Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA140. Tawaran turun ranjang


__ADS_3

Satu bulan menjadi pengikut pakcik Gavin, rutinitasku cukup padat seperti dirinya. Sampai rumah pun, belum sampai di kamar aku sudah terlelap lebih dulu. Saking pedasnya mata, kadang sampai aku tertidur di sofa ruang tamu.


Komentar orang rumah mulai bermunculan, mereka mengatakan langsung padaku meski hanya lewat di telingaku saja. Bahkan, kak Key mengatakan bahwa aku terlihat nakal setelah ditinggal Izza. 


Apa itu benar? 


Tidak juga. 


Aku hanya merokok, membahas banyak hal dengan pakcik dan teman-teman pakcik. Aku pun mulai aktif berladang, sebagai start aku diberi pinjam oleh pakcik Gavin seluas empat hektar. Karena kebetulan sekali, giliran ladang jahenya yang berada di kampung halamanku ini sudah panen. 


Aku memilih peruntungan untuk menjadi petani porang. Porang banyak digunakan sebagai bahan baku tepung, penjernih air, kosmetik, pembuatan lem dan jelly yang beberapa tahun terakhir diekspor ke negeri Jepang. Salah satu kandungan terbesar di dalam porang adalah glukomanan yang merupakan serat alami dan larut dalam air. 


Panen bisa dilakukan setelah tanaman berumur dua tahun. Ada cara lain supaya porang cepat panen, yaitu menanam bibit porang dari bibit umbi, sebab memanen porang umurnya mencapai tujuh bulan sejak masa tanam. Aku bisa panen porang dua tahun tiga kali. 


Aku membaca pasar global dulu, karena memang berniat bermain ekspor. Yang aku pahami dari semua obrolan dengan teman pakcik, porang cukup dicari di pasar dunia selain kopi dan rempah-rempah. Jadi, aku mengambil kesempatan itu. 


Kulitku tidak menghitam, karena sinar matahari. Tapi malah memerah, seperti kepiting rebus. Fisikku tidak banyak berubah, selain keramahan wajahku yang memang sulit tersenyum dan tertawa. 


Entahlah, semua lawak menurutku biasa saja. Tapi aku bisa enjoy menikmati kesibukanku, karena memang orang-orang di dalamnya yang amat mendukung. 


Di balik pertanyaan biyung tentang menu makan hari ini, selalu terselip nasehat agar aku tidak telat makan hari ini. Di balik teguran ayah agar aku tidak pulang dini hari terus, ayah malah menyuruhku untuk menginap di tempat kerjaku saja. Bukan beliau marah padaku, tapi ia khawatir aku mendapat kemalangan di jalan. 


Aku sudah lepas dari mengekori pakcikku, tidak setiap waktu aku bersamanya. Apalagi, ia selalu pulang sore hari. Bukan malam hari sepertiku, kadang sampai dini hari seperti ini. 


Sampai di hari seratus harian Izza, aku mendapat tawaran dari keluarga Izza agar aku melakukan adat turun ranjang. Dengan siapa? Dengan sepupu Izza. 


Oh jelas, aku tentu tidak mau. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang mendiang istriku, karena aku selalu merasa bersalah. Apalagi dengan sepupunya, yang kemungkinan memiliki kisah yang sama dengan fibroidnya. 


"Apa alasannya Bang Chandra nolak Sinta?" tanya paman Izza yang mewalikan pernikahanku dan Izza dulu.


"Tak punya alasan, aku lagi sibuk menata usaha aja." Aku pun belum ingin berkomitmen lagi. 


Karena apa? Karena aku akan sering keluyuran dan membuatku istriku membatin di rumah, karena aku keluyuran terus sengaja fokus pada usahaku. Aku tidak mau lagi, jika sampai istriku nanti merasa di nomor duakan. 


Khawatirnya, terjadi kejadian istriku sering kambuh tukak lambung karena stress memikirkan suaminya yang tak anteng di rumah. Ia tidak mengerti alasanku, tapi ia pasti menuntut aku selalu ada di setiap waktunya. 

__ADS_1


"Usaha apa sekarang, Bang?" 


Bincang-bincang setelah tahlil memang menyenangkan, tapi aku sedikit memandang lain keluarga Izza sejak kejadian sehari setelah tujuh harian itu. Bincang-bincang ini mengusikku, karena mereka seolah ingin tahu pencapaianku. 


"Tak ada, masih sama kek kemarin." Aku sengaja tidak memberitahu, bahwa aku kini memiliki minat di ladang juga. 


"Tambak ya, Bang?" Keluarga Izza terus memberikan pertanyaan, tanpa paham urat masamku. 


"Iya, tambak." Aku cukup datar dalam menjawab, karena memang tak ada yang aku ingin tanyakan ke mereka. 


"Berapa omset sekali ekspor?" Mereka semakin mengusik. 


