Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA152. Lebah klenceng


__ADS_3

"Ya memang sama Bunga, mau aku bawa ke tempat futsal suruh jagain Farras." Aku tidak menyusun rencana jahat, bahkan aku memberitahu ayah akan hal itu. 


"Jangan singgah ya? Antar balik dia kalau kau udah selesai futsal." Ayah melewatiku begitu saja. 


"Iya, Yah." Aku menutup pintu kamar, berniat ingin mandi lebih dulu. 


Setelah selesai mandi dan sholat, kamarku diketuk beberapa kali. Tidak ada yang memanggil, sepertinya si usil Cala. 


"Apa, Dek? Bentar, Abang pakai baju dulu." Aku selalu memakai sarung dan baju koko ketika sholat. Tidak ada alasan, aku hanya terbiasa saja. 


"Wah, lihat dong."


Waduh, si pear mangkal. 


"Sialan kau!" Reflek memaki aku jadinya. 


Tawanya lepas sekali, saat aku membuka pintu ia malah sudah berjalan ke ruangan lain. Ia mengenakan daster batik berwarna coklat kehitaman dan sweater rajut kebesaran berwarna mustard, tapi tetap terlihat haram di mata karena p*****lnya itu. 


"Matanyo, matanyo. Hai! Enggak sekolah. Matanyo, matanyo. Hai! Biasa aja."


Aku sampai tersentak karena nyanyian ayah yang tiba-tiba nyaring itu. 


"Dasar, anak n*****t!" Bantaknya dengan melewatiku. 


Jantung pindah ke lambung. Ya ampun, ayahku seperti setan. 


"Kalau tak suka aku berteman itu bilang, Yah. Masa aku dibilang anak 'begituan'?" Itu ada tanda kutip bermaksud sensitif. 


"Masalahnya mata kau buat malu aja!" Ayah berbalik badan dan menunjuk wajahku. 


Siapapun tadi yang melihat ayah ada di sekitar sini, kenapa tidak mengatakan padaku tentang keberadannya? 


"Papa Ghifar bilang mata Ayah pun begitu kok. Kita sama-sama laki-laki, itu hal wajar lah, Yah." Aku mencoba santai dengan sorot tajam ayah. 


"Wajar??!" Biji matanya sampai terlihat akan menggelinding. 


"Ya, gimana? Orang ada di depan mata kok." Aku gemeter juga melihat ayah murka. 


"Tak wajar! Kau laki-laki baik-baik, kau anak biyung. Jaga pandangan kau!" Ayah mengacungkan jarinya di depan wajahku. 


Setelahnya, beliau berbalik badan dan melangkah pergi. 

__ADS_1


Ingin aku jawab, selain anak biyung yang alim pun. Nyatanya, aku anak ayah yang seperti setan itu. Ampun sekali punya ayah sepertinya, jika tengah ada setannya tidak ada friendlynya sama sekali. Makiannya sungguh berkah, untung aku sudah dewasa dan pernah menikah. Jadi tahu apa artian 'n*****t' itu. 


"Dasar, anak n*****t!" Bunga muncul kembali dengan makian yang persis seperti ayah. Bedanya, ia hanya meledek dan mentertawakanku. 


"Yuk n*****t." Aku menghadangnya saat akan melewatiku. 


"No! Skill nol. Anda tidak menarik, Tuan!" Bunga mendorong dadaku dengan wajah menyebalkannya. 


Aku terkekeh geli. "Kan Abang beli." Aku sudah biasa bercanda begini dengannya.


"Sialan! B***! A*****! Bangsat! Dikiranya aku cabo." Bunga menghimpit kedua pipiku, kemudian mencubitnya. 


"Oh, memang apa?" Aku tertawa geli dengan bertolak pinggang. 


"Gratis dong, kan pakai cinta. Aku kan bodoh." Bunga berpose sok imut layaknya girl band. 


Tawaku semakin nyaring, dengan berjongkok di depannya. Kocak sekali jika sudah bercanda begini, ia tidak marah dan malah menggila. Ia tahu mana bercanda dan maki-maki betulan. 


"Sana! Sana! Keluar! Berisik aja!" Ayah mengusir kami dengan menggendong keponakannya. 


"Belum makan aku, Yah." Aku hendak berjalan ke ruangan lain, untuk mengambil makanan di rumah ini. 


"Mamam tuh sarang tawon!" Ayah memakiku lagi. 


Aku hanya bisa tertawa dengan berbalik badan dan merangkul Bunga. Ayah sepertinya tengah emosi dengan anak yang kecil, jadi anak yang besar yang malah menjadi pelampiasan amarahnya. 


