
"Sini duduk ngobrolnya." Mama Aca mengajak Kaf untuk duduk di tepian ranjang.
Kaf menurut, aku pun ikut duduk bersama mereka. Aku merasa bersalah pada Kaf, karena ia malah dimarahi oleh papa Ghifar.
Aku naik ke atas ranjang dari sisi lain, otomatis aku berada di tengah ranjang. "Maaf ya, Kaf? Abang tak maksud buat kau dimarahi, Abang udah hati-hati bener." Aku tidak enak hati sendiri pada Kaf.
"Aku takut bilang ke papa, karena papa sekolot ini kalau udah menyangkut pacaran. Papa tuh tak suka anak-anaknya tak fokus tuh, Bang." Kaf mengucek matanya.
"Iya, Abang minta maaf ya?" Aku menepuk-nepuk pundaknya.
Kaf mengangguk. "Ya, Bang." Ia menyeka kembali air matanya.
"Jadi, ada apa? Mama tau, kau nangis ini karena takut. Bukan karena kau dimarahi papa aja, tapi karena ada penyebab lain dan tumpah karena papa murka. Gimana? Gimana? Coba certain." Mama Aca mengambil sesuatu dari kantong dasternya.
Tidak disangka, ia malah merokok dengan santai. Aku hanya mendengar saja, jika mama Aca benar merokok. Tidak pernah tahu secara langsung begini.
"Ma, aku nidurin perempuan," aku Kaf dengan menundukkan kepalanya.
"Terus?" Asap rokok mulai mengepul.
Aku tidak menemukan keberadan exhaust. Aku bergerak untuk membuka pintu balkon kamar, agar ada sirkulasi udara yang lancar.
"Bukannya kau merokok juga?" Mama Aca memperhatikanku yang kembali naik ke atas ranjang Kaf.
"Ya, tapi kan harus ada sirkulasi juga. Nanti jadi daging asap kita." Aku memilih untuk rebahan.
"Aku takut dia hamil, Ma," ungkap Kaf setelah beberapa saat terdiam.
"Siapa namanya? Besok ajak Mama ketemuan sama dia di coffee shop, tapi tanpa kau. Kau sebatas mengantar begitu." Mama Aca melempar bungkus rokok padaku.
"Udah, Ma." Aku tahu itu adalah tawaran.
"Namanya Dayana Asmara, dia fakultas kedokteran juga." Kaf merebahkan kepalanya di perutku.
__ADS_1
Sedekat itu sepupuku padaku, aku seolah kakak dari mereka semua.
"Ya udah, ajak dia ketemuan sama Mama aja. Besok gitu, jam makan siang. Kau tak usah kasih pesan apapun ke Dayana itu, biar Mama tau bagaimana dia yang sebenarnya." Mama Aca mengambil sehelai tisu untuk tempat abu dari rokoknya.
"Mama curiga Dayana bukan perempuan baik?" tanya Kaf kemudian.
"Mama tak bilang begitu. Mama butuh nilai calon mantu Mama sendiri dong, Kaf. Kau udah berapa kali make dia? Gimana sikapnya ke kau setelah kejadian itu." Sorot mata mama Aca begitu mengintimidasi seperti ayah.
"Sekali aja, Ma. Dia nekan aku untuk cepat nikahin dia, dia ngomong banyak sampe bawa-bawa kalau adik-adik aku perempuan semua." Kaf bangun sejenak, melepas bajunya dan kini malah berbantal lenganku.
"Terus?" Asap keluar lagi dari mulut dan hidung mama Aca.
"Dia selalu bahas tanggung jawab dan karma terus, Ma. Aku takut betul, aku tertekan betul. Udah mana pipis lagi sakit, dia ribut aja begitu."
Seterbuka itu Kaf pada ibu sambungnya? Apa karena Kaf diasuh sejak kecil olehnya, jadi Kaf begitu santai berbicara seperti ini pada ibu sambungnya?
Mama Aca terkekeh. "Itu pertama untuk kau, Kaf?" Mama Aca lebih seperti tenants, bahkan dari tadi aku tidak mendengar nasehat darinya.
"Ya lah, Ma. Itu pun karena kesalahan dia juga, kalau dia tak angkat part belakangnya, tak akan punya aku masuk juga."
"Licin ya? Kau lagi petting, atau niat untuk begituan?" Mama Aca memperhatikanku dan Kaf yang tengah rebahan ini.
