
"Asyik betul main HPnya, Dek." Aku sudah melepaskan bajuku, ketika masuk ke dalam kamar.
Nanda terlihat kaget, ia langsung menaruh ponselnya di dekat bantal tidurnya dengan posisi layar terbalik. Aku membuang bajuku asal, kemudian berjalan menghampirinya.
Aku berpikir buruk tentang istriku, karena ucapan mama Aca tadi. Ia seolah mengatakan bahwa ada teman chat Nahda yang menemani Nahda di kala aku sibuk.
"Abang perlu cek." Aku langsung mengambil ponselnya.
Ia diam saja, masih dalam keadaan ekspresi kaget. Aku menghadapkan layar ponselnya ke wajahnya, untuk membuka akses keamanannya. Setelah itu, aku langsung membuka satu persatu aplikasi yang memungkinkan untuk bertukar chat.
Apa ternyata? Ia asyik kembali dengan teman grupnya. Tidak melulu laki-laki, perempuan pun ada. Tapi terlihat di balasannya, bahwa responnya cepat dan seru.
"Kau kesepian?" Begini pun aku emosi.
Apa aku termasuk laki-laki posesif? Tapi aku ingin ia mengurangi interaksinya dengan teman sepermainannya.
"Kau???" Alisnya menyatu.
"Biyung ada di rumah, Cani ada, Ra ada, atau main ke tante Ria. Tak harus melulu HP, katanya matanya udah minus juga?" Aku membanting ponselnya ke tengah ranjang.
Aku duduk di tepian ranjang, dengan membelakangi posisinya. Kebetulan juga, Nahda persis berada di belakangku.
"Jangan marah, takut."
Aku merasakan pelukan mendadak darinya, dengan isakan lirih.
Aku lupa jika Nahda tidak bisa dibentak. Tapi aku tidak suka, jika ia terlalu berinteraksi dengan kawan sepermainannya. Bagaimana kalau dia akhirnya merindukan lingkungan lamanya? Bagaimana kalau dia ingin kembali berkumpul bersama teman-temannya, lalu melupakan kewajibannya sebagai istriku? Lebih lagi, bagaimana kalau ia ingin keluar dari hubungan ini demi tetap bisa berkumpul dalam pertemanan yang satu hobi dengannya itu.
Aku mengekang?
Benar, aku mengekangnya. Kasarnya, aku membelinya dan ia harus hidup dengan aturanku. Itu bukan tanggung jawab yang sepele untukku, karena aku harus menanggung dosa-dosanya dan memenuhi kebutuhan lahir batinnya. Aku mengekangnya bukan tanpa alasan, tapi aku takut ia terjerumus dosa, lalu aku dihakimi Yang Kuasa karena perbuatannya yang lalai kubimbing karena ketidaktahuanku.
"Mainlah ke mertua, ke ipar, toh di sini pun minta pulang ke mama kan? Kenapa HP aja? Tak cukup kah nonton film aja? Tak cukup kah masukin barang-barang ke troli belanja online kau? Kau haha-hihi, asyik betul kau bercanda. Kau istri orang, Dek. Teman kau ada yang terhanyut candaan kau, rumah tangga kita pasti terganggu. Abang akui, Abang sibuk. Tapi kan kah tau, kalau aku ini kerja, bulan keluyuran atau nonton futsal. Carilah kesibukan yang positif! Kerjain tugas kek, daripada buat baper teman yang kebanyakan adalah laki-laki itu. Kawan kau yang di tempat pod pun, nampak di mata dia suka sama kau. Kau friendly, aku tau itu! Tapi laki-laki tak bisa tahan dengan teman perempuannya yang terlalu asyik dijadikan kawan, laki-laki tak bisa berteman mulus dengan perempuan." Aku sedikit menoleh ke arah baju kiriku.
"Abang cemburu?" Ia menempatkan kepalanya di bahu kiriku.
__ADS_1
Aku menatap lurus ke depan kembali. "Kau yang berbuat salah, aku yang nanggung dosanya! Jangan asyik aja kau bertingkah, kau istri aku!" Aku melepaskan tangannya yang berada di depan perutku, kemudian aku berjalan ke kamar mandi.
"Itu tandanya Abang cemburu." Terdengar tawa kecil dari mulutnya.
Tadi ia terisak, kemudian tertawa begitu? Apa yang ia pikirkan?
Aku membersihkan diri, menyegarkan badan dan kembali ke kamar. Moodku belum membaik, tapi aku paham ia memancingku untuk bergerak di ranjang.
