Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA34. Firasat lain


__ADS_3

"Maksudnya sih, biar kau tak ngerasain sendirian. Kalau kau pikir tak mau, ya tak apa. Nanti nelpon lagi aja, sekarang Chandra masih tidur." Givan melirik anaknya yang terlihat dari dalam kamar pengantin ini.


"Iya, Yah." Izza tidak mau memperpanjang perdebatan dengan calon mertuanya itu.


"Ya, assalamualaikum." Givan segera menutup panggilan telepon tersebut.


Givan memperhatikan aktivitas istrinya, kemudian ia menghela napasnya. Ia paham, anaknya dan kekasihnya kini tengah memasuki masalah komunikasi yang kurang tersampaikan dan maksud yang kurang berkenan.


"Baiknya, Izza tuh ditunangin atau gimana gitu? Maksudnya, biar dia ada tenangnya." Givan merebahkan tubuhnya di samping cucunya yang tengah diurus oleh Canda.


"Dinikahin lah, tinggal sama kita biar tambah tenang." Canda menarik opsi yang paling mudah menurutnya.


"Anak kau susah dibilangin, Sayang." Givan mencubit pipi istrinya yang berada di hadapannya.


"Nanti aku yang ngomong. Pacaran lama-lama sekali, udah tau pacaran dosa, dilama-lamakan. Nambah-nambahin beban akhirat aja, tiap ketemu pasti dapat tuh cium-cium sebelah sih." Canda berkata bukan tanpa alasan, tapi karena ia pernah melihat sendiri anaknya yang tengah mengincar pipi calon menantunya.


"Kalau tak berhasil, gimana?" Givan masih memperhatikan istrinya yang tengah beraktivitas itu.


"Kita yang kawin lagi." Mendengar jawaban Canda, Givan langsung tertawa renyah.


"Nenek kadang-kadang Nenek memang, Dek." Givan menciumi Dayyan yang pasrah diurus oleh neneknya itu.


"Kakek juga kadang-kadang Kakek, Dayyan." Canda telah menyelesaikan mendadani Dayyan agar lebih hangat, kemudian ia memposisikan Dayyan untuk lebih dekat dengan kakeknya.


"Cucu mangge ini, tinggi kek mangge." Givan memeluk Dayyan dan menciumi Dayyan bertubi-tubi.


Anak itu terlihat pasrah, karena ia belum bisa merespon bualan kakeknya itu. Ia hanya bisa menangis melepaskan suaranya, kala kumis kakeknya menusuk kulit wajahnya.


"Cengeng!" Givan bangkit untuk menggendong Dayyan, karena istrinya sudah bergerak masuk ke kamar mandi.


Ia paham Canda menitipkan cucunya padanya, karena dirinya akan membenahi dirinya sore ini. Waktu Ashar sudah tiba, waktu mereka bergantian kamar mandi untuk menunaikan ibadah mereka.


Benar-benar hanya keluarga inti saja, Givan berani untuk membawa Dayyan keluar rumah dan berbaur. Mereka semua sudah mengetahui siapa Dayyan, Givan pun sudah amat lelah menjelaskan tentang sejarah Dayyan pada saudara-saudaranya. Beberapa keponakannya yang telah dewasa pun, banyak yang menanyakan langsung siapa Dayyan padanya. Givan tidak menutup-nutupi hal ini sedikitpun pada keluarganya.


Bibi-bibi Dayyan langsung mengerubungi Dayyan dan membuat Dayyan menangis lebih kencang. Dayyan belum terbiasa dikerubungi banyak orang dan dirinya mendapatkan serangan ciuman dari sana dan sini. Dayyan merasa risih, karena hal itu mengganggu kenyamanannya.

__ADS_1


"Jangan, Adek Cantik." Ghifar menarik Ra yang tidak mau melepaskan ciumannya sampai Dayyan menangis kejar.


Anak remaja itu melepaskan Dayyan, kemudian duduk di samping orang tua asuhnya. Ia menurut saja, ketika orang tuanya mengirimnya ke pesantren.


"Gemes, Pa." Wajah teduh Ra dan sorot judes Givan mengungkapkan siapa diri Ra dan garis keturunan Ra dalam silsilah keluarga Ghifar.


"Risih Adek bayinya." Ghifar menunjuk Dayyan yang digendong oleh Givan.


"Telpon orang dekornya, Far. Udah selesai gitu, minta diberesin aja." Givan menggerakkan tubuhnya mengayuh Dayyan yang berada di dekapannya.


"Ya, Bang. Orang katering juga suruh ambil balik barang-barangnya aja kali ya?" 


Givan langsung mengangguk mengiyakan, ia ingin rumah itu segera bersih dari sisa resepsi pernikahan. Pernikahan sederhana saja, cukup mengganggu pemandangan matanya. Karena halaman rumah terlihat begitu kotor dengan sisa minuman air mineral kemasan gelas.