"Petting aja, Ma. Ma aku takut dia hamil, tolong bantu aku." Kaf menata rambutnya meski aku tengah menjadi bantalnya.
"Iya, nurut Mama pokoknya kalau kau tak mau mengecewakan mama Kin dan papa kau. Kasian mereka, Kaf. Harapan mereka besar untuk anak laki-lakinya ini." Mama Aca mengusap lutut Kaf sekilas. "Jadilah anak yang bisa jadi panutan adik-adiknya, kau punya adik perempuan dan laki-laki yang butuh peran teman yang lebih dewasa untuk dijadikan contoh." Mama Aca baru menasehati Kaf dan sekaligus untuk aku juga.
Aku harus lebih dekat lagi dengan adik-adikku.
"Ya, Ma. Aku janji bakal perbaiki semuanya dan segalanya." Kaf bangun dan langsung memeluk ibu sambungnya.
"Jangan ulangin, ingat dosanya bukan ingat enaknya. Oke?" Mama Aca mengusap punggung Kaf. "Ya udah, Mama keluar dulu bujuk papa. Papa kau pasti buat drama kalau marah begini, sok yang paling tersakiti jadinya." Mama Aca melepaskan pelukan Kaf dan keluar dengan membawa tisu untuk asbak itu.
Rokoknya masih menyelip di jadinya, ia seperti tidak takut anaknya berkomentar buruk tentang bagaimana dirinya. Sesantai itu ia membawa imagenya di depan anak-anaknya.
__ADS_1
"Bang, kalau boleh jujur. Aku belum siap nikah, Bang. Aku belum bisa berkomitmen, aku pun belum siap fokus padanya dan anak-anak kita nanti." Kaf menarik bantal, kemudian ia berbaring menyamping menghadapku.
"Intinya, jangan buru-buru. Sesuatu yang buru-buru itu tidak baik, jangan sampe nyesel karena udah buru-buru." Aku tidak pandai menasehati, tapi itu pendapatku tentang pernikahan yang terburu-buru.
"Ya, Bang. Menurut Abang, Dayana itu gimana?" Kaf mengambil sebuah guling dan ia memeluk guling tersebut.
"Berani." Hanya satu kata itu yang berada di pikiranku.
"Dia galak, tapi dia bucin setengah mati sama aku. Aku merasa dicintai, tapi merasa terganggu juga dengan caranya mencintai aku. Menurut aku, dia terlalu berlebihan caranya mencintai aku."
Herannya, tapi ia bertahan dengan Dayana.
"Abang sekali merasa dibatasi, udah nuntut perempuan harus bagaimana ke Abang. Tapi kau bisa beradaptasi dengan cinta toxic kek gitu. Kenapa Abang bilang toxic? Karena dia terlalu berlebihan dan seolah kau memaklumi hal itu." Semoga Kaf tidak tersinggung.
"Dia bisa muasin aku, tanpa aku cari pelepasan sendiri. Jadi, sayang harus ditinggalkan." Ia terkekeh malu.
"Bajingan!" Aku melemparnya dengan bantal, kemudian bangkit dan keluar dari kamarnya.
Sudah adzan Maghrib rupanya. Aku harus pulang, makan, mandi dan sholat dulu sebelum menjemput Farras. Yang aku khawatirkan, bukan hanya Farras yang minta ikut denganku. Karena anak itu saja aktif sekali, aku akan kewalahan jika adiknya pun ikut.
"Ehh, udah ada si Cantik." Anak pakcik Gibran yang paling kecil sudah ada di sini.
"Yahhhh….." Anak itu berlari cepat, dengan dot susu di mulutnya. Usianya, sekitar satu tahun lebih.
"Dara sini, Dek." Namanya Dara Dhien, makeup lah mamah papahnya orang pribumi daerah sini semua.
"Mandi! Mandi! Bau rokok!" Ayah muncul menggendong Dara, kemudian melewatiku dan menepuk pundakku.
"Iya, Yah. Yah, aku bawa kunci cadangan ya? Aku banyak acara di luar." Aku berbalik berjalan ke kamar.
"Hmm, tau ini malam minggu. Pasti mau sama Bunga, iya kan?" Ayah masuk kembali ke dalam rumah, dengan memasang wajah usilnya.
Aku urung masuk ke kamar. Kenapa ya dengan orang tuaku? Mereka seolah memojokkan aku dengan Bunga, apa mereka suka jika memiliki menantu senakal itu?
__ADS_1
...****************...