Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA88. Hadi dan Ceysa datang


__ADS_3

"Nanti gimana masa depan kita?" Ia menghapus air matanya sendiri. 


Ia ada pemikiran ke sana juga ternyata. Tapi kenapa seolah tidak mau aku berusaha untuk masa depan kita? Aku tidak akan lupa makan, apalagi perutku memiliki alarm sendiri. Akan berbunyi ketika lapar. Namun, setiap pukul sebelas siang Izza sudah spam chat dan telpon agar aku makan dan sholat. 


Memang, itu sebagai tanda perhatiannya. Tapi aku risih, karena dilakukan keterlaluan. Tidak perlu spam, saat aku memiliki waktu untuk melihat pesannya pun, aku akan membalasnya. 


"Jadi mau kau sebenarnya gimana?" Kaku hati sekali rasanya. 


"Abang mau ceraikan aku? Gara-gara keluarga Abang? Kenapa nanya mau aku terus, seolah tak mau aku bertahan untuk Abang." 


Loh? Loh? Kok pikirannya seperti ini. 


"Terserah kau, Za. Sesak betul ngajak ngomong begini. Lebih baik kau aktivitas sana, biarin aku tenang dulu. Nih uang hari ini, terserah kau mau kau apakan." Aku memberikan seluruh uang yang ada di dalam dompetku. 


"Kok Abang begitu? Terkesan seolah aku yang pengen uang Abang aja!"


Astaghfirullah….


"Masuklah ke kamar, Za. Jangan sapa aku, sebelum aku dekati kau!" Aku butuh ketenangan lahir batin. 


"Abang tuh tak mau sadar dengan keadaan kita, cuma bisa nyalahin aku aja. Coba pikirkan gimana perasaan aku!" Ia menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar. 


"Ya, sekarang aku pikirkan," sahutku yang dibalas dengan bantingan pintu. 


Aku terhanyut dalam lamunanku, aku merasa tidak ada yang mengerti tentang diriku. Ingin curhat ke siapa, ayah dan biyung sudah pasti menginginkan aku untuk selalu meratukan perempuan. Bukan aku gagal meratukan, tapi terkesan hubungan ini membosankan karena sikapnya padaku. 


Ayah dan biyung tak tahu bagaimana mulut Izza, aku pun tak berniat memberitahu detail. Karena apa? Karena Izza menantu, aku khawatir ia diserang dan dibenci di sini. Ia sudah menjadi yatim piatu, jika diserang oleh ayah dan biyung, ia akan bersama siapa? Aku kasihan padanya. 


Tapi aku butuh seseorang yang mendengarkan ceritaku, agar aku sedikit plong menahan kekesalan yang tidak bisa kulampiaskan semua pada Izza. Atau mungkin, agar ada yang memberiku saran dan penyemangat juga untuk merubah Izza agar menjadi istri yang baik untukku, menantu yang mengerti tentang orang tuaku dan ipar yang seperti anak sendiri. 


"Assalamu'alaikum…." Aku langsung menoleh ke arah teras. 


Hadi, Ceysa dan Dayyan datang. 


Bertukar pikiran dengan otak jenius Ceysa? Yang jenius itu otaknya, bukan hatinya. Hatinya seperti manusia biasa, hanya saja cara berpikirnya lebih tanggal. Ia bisa menyimpulkan banyak sudut pandang, dari satu susunan kata saja. Contohnya seperti itu, cara otak Ceysa bekerja. 


"Wa'alaikum salam." Aku tersenyum ramah menyambut mereka.


Harus seringan ini aku tersenyum, agar mereka tidak ikut memikirkan beban yang aku rasakan sekarang. Aku tidak ingin terlihat murung, di satu bulan umur pernikahan kami. Aku tidak mau orang lain tahu, jika aku memiliki ruang kehampaan dalam pernikahanku. 


"Bang, kau tak apa?" Ceysa panik, dengan memberikan Dayyan pada Hadi. 

__ADS_1


Ya ampun, anak laki-laki itu mirip sekali dengan Hadi. Mereka seperti adik kakak, karena Hadi yang terlihat masih muda dengan raut wajah polos. 


"Tak apa, bisa jalan kok. Ini cuma ada luka aja, jadi kesulitan berjalan." Aku menunjukkan perban di telapak kakiku. 


Ceysa memelukku, ia mengusap-usap bahuku. "Alhamdulillah, Abang masih utuh."


Hm, wajahku langsung masam. 


"Kenapa kau berpikir Abang hancur?" Aku geleng-geleng kepala, dengan memperhatikannya yang baru melepaskan pelukannya. 


"Ma bilang ada bom."


Keluarga nenek Dinda memang sedikit lebay. 


"Iya tuh, nangis heboh dia di rumah." Hadi duduk di sofa yang berada di depanku. 


"Aku takut lah, Di!" Ceysa duduk di belakangku, kemudian memijat bahuku. 


Di belakangku ada sofa, sedangkan aku duduk di kursi roda. 


"Abang makan belum? Abang mau apa? Akun turuti, biar Abang cepat sembuh." Kepala Ceysa muncul dari bahu sebelah kiriku. 


