Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA182. Menemui pakwa


__ADS_3

"Udah deh, kau tak usah mikir terlalu jauh. Dengan dia mau kau rang****, kau lepasin bajunya, mau kau masukin, tandanya kan memang dia mau sama kau. Tentang tolakan dia, mungkin dia punya banyak alasan, yang salah satunya mungkin tentang pendidikannya." Aku mengedikkan bahuku, karena memang aku tidak tahu pasti. 


"Apa dia pikir, aku bakal renggut pendidikannya? Aku nikahi, aku bakal tetap support pendidikannya." Ia mengepalkan tangannya dan memukul pangkuannya sendiri. 


Aku menghela napasku. "Entahlah, aku tak tau pasti alasannya. Saran aja sih, kau ngomong aja dulu ke kakak perempuan kau. Terus save nomor aku, nanti aku bantu ngomong ke orang tuanya, terus aku informasikan gimana baiknya tentang kedatangan kau. Tentang Bunga dan keputusannya, nanti mungkin aku bakal bantu ngomong ke orang tua aja. Aku udah males ngomong sama dia, aku udah capek nasehati dia. Perempuan yang kau suka itu gatal, dia sang***." Aku tidak menyangka ucapanku mengantarkan Hema untuk tertawa. 


Apa lucunya memang? 


"Favorit tak sih perempuan yang sang*** ini, Bang? Menurut aku, mereka favorit betul lah."


Otaknya ternyata mesum juga. 


Izza sering mengode agar aku melakukannya padanya, tapi nyatanya ia selalu lebih bisa memberikan kenyamanan untuk tidurku. Aku pun laki-laki, yang wajar memiliki n****. Tapi kalah dengan kenyamanan yang Izza hantarkan, karena memang semenenangkan itu dirinya untukku. 


Jika Jessie, ya Jessie. Ia membuatku terbangkitkan dan gelisah, hanya dengan permata di pusarnya. Ya semoga aku tidak melihat pusar-pusar lainnya yang menarik perhatian lagi. 


"Favorit! Favorit! Modelan Bunga, ya laki-lakinya harus punya skill juga." Perempuan model apapun, ya memang laki-laki harus memiliki skill. 


"Cepat basah, Bang. Yang penting paham dirinya aja deh kata aku sih, dia cuma ingin dimengerti." 


Terlalu frontal! Aku tidak suka mendengar komentar seperti ini tentang adik-adikku. 


"Udahlah, kau pulang sana! Aku sibuk, banyak urusan lain." Aku meneguk es milikku sampai tersisa setengah gelas. 


"Oh ya, mana nomor HP Abang?"


Hema langsung menulis ulang nomor ponselku yang sudah aku hafal dan sebutkan. Ia mengirimkan pesan chat, agar aku tahu nomornya. 


Tanpa menyimpan gelas yang sudah kosong ini, aku langsung pergi begitu mobil Hema meninggalkan area rumah ini. Aku tidak mau berdebat dan banyak bicara dengan Bunga, itu hal yang sia-sia saja.


"Biyung, ayah mana?" Aku berseru ketika memasuki rumahku. 

__ADS_1


"Di dapur," pekik biyung samar. 


Aku menyusuri rumah ini, rumah yang sepi karena tengah pada berada di sekolah masing-masing. Cani tinggal di rumah sendiri, tapi setiap hari ia selalu ada di rumah biyung. Ia hanya pulang, untuk tidur malam saja. Sedangkan Ra, ia menempati rumahku. Entah sementara atau selamanya, aku tidak memikirkan hal itu. Terserah saja, yang penting terjaga mataku. Aku tidak ambil pusing, karena aku hanya membutuhkan satu kamar untuk saat ini. 


"Loh? Ayah mana, Biyung? Ayah, bukan Biyung." Aku hanya menemukan biyung yang yang tengah beraktivitas dengan asisten rumah tangga. 


"Ayah? Ayah cek lapangan, Bang. Makan siang nanti mungkin pulang, Biyung belum nelpon, jadi tak tau pasti." 


Biyungku sering seperti ini. 


"Bilang ayah ya, aku nyariin gitu. Aku keluar dulu, minta ayah telpon aku kalau udah di rumah ya, Biyung?" Aku tidak mau diam, aku harus melancarkan niatku satu persatu. 


Jika ayah tidak ada di rumah, aku harus meloncati step ini dulu. Tentang Ra biar ditutup dulu, sampai ayah datang. Sekarang, aku berpikir untuk menemui pakwa di rumahnya dan melaporkan semuanya. 


"Iya, iya. Mau ke mana lagi sih?" Biyung berjalan ke sana ke mari mengambil sayur dan mencucinya di wastafel. 


"Ada kerjaan, Biyung. Aku berangkat dulu." Tanpa mencium tangannya seperti pagi tadi, aku langsung pergi lagi dari rumah. 


Aku melajukan kendaraanku ke rumah pakwa. Rumah yang sepi, tapi ketika membuka pintu mendapatkan kejutan tak terduga. Aku tidak risih, hanya kaget saja mendapat sambutan dari Hana. 


