
"Yah, aku mau ikut pakcik Gavin ke Lampung. Dia mau olah tanah, kebetulan ada panenan. Jadi, mau diajarin sedikit." Aku memperhatikan ayahku yang tengah mengemudi.
"Boleh, udah paham langkah-langkah untuk tambak ini kan? Ayah bantu carikan orang, kau ikhlas tak hasil tambak kau digunakan untuk tangan kanan sampai lima belas persen? Soalnya jaman sekarang tangan kanan mintanya bagi hasil, kalau orang Ayah kan dijanji dari dulu. Jadi, cuma kesepakatan gaji dan tunjangan plus perjanjian resmi di atas materai kontrak mati. Kontrak terputus, kalau dia wafat atau kalau Ayah putus kerjakan dia dengan alasan Ayah sendiri." Ayah menoleh sekilas, kemudian menginjak pedal rem. Sebentar lagi, ayah akan naik ke jalanan aspal.
"Udah paham, Yah. Ya tak apa, kalau kata Ayah pembagiannya masih menguntungkan untuk aku. Aku iri dengar cerita pakcik Gavin, dia masih muda tapi udah sukses." Aku bukan ingin menyainginya, tapi ingin mencoba peruntungan sepertinya.
"Pakcik kau butuh waktu, ditambah lagi dia pandai baca peluang. Nurut tuh orangnya, tak banyak komplain kalau diatur."
"Memang aku gimana? Jadi sedih aku ini." Aku tertunduk murung.
Kadang sedih, jika orang tua sendiri membanggakan orang lain.
Ayah terkekeh geli, kemudian menepuk dan mengusap bahuku. "Anak laki-laki Ayah juga nurut dong, gampang diatur. Sukses pasti anak Ayah ini."
Aku pun selalu luluh dengan ucapan ayah. Hanya dirinya yang menjadi peganganku, waktu aku selemah itu kemarin.
Dua hari kemudian, aku benar-benar terbang ke Lampung. Gambaran kampung ini, sama seperti di kampung halamanku. Sama-sama daerah perbukitan, tapi lebih datar dari kampungku. Di kampungku kan, nama daerahnya saja kecamatan Bukit. Karena memang benar-benar daerah bukit, makanya bisa terjadi bencana longsor yang merenggut nyawa nenek dan kakekku. Tapi tenang, keluarga kami sudah lebih peka dengan kondisi tanah. Banyak beberapa pohon besar yang diklaim mengunci tanah, ditebar untuk memperkokoh struktur tanah di ladang.
"Pakcik tinggal di bangunan ini?" Aku kaget, saat pakcik membuka pintu rumahnya ini.
Buka pintu langsung kamar, seperti kost-kostan di kota besar.
"Iya, dulu pun di sini juga sama tante kau. Rehat dulu, Bang. Kita sekamar bersama, sama-sama laki-laki ini juga." Pakcik langsung merebahkan tubuhnya.
"Tak masalah, Pakcik. Tapi di mana nih kamar mandinya?" tanyaku kemudian.
"Bukain aja pintu lemari, nanti ketemu ada kamar mandi."
Kok begitu? Tapi benar ada kamar mandi di balik pintu lemari ini. Keren konsepnya, aku jadi banyak terinspirasi dari sosok pamanku ini. Ingin banyak mengobrol, sayangnya beliau sudah mendengkur saat aku keluar dari dalam kamar mandi.
Aku memilih untuk menutup dan mengunci pintu, kemudian ikut mendengkur di sebelah pakcik Gavin. Pakcik Gibran bahkan selalu menjadi temanku untuk nongkrong dan jalan-jalan, jika setiap aku pulang kampung. Paman rasa teman, karena jarak umurnya memang tidak jauh.
Sambil belajar budidaya, aku pun semakin ahli dalam merokok. Ternyata bisa membuat kita lebih tenang, karena kita seolah tengah mengatur pernapasan kita. Pakcik Gavin pun banyak temannya, ia ramah dengan siapapun dan akrab dengan siapapun.
"Ayah, pulang." Rengakan anaknya di setiap panggilan videonya, tak bisa menutupi kebenaran jika paman muda ini adalah ayah dari sembilan anak.
"Ini kan videocall nih, Ayah sama Bang Chandra." Layar ponselnya diarahkan ke arahku.
__ADS_1
"Hai, Kirei." Aku melambaikan tangan.
