
"Iya nanti, tapi janji besok berangkat kuliah ya?" Aku memberikan syarat mudah, tapi terkesan berat untuknya.
"Tuh…. Kuliah yang seminggu sekali aja tuh, Bang. Senin sampai Sabtu, aku ngurusin laki aja." Nahda bersandar di lenganku.
Pakcik Gavin memandangku dalam diam, ia seperti tengah mengambil kesimpulan sendiri melihat interaksiku dan Nahda. Biyung hanya menoleh sekilas, dengan tante Ria yang hanya melirik kami malas.
"Nanti ngomong ke papa, kan papa yang minta Adek tetap kuliah dengan dibiayain papa." Jika begini, aku termasuk memenuhi kebutuhan istriku tidak ya? Aku tidak membiayai kuliah Nahda, tapi itu keputusan papa Ghifar, bukan karena aku tak sanggup.
"Biyung, bilang ke papa aku suruh tak usah aku kuliah. Kan jadi ibu-ibu juga nantinya." Nahda menegakkan punggungnya.
Bisa-bisanya ngadu ke ibu mertuanya?
"Nanti kalau kau diceraikan suami kau, gimana karir kau?" Tante Ria memberikan celetukan yang cukup pedas.
"Aku tetap berpenghasilan, biarpun tak pakai baju kantoran. Misal aku wisuda pun, aku tak akan cari kerja, mau di kamar aja pakai daster sambil main saham."
Wow, istriku berani mengulti tantenya.
"Kau lanjutin perusahaan kopi papa kau, Dek. Makanya kau disuruh kuliah dan sampai dibiayain papa kau gitu, padahal kau udah bersuami. Pikiran laki-laki tuh begitu loh, Dek. Ditanam, dipupuk, disiram, biar menuai hasil yang bagus. Kal sama Kaf udah nampak nih, dokter hebat mereka ini. Sertifikat lengkap, kakak sulung kau bakal dikirim ke rumah sakit yang di Malaysia itu, yang punya ayahnya Kirei." Pakcik Gavin seperti menguak fakta keluarga.
Nahda terdiam tertegun, mungkin hal itu sedikit tidak cocok dengan hatinya. Kenapa ya anak perempuan ini nampaknya begitu sulit untuk melanjutkan usaha orang tuanya, atau usaha yang sudah diberikan padanya? Kak Key contohnya, ia pun menyuruh-nyuruh suaminya saja.
"Kan ada mama, aku tak hak untuk itu."
Ternyata, Nahda minder atau sadar diri begitu? Ia menyadari, bahwa dirinya hanyalah anak tiri.
"Kau dan Chandra pasti ikut andil, dua kakak kau itu diluncurkan untuk ilmu medis. Kau tak tengok kah interaksi ayahnya Kirei? Paham Bunga begitu, dia comot dua keponakannya yang gampang diarahkan itu. Rumah sakit besar loh, bisnis dan segala tugas mulianya. Pastilah mereka lebih milih itu juga, karena bidang pendidikan mereka di sana."
Pakcik Gavin seperti bisa membaca situasi.
"Ada adik-adik aku, Pakcik, mereka lebih hak juga. Aku main saham sama jadi istri aja udah, aku tak pengen kata-kata sekali, aku tak maruk, yang penting kecukupan aja." Nahda memegangi pipinya dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Tak bisa, Dek. Suami kau pasti kaya-kaya sekali, kau akan jadi Tante Ria selanjutnya yang punya rekor punya anak terbanyak, biar hasil dari maruk itu berguna untuk mencukupi banyak anak itu."
Pakcik Gavin seolah yakin aku ini akan berhasil di semua usaha, padahal aku tidak demikian. Malah kadang aku sendiri mengkhawatirkan masa depanku, karena khawatir aku tidak mampu membawa usahaku stabil dan lebih maju.
"Dua anak ya, Bang?" Nahda mengusap-usap pahaku, dengan tangan lainnya meluruskan kedua jarinya.
"Iya, terserah Adek aja." Aku tak begitu memikirkan tentang anak, khawatir terlalu berharap masalahnya.
"Mana mungkin." Tante Ria terkekeh sumbang.
"Wah, mama aku aja kasih dua anak kok ke papa. Mana mungkin apanya? Mungkin lah." Nahda anak yang ngotot.
