
"Sementara mengalah, tapi tetap ma kau harus ikut Abu."
"Ikut suami ya, Bu?" Chandra menoleh memperhatikan wajah pamannya itu.
"Heem, harus." Zuhdi mengangguk pelan.
Mereka tidak membahas permasalahan di rumah keluarga Zuhdi sama sekali, mereka larut dalam kebersamaan kenikmatan mie ayam. Acara makan-makan bersama sederhana, tapi menjadi kesukaan semua orang. Anak-anak pun begitu lahap memakan sajian praktis tersebut, mereka begitu anteng duduk melingkar bersama saudara-saudaranya.
Beberapa jam kemudian, kesepian melanda. Apalagi, Givan pamit untuk mengantar anak-anaknya kembali ke pesantren malam ini. Terulang kembali untuk Canda menjemput Jasmine di rumahnya, karena anak asuhnya yang tengah hamil muda tersebut bermalam sendirian di rumahnya. Bukan karena jasmani tidak berani tinggal sendirian, tapi Jasmine begitu lemah dan sering mendadak drop karena sering muntah. Sedangkan, suami Jasmine tidak selalu ada menemani Jasmine di rumah.
"Kalau kak Jasmine muntah terus-terusan, panggil aku aja, Biyung," tegur Chandra ketika ibunya melewatinya yang tengah duduk di teras.
"Memang kau bisa apa? Memang kau dokter?" Canda menghentikan langkahnya.
Chandra menepuk jidatnya. "Maksudnya, nanti aku antar ke klinik. Gitu, Biyung." Chandra menghela nafasnya perlahan.
"Oke," sahut Canda ringan dengan melanjutkan langkahnya.
Pintu rumah yang dikunci tersebut, membuat Chandra tersadar bahwa waktu sudah semakin malam. Ibunya seolah mengusirnya halus, untuk kembali ke rumahnya sendiri. Apalagi, istrinya sudah menunggunya di dalam rumah.
Rumah sudah begitu sepi, ia bergerak ke arah gerbang untuk mengunci ganda dan mengaktifkan alarm untuk pagar rumah tersebut. Karena mobil dan sepeda motor mereka berada di halaman, rumah megah dengan dikelilingi rumah sederhana itu tidak dilengkapi dengan garasi. Tidak lupa ia pun membenahi penutup mobil tersebut, agar mobil itu tidak terkena hujan. Sejauh ini, kendaraan mereka cukup aman di halaman rumah. Hanya saja, Chandra harus tetap waspada akan hal itu.
"Aduh, lupa." Chandra melupakan beberapa barang untuk mempermudah malam pertama mereka.
"Dek…" Chandra memasuki rumahnya.
"Ya?" Izza memalingkan pandangannya dari kitab sucinya.
"Aku ke minimarket dulu." Chandra mengambil jaketnya.
__ADS_1
"Ikut, tapi aku dandan dulu bentar." Izza mencoba bangun dengan melepas mukenanya.
"Lah, lama! Besok aja nanti jalan-jalan, aku bentar aja kok." Chandra bergegas sebelum Izza menahannya.
Ia tidak mau lebih malam atau bahkan menunda kegiatan pertama mereka, ia sudah menginginkan hal itu sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja, ia tidak bisa memaksa Izza kala ia mengajaknya. Ia hanya sebatas mengajak, bukan menuntut atau memaksa.
"Ah, Abang!" Izza menggerutu kesal, kala mendengar suara pintu tertutup.
Chandra begitu merasa malas mengeluarkan motor, apalagi jarak minimarket begitu dekat dengan gang rumahnya. Hanya perlu memutari sedikit rumah megah nenek dan kakeknya, ia sudah akan sampai di minimarket masuk kampung tersebut.
Dari jauh ia sudah melihat seorang perempuan yang berjalan sendiri di depannya. Ia melirik jam tangan di tangan kirinya, pukul sembilan sudah terlalu malam di sini untuk seorang perempuan keluyuran sendirian.
Apalagi, perempuan tidak diizinkan kerja shift malam untuk peraturan daerahnya. Jelas Chandra berpikir, bahwa tidak masuk akal perempuan keluyuran dalam tujuan baik jika seperti itu.
Hingga perempuan tersebut akhirnya memilih melipir, kemudian duduk di pos ronda. Chandra langsung mengenali siapa perempuan tersebut, ia ingin memutar jalan, tapi minimarket sudah terlihat dari tempatnya berdiri.
Perempuan tersebut belum menyadari bahwa yang berjalan mendekat itu adalah Chandra, ia sibuk memainkan ponselnya dan menempelkannya pada telinganya. Percakapan terjadi, Chandra bergegas melangkah sebelum perempuan tersebut menyadari bahwa itu adalah dirinya dan kemudian menyapanya.
"Apa?" Chandra berniat tetap berjalan, meski kepalanya menoleh ke arah Sekar.
