
"Cabul, A****g!" Pakcik Gavin melempar bekas air mineral kemasan gelas padaku.
Aku terkekeh malu dan membuang wajahku ke arah lain.
"Ayah Apin pun sama." Bunga memukul lengan pakcik Gavin yang duduk di sampingnya dengan menikmati air mineral.
"Sini, Kaf. Jangan ikut taruhan ya?" Pakcik Gavin setengah berteriak pada Kaf yang duduk di antara teman-teman pakcik Gavin.
"Tak lah, tak nakal Ayah ke perempuan. Kalau ada ladang baru orang oleng, ya bisa dibicarakan." Pakcik Gavin menirukan gambaran ombak dengan tangannya, setelah ia menoleh pada Bunga.
"Masa Ayah tak pernah iseng ke perempuan?" Bunga melirik terus ke arah ayah sambung dari mantan ibu sambungnya.
Eh, apa sebutannya? Dulu Bunga memanggil pakcik Gavin dengan sebutan 'abang', lalu berganti 'ayah' tanpa saran dari siapapun.
"Paling cuma, mau ke mana cantik. Atau kalau tak ya, mau diantar tak dek. Seringnya, pulangnya ke mana dek. Gitu aja sih, tak pernah chat atau lain-lain."
Humorku pecah. Begitu pun dengan Bunga dan Jessie.
"Anak sembilan loh, siapa perempuan yang mau?" Aku terbahak-bahak lepas.
"Nah itu, kan namanya juga mulut laki-laki. Sejauh ini sih aman sih, soalnya belum nemu perempuan yang suka kecolongan lagi." Pakcik terkekeh geli dengan memegangi perutnya.
"Berarti tante Ria kecolongan ya ini tuh?" Aku masih senang tertawa atas jawaban pakcik Gavin.
"Heem, lagi ASI dia molor. Nemu lah Gue." Tawa pakcik Gavin puas sekali.
"Begitu aja selera gitu, Om?" tanya Jessie kemudian.
Pakcik Gavin menoleh sekilas pada Jessie. "Selera, kan Gue duda gatal," akunya dengan tawa.
"Pakcik tuh berarti hidup lurus aja kah selama ngeduda?" Aku ingin tahu sejarah cintanya.
"Lurus gimana maksudnya? Tentang apa?" Pakcik Gavin memandangku, ia mengalihkan sejenak pertandingan futsal teman-temannya tersebut.
"Perempuan, pergaulan." Ini yang ingin aku tahu juga tentang panutanku.
"Pernah pacaran, tapi Pakcik tak suka ada yang mau campur tangan tentang harta Pakcik. Kalau Pakcik udah percaya, tanpa dicampuri pun pasti Pakcik kasih. Pakcik masih sayang harta Pakcik, daripada hubungan Pakcik masa itu. Soalnya udah pernah ngerasain, rasanya ladang diserang hama, gagal panen, susahnya pasarin hasil panen. Kecewa karena pengalaman itu, buat Pakcik hargain hasil kerja keras Pakcik. Bibi kau dulu, belum Pakcik nikahin juga sering Pakcik transfer uang untuk jajan. Karena apa? Karena Pakcik percaya sama dia, kasihan sama si kecil Kirei juga biar ASInya berlimpah kalau ibunya happy." Pakcik Gavin berpose imut dengan jemari 'peace'.
"Sebatas itu, Yah?" Bunga nampak heran.
__ADS_1
Pakcik Gavin menghela napasnya. "Masa mau cerita aib yang haram-haramnya? Tapi Ayah tak pernah sampai zina kek kau, Ayah stay halal. Udah sah, tanpa malu Ayah ajak cek in dan nitipin Kirei ke nenek kakek. Bodo amat malu seberapa, yang penting n*****t halal." Pakcik Gavin menepuk dadanya.
Kami tertawa lepas bersama-sama.
"Pakcik pernah bosen s**s tak?" Mungkin pertanyaanku sensitif.
"Sering lah, tapi bukan berarti harus ganti orang. Pakcik ajak cek in, pernah juga berkemah." Sendirinya malah tertawa lepas. "Haduh, untung pasangan halal. Jadi, gila sedikit pun aman."
"Maksudnya, di alam terbuka begitu?" Jessie terlihat kaget.
"Heem, di dalam tenda. Di bukit yang di sana tuh, kan ada penyewaan tenda dan memang tempatnya untuk berkemah gitu. Apa sih sebutannya? Kek tempat untuk pramukaan lah, ada outbound, ada arum jeram."
Gila juga pamanku.
"Memang tak ada orang lain yang kemah, Pakcik?" tanyaku kemudian.
