Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA101. Kemiripan kasus


__ADS_3

"Ngelamun aja kau?! Bunga yang jadi janda, kau yang frustasi." Ayah menghampiriku di jam sembilan malam ini. 


Aku merasakan seperti pengangguran kelas kakap, yang seharian ini hanya berkunjung ke rumah saudara satu ke saudara lainnya. Tidak ada yang mampu menenangkan hatiku, pikiranku dan membantuku keluar dari permasalahan ini. Aku tidak mungkin selama ini, membiarkan Izza tetap jadi seperti itu. 


"Terus harus gimana? Aku bingung mikirin istri, Yah. Bukan frustasi mikirin janda muda itu." Aku melirik ke belakang, khawatir ada Bunga di sekitar sini. 


"Tapi kalau bukan adik asuh sih, mungkin hap tuh ya?" Ayah tertawa meledek dengan telunjuknya terarah padaku. 


"Ck, tak lah." Kalau ada orang. Tapi aku tidak melanjutkan ucapanku yang seperti itu, bila-bila digaplok ayah. 


"Pernah tak dekati perempuan modelan Bunga?"


Ayah kenapa sih sebut nama terus? Kan aku tidak enak, jika sampai Bunga mendengar. 


"Pernah ada modelan gitar spanyol, sering ketemu di tempat gym. Cuma pas aku tanya, are you still a virgin? Dia jawab, since I was a teenager I was not a virgin, is that a problem? Udah tuh, tak banyak percakapan lagi. Aku malah ganti waktu gym, biar tak ketemu Anya di gym." Ya, aku selalu menghindari perempuan yang merusak otakku dan fokusku. 


"Kenapa harus perawan?" Ayah bersila, kemudian bertopang dagu memperhatikanku. 


"Aku kemarin perjaka asli, yang c*** pun aku hindari. Karena apa? Karena di pesantren itu diajarkan, tentang jodoh adalah cerminan dirimu. Aku menjaga diriku, bukan untuk calon istriku. Tapi agar pasangan hidupku, sesuai dengan bagaimana aku." Aku ingin istri yang baik, karena aku pun merasa baik. 


"Jadi, Izza itu sesuai bagaimana kau kan? Terus, apa yang dipermasalahkan? Kan Izza itu sama kek kau? Kau beranggapan istri kau bermasalah, tapi kau tak berpikir bahwa kau pun bermasalah juga?"

__ADS_1


Sudah kuduga, ayah secara tidak langsung akan memihak Izza. Ayah padahal laki-laki, tapi beranggapan bahwa perempuan selalu benar juga. 


"Ayah, Izza itu…." Ayah tidak sopan, ia langsung memangkas ucapanku. 


"Kita bicara logika, dengan apa yang kau katakan tadi. Pasangan hidup kau, sesuai bagaimana kau. Apa tak pernah terpikirkan, kalau kau penyebab dia begitu? Bukan apa-apa, Ayah selalu meraba permasalahan Ayah dan biyung sendiri. Jadi, ada gambaran dan paham sebab akibat permasalahan itu datang." Ayah menyentuh lututku, kemudian menarik tangannya kembali. 


"Aku bukan tak terima pendapat Ayah. Aku cuma mau nanya satu nih, kalau istri kita punya keinginan yang bersifat buruk, apa kita harus turuti juga?" Sedikit saja, aku sudah tersulut emosi. 


Aduh, sulit memang jika keturunan orang emosian. 


"Buruk? Gimana? Sebutkan pokok permasalahan kalian." 


Aku menimbang sejenak, khawatir ayah langsung membenci Izza jika aku langsung mengungkapkannya. Tapi jika terus menutupi, ayah pasti akan selalu menyudutkanku. 


"Wajar."


Apa? Aku tidak percaya ayah mengatakan hal ini. 


"Kenapa wajar? Itu tak bagus, Yah." Aku menunjuk lantai rumah, sebagai isyarat bahwa pendapat itu salah. 


"Dia terlalu cinta, itu masalahnya. Kau pengen punya istri yang hambar sama kau? Bisa, kau bakal bebas bergerak ke mana aja." Ayah menaikan bahunya, kemudian menghela napasnya. 

__ADS_1


Ayah tidak lucu, ayah tidak sepemikiran denganku. 


"Yah, keknya ini tak ada kaitannya dengan cinta. Dia pengen aku jangan selalu ke orang tua, jangan apa-apa orang tua." Aku menarik intinya saja. 


