Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA267. Fantasi gila


__ADS_3

"Nebus obat, Woy. Malah makin anjlok dari jalanan begini." Nahda menepuk-nepuk tanganku yang berada di atas perseneling. 


"Main dulu sih, Dek." Aku ingin merasakan mesum di mobil. 


"Heh? Apa nih?" Nahda mengusir tanganku yang hinggap di atas pahanya. 


"Main dulu, begituan dulu." Tanganku mengincar kerudungnya untuk dilepaskan. 


"Hah?!! Hubungan s**s?" Matanya membulat sempurna. 


Aku mengangguk samar dan tersenyum kuda. 


"Ayo, siapa takut." Nahda menarik kerah kemejaku. 


Aku kira ia akan menolak, ternyata persetujuannya di luar ekspektasi. Jelas aku tersenyum lebar meladeni c******nya. Fantasinya liar juga, aku kini merasakan rasanya sensasi mereka yang melakukan hubungan haram. 


Pergerakan terbatas, berkeringat dua kali lebih banyak. Jantung pun berdegup kencang, tangan sampai gemetaran dan menjadi kami sama-sama cepat keluar. Aku langsung membuka jendela mobil, begitu selesai melakukan. Kami berebut oksigen dan bersandar menikmati aroma khas yang tergantikan dengan udara malam. 


Pukul sepuluh malam kurang sepuluh menit. Start jam sembilan lebih, pemanasan terburu-buru dan berhenti setiap ada kendaraan yang melintas. Jadi, begini rasanya s**s kilat itu? 


Pantas saja mereka yang berpacaran seperti kecanduan rasanya. Sensasi takut ketahuan, buru-buru dan menggebu menjadi satu. 


"Enak ng******g di ranjang," celetuk Nahda yang membuatku terkekeh. 


Aku meliriknya. "Memang kenapa kalau di mobil?" tanyaku kemudian. 


"Tak lebar buka kakinya, kaki aku panjang." Kepolosannya membuatku tertawa. 


"Cari makan dulu yuk? Terus kita pulang. Jadi tak nginep di mamanya?" Aku merangkulnya dan menyempatkan untuk mencium pipinya. 


Kasihan lah, jangan terlalu lama membuka jendela. Istriku tidak pernah kena udara malam, ia benar-benar anak rumahan. 


"Nginep di OYO aja, di kamar yang Abang pernah main begituan sama Jessie."


Debat part dua rupanya. 


"Yuk? Mau?" Lebih baik menghajarnya lagi nanti di ranjang. 

__ADS_1


Masalahnya, kesabaranku mudah robek. Tapi sekarang, aku harus menstabilkan tenaga kuda dulu agar nanti tidak K.O duluan. Setelah sekian banyak permainan, aku akan menjajal 'nambah' yang sebenarnya. 


Kalau berhasil dengan tenaga yang masih tinggi setelahnya. Aku akan membeli piala yang empat puluh ribuan untuk diriku sendiri.


"Jadi beneran???"


Begini ya cemburuanya Nahda? Jadi istriku juga cemburuan sebenarnya? Ke mana sifat awalnya itu? Apakah benar jika sekarang Nahda sudah jatuh cinta padaku? Sedangkan saat awal itu, Nahda masih merasa bahwa aku adalah kakaknya. 


Aku ingin mendengar dari mulutnya sendiri. Tidak penting memang, tapi aku ingin mengetahui secara pasti. Mungkin nanti, saat mendapatkan waktu yang tepat. 


Aku menahan senyum. "Cuma Izza, terus Adek. Abang tak bohong, tanya readers aja."


Sesampainya di OYO yang dimaksud dirinya itu, ia malah mengatakan mengantuk. Oke tak masalah, istirahat sejenak untuk berperang di ranjang. 


"Cek in tak pakai buku nikah, Bang? Kan wajib di sini." Nahda masih terlihat segar, tapi urat wajahnya itu lesu. 


"Tadi nunjukin foto sih. Itu foto buku nikah, kan Abang selalu bawa juga kartu nikah." Sedikit sulit, tapi tidak rumit untuk yang memang sudah menikah. 


"Soalnya kan ada kasus kartu nikah palsu, memang mereka percaya Abang nunjukin kartu?" Ia berjalan ke arah kamar mandi. 


Namun, ia malah balik lagi. 


"Temenin," mohonnya imut sekali. 


Uhh, gemesnya. 


Aku mengangguk dan berjalan ke arahnya. "Kan tadi tunjukin foto buku nikahnya sama foto kita bawa buku nikah itu." Aku masih menjelaskan. 