Givan melangkah menghampiri raja dan ratu hari ini, ia ingin menyuruh mereka untuk mandi dan berbenah. Ia tetap orang tua, meski anak-anaknya sudah menikah.


"Rokok tinggalin, Di. Bahaya untuk Dayyan, kalau kau masih ngerokok." Givan tidak mau cucunya terpapar asap rokok oleh ayahnya sendiri. Sisa-sisa partikel rokok yang berada di baju Hadi, tentu akan dihirup dan masuk ke paru-paru Dayyan.


"Iya, Yah. Sedikit-sedikit, Yah." Hadi langsung melepaskan puntung rokoknya dan menginjaknya.


"Iya, Ayah." Ceysa langsung bergerak untuk menunaikan perintah ayahnya.


Givan duduk di bangku yang tadi diduduki oleh Hadi. Ia ingin menyampaikan suatu hal, yang menurutnya harus dimengerti oleh Hadi nantinya.


"Di, Ceysa masih nifas. Ini baru sekitar dua puluh harian kan? Kau bisa tahan tak sampai dua puluh hari kedepan. Atau setidaknya, sampai dokter bilang boleh untuk berhubungan badan. Soalnya, Ceysa melahirkan sesar juga. Ayah agak-agak takut, biyung dulu juga Ayah mundur-mundurin terus. Di pikiran Ayah lukanya masih basah, jadi pas masuk itu keluar dari perut."


Hadi langsung membayangkan dan ia langsung merasa tegang. Ia membayangkan hal itu bisa benar terjadi jika ia melakukannya. 


"Serius, Yah?" Hadi langsung mengusap bulu halus di tangannya. Ia membayangkannya begitu menyeramkan, sampai ia merinding sendiri.


"Apanya yang serius?" Givan menoleh ke menantunya dengan tatapan bingung.


"Keluar dari perut," ungkap Hadi kemudian.


Givan menepuk jidatnya. Ia tidak mengerti ada laki-laki dewasa sepolos menantunya, ia menjadi khawatir bahwa Hadi tidak bisa membuatnya nyaman di ranjang. 

__ADS_1


"Takutnya, Di!" Givan memberikan penekanan dalam suaranya. 


"Aku jadi takut, Yah." Hadi ketar-ketir memikirkan. 


"Tak perlu takut nanti sih, sekarang Ceysa jangan diapa-apakan ya?" Karena Givan berpikir bahwa Ceysa masih dalam kondisi nifas. 


Hadi segera memberikan hormat pada ayah mertuanya. "Siap, Yah. Ayah bisa pegang ucapan aku." Hadi menepuk dadanya. 


Givan mengangguk. "Harusnya sih bisa dipegang, khawatir Ayah memikirkan." Givan memandang lurus ke depan. 


"Ayah tak perlu khawatir, aku tak mungkin nyakitin Ceysa." Hadi yakin dirinya tidak mungkin setega itu untuk menyerang istrinya di masa nifas. 


"Oke sip, Ayah ke dalam dulu." Givan ingin memberi perintah pada anak-anaknya untuk segera berbenah dan mandi karena hari sudah sore. 


Chandra langsung mencari keberadaan ponselnya, ketika ia baru terbangun dari tidurnya. Ia sedikit kecewa, karena kekasihnya tidak mengirimkan spam chat dan panggilan. 


"Tadi Izza nelpon, Ayah yang angkat." Givan berkata dengan menggosok kepalanya dengan handuk kecil. 


Chandra melirik ke arah ayahnya, kemudian ia beralih mengecek history panggilan teleponnya. Benar, terjadi panggilan telepon yang tersambung selama beberapa menit. 


"Ngomong apa, Yah?" Chandra khawatir hubungannya dengan Izza terganggu, karena ayahnya terlalu ikut campur urusannya. 


"Izza tak mau dijemput. Biarkan dia tenang dulu aja udah, Bang. Terus nanti dihubungi kembali aja, atau kau jemput dia di rumahnya. Bukalah sedikit tentang kau, informasi tentang keluarga kau, biar Izza tak negatif thinking terus. Dia sulit dikasih paham, tapi dia tak mau ngerti kalau di sini sulit buat dimengertinya." Givan membenahi rambutnya di depan cermin. 


"Aku jadi pengen nikahin dia aja, Yah. Perasaan aku tak enak, kek bakal ada apa-apa." Ia merasakan suasana hatinya begitu kacau. 


"Jangan ngomong jelek." Givan melewati anaknya tengah melamun, dengan mengusap bahu anaknya sekilas. 


"Gimana, Bang?" Canda menghampiri anaknya yang tengah kacau tersebut.


"Itu, Biyung. Ke rumah Izza yuk?" ajak Chandra pada ibunya. 


Ia memiliki firasat lain, yang spertinya akan membuatnya dan hubungannya dengan Izza semakin rumit. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2