"Ayah begitu loh, biyung kau yang apa-apa ke mertua. Ayah tak setiap hari ke rumah nenek dan kakek, tapi biyung kau datang setiap waktu makan. Ayah sediakan pengasuh, biar nenek dan kakek tak ikut repot urus anak-anak Ayah, tapi biyung kau titipkan anak-anak Ayah ke mereka. Ayah memiliki pendirian, ingin orang tua Ayah tau bahagianya Ayah aja. Tapi kau harus paham juga, kalau orang tua Ayah yang pengen selalu ada di saat susahnya Ayah. Mereka tak mau Ayah kesusahan, mereka tak mah Ayah kelimpungan. Dari dulu Ayah tuh sering ngamuk, kalau biyung dikasih sesuatu sama nenek dan kakek. Tapi itu tak bisa dicegah, ya gimana dong? Masa mau terus-terusan marahin biyung? Bisa stress dong istri Ayah, karena Ayah marah-marah terus. Ya Ayah coba damai, meski akhirnya terus nasehati biyung juga. Biyung begitu pun Ayah anggap wajar, karena biyung dulu tak ngerasain kasih sayang kedua orang tuanya. Sampai dia dapat mertua yang sayang ke dia, dia ketagihan kasih sayang mertuanya itu. Terus, Izza bagaimana??? Nah, kau bagaimana nyikapinnya? Ayah dan kau beda pendirian, tentu pendapat kita tak sama. Jadi, apa kau terus mau pulang ke orang tua kalau dimarahin Izza?"


Ehh, bagaimana? Aku jadi bingung. Aku masih terdiam, hanya mataku yang berkedip beberapa kali. 


"Sulit dimengerti ya? IQ kau normal, sedangkan Ayah rata-rata atas." Ayah malah terkekeh geli. 


Memang hal itu benar, ayah tidak berbicara salah. IQ aku, normal. Ayah, rata-rata atas seperti ibunya kak Jasmine. Dengan Ceysa yang genius, seperti almarhum ayah kandungnya. 


"Kalau aku dah Ayah beda pendirian, kenapa juga Ayah kasih contoh yang berbanding terbalik?" Tidak ada kesamaan kasus ayah dan kasusku. 


"Sama permasalahannya, Bang! Izza ngelarang kau datang ke orang tua dengan alasan yang dia anggap benar, sama kek Ayah yang ngelarang biyung terus-terusan ke orang tua dengan alasan yang Ayah anggap benar. Itu alasan Ayah, yang tadi Ayah katakan. Ayah tak tau pasti alasan Izza, tapi tadi kau bilang karena Izza tak mau kau repotin orang tua. Ada banyak kemungkinan menurut Ayah sih. Yang pertama, Izza pengen miliki kau seutuhnya itu karena rasa cintanya ke kau. Yang kedua, dia malu karena suaminya tak betah sama dia, karena kau ke orang tua terus. Yang ketiga, dia malu juga karena kau belum mandiri, makanya dia sebut kau ingin warisan orang tau. Ayah tak pernah berpikir buruk sejauh itu tentang anak-anak Ayah. Anak ini mau warisan, anak ini mau harta, anak ini mau aset. Tak pernah berpikir begitu Ayah tuh, Bang. Ayah sesusah ini kembangkan banyak usaha, ya memang untuk anak-anak Ayah. Tapi ada hak masa tua Ayah dan biyung di situ, kami tak mau kami susah di masa tua. Kau harus tau itu, saudara kau pun harus tau itu. Apalagi, sengaja titipkan Ayah dan biyung di panti jompo. Detik itu juga, Ayah pasti kutuk anak-anak Ayah jadi debu kalau kalian punya rencana begitu." Ayah sampai menunjuk dan menekan dadaku. 


"Terus jalan keluarnya gimana, Yah?" Jadi yang tengah dibahas adalah ayah merupakan Izza, jadi aku dibuat mengerti sudut pandang Izza. 


"Kau disamakan kek biyung. Ayah yang tak terima, ya selalu protes sampai akhirnya rutin nasehati biyung sebelum tidur. Izza tak mungkin bisa nasehati kau, karena kau kek biyung tapi punya sifat keras kepala kek Ayah. Percuma juga Izza jelaskan, karena pendapatnya tak akan pernah kau pakai. Pendapat siapa yang Ayah pakai sebagai pedoman hidup? Pendapat nenek kau, nenek Dinda. Meski Ayah ngelakuinnya berat hati, tapi tetap Ayah jalani seikhlas mungkin biar ada hasil. Kek waktu suruh urus tambang kembali, padahal Ayah udah tak minat. Tapi dipaksa dan disongkong dana, alhamdulillah ada hasil sampai sekarang. Ayah nurut aja udah sama nenek, karena selain panas kuping, Ayah takut disumpahin jelek sama nenek kau. Kau mau miskin aja, heh?! Mamah terbebani ngasih makan kau terus, mamah pengen dikasih makan dan dijamin anak." Di akhir cerita, ayah merubah nada suaranya. 


Begitu ucapan nenek? Pantaslah ayah menurut, tapi biyung kan tak pernah berbicara apapun apalagi sampai nyelekit di hati. Yang ada, bang mau pilih warna apa, biar biyung belikan. 

__ADS_1


"Gini deh…….


...****************...


__ADS_2