"Minta kau di sini dulu, temani kakak ipar kau. Kau ceritakan tentang kehidupan kau, masalah ekonomi kau ke dia. Biar dia ada teman ngobrol tuh." Aku menunjuk kamarku dan Izza. 


Kembali, aku harus menceritakan ulang kejadian kebakaran kemarin. Minus, aku tidak menceritakan perihal bang Vano yang mengembalikan kak Jasmine. Hal itu masih dirahasiakan menurut ayah, ini demi kebaikan kandungan kak Jasmine. 


"Aku mau ke rumah sakit dulu deh." Hadi terlihat bingung sendiri. 


"Aku di sini aja deh, kasian Dayyan kalau di sana." Ceysa mengambil alih anaknya yang berkulit eksotik itu. 


Hitam manis kesukaan bule. 


"Iya, kau di sini aja sama kak Izza. Aku keluar dulu ya? Barangkali ada yang mau bareng ke sana." Hadi langsung kabur begitu saja. 


Lebih seperti hubungan pertemanan mereka ini. 


"Ish, aku sih benci betul sama Hadi. Bujuk terus ke bidan, katanya ayo ikut KB." Ceysa curhat dengan nada rendah. 


Itu urusan ranjang, harusnya tidak dibagi tahu dengan kakak laki-lakinya. Tepok jidat aku ini. 


"Belum berhubungan juga?" Aku bertanya dengan hati-hati. 

__ADS_1


"Belum, kan aku disesar. Kan lebih lama dong dari lahiran normal."


Untungnya Hadi sabar. 


"Coba nanti tanya ke biyung, ma Aca, atau ke meme Tika. Mereka punya riwayat sesar semua tuh, biar kau paham kan harus gimananya. Takutnya nanti Hadi ngambek, kalau kau terus tak kasih. Tinggal KB aja dulu, konsultasi sama bidan enaknya gimana gitu." Aku tidak bisa memberikan saran lebih jauh, karena aku pun belum ahli masalah hal ranjang. 


"Ya nantinya dihamili lagi." Ceysa langsung cemberut. 


"Ya ikut KB, biar tak hamil. Biar kau bisa fokus sama Dayyan dulu, biar Hadi bisa fokus kuliah dulu." Mereka dijamin abu Zuhdi dan ayah. 


Mau bagaimana lagi? Sawit baru diambil alih Ceysa, dengan kebijakan dan aturan baru darinya. Tentu, seperti awal lagi usahanya. Sedangkan, mereka malah ribut jika disarankan untuk berjualan. Hadi dan Ceysa selalu menunjuk satu sama lain jika diminta berjualan. 


"Aku tuh trauma, Hadi tuh kalau begituan tak berhenti-henti sebelum lemas sendiri."


Aduh, jangan jabarkan padaku. 


"Kan masa itu dalam pengaruh obat." Sebenarnya, aku tidak yakin juga dengan jawabanku ini. 


Aku pernah mendapat wacana, jika laki-laki di bawah dua puluh dua tahun itu lebih buas dari laki-laki yang matang. Bahkan, milik mereka tetap bisa tegak meski sudah mendapatkan titik pelepasannya. 


"Coba sana ngobrol sama kakak ipar kau, bawa Dayyan juga. Abang mau ke rumah papa aja keknya." Karena melamun malah merumit. 


Papa Ghifar lebih berperasaan, ketimbang dengan logikanya. Ia pasti lebih mengerti tentang hatiku, meski tak jarang aku sering membuat emosinya meluap karena watakku. Ia adalah ayah asuh terbaik, nomor dua setelah ayah Givan. Paman yang tidak pernah membedakan mana anaknya sendiri, mana keponakannya. 


"Abang bisa ke sana sendiri?" Ceysa tanpa malu menyusui Dayyan di depanku. 


Aku tidak ingin juga, tapi aku kan kakak laki-lakinya. Tapi ya sudahlah, pemandangan seperti itu bukan hal aneh dalam lingkungan keluarga besarku. 


"Abang telpon papa nanti." Aku sulit turun dari teras, tenaga Ceysa pun tek seberapa untuk membantuku. 


"Oke, aku masuk ya? Di kamar ini kah?" Ceysa menunjuk kamarku. Ia bangkit, berjalan dengan menyusui anaknya. 


"Iya, Dek." Aku sudah menyalakan layar ponselku. 


"Hallo, Kakak ipar. Lah? Kenapa?" sapa Ceysa diikuti dengan suara pintu kamar yang terbuka dan tertutup kembali. 


"Pa…. Kerja tak?" Papa Ghifar langsung mengangkat telepon diriku. 


"Tak, ada di rumah pak cek kau. Kau butuh sesuatu? Papa lagi jalan nih." Papa Ghifar sepertinya mengerti jika akun membutuhkan peran dirinya saat ini. 


Ayah ada, ia tidak jadi berlibur ke Kalimantan. Tapi ayah tengah mendapat musibah, figurnya tidak selalu ada untukku yang tengah kacau hati ini. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2