"Iya, tengok nanti ya? Masalahnya, suami kau itu Bang Chandra anak bang Givan. Kalau suami kau Kaf anak papa Ghifar, ya mungkin tuh suami kau bisa dikompromi kek papa Ghifar." Pakcik Gavin terkekeh geli.
Memang kenapa kalau anak ayah?
Nahda menoleh ke arahku, ia memandangku dengan tatapan dalam.
Ia tersenyum kuda, kemudian tertawa geli. Aku jadi salah tingkah sendiri, aku menetralkan rasa kacau ini dengan meraup wajah Nahda, agar ia berhenti menatapku. Aku masih seperti ini saja, masih ser-seran, deg-degan, bahkan tersipu kacau karena istriku sendiri.
"Dua anak ya, Bang?" Ia meluruskan dua jarinya kembali.
Ternyata itu dalam misi membujukku.
"Iya, Dek Nahda." Yang penting iya saja dulu, karena modelnya seperti anak-anak yang terus mengulang permintaan jika tidak diiyakan.
"Ahh, Pakcik yang malu sendiri nih." Pakcik Gavin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dengan nada suaranya yang berubah seperti bencong.
"Ayo pulang yuk, Yang." Tante Ria yang tadinya kabur, malah mengajak suaminya pulang.
"Aih…." Tangan biyung menggantung di udara, melambai pada tante Ria dan pakcik Gavin yang terlanjur kabur.
__ADS_1
"Tadi curhat paling tersakiti, sekarang malah pulang sendiri ya, Biyung?" Nahda mengambil kembali piring buahnya.
Biyung menoleh ke arah Nahda dengan gerakan slow motion. "Iya, aneh betul. Padahal suaminya pun minta maafnya kek yang bercanda, bukan serius bersungguh-sungguh." Biyung geleng-geleng kepala.
"Heem, udah serius nanggepin curhat. Malah diprank." Nahda terkekeh geli.
"Masak makan siang, Dek. Buat sayur bayam, kasih potongan tomat tanpa biji. Terus sama semur telur puyuh ya?" Aku harus memiliki kegiatan lain, karena porang pun sudah dipegang oleh orang kepercayaan.
Benar kata pakcik Gavin, tak harus menunggu panen karena terlalu lama. Jika memang aku tidak merepotkan ayah, aku akan minta arahan tentang pabrik pengolahan minuman herbal ekstrak jahe itu.
Tapi satu yang membuatku mengambang, tentang pulang pergi sekolah adik-adikku dan juga Nahda. Papa Ghifar yang bekerja di perusahaan saja, tengah hari sampai rela menjemput Nahda dari kampus, hal itu pun berlangsung sejak Nahda di bangku sekolah.
Effort papa Ghifar selaku orang tua sambung saja, besar sekali untuk memfasilitasi dan memperlakukan seorang Nahda. Masa iya aku suaminya, malah menyepelekan keamanannya pulang pergi menuntut ilmu? Kan pasti papa Ghifar tidak terima juga, kecuali memikirkan ulang tentang kuliah weekend itu.
Jika Cani, Ra dan mungkin adik-adikku selanjutnya juga, aku harus membicarakan kedepannya dengan ayah. Karena aku merasa tidak bisa melepaskan mereka pulang pergi di jalan sendirian, apalagi setelah aku tahu jika Cani diganggu ketua kelasnya dan Ra hobi balap mobil. Aku tak bisa menjamin keselamatan mereka, jika mereka membawa badannya seorang diri tanpa penjagaan dan pengawasan.
Pemikiranku mulai terbuka perlahan.
"Masak di sini?" Nahda mengarahkan telunjuknya ke bawah.
"Iya, Dek. Kan udah bilang Abang tadi, kalau kita nginep di sini semingguan," jelasku perlahan.
"Ayo masak sama biyung, Cala Cali pun minta sate usus, sate telur puyuh sama sate kepala. Masak apa angkringan aja ya?" Biyung bangkit dan berjalan perlahan.
"Wah, ide bagus tuh. Kita angkringan aja, Biyung. Ada kok yang udah mateng jam sepuluh pagi, tapi masih di rumah, tak buka di lapak. Tetangganya teman aku lagi, biar aku pesankan aja dan minta delivery aja ya, Biyung?"
Loh?
Mertua dan menantu malah klop lagi? Biyung malas masak yang sulit dan repot, bertemu dengan Nahda yang memiliki banyak channel order makanan ataupun barang lainnya.
Bagaimana ini?
__ADS_1
...****************...