
"Ya udah, pulang dulu ke rumah. Saya juga ikut, untuk memperjelas keadaan. Untuk pernikahan, ya lebih baik tak dilakukan di sana." Keith mencoba menengahi mereka.
"Tapi aku tak mau Dayyan disembunyikan, Bang." Ceysa tak mau anaknya tumbuh dengan kurang interaksi sosial.
"Tak disembunyikan, tapi kalian baiknya tak tinggal di sana setelah menikah. Lagian pun, Adek kan urus ladang sawit kan?" Keith ingin mengatakan, bahwa sebaiknya Ceysa dan Hadi tidak tinggal di lingkungan tersebut karena pasti warga kampung mengerti jika mereka memiliki anak di luar pernikahan.
"Ya udah, ikuti saran orang tua aja, Ceysa. Lagi pun, kita tak tau pasti keputusan dari ayah dan abu." Hadi ingin yang terbaik untuk mereka juga.
Ceysa mengangguk. "Tapi apa kita bisa jalani rumah tangga tanpa arahan dari orang tua? Kita masih terlalu muda untuk berumah tangga, Hadi. Hadi baru sembilan belas, Ceysa baru delapan belas tahun." Ceysa membutuhkan orang tua, sebagai pendamping mereka menjalani rumah tangga.
Keith langsung teringat pernikahan dini yang pernah ia lakukan dulu. Tiba-tiba, ia khawatir dengan mereka. Ia khawatir, jika kegagalan menghampiri setiap mereka yang melakukan pernikahan dini.
"Insha Allah, bisa." Chandra pun sedikit khawatir, tapi ia tak mungkin membiarkan mereka melanjutkan hidupnya tanpa pernikahan. Apalagi, ada Dayyan yang tumbuh membutuhkan kasih sayang orang tuanya.
"Ayo pulang, Bang." Hadi kembali merengek pada Chandra.
"Oke, oke. Abang cari tiket dulu." Chandra melirik ke arah Keith. "Abang ikut kah?" lanjutnya kemudian.
Keith mengangguk.
"Ceysa siapin keperluan Dayyan dulu." Ceysa bergerak masuk ke dalam rumah.
Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sembari menunggu jadwal penerbangan. Hanya Hadi sendiri, yang tengah menikmati waktunya dengan menimang dan memperhatikan wajah Dayyan. Ia begitu bahagia, melihat anak tersebut bergerak dan meresponnya.
Ia tidak mengerti, kenapa Dayyan begitu menggemaskan. Padahal, ia pernah memiliki adik bayi. Tapi, tidak begitu menggemaskan seperti putranya sendiri. Ia terus menciumi bayi tersebut, hingga beberapa kali Dayyan terbangun karena terganggu dalam tidurnya.
"Makan dulu nih." Chandra sejak tadi repot menyiapkan makanan instan yang tersisa di rumah tersebut.
"Bawa bukti wisuda, Bang. Ayah dan biyung harus tau juga, kalau Abang udah wisuda." Ceysa muncul dengan tas bayi yang berukuran cukup besar.
__ADS_1
Karena ia bisa membantu mengurus perusahaan, membuatnya memiliki penghasilan untuk membeli apa yang ia inginkan. Meski dirinya tetap diberi jatah uang bulanan dari orang tuanya, tapi ia tetap bisa membeli keperluan lain di luar keperkasaannya.
"Jasmine kapan ke sini, Bang?" Keith datang dengan ranselnya. Ia sudah pulang ke rumahnya, untuk mengambil keperluannya dan datang kembali untuk ikut rombongan.
"Tak tau, lagi hamil dia. Masih aroma-aroma pengantin baru, belum pengen urus usaha mungkin." Chandra bahkan tidak bertegur sapa dengan Jasmine, karena Jasmine jarang berbaur dengan alasan pusing dan mual karena mengidam.
"Ohh, suaminya kerja apa?" Keith memperhatikan mereka yang tengah repot dengan kegiatan masing-masing.
"Manager hotel, Bang. Aku curiga sama suaminya, karena sibuk betul tuh. Lebaran tak ada lebaran, berangkat terus kerjanya." Chandra menaruh mie instan buatannya di depan Hadi dan Ceysa.
"Makan, Bang. Aku buatkan kah?" Chandra tidak enak bersantap tanpa mengajak Keith.
"Tadi pulang sekalian makan. Tapi setau Abang kan, mall memang buka terus." Keith menyempatkan diri untuk memakan masakan istrinya.
"Makan, Bang." Hadi menawari Keith.
