Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA211. Cek in


__ADS_3

"Baru masa aku punya Esmee, anak nomor tiga itu, dia bilang kalau ada istri di Kalimantan. Bang, aku tak mau ambil pusing. Toh, di KTP pun aku masih belum kawin. Usia tak tua-tua betul baru tiga puluh limaan. Kata aku, ya udah bawa aja anak-anaknya. Aku percaya sama dia, kalau dia dan istrinya bisa didik anak-anak kita. Bukan tanpa sebab aku nyuruh dia bawa anak-anaknya dari aku, biar dia tak datangin aku lagi dengan alasan mau nengok anak tapi bujuknya aku. Aku udah pulang ke keluarga aku, di bibi sih karena aku udah tak punya orang tua. Tiga bulan kemarin, aku udah pisah dengan tiga anak aku tinggalkan. Tapi baru tiga pekan pergi, aku udah ditemuin dan dicampuri lagi. Pas keadaannya aku tak ikut suntik KB ulangan, dengan pikiran bakal tak punya suami lagi. Ternyata aku salah, sekarang udah dua bulanan ngandungnya." 


Tante Rose Titanic yang bercerita, tante Nina yang menangis tergugu.


"Bang, anterin pulang ke Kalimantan." Tante Nina bangkit, kemudian menyentuh lengan ayah. 


"Aku anterin, Nin. Nanti dulu." Om Vendra menahan tangan tante Nina. 


Tante Nina menggeleng. Ketika ayah bangkit, tante Nina malah memilih untuk memeluk lengan ayah. Aduh, milik biyungku ini. 


"Bang, cek in. Nih, bawa debit Ayah. Uang tiket nanti Ayah transfer, bawa Tante kau dulu." Ayah menyeret bajuku lagi, agar aku menggantikan bahu sandaran tante Nina. 


Kali ini duda menang banyak, yang penting biyungku tak panas hati. 


"Ayo, Tan. Kita kuliner, terus cek ini berdua." Aku merangkul tante Nina. 


Detik itu juga, kepalaku ditoyor dari belakang. Segera aku menoleh, mendapati om Vendra yang memandangku sinis. 


"Bujang Abang, Ven!" Ayah menepuk pelan tangan om Vendra yang tadi menoyor kepalaku. 


"Bujang t**! Bujang pernah akad," sindirnya halus, dengan duduk kembali di tepian ranjang. 


"Dehen sama Balawa jangan suruh ikut, biar mereka kenal saudaranya," ungkap ayah ketika aku sudah sampai di ambang pintu kamar. 


"Ya, Yah." Aku membawa ranselku yang berisi satu stel pakaianku dan ayah. 


"Tante tak bawa baju?" Aku hanya melihat tante Nina mencangklek tasnya. 


"Di koper bersama, dipindahkan ke tas kau kah?" Tante Nina hanya membawa semacam tas tangan saja, seperti milik perempuan yang tak pernah ketinggalan. 


"Boleh, satu stel aja. Barangkali Tante capek, terus mau mandi." Aku ikut membantu membongkar kopernya. 


Satu stel pakaian beserta ********** juga dipindahkan ke ranselku. Tidak begitu berat, toh aku sudah biasa menggendong Cala dan Cali yang berkali-kali lipat beratnya dari ini. 


"Pesan taksi online, atau gimana?" tanya tante Nina, setelah kami mengatakan pada Dehen dan Balawa akan pergi lebih dulu ke hotel. 


"Jalan aja dulu deh, Tan. Sambil mikir tujuannya ke mana." Aku memperhatikan ramainya jalanan gang, sebelum melipir di sisi paling kirinya. 

__ADS_1


Sepertinya, para wanita tidak bisa berjalan sendiri tanpa berpegangan. Tante Nina seperti biyung, yang selalu menggandeng lenganku ketika tengah berjalan berdua. Jika perginya dengan ayah, tentu ayah yang tak pernah dilepaskan oleh biyung. Dengan kak Jasmine, atau dengan kak Key, biyung pun selalu menggandeng lengan begini. 


"Bang, om kau keterlaluan betul." Curcol dari tante Nina sudah meluncur baru beberapa langkah keluar dari rumah. 


"Mungkin begitu." Aku no coment sebenarnya, bingung juga akan memberi tanggapan seperti apa. 


"Cantik tante atau cantik dia, Bang?" Pertanyaan tante Nina membuatku terjebak. 


Cantik sih memang cantik bule Titanic tadi, tapi wajahnya lebih sedap tante Nina untuk dipandang. Tante Nina manis, tapi telinganya caprang seperti Bunga. Ya bukan masalah juga, itu bukan kekurangan. 


