ke ruangan sebelah untuk menyusui anaknya. Sayangnya, anak itu terus menggeleng menolak ASI dari ibunya.


"Bang Chandra, coba buat sufornya." Ceysa berseru untuk kakaknya.


"Ya, Dek." Chandra bergegas untuk membongkar barang bawaan mereka.


Hadi menghampiri Ceysa, ia mencoba untuk menenangkan anaknya. Sayangnya, Dayyan terus menangis tanpa henti. Givan tersentuh, ia bergerak mendekati Ceysa dan Hadi yang berada di ruang keluarga. Ia memerhatikan kepanikan Ceysa dan Hadi, yang terlihat belum bisa mengurus anak tersebut.


"Sini, sini." Givan mengulurkan kedua tangannya, kemudian ia mengambil alih bayi yang berada di dekapan Hadi.


"Ayah udah tak apa?" Hadi khawatir Givan jatuh bersama anaknya.


"Tak apa." Givan mendekap bayi tersebut, ia menempatkan kepala bayi tersebut di bahunya.

__ADS_1


Kehangatan yang Givan salurkan, rasa sayang yang Givan curahkan lewat usapan lembut di punggung bayi tersebut, tersampaikan tanpa ucapan. Bayi itu mulai tenang, dengan napas yang kembali teratur. Ceysa melongo saja melihat anaknya tenang tanpa ASI atau tanpa sufor dalam botol dot. Ia pun tidak mengerti kenapa anaknya sampai mengamuk seperti itu, karena ia yakin anaknya tak mungkin tejepit dalam pelukan ibunya.


Alunan surat pendek, terdengar lirih di sepanjang timangan Givan pada cucunya. Kembali, ia harus mengalah dengan emosinya karena perasaannya. Ia perlu berbicara dengan orang tua bayi tersebut, tapi ia sadar jika bayi tersebut tak perlu dibawa-bawa dalam permasalahan mereka.


Ia cukup paham, cucunya tidak mengerti apa-apa. Cucunya tak menginginkan lahir ke dunia ini, tanpa kehendak dari Sang Penciptanya. Ia tahu, cucunya hadir karena perilaku anak dan keponakannya. Ia mengerti, bukan cucunya yang pantas dihakimi dari kejadian ini. Ia hanya bayi, yang tidak mengerti tentang apapun yang terjadi karena kelahirannya.


"Nih dotnya, Nak." Chandra datang tergesa-gesa, suaranya mengagetkan Dayyan yang baru terlelap.


Tangis anak itu terdengar kembali. Di tengah-tengah kehangatan keluarga, ia malah terlihat begitu cengeng. Keith yang melihat dari kejauhan, merasa Dayyan begitu sensitif di sini. Dayyan tidak seperti kala berada dalam asuhannya di sana, Dayyan adalah anak yang baik dan mudah tertidur.


"Suara kau, Bang! Pak Wa ngagetin aja." Givan kembali mengusap-usap punggung bayi tersebut.


Ceysa merasa khawatir, karena kulit wajah anaknya sampai berwarna merah kehitaman karena terus menangis lepas. Ia khawatir Dayyan jatuh sakit, karena terus menangis. Ia berpikir bahwa Dayyan seperti ini, karena penerbangan yang membuatnya tak nyaman dalam perjalanan tadi.


"Oh, ya? Ayah ngagetin Dayyan terus ya? Masa sih? Dayyan di sana ngebluk terus, biarpun Ayah ribut aja di sana." Chandra mencoba mengambil alih Dayyan dari ayahnya.


"Ayah?" Givan mengerutkan keningnya memandang anaknya.


Chandra menoleh ke arah ayahnya. Ia terkekeh malu, dengan mencoba menenangkan Dayyan dengan dot botolnya.


"Apa sih, Yah?" Chandra mencoba menyamarkan rasa malunya.


"Ayahnya Dayyan dong aku, Yah." Chandra terus menimang Dayyan, yang mau menikmati dot botol buatannya.


