
"Kok ajak Nahda?" Cani nampak bingung, saat melihat Nahda benar-benar ada di depannya.
Aku tak berniat menjelaskan siapa Nahda nantinya.
"Kau tak dijemput papa?" Cani duduk di hadapan Nahda.
Mereka hampir seumuran, jadi ya bagaimana ya? Ya seperti menyebutkan kawan saja. Bahkan Nahda dengan Ra lahir di tahun yang sama, hanya beda bulan saja. Ra di awal tahun, Nahda di akhir tahunnya.
"Tak, dijemput Bang Chandra." Nahda masih asyik menyantap mie.
"Aku ada film baru tau, tadi abis copy paste dari temen." Nahda merogoh kantongnya dan menunjukkan sebuah flashdisk.
"Mie satu lagi, Kak." Aku memesankan pada pelayan yang tengah lalu lalang.
"Film apa itu?" Aku lanjut makan, dengan memperhatikan flashdisk yang Cani tunjukkan.
"Korea, nothing serious."
Jadi, adikku juga penyuka film romantis?
"2021 ya? Tapi belum sempat nonton sih, belum langganan soalnya di Amazonenya." Nahda terlihat santai.
Nanti ia jadi ipar, kedua adik perempuanku malah akan nobar film romantis bersama lagi. Bisa-bisa, mereka menjadi bestie nonton bareng.
"Ini tak langganan lagi." Cani cekikikan pelan.
"Awas, rawan virus kalau kek gitu tuh. Langganan paling berapa sih, masa iya tak mampu?" Aku sengaja menyindir Nahda yang katanya papanya orang mampu itu.
"Dia orangnya kalau udah suka satu aplikasi nonton, ya nonton apapun di aplikasi itu. Kalau di aplikasi itu tak ada, dia tak download aplikasi lain yang ada film itunya," jelas Cani tanpa diminta.
Jadi secara tidak langsung, seolah menatarkan bahwa Nahda adalah seorang perempuan yang setia karena hanya menggunakan satu aplikasi nonton saja, begitu?
"Kau pakai berapa aplikasi?" tanya Nahda pada Cani.
"Tak pakai aplikasi, nonton film yang udah dilihat kak Ra. Kalau kata kak Ra aman, aku boleh nonton." Cani cemberut dengan bertopang dagu.
"Kau di bawah umur," celetuk Nahda sambil terkekeh.
"Yee, kau pun nontonnya dari di bawah umur." Cani menerima menu yang dihidangkan di depannya.
Kami lanjut makan dalam diam, setelah habis malah mereka lanjut menonton film. Cerita hari ini hanya sampai kami datang ke rumah, aku menitipkan hasil tes ke biyung untuk disampaikan ke ayah. Setelah itu, aku kembali dibangunkan saat makan malam.
Ya, aku tidur cukup lama jika tidak ada yang mengusik.
Ayah pun masih belum pulang, aku datang ke rumah pupuk untuk menyusun rencana tentang lahan porangku dengan tangan kanan yang mengurus pekerjaan ini.
Ngobrol ngalor ngidul, sampai pakcik Gavin mengajakku pulang. Yap, aku datang bersama pakcik Gavin, karena ialah guruku yang terjun langsung ke ladang.
__ADS_1
Beliau tidak menyerempet obrolan tentang pernikahanku. Entah ia tidak tahu, atau memang tidak mau membesarkan masalah ini.
Jam sebelas malam, aku langsung masuk dan mengamankan rumah bahwa sudah terkunci semua. Barulah, aku bergerak untuk naik ke ranjang dan terlelap kembali.
Aktivitas bolak-balik ke rumah ladang, menjadi kesibukanku lima hari kemudian. Sampai di hari ke enam, Subuh pagi aku langsung diajak pergi dengan rombongan menggunakan beberapa mobil travel milik Zio.
"Jenguk siapa?" tanyaku melihat keluargaku yang repot membawa beberapa tas berukuran sedang.
Seperti ada seseorang yang tengah mendapat kemalangan, hingga keluargaku panik untuk menjenguk orang bersangkutan.
"Horas Bebuli itu, Nan." Ayah tengah mengobrol dengan om Nando yang mengemudi.
"Dibooking?" Om Nando menoleh sekilas.
Ayah hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Keren, mahal pasti." Om Nando sampai memberikan jempolnya.
"Biyung, nengok siapa?" Aku menanyakan ulang, karena biyung tak kunjung menjawab.
