
"golongan darah O, terutama O-, jadi satu-satunya golongan darah yang bisa mendonorkan darah ke golongan darah manapun. Tapi, golongan darah O cuma bisa menerima donor dari golongan darah O aja. Gitu, Bang. Kenapa memang?" Kaf menjelaskan sambil menata rambutnya.
Tengil sekali bujang tanggung itu.
"Kak Izza punya golongan darah O, Kaf. Kau bisa carikan pendonor O juga?" Untuk persiapan.
"Oh, bisa-bisa. Nanti besok aku cari infonya di PMI kampus, Bang. Tapi tak janji ada ya, Bang? Cuma nanti aku konfirmasi kalau ada anak-anak kampus golongan darah O yang mau donor." Senyum Kaf selalu terukir.
"Oke deh, nanti bilang ya kalau ada?" Aku memperhatikannya yang bermain ponsel itu.
"Udah aku tebar di grup, Bang. Memang kak Izza kenapa?" Ia bertanya dengan masih bermain ponsel.
"Mau ada tindakan operasi, tapi harus sedia pendonor dulu," jawab ayah kemudian.
Kaf manggut-manggut. "Ya iya, betul. Aku udah tebar pesan, nanti aku kumpulin orang-orang yang sedia. InshaAllah ada, Bang. Soalnya, biasanya ada aja pendonor darah golongan O ini. Tepatnya, O atau O-?" Kaf memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Aku mengingat kartu golongan darah milik Izza. "O aja deh kalau tak salah." Karena di sebelah huruf tersebut tidak ada tambahan lagi.
"Oke, Bang. Bisa diatur kok." Ia hendak pergi lagi.
"Mau apa sih ke Gwen? Gwen masih kecil tau." Ayah bertopang dagu memperhatikan Kaf.
"Aku ada PO barang, yang jualannya Gwen. Jadi mau ambil barang ke Gwen, Yah. Aku baru pulang dari ngerjain tugas soalnya," tuturnya lembut sekali, ia seperti ayahnya. Jika Kal, ia sedikit petakilan dan mulutnya heboh saja.
"Ohh, ya udah cepat ambil. Udah jam sepuluh nih." Ayah melirik jam tangannya.
Koloran pun, ayah tetap memakai jam tangannya. Mungkin itu resep ketampanannya yang tidak luntur oleh waktu.
"Iya, Yah." Kaf bergegas menuju ke pintu sampai yang persis di samping teras.
Bangunan sudah hampir jadi, dengan lantai dua yang sudah terlihat tiang betonannya. Ayah selalu menggunakan tipe bangunan tahan gempa, sayangnya memang tidak tahan ledakan.
"Calon dokter keluarga, udah nampak wibawa dokter ramahnya. Sifat tenangnya tuh, kek yang dimiliki dokter-dokter handal gitu." Ayah memuji Kaf di depanku.
"Aku nampak jadi apa?" Aku mengusap-usap daguku.
__ADS_1
"Entah." Ayah tertawa geli. "Masih butuh pelatihan ekstra, sayangnya istrinya tak mendukung kalau suaminya dipinjam lama-lama." Ayah melirikku dan memandang ke arah lain.
"Maaf ya, Yah?" Aku baper sendiri.
Belum sukses, tapi sudah buru-buru menikah. Mungkin karena salahku juga, karena memberi harapan pada seorang wanita sudah sejak lama.
"Tak apa, santai aja. Sambil jalan, sedikit-sedikit pasti kau bisa. Gih masuk, tidur." Ayah menikmati kembali minuman kopi dalam botol tersebut.
"Iya, Yah. Ayah tak tidur juga?" Aku beranjak masuk dengan membawa belanjaanku di minimarket tadi.
"Sebentar lagi, kau duluan aja."
"Iya, Yah." Aku masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamar.
Izza sudah pulas di bawah selimutnya. Wajahnya nampak lelah, meski dengan aktivitas yang begitu-begitu saja. Aku memiliki rencana esok, untuk memberi kabar hal itu pada keluarganya. Karena barangkali, mereka memiliki golongan darah O juga seperti Izza. Semoga aku mengingat hal ini, sebelum berangkat ke rumah sakit.
Istriku begitu pucat, jika tidak menggunakan pewarna bibir. Aku yakin keadaannya tengah prima, karena dalam keseharian pun ia tidak terlihat meringis sama sekali. Ia bahkan senantiasa tersenyum dan melakukan aktivitas dengan riang, ia tidak terlihat seperti menahan sakit sama sekali.