"Sana sekalian nikah sama Hadi, nanti baru jadi ayah. Kau belum ada anak, kena sawan nanti kalau dipanggil ayah duluan." Givan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


Hati Hadi dan Ceysa bergembira, dengan ucapan ayahnya seolah mengatakan bahwa ayahnya memerintahkan mereka untuk menikah.


"Benar boleh nikah, Yah?" Hadi begitu senang dengan mendekati Givan.


Givan melirik ke arah Hadi yang duduk di sampingnya. "Menurut kau?"


Hati Hadi was-was, mendengar suara calon ayah mertuanya yang menggantung tersebut. Ia khawatir, dirinya dipersulit untuk meminang Ceysa.


"Aku nanti aja, Yah. Mau di sini dulu, mau pedekate sama Izza." Chandra mengubah posisi Dayyan, karena botol dot yang tak terisi penuh itu, sudah dihabiskan oleh Dayyan.

__ADS_1


"Memang kau tak kuliah?" Givan memperhatikan anaknya yang baru duduk di sofa single.


"Ayah sebenarnya kena prank." Chandra memamerkan giginya.


Sontak saja, sebuah bantal sofa terus dipantulkan ke punggung Chandra. Chandra yang baru duduk pun, berdiri kembali menjauh dari pukulan ayahnya dengan bantal sofa.


"Gila aja, anak Ipan masa gagal wisuda. Kira-kira dong?" Chandra menyugar rambutnya dengan satu tangannya, karena ia masih menggendong bayi.


"Kau ini, Chandra Gupta Maurya!" Givan terlihat murka tapi dalam ekspresi dibuat-buat.


"Teuku Chandra Andidiyana dong, siapa dulu dilawan?" Chandra menyenggol hidungnya, dengan ibu jarinya.


"Sialan kau! Sini!" seru Givan, saat anaknya beranjak pergi ke ruang tamu kembali.


Tawa Chandra lepas seketika, Dayyan kembali terganggu dalam kenyamanan tidurnya. Kala itu juga, Dayyan menangis tak terkira dan tidak bisa ditolong oleh siapapun kecuali oleh pabrik ASInya yang harus ia nikmati dalam kesunyian dan kesenyapan. Anak bayi itu, membuat para orang dewasa panik dan berkeringat karena tangisnya.


Sampai Ghifar datang, ia terbingung-bingung melihat para keluarga berkumpul dengan menyeka keringatnya. Ia merasa memang dirinya telat datang, tapi ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, sebelum mencari sumber suara tangis dan tawa itu. Ia sedikit tenang, kala mendengar suara tawa, hal itu tidak membuatnya panik karena tangis tadi.


"Ada apa ini, Bang?" Ghifar masih berada di ambang pintu.


"Tak ada, Far. Mintalah Aca masakin banyak, Far. Anak-anak aku yang tak puasa Syawal, nanti aku suruh ke rumah kau untuk sarapan." Givan beranjak mendekati Givan.


"Oh oke, ada lain?" Ghifar paham kakaknya memiliki masalah dan tengah mencoba menyelesaikan masalahnya. Sampai istrinya diminta untuk membantu menghandle perut anak-anaknya, berarti mereka benar-benar sibuk sampai mengesampingkan perut anaknya.


"Sayur asem aja, biar doyan semua," tambah Givan kemudian.


"Tapi masih suasana lebaran, Yah. Aku mau sop iga, Pa. Biarin yang lain sayur asem juga." Chandra komplain mengenai menu makanan untuknya.


"Oke, disesuaikan." Ghifar mengacungkan ibu jarinya.


"Ra nginep di tempat kau, udah bangun belum?" Givan merangkul adiknya untuk meninggalkan pintu rumahnya. Ia khawatir Ceysa muncul dengan bayinya, lalu Ghifar melihatnya.


"Udah dong. Ya udah, Bang. Aku susulin Aca ke warung dulu, untuk tambahkan belanjaannya." Ghifar meninggal teras rumah tersebut.


"Oke, Far. Maaf repotin, ART di sini juga lagi sibuk soalnya."

__ADS_1


Ghifar hanya mengacungkan jempolnya, karena ia tidak berniat menjawab dengan suara seru. Ia tidak suka dengan suara lantang dan keras.


...****************...


__ADS_2