Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA286. Sarapan dan makan siang


__ADS_3

Bangun kesiangan lagi, kami sudah seperti kalong. Makan sarapan dan makan siang, sampai akhirnya kami gabung. Nasi goreng buatan Nahda, sudah dilengkapi lauk kiriman dari mama Aca juga. 


Rambut basah anaknya yang digulung dengan handuk itu, kadang membuatku malu dengan tatapan mata ibu mertuaku. Apalagi saat beliau terang-terangan memandang ke beberapa tanda merah yang kubuat semalam, rasanya aku seperti diminta penjelasan dengan karya tersebut. 


"Nanti ke kampus, Bang. Coba cek apa yang mau disampaikan pihak kampus, kalau masalah biaya nanti minta rinciannya aja." Mama Aca membantu menuangkan air minum untukku dan Nahda yang tengah balapan makan ini. 


Nikmat sekali makan ketika lapar. Padahal nasi gorengnya kali ini hanya menggunakan bumbu instan saja, tanpa tambahan potongan bawang dan cabai seperti biasanya. 


Aku menelan makananku dulu sebelum berbicara "Ya, Ma. Nanti sekalian mau jemput Cani sama Ra, sopir antar biyung sama ma Giska perawatan soalnya."


"Ke mana ayah kau? Biasanya sampai nungguin biyung kau di klinik kecantikan dia." Mama Aca berjalan ke arah wastafel. 


Ia mengumpulkan perkakas dapur yang kotor, kemudian menyalakan keran air. 


"Biar Nahda nanti, Ma. Nanti mau cuci sekalian sama bekas makan ini." Nahda sampai terburu-buru mencegat, ia sampai berbicara dengan makanan masih di mulutnya. 


"Biar itu kau kucek sendiri, udah lanjut makan aja." Mama Aca menoleh sekilas. 


Mama Aca selalu seperti itu jika di rumah anaknya ini. Tangannya selalu membantu, berbanding terbalik dengan biyung. Tak apa, ciri khas masing-masing. 


"Ayah ada kesibukan di luar, Ma. Lagi urus-urus di Bank juga, biar aku bisa akses uang yang harus keluar masuk." Aku menegak air sedikit, karena terasa begitu seret. 


"Peralihan kuasa papa ke kau udah diurus juga kah?" Mama Aca berbicara dengan tangannya masih bekerja menyabuni wajan keramik itu. 


"Surat kuasa papa? Ayah tak ada urus, ayah urus tentang yang nantinya bisa aku akses aja." Aku berusaha melanjutkan untuk menghabiskan makananku. 


"Rumah furniture yang di Jepara itu, bagi hasil dengan papa karena papa yang urus, Bang Chandra. Ayah kau kapok, dia tak mau ke sana lagi dan tak mau turun tangan sendiri. Kata papa kau sayang udah stabil, masa mau ditinggalkan. Ditantanglah itu sama ayah kau, katanya ya udah sana urus sendiri. Mama suruh papa kau buktikan, mulut Givan kadang kelewat sombongnya." Mama Aca menyusun wajan tersebut di rak yang berada di atas wastafel. 


Gunanya rak itu, aku maksudkan agar tetesan air tidak membasahi rak dalam. 


Rumahku belum memiliki mesin cuci piring otomatis, apalagi barang-barang lainnya yang secanggih itu. Masih menyicil, perabotan mahal dan berkualitas, jadi uangnya berasa. Tapi Nahda terlihat tidak keberatan, ia menikmati kesibukannya kecuali kuliah tersebut. 


"Terus jadinya gimana?" Nahda memperhatikan ibunya yang tengah beraktivitas tersebut. 


"Ya kecolongan itu, papa kan memang kalau udah percaya tuh silahkan aja. Cek setahun sekali tak nentu, kan Dana belum setahun juga acak-acakinnya." Mama Aca berjalan ke arah kami kembali.

__ADS_1


Oh begitu toh. 


"Tapi masih punya ayah ya sebelumnya?" Aku jadi sempat berpikir, bahwa papa Ghifar yang memberikan usaha itu padaku. 


"Iya, masih. Papa kek nyewa aja, tapi tak bayar ke ayah kau. Hasilnya, malah untuk papa." 


Begitu traumanya ayah pada usaha tersebut? 


"Aneh sih, ayah tak pernah trauma sebelumnya." Ayah tidak takut apapun, aku tahu fakta kecil sederhana itu. 


"lebih ke tak mau mengulanginya. Dia pernah buat kesalahan besar saat reuni, sampai sekarang dia tak pernah datang ke undangan reuni. Ayah kau begitu, Bang. Kau aja yang kurang memahami ayah kau." Mama Aca duduk di samping anaknya. 


"Benarkah tak pernah datang ke reuni?" Aku menghentikan acara makanku sejenak. 


"Betul, tanya aja. Tak pernah dia komunikasi dengan teman-teman lama yang menjerumuskannya, ngakunya sih begitu." Mama Aca mengedikkan bahunya. 


