Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA105. Diantar


__ADS_3

"Shttt…. Izza tuh sama omnya." Ayah mengganggu sesi curhat, dengan segenggam uang merah berpindah pada biyung. 


"Di mana Izza?" Aku tidak percaya mendengar hal ini. 


"Di ruang tamu lah. Dia mau masuk, mau buka pagar. Ayah juga datang, mau masuk ke rumah. Sana temuin, pucat tuh dia."


Wah, aroma-aroma ia tengah sakit nih. 


Aku langsung bangkit, kemudian berjalan cepat ke ruang tamu. Begini-begini pun, peduliku besar padanya. Apalagi malam-malam begini ia datang, sepertinya ada sesuatu yang darurat. 


"Za, kau tak apa?" tanyaku langsung. 


"Abang." Ia langsung berdiri, berekspresi seperti akan menangis dan memelukku erat. "Aku minta maaf, Bang. Aku ikut ke mana Abang pergi." Ia langsung sesenggukan. 


"Tiap mau tidur dia nangis terus, Chandra. Tidur-tidurnya itu nangis," ujar pak cek kemudian. 


"Maaf ya?" Aku membingkai wajahnya dan mencium keningnya lama. 


Ya ampun, aku menyiksa istriku sendiri. 


"Aku ikut Abang, bawa aku terus, Bang." Ia mengusap pelipisku. 


"Iya, Sayang. Maaf ya? Yang nurut makanya, yang patuh." Aku masih membingkai wajahnya, aku mengusap air matanya.


Hidungnya langsung memerah. 


"Aduh, eleh-eleh." Biyung muncul dengan suara ledekannya. 


"Biyung, aku minta maaf." Izza langsung berpindah memeluk biyung yang baru datang. 


"Maaf untuk apa, Dek? Tak perlu minta maaf." Biyung memandangku, tangannya mengusap-usap punggung Izza. 


"Ish, Ayah dong dipeluk juga." Kemunculan ayah mencairkan suasana. 

__ADS_1


Izza mendadak tidak lagi menangis, ia terkekeh dan kembali ke pelukanku. Rindu juga aku dengan makhluk satu ini, selalu saja membuat aku begitu kasihan padanya. 


"Yayah tuh, aura nakalnya nampak betul kalau senyum."


Bukan aku yang mengatakan, tapi perempuan muda berbody pear itu. Ia juga muncul, kemudian mencium tangan pamannya Izza. 


Sopan juga ia. 


"Sembarangan, ini tuh teungku haji tau." Biyung memeluk ayah dari samping dan menggelayuti lengan ayah. 


Ayah tertawa lepas, kemudian merangkul biyung untuk duduk di sofa. Melihat kemesraan dan kehangatan mereka, aku selalu iri. 


"Duduk yuk?" Aku pun membawa Izza untuk duduk di samping pamannya. 


"Ngerasanya tak sih Biyung tuh? Ayah tuh kalau senyum malah kek nebar ancaman, tak manis tuh." Pendapat Bunga ini ada-ada saja. 


"Tak, Yayah ganteng kok." Biyung sepertinya benar-benar mabuk ayah sejak dulu sampai sekarang. 


Apalagi jika ayah menggunakan kacamata hitam, bajingannya itu terpancar sekali. Bahkan, Ra pernah berpendapat bahwa ayah seperti joker. Tidak lebar juga mulutnya, tapi tarikan pipinya ketika senyum itu cukup dalam seperti Jefri Nichol. Damage badboynya dapat sekali, sayangnya aura itu tidak ada yang menuruni. 


Tawaku sampai pecah, karena terdengar sekali bualan buaya dari mulut ayah. Karena aku tahu, ayah tidak pernah mengatakan sesuatu dengan kata-kata seperti ini. Sekali mendengar, kan jadi geli. 


"Berapa total anak yang diasuh Pak Givan?" tanya pamannya Izza. 


"Berapa ya? Bunga udah mencar, Ra pulang sendiri ke Saya pas kelas lima SD. Desa, jauh sejak kecil." Ayah seperti mengingat sesuatu. 


"Iya kenapa dek Ra kecil tak mau ikut Pak Givan? Padahal anak kandung kan ya?" 


Obrolan tidak membahas tentang kami. Syukurlah, setidaknya kami menjadi tidak canggung karena hal ini. 


"Iya anak kandung, rujuk sama Canda tuh terus punya Ra. Gagal KB itulah, gayanya mau ngepil, eh lupa duluan." Ayah tertawa tipis. 


"Istri Saya tak pernah KB, tapi sulit punya keturunan juga. Punya satu anak tuh, setelah nikah tujuh tahun."

__ADS_1


Sungguh? Aku jadi memikirkan nasib kami, karena keluarga Izza memiliki jejak sulit hamil. 