"Tenang, Bang. Aku lebah klenceng, tidak menyengat." Bunga mengganduli tanganku yang menjuntai dari bahunya. 


"Tawon ndas!" Ayah masih murka saja rupanya. 


"Mematikan dong aku?" Bunga melirik ke belakang dan tertawa geli. 


"Nanti digencet dulu biar aman, Dek." Aku melepaskan rangkulan pada Bunga dan mengambil sandalku yang berpencar. 


"Ish! Aku bisa diajak baik-baik kali, masa main langsung gencet aja." Ekspesinya mendukung sekali, ia sampai geleng-geleng kepala seolah melihat hal yang miris. 


Tanpa diduga, ayah malah mengacungkan jari tengahnya pada Bunga. Mata Bunga yang seketika membulat karena kaget, membuatku langsung terpingkal-pingkal sampai lemas dengkul. 


Ya ampun, keluargaku para bajingan. 


"Sepatu futsal kau di mana?" Nada pertanyaan ayah tidak ada ramahnya setelah tawaku reda. 

__ADS_1


"Di pakcik semua, Yah. Ayah marah terus, sebenarnya bolehin aku pergi tak sih?" Aku memakai sandal jepit anti slip andalanku. 


Lebih nyaman ini, ketimbang yang bermerek. Toh, yang penting bawa uang saja. Itu adalah ujaran Bunga, makannya ia selalu berdaster setiap kali aku ajak main. 


"Boleh! Awas aja kalau tak bisa jaga diri!" Kali ini ancaman yang ayah berikan. 


"Siap, Yah. Aku jagain kok." Bunga turun dari teras dengan sudah memakai sandalnya. 


"Kan kau perusaknya!" Ayah terlihat berapi-api sekali. 


"Mana ada! Aku jamin bukan aku yang bakal rusak, aku bisa kasih wawasan tanpa praktek ranjang. Dikiranya apa aku ini? Bajingan dilawan." Bunga malah menggerutu dengan berlalu pergi. 


"Nanti, Dek. Motornya." Aku tergesa-gesa untuk membawa motorku. 


Aku pernah diajarnya berjalan kaki sampai jalan raya, gara-gara main tidak membawa motor. Anak sialan dia ini memang. 


"Aku tunggu di depan ya, Bang?" Bunga tetap berjalan dan menunjuk arah pagar. 


"Ya, Dek." Aku tidak membawa helm, karena memang tempat futsalnya dekat saja. Tidak sampai keluar dari jalan raya, tapi capek juga jika berjalan kaki. 


Setelah Bunga naik ke atas motorku, aku langsung menuju ke rumah pakcik Gibran. Tidak jauh juga sih, rumahnya berada di belakang rumah pakcik Gavin. 


Jika rumah pakcik Gavin dapat panjang, pakcik Gibran dapat luasnya. Ada gang memanjang seukuran mobil dump truck, untuk akses lewat pakcik Gibran. Namun, pagarnya sejajar dengan pagar rumah milik pakcik Gavin. Unik rumahnya pakcik Gibran, seperti istana kerajaan. Memang beda jika orang yang suka dengan seni, beliau pun baru setelah punya anak tiga bisa memiliki rumah sendiri. Rumah impian, dengan pilar-pilar kokoh dan indah.


Salut sih, istrinya sabar sekali. Pakcik Gibran tidak selalu ada untuknya, bahkan ia selalu ada di rumah kakek dan nenek ketika pulang merantau. Malah, istrinya akan diminta datang padanya. Karena istrinya betah di rumah orang tuanya, ia selalu pulang ke orang tua jika pakcik Gibran pergi merantau. Ditambah sekarang, orang tuanya tinggal satu. Entah bagaimana keadaan rumah tangga pakcik Gibran, karena orangnya jarang ada di rumah jadi kami tidak pernah mengobrolnya. 


Tapi kali ini berbeda, karena ia yang membukanan pintu rumah saat aku datang bertamu. 


"Bestie tuh, Bang." Pakcik Gibran menboleh ke belakang dan berseru. 


Aduh, sudah seperti baling-baling kipas angin Farras ini. 


"Hallo, Ganteng. Tante-tante mau nyulik nih." Bunga nyelonong masuk. 


"Mau…." Farras berlari ke arah Bunga. 


Astagfirullah. 


"Masuk, Bang. Sini ngopi ngobrol dulu." Pakcik Gibran sepertinya tengah rumit. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2