
"Secepatnya aja, Kak. Ada bayi, nanti Hadi datang lagi datang lagi. Kek gimana gitu rasanya, masa tiap menit datang." Giska khawatir karena anaknya adalah laki-laki.
"Tapi tuh, Ma." Ceysa menggantungkan ucapannya.
"Kenapa?" Givan menoleh memerhatikan wajah anaknya yang tertunduk menatap lantai.
"Kan aku masih nifas." Ceysa menyatukan alisnya dan berkata lirih.
Givan menahan tawa, ia mengerti maksud tersembunyi di balik kalimat tersebut. Yang lain tidak bisa mendengar dengan jelas, karena Ceysa berbicara amat lirih. Namun, mereka jelas penasaran dengan tawa geli Givan yang ditahan sebisa mungkin itu.
"Ya tak apa, yang penting halal dulu gitu kan?" Givan berbicara kembali.
"Apa memang, Yah?" Hadi penasaran dengan percakapan yang tak didengar mereka.
"Ceysa masih nifas," terang Givan sedikit lantang.
Ceysa tertunduk malu, ia malu sendiri dengan pernyataannya yang diucapkan ulang oleh ayahnya.
"Ya tak apa, Ceysa. Nanti kan Hadi bantuin kerjaan rumah. Nanti beli mesin cuci, biar tak usah jongkok cuci baju." Hadi tidak berpikir ke arah yang Ceysa dan Givan pikirkan.
"Kau berpikir cuci baju ya, Di?" Zuhdi tertawa kecil.
"Ya iya, kan itu tugas ibu rumah tangga. Ceysa kan belum bisa kerja berat, jadi Hadi harus bantu dulu karena Hadi belum mampu kasih asisten rumah tangga." Hadi berbicara ke arah Ceysa.
"Kau bakal tidur sendiri dulu, Di. Sampai nanti selesai nifas Ceysanya, gitu," jelas Zuhdi perlahan.
"Nanti kalau Dayyan nangis malam gimana? Aku pernah melekan waktu bayi Cala di sini ramai-ramai. Ayah bangunkan Biyung, kalau Cala nangis." Hadi berpikir lurus sekali.
Hal itu membuat para orang tua ragu, jika Hadi bisa menjadi laki-laki yang bisa memuaskan wanita. Lebih-lebih Givan berpikir, bahwa Hadi harus diajarkan untuk bisa membuat senang anaknya di ranjang.
"Kau tak bisa ngelakuin hal serupa di mana kau buat Ceysa hamil itu, Di," jelas Keith perlahan.
"Ya aku juga tak mau, Bang. Nanti Ceysa hamil lagi, Ceysa masih kecil." Hadi menoleh ke arah Keith dan Ceysa bergantian.
__ADS_1
"Ada yang namanya KB, Di. Jadi kau bisa tunggu Ceysa besar dulu, tapi kau bisa berhubungan setiap hari tanpa takut Ceysa hamil." Chandra menjelaskan secara perlahan.
"Ayah tak percaya kau benar-benar tak tau." Givan menelisik gelagat Hadi.
"Bukan tak ngerti, Yah. Maksudnya, takut Ceysa hamil lagi. Dayyan aja belum besar, kita pasti keteteran." Hadi mengeluarkan pemikirannya.
"Iya, ada caranya. Cuma kan, sekarang Ceysa masih nifas," tambah Ceysa kemudian.
"Ya udah tak masalah, masa nikah aja mesti tunggu nifas?" Hadi merasa itu bukanlah hal penting.
"Kau yakin bisa kuat nahannya? Kau tak boleh ngajak Ceysa berhubungan, sampai dia selesai nifas, kurang lebih empat puluh hari. Kau nanti tinggal bareng sama Ceysa dan Dayyan di rumah mangge Yusuf yang di dekat lahan sawit itu." Givan sebenarnya khawatir membiarkan mereka tinggal bersama dengan mengurus anak mereka berdua.
"Kuat, Yah. Ayah sering-sering tengok aja, atau nemenin Ceysa di sana kalau Hadi Sabtu Minggu kuliah." Hadi khawatir ada binatang liar yang masuk ke rumah dan membahayakan istri dan anaknya, ketika ia tidak berada di rumah.
"Jangan terlalu khawatir, yang terpenting kau selalu buat rumah kalian aman, Di. Pintu jangan sampai longgar, jendela jangan ngebuka aja. Kau tetap harus keluar rumah, meski kau tak kuliah di Sabtu Minggu. Kau harus cari nafkah untuk anak istri kau, kau tetap akan ninggalin rumah dan balik lagi setelah dapat upah dari kerjaan kau. Kan kasarnya begitu, Di." Zuhdi menjelaskan secara halus.