"Mau ke mana? Kita perlu bicara." Sekar bangun dari duduknya, ia hendak meraih tangan Chandra.
Namun, Chandra sigap dan ia bergerak cepat untuk maju beberapa langkah. Sehingga, Sekar tidak dapat meraihnya.
"Aku sibuk." Chandra langsung meninggalkan Sekar, ia menghiraukan panggilan Sekar yang menyerukan namanya beberapa kali.
Minimarket sudah di depannya, ia langsung mencari apa yang ia cari. Beberapa varian pelumas ia beli, ia tidak hanya membeli varian original. Ia membeli satu produk dari beberapa merk, agar ia memiliki stok sehingga tidak perlu bolak-balik hanya untuk membeli barang tersebut.
Ia pun membeli beberapa sarung pelindung yang memiliki variasi, juga membeli tisu yang memberi efek kebas tersebut. Ia hanya membeli satu buah saja, karena ia tidak berniat untuk menggunakannya setiap saat.
__ADS_1
Setelah membayar dan menarik sejumlah uang tunai untuk uang pegangannya besok, ia keluar dari dalam minimarket dengan memperhatikan sekeliling. Cukup ramai di lingkungan ini, karena di samping minimarket tersebut adalah tempat penginapan milik mendiang kakek dan neneknya. Jika jalan ke arah rumahnya, adalah jalanan yang sebelahnya adalah lahan kopi yang luas.
Ia memperhatikan dari jauh pos ronda yang berada di sebelah masjid pertigaan gang rumahnya tersebut, tidak ada satu orang pun di sana. Ia menerka-nerka, bahwa sepertinya Sekar sudah tidak lagi di sana.
Ia tidak ragu lagi untuk melangkah, bahkan ia melangkah cepat untuk sampai ke rumahnya. Tidak ada satupun orang yang menyapanya, apalagi yang lewat dan berpapasan dengannya. Ia kembali mengunci ganda pagar rumahnya, kemudian mencuci tangan dan kakinya sebelum masuk ke dalam rumah miliknya.
Posisi istrinya tidak berubah, ia tidak berniat mengganggu karena ia pun memiliki tujuan di kamar mandi lebih dulu. Saat ia keluar kamar mandi, ia mendapati istrinya tengah melipat mukenanya. Ia memilih untuk melepaskan jaketnya, beserta bajunya juga. Dada bidangnya terpampang jelas, membuat Izza langsung tersorot memandangnya.
Chandra tidak menyadari hal itu, ia sibuk membuka isi plastik minimarket tersebut dan bergerak ke ruang depan untuk mematikan lampu ruang depan tersebut. Itu kebiasaannya, bahkan ia terbiasa tidur dengan pencahayaan yang temaram.
"Sibuk betul sih, Bang?" Untuk pertama kalinya, Izza tidak menggunakan penutup kepala sama sekali di depan Chandra.
Chandra baru menggulirkan pandangannya pada istrinya, ia tertegun melihat rambut hitam lurus yang terikat tak rapi tersebut. Ia langsung membayangkan, bahwa tangannya yang menggantikan fungsi ikat rambut tersebut.
"Ada apa, Bang?" Izza memperhatikan penampilannya sendiri.
Chandra menggeleng samar, ia melirik ke arah beberapa barang yang ia beli. Lalu, ia memberikan pada istrinya.
"Simpen, Dek. Ambil satu yang mau dipakai aja." Chandra memilih duduk dan membaca sekilas struk belanjaannya.
Perbandingan harga menjadi pusat perhatiannya, sebelum akhirnya ia mengenalnya dan melemparkannya ke tempat sampah kering yang berada di kamar tersebut. Meski berpacaran lama, bisa dikatakan mereka tidak pernah macam-macam. Hal itu, malah membuat keduanya canggung.
Izza memilih untuk merilekskan dirinya, dengan mengoles skincare hariannya yang biasa ia gunakan sebelum tidur. Ia yakin pada akhirnya skincare itu akan sia-sia, karena Chandra akan merusaknya.
"Ngapain, Dek?" Chandra bergerak mendekati istrinya yang tengah berhias di cermin barunya yang memiliki beberapa bohlam tersebut.
Cermin tersebut adalah hadiah dari kakaknya, karena ia bingung kala Izza membuka tasnya yang berisi beberapa kosmetik. Ia tahu, jika cermin begitu penting untuk istrinya berhias. Sedangkan, selama ini ia tidak memiliki cermin besar kecuali yang berada di walk in closet miliknya, itu pun menyatu dengan lemari temboknya.
Izza semakin tidak karuan, ia merasa degupan di jantungnya mungkin bisa terdengar sampai ke telinga Chandra. Ia memandang suaminya dari pantulan cermin, dengan dua jarinya yang masih mengusap wajahnya dengan produk kecantikannya.
__ADS_1
...****************...