"Cantik biyung aku lah, makanya ayah jaga perasaan biyung meski jauh dari biyung. Tante pengen nemploknya ke ayah aja yang suami orang, padahal ada duda ganteng nganggur gini. Mentang-mentang suami orang lebih kaya, duda dianggurin." Aku meliriknya sekilas dan geleng-geleng kepala. 


Alhamdulillah, tante Nina bisa tertawa. 


"Bawaannya kek abang sendiri kalau sama ayah kau itu, wibawanya kek gentleman gitu." Tante Nina mengulurkan dan menekuk tangannya. 


"Gentleman kentut." Aku ingin meledek ayahku sendiri kadang-kadang, di depan biyung nampak sama dramanya soalnya. 


"Masa gentleman kentut? Gimana memang?" Ekspresinya menggambarkan seperti dirinya membayangkan dan memikirkan sesuatu. 


Aku lekas terbahak, langkah kami terhenti bersama dengan tante Nina juga yang tertawa lepas dengan mulut terbuka.


Tante Nina masih terbahak-bahak, tangannya memukul-mukul lenganku dengan tawanya yang tak kunjung mereda. "Ya ampun, otak tak sampai. Tante Kira, ayah kau suka kentut sembarangan gitu," ungkapnya dengan mengusap air mata di pojokan matanya. 


Tertawa saja matanya bisa basah. 


 


"Tak, makian aja itu." Aku lanjut melangkah pelan kembali. 


"Jalan besar tuh, Bang. Ke sana aja yuk?" Tante Nina menunjuk belokan di sebelah kanan. 


"Oke, Tan." Jalanan besar itu, berjarak kurang lebih seratus meter dari rumah tante Titanic. 


Eh, Caitlin Brechtje. Gimana membacanya? Cetlin Breaktea? Huh, susah sekali. 


"Seingat aku, banyak juga non-muslim di sini. Tapi tak tau sih daerah ini mayoritas non-muslim atau bukan, Tan." Lalu lalang mobil sudah terlihat. 

__ADS_1


"Iya kah? Apa ini ada hubungannya sama makanan yang akan jadi menu kuliner kau?" Tante Nina kembali menggandeng lenganku. 


"Tak ada, aku ngincer bakso beranak. Tante mau?" Aku sempat melihat spanduknya tadi, saat akan menuju ke rumah tante Titanic. 


"Tante belum minat makan, Bang. Tadi pun, kita baru makan nasi padang kan? Ke hotel aja dulu sih, Bang. Baru agak siangan, nanti kuliner." 


Benar juga sih, masa jam delapan pagi makan bakso? Memang boleh-boleh saja, tapi kan masih masuk waktu sarapan. 


"Tunggu di sini, Tan. Aku order taksi online dulu." Sebelumnya, aku mencari informasi di Google di mana hotel terdekat. 


Ketemu, taksi onlinenya pun sudah dapat. Aku memesan satu kamar, dengan double bed ukuran besar. 


Tante Nina langsung bersih-bersih di kamar mandi, aku langsung rebahan dengan bermain ponsel yang tersambung di power bank. Pesan chat penuh, sampai belasan pesan dari beberapa orang. 


Aku tidak takut dicabuli juga, aku pun tidak bereaksi terhadap tante Nina. Aku hanya mengantuk, tapi aku bingung ketika cek in tadi. Masalahnya, tante Nina ditanya jawabnya terserah terus. Aku beranggapan ia ibuku, jadi ya aman saja. 


Entahlah, yang penting tidur saja dulu. 


Aku terbangun, kala ada seseorang melepaskan sepatuku. Namun, gerakannya cepat dan kasar. Maka dari itu, aku sampai terganggu dan terbangun. 


"Abang tak sama Dehen dan Balawa?" Itu suara tante Nina. 


Aku baru tersadar, jika aku di kamar bersama tante Nina. Apa yang melepaskan sepatuku adalah tante Nina? 


"Tak, suruh kenal saudaranya biar tak dipakai adik perempuannya itu."


Aku menggeliat dan melihat ayah di ujung ranjang seorang diri, tidak dengan om Vendra. 


"Yah…." Aku mengusap wajahku. 


"Nemenin Tante Nina, ajak jalan-jalan atau makan. Bukan malah molor di kamar, kalau Tante kau gantung diri gimana?" Ayah memukul pelan betisku. 


Tante Nina malah cekikikan. "Abang tenang aja, aku tak sebodoh itu."


"Terus, apa rencana kau untuk adik aku?" Ayah menempelkan sikunya ke lututnya. 


"Aku….

__ADS_1


...****************...


__ADS_2