Pelukannya hangat dan erat, ia nampak ceria dan senang dengan kedatanganku. Namun, aku sedikit tidak nyaman dengan cara pandang ibu sambungnya Bunga. Ia menelisik kehadiranku begitu dalam, seolah kedatanganku adalah suatu yang mengherankan. 


"Pakwa ada, Makwa?" Aku sedikit bingung untuk menyebut dirinya. 


Sungguh, orang tuaku dan pakwa tidak mengajari caranya aku memanggil istri baru dari pakwa itu. Lebaran saja, ia tidak pernah berkunjung untuk bersilaturahmi. Jadi, bagaimana aku bisa menganggapnya kerabat atau semacam bibi tua? Pakwa hanya datang dengan anaknya, Elang, Bunga atau salah satu anak spesialnya. Intinya, pakwa tidak pernah membawa semua anak-anaknya sekaligus. Mungkin karena itu adalah hal yang sulit menurutnya, ditambah ia tidak pernah membawa istrinya datang. 


"Di kliniknya, coba kau telpon aja." Wanita yang dipanggil 'mamah' oleh Bunga itu, berjalan mendekat dan menarik bahu Hana lembut. 


"Abang mau kerja, Sayang. Main sama Mamah aja," ajaknya halus. 


Beliau tidak sekasar seperti dengan Bunga. Keibuan, kasih sayangnya tercurahkan pada Hana. Aku pun bisa melihat, bahwa hal itu bukan pura-pura semata. 

__ADS_1


Hana melompat-lompat, sampai air liurnya menempel ke pakaianku. Aku tidak mengerti masalah pada diri Hana, karena ia seperti kesulitan mengatur air liurnya. Seperti bayi yang akan tumbuh gigi, diam saja air liurnya bisa menetes. Jika hanya down syndrom saja, mungkin tidak sampai seperti itu. Pernah kudengar, jika Hana mengidap penyakit juga. Salah satu yang pernah ia jalani, adalah serangkaian operasi untuk jantungnya saat bayi. Namun, aku tidak tahu pasti juga tentang yang dideritanya. Yang jelas, ia adalah anak yang kuat dan periang. 


"Tunggu di kamar atas aja, Bang. Terus telpon aja pakwa kau." Ia tersenyum lebar, dengan merangkul membawa Hana masuk ke ruangan. 


Pasti bukan maksud beliau membatasi interaksi Hana dengan keluarga, aku contohnya. Mungkin, beliau khawatir aku merasa terganggu dan risih dengan sikap periang Hana yang memang sedikit berlebihan untuk orang normal. Padahal tidak mengapa juga, aku memahami dan mengerti dirinya. 


"Biar aku ke klinik aja, Makwa." Maksudnya, agar aku leluasa juga mengobrol dengan pakwa jika di luar rumah. 


"Ya, Bang. Tutup lagi aja pintunya." Makwa hanya menoleh sekilas, kemudian ia masuk dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu dan menutup pintu ruangan tersebut. 


Aku tidak tersinggung, aku memaklumi kondisinya. 


Ketika aku pergi membawa kembali motorku, dari jendela ruangan tersebut Hana melambaikan tangannya padaku. Andai saja makwa mau memahami, bahwa aku tidak keberatan berinteraksi dengan Hana. Meski aku memahami kekhawatirannya akan diriku tentang Hana, tapi sebaiknya ia tidak sampai perlu membatasi Hana sampai demikian. Karena ketika ia tiada, kami para kerabat akan berperan besar di lingkungan hidup Hana. 


"Pakwa di mana ya?" Aku berbicara pada security klinik yang aku kenal. 


"Di ruangannya, Bang. Di lantai dua, depan tangga naik ruangannya, langsung aja Bang. Tapi baiknya ketuk pintu dulu, Bang. Barangkali ada pasien khusus yang lagi konsultasi." Security tersebut menunjuk tangga lantai dua, yang terlihat dari pintu masuk ini. 


"Oke siap, makasih." Aku tersenyum lebar dan berjalan cepat menuju tangga. 


Aku menemukan ruangan dengan name tag Dr. Kenandra Al-Musthofa. Keren namanya, berwibawa dan modern. Padahal usianya jauh di atasku, tapi namanya sudah semodern itu. Pasti para orang tuanya anak gaul, bisa memberikan nama anaknya sekeren itu di jamannya. 


"Pakwa." Disusul dengan tanganku yang mengetuk berulang. 


"Ya, masuk." Suara tegas ramahnya terdengar. 


Seperti dokter pada umumnya, tegas dan ramah berwibawa. Bukan tegas yang seperti anggota kepolisian, aku segan dengan mereka karena suara tegasnya dan wajahnya yang selalu serius. Tapi jika polisi seramah dokter, mungkin banyak yang berani menantang mereka. Dengan mereka tegas, kami masyarakat menjadi segan sendiri. 


"Pakwa lagi sibuk?" Aku tersenyum ketika menemukan beliau di depan meja kerjanya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2