Aku mencoba tak menghiraukan kode darinya. Aku menarik selimutku, mencoba memejamkan mata dengan posisi memunggunginya.
Nahda memelukku kembali, tangannya mengusap-usap perutku seolah aku hamil. Namun, jarinya ia gunakan sebagai senjata untuk memberikan stimulasi pembangkit minat.
"Lanjutin asyik sama HP kau aja sana!" Aku menahan tangannya yang bergerak mengukir sesuatu semakin turun.
"Aku tambah cinta kalau Abang lagi cemburu gini." Ia terkekeh kecil, tangannya bergerak ke bagian dadaku.
Apa dia ini, cinta, cemburu? Hmm. Sekalipun memang begitu, aku tidak minat membahas hal seperti itu. Dengan aku memenuhi kewajibanku pun, tandanya aku cinta padanya. Ditambah pula, laranganku itu bukan berarti aku cemburu. Aku tegaskan ulang, karena aku tidak mau ia berbuat salah di belakangku atau ia terjerumus dalam dosa.
Ujian sekali memiliki Nahda. Tengah marah pun, segala ia menyerang tengkukku. Hidungnya sampai menempel, karena aku berusaha melepaskan c*****nya dari tengkukku.
"Kenapa?" Ia menarik dadaku, sehingga posisiku langsung berubah terl******.
Kuat sekali tenaganya, mungkin karena makannya banyak.
"Ngomong dong, ngomong. Gimana? Gimana? Jangan 'kau-kauin' aku, Bang. Jangan 'aku-aku' terus, Bang. Tak suka aku ini, sedih loh." Ia menempatkan kepalanya di dadaku, sehingga menjadi ganjal untuk aku tidak merubah posisiku lagi.
"Jangan main grup! Ngerti tak?!" Aku tidak bisa merendahkan suaraku.
Ia memperhatikan wajahku dalam beberapa detik. Aku melihat matanya memerah dan napasnya mendadak berat, kemudian ia mengangguk dan kembali menjadikan dadaku sebagai bantalnya.
Aku membentaknya barusan. Aku jadi tidak tega sendiri, aku merasa bersalah.
"Nahda…. Jangan main grup, paham tak?" Aku mengulangi kalimatku, tapi kali ini dengan Nahda yang kutekan selembut mungkin.
"Iya, Abang." Suaranya bergetar kuat, kemudian disusul dengan sesenggukan.
__ADS_1
Ya Allah, tangisnya jadi.
"Tak usah ngadu ke mama, ke papa. Ada masalah sedikit, ngadu. Ada cekcok sedikit, ngadu. Dikiranya Abang suami jahat." Aku mengusap-usap kepalanya.
"Memang jahat, Abang bentak-bentak aku, marah-marah aku." Suara tangisnya semakin terdengar jelas.
Ampun, Nahdatillah.
"Maaf ya?" Mesti saja aku yang mengalah.
Ia yang salah kok, aku yang malah jadinya minta maaf.
"Abang nih sibuk, kerja, bukan keluyuran. Cari kesibukan yang positif, jangan nyari candaan dengan laki-laki lain terus. Tak sempat Abang ngechat Adek, telpon Adek. Tak masalah sesekali chat duluan, nelpon duluan. Bukan Abang lupa, bukan Abang lalai, tapi memang tak sempat aja. Yang bisa nempatin diri, kalau mau rumah tangga awet langgeng. Kasian Abang, Dek. Masa harus ganti istri lagi? Masa harus nikah lagi? Masa harus ngawalin lagi dengan perempuan baru?" Tangan kananku memeluk punggungnya, tangan kiriku mengusap kepalanya.
"Jangan ganti lagi, aku aja terus. Aku masih layak dipakai."
Tawaku sampai menyemprot.
"Kayak sekali kalau ini sih." Aku mengusap air matanya.
"Sih kenapa tak mau peka?" Ia mendongak melihatku.
Huuu, benar rupanya.
"Masih belum mood." Aku membingkai wajahnya dengan satu tanganku.
"Ya udah aku 'mood'." Kepalanya lebih turun, celanaku pun ikut turun.
Blush….
Aku merasa kepala belakangku seperti tersiram air es. Mataku langsung terpejam, menikmati sapuannya.
Pasti ada yang menertawakan rumah tangga sepertiku ini, baru saja ribut, lanjut adegan tak senonoh.
...****************...
__ADS_1