Aku melirik ayah, beliau tengah asyik berbincang dengan pak kyai. Ia tidak melihatku, yang mengirimkan sinyal bantuan agar bisa kabur dari rentetan pertanyaan yang diberikan oleh keluarga Izza. 


"Ya, lumayan." Untuk apa juga kan mereka tahu nilainya? Atau mereka ingin meminta juga, dengan alasan ingin mengambil hak Izza? 


"Bisalah bawa anak Pakcik, atau saudara yang lain."


Ajaib memang, ternyata ingin ikut bekerja. Dongkolnya aku bukan karena tak ikhlas, tapi karena barang sekecil apapun milik Izza itu diambil semua. Bayangkan saja, sprei yang terpasang di ranjang diambilnya, handuk juga katanya.


"Kan ada ladang satu hektar, ada mahar tiga puluh juta lebih juga. Diolahlah itu ladangnya, uang maharnya untuk buka usaha." Sabarnya mulutku setipis tisu ternyata. Entah mengapa, memang keluar sendiri ucapan yang seperti itu. 


Dijual ya? Berani menjual. 


"Kalian jual ladang produktif, di tengah ladang kami? Kok berani sekali? Dijual ke mana? Kenapa tak ditawarkan ke keluarga kami?" Aku merasa mulutku sudah mirip ayah atau nenek, tapi semoga sesekali saja. 


"Yaaa, masih di kerabat kami. Memang berpengaruh?" 


Ampun! 


"Ya kalau ladang yang dijual itu dijadikan perumahan, ya berpengaruh. Kalau ladang itu dijual dan dibuat ladang lain, berpengaruh juga. Pengairannya nanti tersendat, belum lagi pohon kopi yang di dekat ladang itu akan mati karena peralihan fungsi ladang di sebelahnya. Contohnya dibuat perumahan, ya tanaman kopi kami yang di dekat ladang itu jadi kena proyek." Harus saja dijelaskan, otaknya di mana mereka ini. 


Makanya kenapa jual beli ladang, pembeli harus melihat langsung dan mengetahui pasti lingkungan di sekeliling ladang tersebut. Karena nantinya akan mempengaruhi. 


"Tak kok, masih dilanjut tanaman kopinya." 

__ADS_1


Ya logikanya, orang pasti merasa untung membeli ladang kopi produktif. Karena nanti, hasilnya akan lebih dari harga ladang yang mereka beli juga. 


Benar-benar tak ada otak keluarga Izza ini. 


Ada seorang perempuan muda yang mereka panggil, kemudian perempuan tersebut duduk di dekat pakciknya Izza tersebut. Bukan aku tidak lagi tertarik dengan perempuan, tapi aku mengalihkan seluruh perhatianku dari perempuan. Karena tak mau cerita kemarin terulang kembali. 


"Ini nih Sinta nih, Bang." Pakcik tersebut mengenalkan perempuan itu padaku. "Masih gadis dia, Bang."


Aku hanya menyatukan telapak tanganku di depan dada, tanda aku menerima salam tersebut. Aku malas sekali dengan keluarga ini jadinya, karena tabiatnya seperti itu. 


"Bang, kata ayah pupuk datang." Kirei cantik mendekatiku dan langsung gendong di bahuku. 


Ia memang akrab denganku sejak dulu juga. 


"Mana ayahnya?" Aku celingukan, aku pun tidak tahu dari mana datangnya anak ini. 


"Lagi kelaparan, lagi makan nasi kotak di sana." Kirei menunjuk ke arah luar. 


Anak kecil memang menggemaskan. 


"Sok gendong yang betul, ayo ke ayah." Aku bersiap untuk berdiri. 


"Ayo…." Kirei begitu bersemangat memeluk leherku. 


Aku berpapasan dengan Bunga yang membawa kopi di nampan. "Waduh, habis ini Kakak ya, Dek? Gantian ya gendong ke Abangnya," ujarnya ramah. 


Dasar, tengil. 


Aku melewatinya, tetap mencari keberadaan pakcikku itu. Aku menemukannya, kemudian aku diberitahu jika mobil yang membawa pupuk kebingungan akan bongkar.


Hingga mendadak malam ini juga, aku menitipkan pupuk milikku di garasi mobil milik nenek dan kakek. Sungguh, aku tidak berniat membuat ruangan ini kotor. Akan aku bersihkan sendiri, setelah aku memiliki rumah sewa untuk penyimpanan pupuk ini. 


Jika pupuk dan segala macam, itu sifatnya pribadi. Jadi masing-masing dari pamanku, tidak mencampur pupuk-pupuk mereka di satu tempat. Apalagi, milikku jelas beda dengan yang lain. 


"Bang, ini. Disuruh makan dulu sama biyung." Bunga menghampiriku yang tengah menyelimuti pupuk ini dengan karung-karung kosong. 

__ADS_1


Aduh, kenapa Bunga yang disuruh? Bisa-bisa aku memakan orangnya, bukan makanan yang ia bawa. 


...****************...


__ADS_2