Ayah duduk di bangku dengan bersama om Nando yang tengah mengemudi, aku dan biyung di bangku tengah dan seorang asisten rumah tangga di bangku belakang dengan beberapa tas yang tidak muat di bagasi.
"Nengok? Siapa?" Bingung memandang bingung diriku.
Bagaimana sih?
"Akad resepsi kau," jawabnya yang membuatku langsung panas dingin.
Benarkah secepat ini dan tanpa pemberitahuan?
"Biyung…." Aku langsung menggenggam tangan biyung.
"Apa?" Biyung menoleh bingung kembali.
Biyungku kenapa sih?
"Aku kaget, Biyung." Harus saja aku berterus-terang.
"Lah, Nahda tak bilang memang? Orang WO kirim foto baju ke dia, dia tak konfirmasi ke kau memang?"
Apa jangan-jangan si Nahda itu memilih pakaiannya sendiri tanpa pendapatku? Kurang ajar ini perempuan.
"Tak, Biyung." Aku segera menyambungkan panggilan suara padanya.
Awas saja dia ini, aku akan menghabisinya hari ini juga.
"Hallo, ya." Nahda menerima panggilan teleponku.
__ADS_1
"Hai, Dek. Kau tak konfirmasi baju ke aku?! Kau ambil keputusan sendiri?!" Aku langsung ngegas, dengan ayah yang langsung melihat ke arahku dan biyung langsung memperhatikanku.
Bodo amat, mereka harus tahu bagaimana songongnya calon menantunya ini.
"Orang cuma pilihan aja, jas, blazer apa tuxedo. Aku pilih tuxedo karena punyaku gaun Cinderella," jelas Nahda langsung.
"Kek mana Tuxedo?" Aku membayangkan seperti pangeran di sebuah film Disney.
"Matikan panggilannya, aku kirim foto."
Belum juga aku matikan, tapi Nahda langsung mematikan sepihak. Sebuah foto langsung masuk.
Seperti itu fotonya. Jadi, aku akan menggunakan dasi kupu-kupu?
Hmmm, semprul memang.
"Kau lagi berantem sama Nahda?" tanya biyung dengan menyenggol lenganku.
"Berantem kenapa?" Aku malah tambah bingung.
Aku tidak mengatakan bahwa aku ribut, kenapa biyung bertanya demikian?
"Tak pernah chat kah? Miskomunikasi? Atau gimana?" Biyung memperhatikan wajahku dengan seksama.
Apa yang ada di pikiran orang tuaku? Apa mereka mengira kami benar berpacaran dan bertukar chat setiap saat? Nahda menghubungiku saat memberitahu bahwa Jessie mengikuti akun sosial medianya saja, selebihnya ya memang tak pernah chat karena memang tidak memiliki keperluan.
"Udahlah, Biyung. Darah tinggian aku bahas begini." Emosiku tak stabil jika menyangkut tentang Nahda.
"Kek Ayah kau, sejak kau ada masalah begini, dia yang cepat marah. Menyendiri terus, ngelamun terus." Biyung seperti tengah menyindir suaminya secara langsung.
"Besanan sama mantan kau loh kita, Canda. Cucu kita, cucu mereka juga nantinya. Lebih-lebih, kakek dari ayah cucu mereka, adalah…." Ayah mengacak-acak rambutnya frustasi, ayah tidak melanjutkan kalimatnya.
"Nontonnya DEBM terus sih, istri sah dari suami aku, ibunya suami aku, istri dari keponakannya ayahku." Ucapan biyung membuat om Nando dan asisten rumah tangga terkekeh geli.
Siapa DEBM? Aku tak pernah tahu lagi.
"Tontonan kau, sama kek kaunya, sama-sama buat emosi." Ayah menoleh ke belakang, sebelum akhirnya duduk menghadap ke depan kembali.
Pernikahan ala keluarga, tidak ada tamu dari luar. Sudah biasa di keluargaku seperti ini, bahkan sejak jamannya orang tuaku. Sebenarnya bukan karena adat juga, tapi memang kesepakatan bersama yang kebetulan klop.
Ternyata kami datang ke sebuah villa. Villa mewah, dengan bentuk bangunan yang unik. Dekorasi terlihat, saat mobil kami masuk ke dalam parkiran villa dengan suasana alam terbuka ini.
Hmm, pasti pencetusnya adalah Nahda yang suka dengan alam terbuka hijau. Ia menggelar pesta impiannya sendiri, tanpa minta pendapatku.
...****************...
__ADS_1