Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA271. Kedatangan terkasih


__ADS_3

[Lapor, Komandan Ayah. Hasil kerja hari pertama nih.] aku mengirimkan hasil rekaman suara tukang kayu di rumah mebel Meyda. 


Aku membuat voice note, menceritakan tentang bagaimana aku diajak Meyda ngopi dan apa yang kita bahas. Aku pun bercerita, tentang Meyda yang menceritakan bahwa ayah menelponnya. 


Apa balasan ayahku panutanku ini? 


Ia hanya membuka, tidak membalas atau merespon sedikitpun. Sesibuk itu kah dirinya? 


Aku pulang pergi ke rumah mebel, seolah-olah aku hanya sibuk mengecek keuangan. Saat ada yang datang untuk membeli pun, aku tidak ikut dengan bang Dana untuk mengoceh menjelaskan mutu produk. Namun, pendengaranku merekam hal itu. 


Akulah si cepu, penguping dan diam-diam menghancurkan. Yap, menghancurkan rencana busuk bang Dana.


Padahal aku baru tiga hari di sini, tapi aku seperti sudah bisa membaca kondisi di sini. Termasuk, tentang perempuan selingkuhan bang Dana yang suka datang ke toko rumah mebel ini. Aku berpikir, bahwa tempat usaha ini dijadikan tempat zina juga. 


Ia sudah beristri dan anaknya dua. Aku tahu dari mulutnya sendiri, tapi perempuan yang datang tidak layaknya seorang istri yang datang pada suaminya. Jika memang seperti ceritanya, bahwa anak-anaknya masih balita semua. Tentu istrinya akan datang ke suaminya mengantarkan makanan, atau sebatas meminta uang dengan membawa anak mereka. Jika memang membawa dua anak itu merepotkan, pasti istrinya datang membawa anak paling kecilnya. 


Ditambah juga, ia bercerita bahwa istrinya orang luar daerah dan hanya sendiri di rumah beserta anaknya. Jelas, pasti tidak ada pengasuh juga. Aku yakin dengan feelingku, bahwa bang Dana menggunakan tempat usaha untuk berselingkuh dan berbuat dosa juga. 


Hei, bahkan ia menempati sebuah ruangan bos berikut dengan kamarnya juga. Aku di sini dipersilahkan untuk menempati memang, tapi aku tidak nyaman karena terlalu banyak barang pribadinya di ruangan itu. Ruangan itu sudah seperti rumah keduanya. 


Gilanya lagi, perempuan yang aku kira selingkuhannya itu main nyelonong masuk ke ruangan itu saja. Padahal, ada aku di tempat usaha dan diam-diam memperhatikan aktivitas semua orang. Aku terlihat sibuk sendiri dengan ponsel, tapi aku mengetahui kegiatan semua orang. Yang artinya, perempuan itu memang sering datang dan tanpa sungkan nyelonong begitu. 


Sampai aku lihat sendiri, bagaimana paniknya bang Dana untuk mencegat perempuan itu masuk demi menjaga imagenya di depanku. Kalau memang istrinya juga, kenapa ia tidak mengenalkan padaku? Kan begitu logikanya. 


"Astaghfirullah!" Aku mendapat serangan tiba-tiba. 


Entah siapa yang menyerangku dari belakang, tapi sekarang aku tengah berusaha melepaskan pelukan seseorang ini. 


"Istri kau itu." Suara lembut papa Ghifar, membuat wajah bang Dana seketika pucat. 


Ia meninggalkan pembeli begitu saja, kemudian ia mendatangi papa Ghifar dengan gelagat yang aneh. Ya seolah menutupi sesuatu, tapi kentara sekali cacatnya ia mengkondisikan mukanya. 


"Abang, kangen." Nahda membalikkan posisiku ia membingkai wajahku dan menciumi wajahku habis-habisan. 


Alamak, aku jadi bisa mendengar dan melihat interaksi bang Dana dan papa Ghifar. Pasti bang Dana mengenal siapa papa Ghifar. 


"Iya, Sayang. Udah selesai kah ujiannya?" Aku mencoba menyambut Nahda sebisaku, meski rasa malu ditatap beberapa orang karena tingkah istriku ini. 


"Udah, ngejar. Aku sehari ngerjain banyak soal, biar cepat selesai. Tapi Papa yang maju dan yang ngomong ke pihak kamus." Nahda masih mempertahankan tangannya di leherku. 

__ADS_1


"Tak perlu repot-repot, Saya mau istirahat sebentar di rumah tinggal Chandra, terus langsung pulang. Saya banyak kesibukan di sana." Papa Ghifar seperti tengah menolak tawaran bang Dana. 


Entah apa yang ditawarkan oleh laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu. 


"Ayo, Bang. Anterin ke rumah tinggal dulu." Papa Ghifar berjalan ke arahku, yang masih dikuasai oleh anak tirinya ini. 


"Iya, Pa." Aku mencoba melepaskan tangan Nahda. 