Ia mencicipi sedikit nasi goreng tersebut dari piring anaknya. Kemudian, ia memandangku dengan alis menyatu. 


"Kok kau doyan??? Ish, Nahdatillah!" Mama Aca memandangku, kemudian menoleh tajam pada anaknya. 


Nahda melihat isi piringnya, kemudian melempar pandangan ke arahku. "Enak kan, Bang?" tanyanya kemudian. 


Tengah lapar masalahnya. 


"Lumayan apanya sih, Bang?! Jangan mau kau dikasih makanan kek gini, makan makanan Mama aja." Mama Aca menyodorkan lauknya. 


"Ihh, Mama. Suami aku nih." Nahda menyentuh lenganku. 


Astaghfirullah. 


"Gurau aja, Dek." Aku menarik tanganku untuk lanjut makan. 


"Mama jangan gatal yaa!" Ia sampai mengacungkan jari telunjuknya. 


"Tak, udah jelas besaran papa kau ketimbang turunannya Givan," gerutu mama Aca, dengan mengambil kerupuk dan memakannya. 

__ADS_1


Ya Allah, mulut ibunya seperti ini ternyata. Pantaslah mulut Nahda sefrontal itu, ayah tentu tidak kaget karena sudah mengetahui tabiat ibunya Nahda ini dari awal, makanya tak heran Nahdanya seperti itu. 


"Tapi suami aku enak kok, pandai dan gagah." Ia bangga sekali mengakui hal itu. 


"Enak, kau tak pacaran." Mama Aca geleng-geleng kepala dan menundukkan kepalanya. 


"Minta obat sakit kepala, Dek. Bangun kesiangan terus tuh, kek sakit kepalanya." Aku menaruh sendokku, aku sudah menyelesaikan kegiatan makanku. 


"Iya, Bang. Sok minum aja dulu." Nahda bangkit dan meninggalkan meja makan. 


Sebegitunya baktinya, makanan belum habis pun sudah ia tinggalkan untuk menuruti perintahku. 


"Nahda tuh, Bang. Dia kek tak fokus sama pendidikannya. Waktu papa ke sana minta izin untuk Nahda itu, dosennya cerita bagaimana cueknya Nahda dengan pelajaran." Mama Aca celingukan dulu, sebelum mengatakan hal itu. 


"Dia pernah terang-terangan minta berhenti aja, minta hamilnya sebulan aja juga. Dia tuh kek tak punya tujuan hidup tuh, dia udah nyaman dan senang dengan kedudukannya saat ini." Tujuan hidup Nahda seolah hanya untuk menjadi istriku. 


"Heem, padahal diperlukan di masa kemudian hari. Dia tak harus di rumah aja kek biyung kau, Bang. Dari dulu Mama pengen Nahda jadi ibu rumah tangga yang mahal dan cerdas, bisa bantu suami dan punya aset pribadi. Jadi semisalnya nasibnya buruk, dia tak cuma dikembalikan aja ke orang tua, tapi dia bisa langsung mandiri tanpa mengemis jajan untuk anaknya dari mantan suaminya. Mama pernah ngerasain jadi janda, rasanya tak enak betul. Capek, Bang. Udah urus anak, stress juga, urus keuangan, urus rasa ego yang pengen ini dan itu tapi tak punya uang. Jadi misalkan nasib Nahda buruk, ya Mama pengen dia tak stress dan tak kaget ekonomi. Dia tetap bisa beli ini itu dengan pendapatannya, tanpa harus nurunin egonya demi kebutuhan hidup." Mama Aca berdehem di akhir kalimat, karena Nahda muncul dengan sebutir obat. 


"Panadol, Bang." Nahda memberikan obat tersebut padaku. 


"Pengen sate, Dek. Jangan masak lagi." Aku menelan obat ini, kemudian langsung meminum air. 


"Oke siap, Bang. Gitu kan enak, aku bisa santai panjang." Ia langsung mengambil sendoknya kembali dan lanjut makan. 


"Santai terus, baju suami dirapikan." Mama Aca melirik sinis anaknya. 


"Udah semua dong, memangnya Mama??" 


Begitu ya anak perempuan? Debat terus dengan ibunya, membuat kepalaku semakin berdenyut saja. 


"Udah Abang mau keluar dulu." Bisa-bisa makin menjadi sakit kepalaku ini. 


"Jangan lupa singgah, Bang." Mama Aca menepuk lenganku, saat aku melewatinya. 


Aku mengangguk dan melanjutkan langkah keluar rumah. Sedikit udara bebas, kepalaku sedikit terasa ringan. 

__ADS_1


Oke, kita mulai rutinitas menjemput Cani dulu. Semoga aku tidak mendapatkan ketua kelasnya yang masih iseng ke Cani lagi, semoga Ra pun ada di kampus, bukan keluyuran karena ego balapnya. 


...****************...


__ADS_2