"Saya dulu nikah tiga tahun baru istri hamil, punya Chandra tuh. Udah lahir, anaknya takut orang. Disapa nangis, denger suara keras sedikit langsung mewek." Ayah memandangku. 


"Sekarang untungnya tak begitu lagi ya, Pak?" Pamannya Izza pun memandangku. 


"Nah itulah, jadinya begitu. Kalau kata orang Cirebon sih, badeg, bangor. Susah dibilangin, tebal telinga. Jadi, kita sama-sama nuntun aja. Bareng-bareng arahin, karena mereka sama-sama mudanya." 


Sudah berbau saling menitipkan aku dan Izza. 


"Ya itu pun sebelum Izza dititipkan, Saya bilangin dulu Chandranya. Maunya begitu, ya selagi bisa diperbaiki ya diperbaiki. Masa pacaran sampai satu dekade, nikah cuma bertahan sebulan aja? Kita yang punya perempuan, pasti malunya tak terkira, Pak Givan. Mohon, jangan sampai permalukan diri Izza. Kasian, dia sama siapa? Orang tua udah tak punya. Saya pun pengen bilang, tolong Pak Givan pun ikut andil menasehati dan mengarahkan Izza. Saya tak selalu bisa, karena kadang tak di rumah karena pekerjaan. Namanya anak sebatang kara, dia tau tentang rumah tangga pun dari siapa gitu kan? Bibinya, istri Saya tak selalu di rumah juga. Kadang dia nginap di rumah anak, dibawa pulang sama anak, kalau Saya lagi lama tak pulang. Jadi dia mau dapat nasehat rumah tangga ini dari mana gitu kan? Kemarin, dia jadi wanita karir. Tau sendiri, Bapak. Izza rajin lembur, makanya kepunyaan semua barang-barang." Paman Izza terlihat bijak. 


Masalahnya, Izza terima tidak dinasehati mertuanya? 


"Siap, siap. InshaaAllah, Saya bisa anggap Izza anak sendiri. Asal…." Ayah mengacungkan jari telunjuknya. "Izza pun bisa anggap Saya dan istri, orang tuanya sendiri." Ayah memandang Izza. "Tak perlu ada sungkan-sungkan. Bukan pengen menghakimi, tapi kalau ada apa-apa itu diceritakan. Kami tak akan memihak anak sendiri, yang salah di mata kami pasti kami salahkan. Perempuan dan laki-lakinya pun, yang terima kalau dinasehati. Kami orang tua ini, udah merasakan manis pahitnya rumah tangga. Menasehati, karena sayang, tak mau anak merasakan kejadian yang serupa juga." Ayah memandang wajahku juga. 


Aku dan Izza mengangguk bergantian. 


"Memang baiknya begitu, Pak Givan. Saya di rumah pun, terus bilangin Izza. Kami tak mau ada perpecahan, apalagi mereka baru seumur jagung. Ibaratnya, ini tuh masih dalam fase pengenalan. Chandra belum tau sifat asli Izza, Izza pun kaget dengan sifat asli Chandra. Karena pasti beda rumah tangga itu. Ibaratnya, bau kentutnya pun baru tau sekarang." Pamannya Izza terkekeh kecil. 


"Nah begitu memang. Saya lima tahun penyesuaian dengan istri tuh, ada aja yang diributkan dan dipermasalahkan." Ayah merangkul biyung, kemudian mengusap-usap pundak biyung. 


Benar tidak sih mereka sampai membutuhkan waktu selama itu hanya untuk pengenalan? Tapi bagaimana denganku? Apa aku harus menunggu sampai lima tahun juga? 


"Pasti ada aja tuh, Pak. Dulu Saya, mertua yang recok. Ini itu, dijadikan masalah besar. Apalagi, kalau nampak di mata anaknya tak pakai emas, itu tuh udah fatal betul tuh." 


Benar-benar beda rumah tangga, beda cerita. Dari sini pun aku paham, aku harus bisa memberi Izza perhiasan juga. 


"Taraf ukur suami di sini memang emas dari dulunya, Pak. Provinsi ini tak kaya dengan rupa uang penduduknya, tapi kaya dengan rupa emas." Ayah membenarkan hal itu. 


"Betul, Pak Givan. Tabungan emas, arisan emas laku di sini." Paman Izza melirik ke arah jam dinding. 


"Izza di sini aja ya, Pak Givan? Besok aja gitu untuk pulang ke sana, atau berbenah di sana. Lagi gerimis juga soalnya, takut sakit."

__ADS_1


"Oh, iya. Makasih ya udah nganterin Izza, Pak." Ayah mengantar paman Izza keluar. 


...****************...


__ADS_2