
"Pakai bahasa Indonesia aja lah, tambah susah nanti loh." Givan mendengarkan ulang hafalan anaknya.
"Oke, oke. Gimana, Yah?" Chandra membalik secarik kertas tersebut.
"Ya itu ada kan? Maharnya sesuaikan dengan nilai yang kau tentukan itu." Givan menunjuk tulisan dengan pulpen di kertas yang anaknya pegang.
"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."
Givan melongo saja dengan kalimat yang diucapkan anaknya. "Jangan itulah! Kek asing kali loh!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai." Chandra menuliskan apa yang ia ucapkan.
"Iya begitu, ingat aja tak usah hafalin. Nanti blank lagi, Bang." Givan mengipas-ngipasi anaknya dengan pecinya.
"Aku deg-degan, Yah. Katanya, kalah gagal tiga kali nanti tak jadi nikah." Chandra berpikir seperti anak-anak.
"Tak boleh malam pertama tepatnya. Makanya jangan sampai gagal tiga kali." Givan malah menakut-nakuti anaknya.
Mereka yang mendengar tertawa geli. Ada-ada saja pembicaraan ayah dan anak itu, menurut mereka.
"Bismillah." Chandra bangkit dan berjalan ke hadapan wali yang akan menikahkannya.
Givan memakai pecinya, kemudian ia berjalan untuk duduk di dekat anaknya. Ia ingin mengetahui pasti, bagaimana penyebutan akad nikah anaknya.
"Siap, Bang?" Paman Izza tersenyum simpul.
Beberapa saat, do'a dipanjatkan dan pamannya Izza diarahkan untuk mewalikan pernikahan keponakannya tersebut. Mereka diminta berjabat tangan, kemudian paman Izza langsung mengucapkan lafadnya.
"Saya nikahkan dan Saya kawinkan Anda dengan keponakan Saya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai." Ia begitu rileks, cukup mudah untuknya karena ia sendiri pernah menikahkan anaknya.
"Saya…" Chandra malah celingukan.
"Ulangi, Bang. Serius, Bang! Fokus." Pihak dari KUA memberi kesempatan.
__ADS_1
"Satu tarikan nafas loh gitu, Bang." Meski Fa'ad adalah suami Key, yang merupakan kakak iparnya. Tapi ia terbiasa menyebut Chandra dengan sebutan tersebut, karena ia tahu cerita dari istrinya tentang Chandra kecil yang mengamuk memaksa semua orang untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.
"Panjangnya, duh." Chandra menyeka keringatnya kembali. Kemeja belakang Chandra sampai basah, karena Chandra terus berkeringat.
"Bisa." Ghifar yang berada di belakang Chandra menepuk pundak Chandra.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai. Gitu kan?" Chandra membaca secarik kertas yang berada di depannya.
"Iya gitu, ayo semangat." Pihak KUA memberi supportnya pada keluarga terpandang tersebut.
"Bismillah…" Chandra menarik nafasnya.
"Mau latihan dulu kah?" Paman Izza mengamati Chandra.
"Langsung aja, Pak Cek." Chandra ingin keterangannya ini cepat terselesaikan.
"Oke, silahkan diulang." Pihak KUA memberitahukan kembali untuk mereka berjabat tangan.
"Saya nikahkan dan Saya kawinkan Anda dengan keponakan Saya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai." Tangan itu berayun sekali.
"Salah, salah. Mas kawinnya kurang lengkap."
Chandra bersandar pada kursi dan mengatur nafasnya kembali. Ia sudah cukup frustasi, karena gagal dua kali dalam pengucapan. Hanya satu kali lagi kesempatannya, itu pemikirannya sekarang.
"Yah…" Ia menoleh ke arah ayahnya.
"Bisa, tenang. Tetap dapat malam pertama kok," ungkap Givan mencoba suasana mencair.
"Dua kali gagal terus aku, Yah." Chandra mengusap wajahnya. Ia tidak memperdulikan gelak tawa yang mencairkan suasana.
"Bisa, Bang. Tenang." Fa'ad kembali memberi semangat. Ia duduk di dekat Chandra, ia berperan penting untuk memberi support pada Chandra.
Chandra mengangguk, ia mencoba fokus untuk mengingat bacaan yang terpampang di depannya. Begitu mudah, tapi rasanya begitu berbeda saat tangannya sudah diayunkan.
__ADS_1
"Ayolah mulai lagi." Chandra menarik posisi kursinya lebih maju.
"Iyalah bisa." Pihak KUA tersenyum lebar.
"Saya nikahkan dan Saya kawinkan Anda dengan keponakan Saya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai." Paman Izza kembali mengulangi lafal tersebut sebanyak tiga kali.
Chandra mencoba fokus, ia memejamkan matanya sejenak dan langsung berucap. "Saya terima nikah dan kawinnya Ismu Nurul Izza binti almarhum Muhammad Idin dengan mas kawin lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai senilai tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu dibayar tunai."
Hening sesaat.
"Sah."
Sorak syukur langsung dinobatkan, Chandra langsung mengusap wajahnya dan berkata hamdallah. Ia langsung plong, kemudian ia menoleh ke arah perempuan yang berada di sisi kirinya.
"Yes, jadi malam pertama," celetuk Ghava mengundang tawa bersama.
Izza begitu terharu, akhirnya perjuangannya selama ini berakhir di KUA dengan status istri seorang Chandra. Namun, harusnya ia tidak boleh amat bahagia karena perjuangan terbesarnya dimulai hari ini.
Izza diminta untuk mencium tangan suaminya lebih lama untuk keperluan pemotretan yang disiapkan oleh Ghava. Pose Chandra mencium kening Izza pun dilakukan cukup lama, untuk keperluan pemotretan juga. Hal itu sering dilakukan Chandra, hanya saja ia canggung karena banyak keluarga yang menyaksikan.
Chandra dan Izza merasakan rahangnya kram, karena mereka selalu tersenyum lebar saat berfoto bersama. Keduanya nampak begitu bahagia, dalam jepretan yang diambil oleh kedua pihak keluarga dan orang studio yang dipinta oleh Ghava.
Foto pernikahan mendadak tersebut langsung tersebar di sosial media dan penduduk kampung secara cepat, seluruh warga langsung berbisik dan berkomentar negatif tentang pernikahan keduanya yang dilakukan dengan seadanya dan terburu-buru tersebut.
Sampai pihak keluarga Zuhdi pun mendengar kabar tersebut. Nomor telepon Zuhdi langsung diserang keluarga iparnya, berupa pesan chat ataupun panggilan telepon.
Zuhdi belum menyadari, karena ia terbawa suasana kebahagiaan keluarga. Sampai ia beristirahat sejenak untuk berfoto bersama, kemudian ia mengecek ponselnya.
Emosinya langsung memuncak, kala ia mendapat beberapa pesan dari keluarga iparnya tersebut. Selama ini ia tidak banyak bicara, karena ia ingin hubungannya dengan saudara ipar dari keluarganya tersebut tetap baik-baik saja. Tapi ia merasa, keluarga Aini makin melonjak karena dibiarkan.
[Jangan banyak bicara! Aku ke tempat kau sekarang!] Zuhdi membalas pesan dengan kemurkaannya.
Ia tidak suka dengan makian dan tuduhan negatif yang dituduhkan keluarga ipar dari adiknya, pada keluarga istrinya dan keponakannya tersebut. Bahkan, putranya juga terseret dalam tuduhan hina tersebut.
__ADS_1
...****************...