
"Kan tak sendiri, Dek. Ada Abang, ada biyung, ada mama juga. Baru melahirkan, tak mungkin langsung disuruh urus anak sendiri." Rasa sabarku harus diperluas dan diperdalam.
"Nanti malam jangan dihamili ya, Bang? Aku belum siap punya anak." Nahda mengusap-usap kepala Dayyan.
"Iya, tak dihamili. Tapi, nanti begituan ya?" Baru kali ini aku mencari kesepakatan untuk anu.
"Aduh…. Ati-ati tuh nantinya ya?" Wajah cemasnya kentara sekali.
"Iya, nanti pelan-pelan. Sini Dayyannya, berat tak mangkunya?" Aku menghampirinya.
"Tak, Bang. Cuma duduk aja." Nahda tersenyum padaku, kemudian mencium rambut hitam lebat Dayyan.
Anak Hadi ya mirip Hadi. Meskipun tanpa tes DNA, ya tetap ketahuan Dayyan anak siapa.
"Abang udah gajian, mau ditransfer atau mau pegang cash?" Aku duduk di sandaran sofa, karena ia duduk di sofa single.
Dayyan mendongak melihatku, ia tersenyum dan memamerkan giginya. Ia adalah anak laki-laki yang mahal senyum.
"Untuk apa?" Nahda menata rambut Dayyan.
"Untuk jajan di kampus, beli sayur, makan kita, kebutuhan kita, ngasih sembako ke mama sama ke biyung. Pokoknya uang untuk pegangan selama sebulan, sampai Abang ketemu gajian lagi." Nahda ternyata tidak mengerti tentang uang juga.
"Aku tak dikasih jatah pribadi? Uang pembalut? Skincare?" Matanya berkedip seperti boneka.
Cerdas.
"Ya udah, gini aja deh. Sepuluh juta, untuk pegangan jajan, makan, ngasih sembako. Lima juta untuk keperluan Adek beli skincare, beli pembalut." Sama juga jumlahnya lima belas juta.
"Oke, sip. Minta cash aja, Bang. Biar tak kecampur sama uang aku, aku punya satu rekening soalnya." Nahda manggut-manggut.
"Oke, nanti Abang sekalian tarik uang." Aku mencolek dagu Dayyan.
"Uang untuk sebulan kan?" Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaan Nahda.
Tak lama kemudian, biyung muncul dan menggantikan Nahda menggendong Dayyan. Aku pamit pada biyung, sekalian mengatakan bahwa aku malam ini tidur di rumah papa Ghifar. Biyung mengizinkan, katanya juga nanti ganti-gantian agar aku membawa Nahda untuk tidur di rumah biyung.
Seperti mengajak adikku berbelanja. Nahda selalu meminta izin, ketika ingin memasukkan sesuatu ke keranjang. Nahda juga berpesan, agar pengeluaran kali ini menggunakan uang jatah bulanan itu. Tentu yang sepuluh juta itu, karena yang lima juta itu untuk keperluan pribadinya.
Rawon yang mengecewakan, karena aku maupun Nahda belum tahu tempat ramen yang terkenal dan enak dimakan. Sedangkan rawon yang barusan kami makan, bumbunya kurang terasa.
"Ah, kelupaan." Aku menepuk jidatku.
__ADS_1
Tadi saat di supermarket, aku kelupaan untuk membeli pelumas dan sarung. Setidaknya, aku harus punya.
"Belum buka amplop ya, Bang?" Nahda terkekeh kecil.
"Bukan, eh iya sih. Amplop itu masih di tas kau, Dek." Aku tengah mencari keberadaan minimarket terdekat.
"Tebakan aku sih isinya tak cuma ada duit, soalnya ada yang tipis betul, ada yang tebal. Lagian tak mungkin juga kan pakcik, makcik ngasih amplop lima puluh ribu ke kita?" Nahda memainkan ponselnya.
Ia sering terlihat girang ketika memainkan ponselnya. Aku tidak memahami apa itu privasi dalam suami istri, karena barang rahasia kita saja, pasangan itu tahu. Aku dan Izza tidak ada yang keberatan jika satu sama lain mengecek ponsel, mungkin akan aku lakukan juga pada Nahda.
"Waktu nikahan Abang sama almarhumah juga pada transfer, Dek. Paling macam Kal, terus Rere gitu, yang ngasih kado. Itu pun menyusul, di esoknya." Aku menepikan kendaraan masuk ke dalam parkiran minimarket.