Jika benar besok ia mau langsung tindakan, artinya aku harus lebih siap untuk menjaganya saat masa pemulihan. Dengan kondisinya yang tidak terlihat sakit begini, pasti operasi yang akan ia jalani berjalan lancar dan minim resiko.
Putihnya kulitnya, cantiknya wajahnya, pasti keturunanku dan Izza cantik-cantik sekali. Jika yang diberi anak laki-laki, pasti akan tampan juga.
Ya, itu mungkin saja.
Aku menarik selimut sebatas dada, kemudian tidur menghadap padanya. Seru napasnya menerpa wajahku, memberikan ketenangan dan kenyamanan padaku.
"Pagi, Sayangku." Izza menciumi seluruh wajahku.
Napasnya bau pasta gigi. "Udah mandi kah?" tanyaku dengan menggeliatkan tubuh.
"Udah dong. Mandi, yuk sholat Subuh berjama'ah." Ia tersenyum lebar.
"Oke, tunggu ya?" Aku menyibakkan selimutku, kemudian duduk sesaat sebelum kaki ini menopang tubuhku.
"Jangan lama ya, Bang? Tuh, udah jam lima." Ia menunjuk jam dinding kami.
__ADS_1
"Oke, Sayang." Aku bergegas cepat memasuki kamar mandi.
Setelah menuntaskan acara mandi, aku langsung mengeringkan tubuhku dan memakai pakaianku. Kami sholat Subuh berjama'ah di kamar, kemudian keluar bersama menuju dapur. Aktivitas rutinku adalah mencuci baju kami, sedangkan Izza memasak di dapur. Jika nasi, biasanya ART menanaknya lebih awal sebelum Izza dan biyung terjun ke dapur.
Sesi sarapan dimulai, kami makan bersama hingga tuntas seporsi makanan yang ada di piring kami masing-masing.
"Gimana, Bang? Katanya besok waktu kemarin, berarti sekarang ke rumah sakit kan?" tanya Izza dengan mengambil piring kotor di hadapanku.
"Eummm." Aku memandang ayah.
"Ngapain memang, Za?" tanya biyung kemudian.
Biyung tak tahu apa-apa di sini, mungkin juga ayah belum mengatakan padanya.
"Mau ambil tes MRI." Izza kembali mengambil beberapa piring kotor di atas meja, kemudian ia memindahkan ke wastafel cuci piring.
"Misalnya, ini sih misal ya? Misalnya, kau diminta langsung ambil tindakan hari ini juga siap tak?" Ayah memberikan banyak jeda dalam pertanyaannya.
"Gimana ya?" Izza duduk kembali di kursinya, setelah menumpuk piring kotornya.
"Gimana, Dek? Ini sih misal aja, karena barangkali disarankan begitu sama dokternya." Aku menoleh dan memperhatikan wajahnya dari samping.
Ia menoleh padaku, wajahnya terlihat bingung. Ia cukup tidur, tadi kantong matanya cukup cekung.
"Kalau itu saran terbaik dari dokter, ya udah ikut saran aja. Tapi kan biasanya disuruh diskusi dulu sama dokter, biasanya juga diminta datang kembali kan setelah hasil tes keluar untuk mempersiapkan diri. Biar aku tau dulu kan gimana kondisi aku dan seberapa parahnya kondisi aku." Izza menggerakkan tangannya.
"Memang kau mau tau hasilnya, Za? Memang penting kah? Kata aku sih, mending terserah dokter aja." Aku mencoba mengalihkan pikirannya, agar dia tidak sempat ingin tahu hasilnya.
"Ya harus tau dong, Bang. Kan aku yang punya badan, masa main operasi aja? Kalau ternyata tindakannya tak sesuai dengan kondisi kita kan, kita bisa tuh nuntut dokternya." Izza menyentuh lenganku.
Tatapannya dalam sekali, apa ada yang ingin ia sampaikan?
"Kalau kata dokternya, mari diantar langsung untuk lakuin tindakan. Gimana tuh?" Karena aku dan pakwa memiliki rencana seperti ini.
"Ya tak bisa, Bang. Aku bakal minta kejelasan dulu, sebelum setuju untuk ambil tindakan. Sebelum tindakan kan, biasanya ada tanda tangan persetujuan segala macam dulu." Izza sepertinya memahami prosedurnya.
__ADS_1
Duh, bagaimana ini? Apa aman jika Izza diberitahu tentang keadaannya?
...****************...