
"Calon menantu?" tanya Bunga dengan mata bulat mekar.
"Ya, nikah. Nikah aja ya?" Bunga menoleh ke arah Hema, kemudian ia tersenyum lebar pada Bunga.
"Yah, tujuan pernikahan itu apa sih?" Bunga mengambil satu bantal dan memeluknya.
"Menuju jannahNya."
Ck, jawaban pakwa sok sekali. Kenapa aku bilang sok? Karena dirinya saja tidak demikian.
"Pernikahan itu fase kehidupan yang selanjutnya. Kau salah, kalau kau beranggapan nikah itu untuk bisa n*****t tiap hari. Karena ada masanya, kita bosan ke pasangan. Ada masanya, kita mencoba menghindari pasangan karena kesal. Maksud dari pernikahan itu, biar kalian bisa hadapi semua masalah bersama-sama. Urus bayi contohnya, kalian bakal tau nikmatnya urus bayi bersama. Capeknya, ngantuknya, kesalnya, bahagianya, senangnya, sakitnya, sama-sama dengan orang yang kau cintai. Begitu pun dengan masalah yang lain, kek ekonomi, tentang orang tua, atau bahkan orang ketiga. Masalah kalau dihadapi sendiri kan berat, kalau bersama dengan orang yang kau cinta kan mudah. Kebahagiaan pun berlipat ganda rasanya, kalau bersama orang yang kau sayang. Kalian akan tau rasa bangganya bisa punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, atau sebatas kasur sendiri. Karena semua itu ada perjuangannya, ada doa kecil yang kalian sematkan." Ayah yang maju untuk menjelaskan.
Seperti yang dulu sering ia katakan padaku, pernikahan adalah fase kehidupan selanjutnya. Tidak ada orang yang tiba-tiba cocok, adanya menyesuaikan diri dengan sifat pasangan agar cocok.
__ADS_1
Ayahku dulu, bukanlah sosok seperti sekarang. Biyungku dulu, bukanlah sosok yang seperti sekarang juga. Tapi mereka berusaha mengupayakan dan membiasakan diri, agar bisa nyaman dengan sifat pasangan masing-masing.
Bukan aku yang berbicara seperti ini, tapi mereka ketika memberikan nasehat dengan nyaman. Nasehat yang diberikan di tengah obrolan dan candaan hangatnya keluarga.
"Berarti, ada part duanya aku jadi janda. Ada part duanya di mana laki-laki berselingkuh dan hamili gadis lain, ada masanya aku menata ulang hati dan kewarasan aku lagi. Kalau memang itu fase, pasti kejadiannya akan berulang atau berputar." Bunga seperti memiliki trauma dalam suatu pernikahan.
"Itu tergantung bagaimana laki-lakinya dan bagaimana kau," tambah pakwa kemudian.
Ia menjadi pusat perhatian sekarang.
"Selingkuh itu banyak faktornya, tapi yang jelas itu pilihan kau. Ayah pernah khilaf, tapi Ayah tak pernah mengaku kalau Ayah berselingkuh. Itu hal yang beda, tapi sering disamakan karena sama-sama menyakiti. Sebenarnya, chat dengan perempuan lain itu dikatakan udah selingkuh loh. Ayah tak pernah chat, tak pernah sengaja datangin perempuan lain, atau sengaja berzina dengan perempuan lain, tapi kesalahannya di garis besar yang sama, buat Ayah masuk kategori selingkuh padahal tak merasa selingkuh. Kasus begini, kalau perempuannya susah diberi ngerti ya bakal pecah juga rumah tangganya. Ada beberapa kasus di luar sana begini, selain Ayah tentunya. Ada yang perempuannya berpihak ke suami, ada yang perempuannya beli talak, macam-macam pilihan diambil karena memang masalah orang ketiga begini tuh sensitif. Ayah tak bermaksud membanggakan diri, toh orang luar pun udah pada tau cerita sebenarnya, Ayah cuma jadikan diri Ayah sebagai contoh, agar tak sampai ditiru kalian, biar kalian pada tau resikonya. Tak enak, disalahkan semua orang, tak ada yang dukung, jatuh sejatuh-jatuhnya, hidup sungkan, mati tak mau rasanya. Kalau kau bisa jada diri kau, nahan diri untuk tak chat lawan jenis, jangan datangin reuni, jangan datangin bukber temen SD, SMP, SMA, kuliah, apalagi mantan pacar. Ini bukan untuk Hema aja, untuk Bunga dan Bang Chandra juga. Kebahagiaan itu ditentukan oleh waktu dan perjuangan kita sendiri, bukan ditentukan oleh orang baru. Ayah pernah hidup dengan orang baru, rasanya lebih buruk dari kehidupan sebelumnya. Ekonomi, jam tidur, makanan, kenyamanan, kebahagiaan dan rumah pulang juga. Biasa disiplin, istri ikut aturan sendiri, tiba-tiba dapat istri yang tak bisa diatur oleh aturan yang kita buat, satu hal itu tuh buat kehidupan laki-laki kacau. Jadi contohnya kek jam setengah lima pagi, si istri harus bangun lebih dulu, terus mandi sholat, bangunin suami, urus anak yang baru bangun juga, suami udah beres, dia siapin sarapan, terus gantian sarapan, barulah suami berangkat kerja, si istri bisa lanjut beresin rumah, sambil nyantai jaga anak. Kek gitu contohnya yang Ayah terapkan, tapi perempuan baru tak bisa diatur dan bangkang, ya kita yang repot sendiri. Daripada jadwal acak-acakan, lebih baik hidup di luar rumah dengan fokus ke pekerjaan. Jangan dikira itu tak berpengaruh, itu pengaruhnya besar." Ayah bergantian menatap aku, Hema dan Bunga.