"Mari Saya antar, Pak Ghifar." Bang Dana mendekati kami. 


Sok baik sekali. 


"Tak usah, tak usah repot-repot. Saya mau diantar menantu Saya aja." Papa Ghifar tersenyum manis menolak tawaran itu. 


"Hah? Siapa? Bang Chandra?" Bang Dana menunjukku dengan ibu jarinya. 


"Iya, dia nikah sama anak Saya," jelas papa Ghifar kemudian. 


Pasti di sini terdengar aneh sekali, jika anak kakak dan anak adik menikah. Mitosnya lagi, katanya bisa memiliki anak cacat. 


Nahda bukan anak kandung papa Ghifar, sama seperti Ceysa. Anak kakak dan anak adik menikah pun, gennya masih jauh. 


"Aih, kirain Bang Chandra tuh masih bujang." Ia geleng-geleng seolah tak percaya. 


Ya ampun. 


"Ohh, iya-iya. Kenapa tak datang bareng? Bang Chandra ke sini pun tak ngabarin dulu." 


Wah, ini taktiknya untuk mengetahui tujuan kedatanganku. 


"Ya biasa, ngambek-ngambekan tapi kangen juga akhirnya. Chandra habis ke Cirebon, ziarah ke makam eyang buyutnya. Terus, mampir ke sini ya?" Papa Ghifar memandangku, ia memerlukan bantuanku untuk berbohong. 


Semoga, Nahda bisa diajak kerjasama. 


"Iya, betul. Anak pakde nikahan juga, jadi wakilkan datang karena ayah sibuk di Kalimantan. Singgah ke sini untuk kuliner, istri ada janji mau nyamperin soalnya, jadi aku tunggu dia beberapa hari di sini," terangku kemudian. 


"Iya, kemarin lagi ujian juga. Masih kuliah soalnya, maklum," tambah Nahda kemudian. 


Mantap, perpaduan yang tepat. 

__ADS_1


"Oh, iya-iya. Kalau mau kuliner, di daerah……" Bang Dana menerangkan semuanya, seolah benar aku ingin berkuliner.


Ingin berada di zona aman ya, bang? Tenang, jangan ragu dan bimbang. Kenalin nih, titisan orang kaya dengan kelicikan yang turun temurun. 


Ya, ingin menikah saja pun kakekku bahkan niat menghamili nenekku dulu agar jadi. Licik, bukan?


Oke, skip-skip-skip. 


"Oh, iya-iya. Makasih ya infonya, Pak. Kami mau istirahat dulu, mungkin petang nanti baru jalan-jalan kulineran." Nahda berbicara dengan amat sopan dan ramah. 


Pandainya kadang-kadang. Tapi yang jelas, ia bisa menguasai keadaan. 


"Oh iya, silahkan. Kalau ada apa-apa, bisa langsung telpon aja ya?" Bang Dana tersenyum ramah. 


Pembeli yang tadi, untungnya sudah dihandle oleh tukang kayu yang tengah bekerja. Ia melalaikan pekerjaannya dengan menyambut papa Ghifar dan Nahda saja, itu sudah nilai minus di mataku. 


Bukan mataku yang minus. 


"Baik, Pak. Terima kasih." Nahda berjalan mendahului dengan menggandeng papa Ghifar. 


"Tinggal dulu, Bang." Aku menepuk bahu bang Dana, ketika melewatinya. 


"Iya, Bang. Ati-ati."


Loh? Kenapa ia harus mengusap dadanya? Tidak jadi jantungan ya? Bego juga ia rupanya. 


"Beli bakso dulu, Bang. Bungkus aja, pening betul kepala karena kelamaan di jalan. Yang pedes ya Bang?" Papa Ghifar memijat pelipisnya, kala sudah duduk di sampingku yang tengah mengemudi. 


Biarpun nempel keket seperti batok kelapa pada daging kelapanya, tapi ia tahu cara memperlakukan orang tuanya. Ia tidak berebut kursi di sampingku. Ia memilih duduk di belakang, dengan mengusap wajahnya dengan tisu basah. 


"Adek mau apa?" Aku memperhatikannya dari spion tengah, sebelum menjalankan mobil. 


"Air mineral dingin, Bang." Ia melongok ke arah bangku depan. 


Ia nyosor lagi untuk mencium pipiku. Kemudian, ia menoleh ke arah papanya itu dengan tersenyum kuda. 


"Tak pernah kau kenal laki-laki. Sekali kenal laki-laki dan tau rasa laki-laki, kiblat kau langsung pindah." Papa Ghifar geleng-geleng kepala. 


Aku menjalankan mobil perlahan. Aku mengetahui, jika Nahda berganti tengah mencium papa Ghifar. Semanis itu ia dengan orang tuanya, meski hanya ayah sambungnya. 

__ADS_1


"Masih Islam, Pa." Polosnya jawaban si cantik ini. 


...****************...


__ADS_2