Ia mencuci dan aku mencuci juga. Maklum, tidak sempat mencari toilet setelah selesai bermain di mobil tadi. 


Mungkin sekarang moodku berhubungan tengah baik. Aku malah memancingnya lagi, setelah berada di kamar mandi. Tapi tidaklah lama, karena aku mengajak ke ranjang lantaran air matanya sudah membuat matanya merah.


"Aku berpikir Bang Chandra kerasukan." Ia mendorongku, kemudian dirinya mengubah posisinya berbaring miring. 


"Iya, kerasukan aktor pemain film dewasa." Terang saja aku kesulitan, jika dalam posisi sendok ini. 


Syahiba Saufa lebih tinggi sedikit. 

__ADS_1


Ia meringis dan mendongak melihatku. "Enak banget ini." Ia berpegangan pada lenganku. 


Wow, lanjut kuras. 


Setelah menguras di OYO, esok harinya aku dibelikan tiket oleh ayah. Kami berangkat ke bandara bersama, tapi beda tujuan. Ayah ke Kalimantan, sedangkan aku ke Jepara. 


Nahda seperti biasa, bermain drama dan papa membujuknya. Bukan hanya ayah, papa Ghifar pun berjanji mengantarnya setelah ia selesai ujian kurang lebih satu minggu itu. Syarat lainnya, ia tinggal di rumah papa Ghifar sementara waktu aku pergi. 


Tak apa, dengan begitu kan aku lebih tenang karena ia ada yang menjaga. 


Sambutan yang cukup baik, tidak kentara sekali jika di sini ada kecurangan. Aku berpikir bahwa dugaan ayah salah, tapi aku yakin jika insting ayah selalu benar. Aku harus meraba, agar tahu siapa yang melakukan kecurangan ini. 


"Ini jati tua nih, Bang." Orang kepercayaan ayah ini merupakan adik paling kecil dari pekerja tambang ayah yang wafat karena kecelakaan kerja, ia menunjukkan bahan baku yang baru datang padaku. 


Dulunya, yang memegang rumah mebel di sini adalah anaknya pekerja yang wafat. Tapi ia dipindahkan ke Cirebon, kemudian yang di sini digantikan oleh adiknya pekerja ayah yang wafat itu. 


Seperti tidak alami. 


Aku berjongkok, memperhatikan sampai ke tumpukan paling bawah bahan baku ini. Aku berpikir, mungkin ia bermain di sini. Jelas sekali kayu di bawah warnanya tidak pekat seperti kayu yang di atas. Ditambah lagi, warna yang diatas ini seperti tidak alami. Kayu jati itu mengandung minyak yang tinggi, bukan air yang tinggi. Seperti terkena hujan, tapi jelas ini di tempat yang teduh dan di dalam gudang yang ngap. 


Aku tidak langsung menembak, mungkin memang bukan masalah SDA pikirku. Aku mencoba melihat sekeliling esoknya lagi, setelah aku pulih dari perjalanan panjang ini. 


Aku tengah mencoba menjadi detektif Upin dan Ipin. 


Nahda hanya sewaktu-waktu menghubungiku, aku pun tidak memiliki banyak waktu di siang hari untuk menghubunginya. Paling ketika akan tidur, aku menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video terlebih dahulu. 


Saingan yang begitu ketat, kanan dan kiri, depan dan belakang rumah mebel ini ternyata memiliki usaha yang serupa. Bukan hanya di lingkungan sini, karena hampir sepanjang jalan usaha masyarakat sini pun serupa. 


Aku berjalan ke tempat usaha tetangga rumah mebel ini, mungkin berjarak tiga puluh meter dari tempatku berdiri awal tadi. Di sana ada pembeli, aku tidak bermaksud mengacau pembeli di sana, tapi aku ingin menyamar menjadi pembeli juga. 


Toh, tidak ada yang kenal aku di sini. Tempat usaha ini berjarak lumayan dari tempat aku tinggal, ayah memiliki rumah sederhana sangat layak huni tak jauh dari tempat usaha di sini. 


"Mas, harusnya mobilnya parkir di sini aja. Saya tak enak sama sebelah," ujar seorang pekerja yang baru selesai menggeser beberapa furniture. 


Ternyata mereka memperhatikan jika aku dari tempat usaha ayah, ditambah juga mereka tahu bahwa aku keluar dari mobil ayah yang punya di sini. Tapi tentu hanya dipakai ayah pribadi, untungnya masih bisa jalan tadi. Namun, semoga mereka tidak tahu jika mobil itu milik bos besar usaha tetangga mereka.


Aku tersenyum dan semakin mendekati mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2