"Yah, aku pernah dengar tentang kewajiban istri itu hanya di ranjang. Suami yang wajib urus makanan, pakaian, rumah, pendidikan, perhatian." Bunga meluruskan jarinya satu persatu.
__ADS_1
"Betul, tak salah. Kalau suaminya mampu, sedangkan dia pun wajib cari nafkah lahir. Maksudnya mampu, dia bisa bagi waktu dan tenaganya bisa untuk urus pekerjaan rumah. Waktu kejadian itu, ekonomi Ayah belum stabil dan masih dibilang merangkak. Ayah hanya mampu kasih nafkah lahir sehari lima puluh ribu, andai kata harus sewa jasa asisten rumah tangga, Ayah tak mampu bayarnya, sedangkan Ayah udah capek kerja di luar, Ayah kerja kasar selain urus toko material waktu itu. Jangan salah juga loh, anak itu urusannya istri. Makanya kenapa nyarinya harus istri yang paham agama dan akhlaknya bagus, karena untuk bekal didik ke anak kita. Suami juga ada peran untuk ini, makanya ada yang menyebutkan laki-laki bisa rusak rumah tangga jika tidak memiliki ilmu agama. Perempuan tak paham agama, ini tugas suami didik. Suami tak paham agama, anak istri ikut rusaknya aja, makanya kenapa disebut rumah tangganya rusak. Ayah tak terlalu menekankan pendidikan formal ke anak, tapi pengen yang setara kek Ayah karena usaha yang Ayah tinggalkan kelak itu banyak, Anak-anak Ayah harus punya basicnya. Capek badan, capek pikiran, Ayah dan biyung tetap biasakan ngajar ngaji ke anak-anak kita sampai sekarang. Rutin, tanpa libur. Hafalan sholat, praktek sholat selain wajib, karena wajib udah diajarkan dari kecil. Ya alhamdulillah, turun ngajarin ke cucu." Ayah tersenyum bangga.
"Maaf, Yah. Di Bekasi dan di sini pun, ada tempat yang disediakan untuk anak-anak mengaji." Hema buka suara.
Zamanku pun ada, jadinya mengaji dobel. Di luar rumah selepas Ashar, di rumah selepas Maghrib.
"Tak ada salahnya sejak dini punya bekal dari rumah. Anak laki-laki Ayah, umur enam tahun udah bisa sholat jenazah. Anak-anak Ayah semuanya, udah paham cara mengurus jenazah di usia yang sama. Ayah sengaja ajarkan sejak dini, karena kalau nanti orang tuanya tak ada, mereka bisa turun tangan untuk ikut urus jenazah orang tuanya. Niat sekali Ayah waktu itu, sampai sengaja tebang pohon pisang sebagai contoh bahwa itu jenazah. Beli kain kafan, untuk belajar mereka caranya potong kain kafan dan cara menutup jenazah dengan kain kafan. Ya itu yang ditutup, pohon pisang itu. Ayah ulangi tiap tahun di masa kecil mereka, karena sadar kalau otak anak-anak ini mudah lupa."
Memang sesiap itu orang tuaku pada anak-anaknya, jujur saja aku sampai mimpi buruk gara-gara pohon pisang berkafan itu. Tapi berkat ajaran orang tuaku, aku selalu turun tangan mengurus keluarga yang wafat, termasuk istriku kemarin.
"Apa harus serepot itu gambaran jadi orang tua, Yah?" Bunga menahan pelipisnya untuk tetap menoleh pada ayah.
...****************...
__ADS_1