Cantik sekali, seperti Bunga. Mereka kakak beradik.
"Ikut, Bang." Rengekannya seperti Bunga.
"Nanti pulang jalan-jalan ke pasar malam ya?" Aku menjanjikan yang mudah saja.
"Ikut, Bang." Kirei besar ada di sampingnya juga.
"Heh! Heh! Dada kecil tuh! Jangan sampai kau Ayah kawini juga, Bunga!" Pakcik Gavin langsung merebut ponselnya.
Terlanjur sudah melihat pun.
"Tuh, Yah. Bunga ambilin rokok Ayah terus." Itu suara tanteku, adiknya biyungku.
Adiknya biyungku menikah dengan adiknya ayahku.
"Dua bungkus, Yah. Ya ampun, Kak Ria." Suara ngambek Bunga menggemaskan sekali.
Ah, dasar laki-laki.
"Bajunya itu, duh. Dada kau kecil, Bunga. Carilah baju yang benar, malu loh kecil itu." Nasehat pakcik Gavin untuk anak sambungnya sangat tidak bermutu.
Tapi sungguh, aku bisa tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah bibirku kaku.
"Heh!" Itu adalah bentakan suara tante Ria.
"Itulah, Kak. Kenapa aku tak mau nginep kalau ada Ayah Apin, aku diledek dadanya kecil terus." Suara Bunga seperti menangis.
"Memang kecil sih, Dek. Punya Mbu yang kecil aja, tapi kau lebih kecil." Tante Ria ternyata sama seperti suaminya.
Aku tidak melihat, tapi aku terbahak-bahak dengan drama keluarga ini. Apalagi, ditambah dengan drama suara Bunga menangis lepas.
Keluarga mereka penuh dengan bully, anak-anaknya pun dipanggil dengan nama binatang berbulu. Agak aneh memang, tapi realitanya begitu.
"Implan nanti aku! Huh!" Bunga merajuk.
__ADS_1
"Ck, tak enak. Terlalu kencang, kek balon. Mending alami aja, tapi kau bukan selera Ayah sih, Dek."
Aku melongo bodoh mendengar ucapan pakcik.
"Maunya bujang juga aku, ngapain cari laki orang banyak anaknya?"
Pakcik tertawa lepas mendengar tanggapan Bunga. Gurauan mereka ngeri, padahal sifatnya keluarga.
"Iya ya, Dek. Mana anaknya rempong betul, Kirei apalagi," timpal tante Ria.
"Nah itulah, kenapa banyak yang mikir dua kali untuk godain Ayah Apin. Masalahnya, anaknya banyak. Entah-entah istrinya sih, cantiknya tak seberapa kan gitu?"
Bunga seberani itu pada ibu dari adiknya?
Tawa pakcik Gavin begitu lepas, ia sampai memukul-mukul pangkuannya sendiri. Kocak mereka semua, saling membully saking akrabnya.
"Tak masalah, Yang. Aku tetap love you." Pakcik Gavin memonyongkan bibirnya seperti akan mencium.
"Love you too. Mmmmmuach." Tante Ria membalas juga.
Aku bergidikan, aku yang geli sendiri. Aku yang muda pun tidak selebay itu, tapi mereka yang banyak anaknya lebaynya na'udzubillah.
"Duh, jadi pengen." Sulit dipercaya ucapan pakcik Gavin.
Aku menoleh cepat dengan melebarkan mata, pakcik melirik dan malah tertawa lepas memandangku. Nelangsa aku, pengen pun ingin menghajar siapa.
"Tenang, Bang Chandra. Calling aku aja, nanti aku carikan yang dua ratus ribu speak bidadari." Layar telepon dibagi lagi, aku melihat senyum genit Bunga.
"Oh, kalau kau tak dua ratus ribu kah?" Aku mencoba mengimbangi gurauannya.
Pakcik Gavin dan tante Ria tertawa puas, mereka seolah senang mendengar Bunga diledek dengan tawaran dua ratus ribu.
"Sebentar, Bang. Aku naikin speak dulu, biar nanti aku yang bayar Abang aja. Abang bisa apa aja? Gaya cicak bisa? Helikopter? Gunting batu kertas pun bisa?"
Heh? Aku yang kalah telak, dengan wajah puas pakcik Gavin dan tante Ria yang mentertawakanku.
Adik kecil ini benar-benar.
__ADS_1
...****************...