"Iya silahkan. Sok makan dulu, sini Dayyan Saya gendong." Keith mengambil alih Dayyan dari Hadi.
Hadi tidak memikirkan kehidupan mereka setelah menikah, karena fokusnya yang terpenting adalah bisa ikut andil mengurus Dayyan. Ceysa pun tidak memikirkan bagaimana ekonomi mereka setelah ini, karena ia merasa memiliki bagian usaha yang bisa ia kembangkan. Berbeda dengan Chandra yang malah memikirkan semua hal tentang mereka, tak terkecuali cara Hadi meninggalkan Sekar.
"Ceysa harus banyak makan, biar Dayyan banyak gizinya. Nih, telurnya buat Ceysa aja." Hadi memindahkan telur dalam mie instannya ke mangkuk milik Ceysa.
Chandra yang menonton hal itu di depan matanya, hanya bisa menelan ludahnya saja. Tontonan dari adik-adiknya, cukup membuat iri dirinya.
"Makasih, Hadi." Ceysa tersenyum lebar pada ayah dari anaknya.
Keith tersenyum samar, melihat kemesraan keduanya. "Kalau biyung sama ayah, udah lain cerita." Keith bersiap merubah suaranya. "Buatlah lagi, Canda! Kau tau perut kau luas, kenapa tak tambahkan telur lagi dalam makanan kau." Keith mengikuti nada sewot bosnya.
Mereka semua tertawa geli, mereka teringat dengan kehebohan Givan dan Canda. Tapi hal itu yang membuat mereka selalu menarik, keributan dan kehebohan tentang drama keduanya.
__ADS_1
"Siap-siap kau, Di. Kau kira enak dapat mertua ayah, siap-siap kau diperhatikan dari jauh terus." Chandra menakut-nakuti Hadi dengan memicingkan matanya.
"Belum jadi mertua pun, selalu diperhatikan dari jauh kemarin." Hadi terkekeh kecil.
"Memang Hadi ngapain aja?" Ceysa sedikit penasaran dengan aktivitas Hadi.
"Ya keluar rumah, ke masjid entah main ke rumah siapa gitu." Hadi menyingkat saja karena menurutnya tidak penting.
"Ke rumah siapa memang?" Ceysa terus mencecar pertanyaan untuk Hadi.
"Wah, wah, wah. Mulai posesif dan kepo." Chandra mengerti bahwa adiknya ingin tahu semua tentang aktivitas calon suaminya.
"Iya, apa Hadi pacaran terus sama Sekar?" Ceysa tidak malu untuk mengakuinya.
"Tak lah, Ceysa. Nanti Hadi ajak Ceysa touring keseharian Hadi." Menurut Hadi, hal itu yang paling membuat Ceysa mengerti akan dirinya.
"Boleh." Ceysa tersenyum lebar.
Mereka segera bergegas untuk mempersiapkan diri, kemudian lekas berangkat ke bandara. Tidak lupa melapor pada pihak bandara, karena mereka membawa bayi di bawah usia enam bulan.
Hadi tidak lagi mabuk dalam perjalanan mereka. Karena ia fokus untuk berinteraksi dengan bayinya yang cenderung aktif di malam hari tersebut. Hadi teringat akan kelopak mata kakeknya, karena anaknya memiliki kelopak mata yang persis seperti kakeknya tempatnya mengadu.
Ia membandingkan bentuk hidungnya dan hidung anaknya, nyatanya mereka seperti anak kembar berbeda usia. Kulit eksotis hitam manisnya, diturunkan pada kulit anaknya. Ia melirik ke arah perempuan di sampingnya, ia pun baru tersadar jika warna kulit Ceysa pun sama sepertinya. Hanya saja, wajah Ceysa yang sedikit tegas tapi teduh di mimik. Ia terlihat alim, tapi sorot matanya tajam mengunci.
Sayangnya, buah hatinya tak memiliki sorot mata sepertinya. Mata tersebut terlihat polos seperti Hadi, Dayyan benar-benar kloningan Hadi.
"Pagi buta sampai, pada sarapan belum mereka dengar kabar ini? Khawatirnya, asam lambungnya pada kumat." Chandra berbicara seorang diri kala kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan pagar rumah orang tuanya.
"Masih pada libur kan?" Keith menurunkan barang bawaannya dari taksi tersebut.
__ADS_1
Hadi turun dari mobil taksi, dengan menggendong Dayyan. Dayyan terus menerus membebani lengan Hadi selama perjalanan, Hadi benar-benar mengangkut beban tiga kilo tersebut. Dayyan hanya berpindah pada dekapan Ceysa, kala anak itu menginginkan ASI.
...****************...