"Wah, iya. Abang belum ajak aku ke makam kak Izza, harusnya sebelum nikah itu kek izin dulu gitu." Nahda mengusap lenganku.
Aku keceplosan, tadinya harusnya aku tidak menceritakan pernikahanku dengan Izza. Tapi tanggapan Nahda di luar dugaan juga, tadinya aku berpikir ia akan marah, tapi nyatanya ia malah ingin meminta izin.
"Sore nanti ya? Tunggu di sini bentar ya? Abang mau beli sesuatu." Aku menarik rem tangan.
"Rokok kah?" tanyanya kemudian.
"Iya." Aku mengukir senyum, sebelum meninggalkannya di dalam mobil.
Tak lupa juga, aku membeli dua bungkus rokok untuk stok satu hari. Kini aku sudah memiliki istri kembali, aku akan memikirkan caranya berhenti merokok agar nanti memiliki anak, aku tidak kaget harus berhenti buru-buru.
"Wow, pengantin baru borong apa tuh?" Seseorang yang baru masuk, menyapaku yang tengah antri di kasir.
Jessie.
"Ada." Aku melirik ke arah keranjangku.
"Wah, wah, wah." Jessie melongok ke arah keranjang belanjaku.
"Good luck ya? Buaya!" Ia menyeringai.
Mengerikan sekali perempuan yang otaknya kemungkinan isinya kriminal ini. Belum lagi ia mengusap lenganku, sampai memutar ke bagian lengan dalam.
Ia gila!
Jessie berjalan ke jejeran rak susu formula, sedangkan kini giliran aku maju ke kasir untuk membayar belanjaanku. Aku bergerak cepat, karena Jessie sudah mengantri di kasir. Aku tidak mau bertegur sapa dengannya, karena aku merasa terancam dengan sorot matanya.
"Lama, Bang?" Nahda memalingkan ponselnya, saat aku masuk di tempat kemudi.
__ADS_1
"Iya, antri." Aku memberikan belanjaanku padanya.
"Apa ini?" Nahda langsung melongok ke dalam plastik berlogo minimarket itu.
"Apa ini?" Ia mengeluarkan salah satu barang dari dalam plastik.
"Baca aja." Aku yakin ia mengerti jika sudah membacanya.
"Hah?"
"Hah?"
"Hah?"
Itu terus yang keluar dari mulut Nahda ketika membaca produk tersebut.
"Aman dan untuk keamanan, biar tak lecet." Meski tetap saja harus libur dulu nantinya.
"Punya Abang besar tak sih, Bang? Katanya, kalau besar kan ngerusak?"
Kebanyakan katanya.
Aku melirik ke tangan kiriku. "Udah jam sembilan lebih, nanti tengok aja pas sampai kamar. Tapi Abang parkir mobil di rumah ayah dulu ya? Adek masuk duluan ke rumah tak apa, nanti belanjaannya Abang yang bawa." Esok saja untuk membagi sembakonya, karena sudah waktunya tidur malam.
"Aku harus ada persiapan apa?" Nahda malah merapikan hijabnya.
"Cebok, udah itu aja." Aku tersenyum, kemudian menjalankan mobilku lagi.
Aku tidak tahu seberapa besar ukuran milik laki-laki di Indonesia. Tapi melihat bentuk bayinya dari luar celana, sepertinya milikku dan milik Zio tidak beda jauh. Tapi dengan milik para orang tua, seperti pakwa atau abu Zuhdi, jelas berbeda jauh. Ini ukuran sebelum berkembang, karena memang terlihat dari gundukan celana.
"Sebelum dan sesudah harus cebok, sesudah melakukan dianjurkan untuk wudhu, baru tidur. Tapi Abang jarang lakuin, Izza juga. Karena keburu tepar duluan, mampu cebok pun untung-untungan." Karena tenaga terasa terkuras, meski sama-sama bergerak.
"Dulu kak Izza nangis tak? Dia malu-malu tak?" Pertanyaannya seperti nampak tidak ada cemburunya, ia seperti mencari informasi tentang rasa begituannya.
"Tak nangis, tapi air mata keluar sendiri. Meski udah sering melakukan, air matanya tetap tak tertahankan kalau keluar. Dia tak malu-malu, kan paham udah jadi milik suaminya. Paling nutupin pakai tangan aja, terus udah kalau ditarik." Nahda paham tidak jika tubuhnya milik suaminya? Aku jadi memikirkan.
"Kalau keluar ke mana?" Ia menoleh bodoh.
Hmmm, kan emosi aku jadinya jika begini.
...****************...
__ADS_1