"Bukan weekend, jadi sepi. Jadi bertangga gitu loh, ada pos satu yang paling dekat dengan parkiran, WC dan orang jualan. Biasanya, diperuntukkan untuk mereka yang seorang diri. Pakcik agak naik, di pos lima waktu itu. Bukan weekend, jadi sepi orang." Pakcik menggunakan tangannya mengisyaratkan seperti tangga.
"Jadi pengen jajal, Bang. Yuk, Bang? Dari pada OYO terus." Ajakan Bunga membuatku terbahak.
"Sama aku aja dia ngajakin OYO loh." Jessie menunjukku dengan lirikan mautnya.
"Tanya aja." Pakcik menunjukku dengan menggunakan dagunya.
"Masa, Bang?" Pakcik Gavin kini memperhatikanku.
Sebatang rokok dibakar oleh pakcik Gavin.
"Jangan percaya, Pakcik. Mulutnya memang iseng kek Bunga." Aku memandang Jessie.
Pakcik Gavin sih sudah tahu, jika mulut Bunga memang suka begitu. Tapi jika mulut Jessie kan, mereka mana tahu.
"Sore tadi loh, di tempat makan." Jessie menaik turunkan alisnya.
Skakmat, aku hanya bisa tersenyum kuda.
"Gatal kau, Bang. Sana minta perempuan sama ayah kau." Pakcik sampai bergidikkan, aku sudah seperti ulat bulu rupanya.
"Aku diminta ayah Givan, katanya sana minta nikah sama abang kau aja. Pusing ayah, abang kau keluyuran terus katanya."
__ADS_1
Oh, jadi ayah seperti itu ya di belakangku?
"Terus, kau jawab apa?" tanyaku kemudian.
Aku ingin tahu sekali pekerjaan mulut ayah di belakangku.
"Belum hamil, yah. Aku jawab begitu."
Belum juga Bunga selesai bercerita, kami semua sudah terbahak-bahak lepas. Sebenarnya tanpa orang lain, keluarga kita itu cukup untuk teman mengobrol dan bercanda.
"Kau berani bilang begitu ke ayah, Bunga?" tanya Jessie nampak ternganga.
Bunga mengangguk. "Iya, terus kepala aku ditoyor. Bukan masalah bagaimananya ya, tapi aku takut terbuang lagi kalau misalkan harus menjanda lagi. Sekarang pikiran aku nih, Bang. Aku harus punya keahlian, aku harus punya skill yang menghasilkan uang, agar pas jadi janda tak harus terdampar ke saudara-saudara lagi. Apalagi ke ayah Ken, aku cukup tau diri untuk itu." Wajahnya mendadak sendu.
"Jangan banyak mikirin tentang jadi janda lagi, Bunga. Ayah jadi sedih kalau kau mikir begitu." Pakcik Gavin menepuk-nepuk pundak Bunga. "Lebih baik kau pikirkan, apa ada laki-laki yang mau sama kau."
Tawa lepas berbaur kembali, setelah Bunga manyun lima senti.
"Ada yang naksir dia, Pakcik. Orang Bekasi, speak kurus kerontang katanya." Aku meredam tawaku.
"Tapi dia kaya, Bang. Kapan lagi coba dapat pewaris? Perintis itu suka tak punya otak, kalau udah di atas." Bunga mengangguk-anggukan kepalanya samar.
"Kalau orang kaya, biasanya saingannya keluarganya sendiri. Kek laki-laki yang aku kenal." Pandangan Jessie mengarah padaku, kemudian ia seolah tengah menonton pertandingan futsal kembali.
Aku maksudnya? Bunga ya yang ia maksud juga? Ia naksir aku begitu?
Oh, sial. Hatiku malah mekar, aku geer sendiri dengan sindirannya.
"Ayah pewaris, tetap merintis juga kali. Jahat betul lah kalau nungguin warisan aja, kek kasarnya nungguin orang tua meninggal. Masa surat bagi waris dibuka pun, kita pengennya tukar surat itu dengan nyawa orang tua Ayah. Sembilan anak susah, Bro. Tak sama pengasuh, anak ngerecokin aja ibunya. Nunggu anak tidur, kadang ketiduran sendiri."
Jadi, sad mix mesum ya? Lucunya pamanku ini.
"Orang tuanya udah meninggal semua, Yah. Cuma keknya ada masalah deh, soalnya dia laki-laki, tapi dibawa sama kakaknya dan iparnya ke sini. Anak laki-laki kan berani lah di kota sendirian, apalagi ada hunian. Cuma aku tak ambil pikiran, temenan aja. Cita-cita aku masih jauh nih, harus fokus dulu." Bunga nampak dewasa di sini.
"Memang kau tak berharap nikah sama kakak duda kau? Jessie menunjukku, sedangkan wajahnya menoleh pada Bunga.
Ada apa dengan Jessie?
...****************...
__ADS_1