"Iya, Bu. Aku ngerti." Hadi mengangguk.
"Besok tak apa, Biyung." Hadi ingin secepatnya.
"Orangnya papah tuh siapa, Bang? Yang biasa urus pernikahan gitu-gitu." Canda ingin mereka tidak mau repot.
"Udah wafat lah. Nanti Nando aja, mereka nikah tak di sini soalnya. Mereka nikah di sana, Pintu Rime." Givan menunjuk arah daerah tersebut berada.
"Tak bisa asal besok aja, Di. Kau tanya Ceysa minta mahar apa, kau tanya Ayah apa syaratnya." Zuhdi sebenarnya sedikit trauma jika membahas tentang pernikahan.
Ia teringat kesungguhannya saat mengusahakan materi untuk pernikahan mereka, Zuhdi khawatir Givan memberatkan persyaratan itu pada putranya.
"Yah, berapa maharnya untuk Ceysa? Berapa biaya pernikahan Hadi dan Ceysa?"
Zuhdi tepuk jidat, karena anaknya seolah tengah menanyakan harga barang. Ia berpikir, apa karena usia, membuat Hadi tidak mengerti tata cara meminta seorang anak perempuan dari ayahnya.
"Tanyakan ke Ceysa, sok diskusikan. Ayah mau diskusikan tentang tanggal dengan orang tau kau." Givan memberikan kebebasan untuk anak-anaknya dalam mewujudkan pernikahan impian mereka.
__ADS_1
"Tak begitu loh, Van. Kau punya hak, meski kau cuma ayah sambungnya." Zuhdi merasa heran dengan keputusan yang Givan ambil.
"Anak-anak aku tau cara meratukan diri mereka sendiri, dengan pernikahan impian mereka. Mahar terlalu mahar, aku trauma juga. Aku masih merintis, Canda minta mahar ladang." Givan membagi pengalamannya dengan singkat.
"Masa iya?" Zuhdi jelas tidak tahu apa-apa.
"He'em, udah biarin mereka rencanakan sendiri. Menurut kau, baiknya tanggal berapa? Biasanya orang kek kau, bisa hitung tanggal, weton dan cuaca." Givan mulai membuka obrolan tentang tanggal untuk menggelar pernikahan anaknya.
Hadi sudah berpindah duduk di lantai di samping Ceysa, sedangkan Ceysa duduk di sofa. Mereka tepat berada di depan pintu kamar Givan, di mana Dayyan tertidur pulas di sana.
"Ya tak paham juga, Van. Mau ikutan orang-orang jaman dulu? Bukan aku tak mau, tapi aku tak ngerti." Givan mengedikan bahunya.
"Satu Minggu dari hari ini aja gimana? Berarti, hari Minggu depan." Givan merasa bahwa persiapan satu minggu adalah waktu yang cukup.
"Oke, aku mau ngundang beberapa orang termasuk keluarga." Zuhdi merasa bahwa pernikahan harus juga membagikan kebahagiaan bersama orang-orang terdekatnya.
"Aku tak, aku tak suka terlalu ramai. Keluarga aku aja, sama anak cucu itu kursi-kursi pasti udah pada penuh. Kau timbang-timbanglah siapa yang mau diundang, karena nanti mereka tak kebagian duduk." Givan ingin pesta sederhana saja, karena pasti meriahnya dengan keluarganya saja.
"Aku pengen ada biduannya, Van." Zuhdi sambil tertawa mengatakannya.
"Ish!" Giska langsung memukul lengan suaminya.
"Fixnya gimana ini?" Canda bingung, karena ada perbedaan keinginan keluarga hajat.
"Ambil tengah aja, nikah sederhana dengan undangan terbatas. Jadi contohnya, Bang Zuhdi hanya undang seratus orang, Bang Givan hanya undang seratus orang juga. Terserah, mau keluarga kah mau kerabat kau atau teman. Kalau boleh saran, biar Adek Ceysa tak terlalu capek karena masih dalam pemulihan, resepsinya dibatasi aja." Ide Keith pun, tercetus dari setiap pernikahan keluarga tersebut yang selalu berbatas jam.
"Boleh deh. Aku sih memang tak berniat undang, bawa Ghavi dan keluarga pun, pasti udah ramai. Delapan saudara kumpul, anak istri terhitung cucu juga, pasti ramai juga." Givan tidak suka mengundang teman-teman lamanya, karena khawatir teman-temannya membicarakan aibnya terdahulu.
"Oke, sip. Seratus orang aja ya berarti? Terus, gimana rencana pernikahan kalian?" Zuhdi melempar pertanyaan pada anak muda yang tengah serius berdiskusi.
"Kami mau pernikahan yang….
...****************...
__ADS_1