
"Jes, Jes, Jes. Aku…. Aku tak suka didominasi begini, biar aku yang pegang kendali." Aku menahan p*****l Jessie agar tidak bergerak lagi.
"Tapi bilang aja kalau Abang memang lemah kan? Bentar lagi juga pasti kel…." Ia menyapu gigi depannya dengan l****nya.
Ia indah sekali.
"Turun, Jes! Aku tak mau kau hamil di luar nikah." Aku mengangkat tubuhnya semampuku, karena detik itu juga aku kelojotan menyemburkan benihku.
Aku terengah-engah bukan main, sampai akhirnya napasku membawaku sadar dalam keadaan sebenarnya.
Sial, aku mimpi basah.
Aku memandang datar langit-langit ruangan, kemudian aku meraba milikku untuk memastikan cairan itu. Lemah sekali imanku, belum juga bersuci karena buang benih di toilet. Kini, cairan lengket itu membasahi celanaku.
Terdengar kekehan kecil. "Kebawa n*****t sampai mimpi rupanya. Gimana? Udah keluar?"
Aku mendongak cepat mencari suara. Ada ayahku yang paling menyebalkan, yang duduk di sofa dengan remot TV di tangannya. Wajahnya menyebalkan sekali, tapi ia tetap ayahku.
"Udahlah! Tak usah main sama Jessie lagi, Ayah khawatir kau kenapa-napa. Pulang-pulang, langsung nyari WC. Keluar WC, langsung lemes parah. Tidur, malah mimpi basah. Jadi, harus berapa kali keluar lagi biar tangki kosong?" Wajah ayah berubah datar.
__ADS_1
"Tak, Ayah." Aku mencoba tidak memperdulikan rasa lengket ini, aku duduk dan menutupi celanaku dengan kaosku yang baru saja aku lepas.
"Tak apa? DJ loh dia, Bang. Cabo elit loh, meski tak semuanya. Ayah kepikiran terus, meski kau pergi tak lama. Udah ketar-ketir kau main sama Bunga, jelas Bunga, menurut Ayah tak apa dinikahin aja gitu. Daripada kau terperangkap zina, Ayah bakal nyesel betul. Bunga udah kek anak sendiri, jadi Ayah pun yakin bisa nuntun dia sama-sama. Sedangkan Jessie, kita tak tau pasti dia siapa dan bersih taknya dia. Bukan Ayah membatasi, tapi kau oleng betul. Modelan Izza aja, kau nyosor aja tak tau tempat. Ini lagi model perempuan kota, tipu dayanya lebih dahsyat. Ayah begini, karena khawatir sama kau loh, Bang. Ayah tak mau kau akhirnya nyesel."
Aku tidak tahu ekspresi ayah, aku hanya bisa menunduk karena memang merasa selemah itu di depan Jessie. Tapi, bukan berarti ayah sampai melarangku untuk berteman lagi dengannya. Jessie butuh seseorang yang membawa perubahan dalam dirinya, butuh seseorang untuk menuntunnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Mungkin Jessie pengecualian, Yah. Ayah bilang sendiri barusan, tak semuanya begitu." Aku masih enggan memandang wajahnya.
"Kau cinta sama dia? Baru beberapa kali dia ke sini, kau udah terbius effortnya begitu? Kau tak akan paham bagaimana bebasnya perkotaan. Di kota, kost-kostan itu bebas tinggal dengan siapa aja. Ibu kost tak banyak nanya, yang penting pembayaran lancar." Ayah duduk berpindah di sampingku, bedanya ayah bersandar pada sofa.
"Tak cinta juga, maksudnya tuh kenapa harus ngelarang berteman?" Aku memandangnya sekilas, kemudian menunduk kembali.
Tepukan kecil aku rasakan di bahuku, aku memberanikan diri untuk memandang wajah ayah beberapa saat. Mode serius, terpasang di wajahnya.
"Ayah, aku tak berzina." Aku merasa ayah memiliki tuduhan itu padaku.
"Sekarang, memang tak berzina. Tapi besok gimana? Pertemuan selanjutnya gimana? Ayah kemarin bolehin, karena tengok kau kuat dengan pesona anak kota itu. Tapi tengok kau hari ini, Ayah khawatir besar sama kau. Yang paham lah, Bang. Yang paham, kalau kau harus hati-hati dengan beberapa pergaulan dan teman." Ayah merangkulku.
"Terus, apa bedanya sama Bunga? Kasarnya, mereka sama-sama rusak." Aku mempertahankan untuk menunduk, karena aku paham pertanyaan ini bisa mengundang amarah ayah.
__ADS_1
"Dia adik asuh kau, dia keluarga kita. Daripada kau luruskan anak orang, lebih baik luruskan keluarga kita sendiri. Kita tak tau gimana dia kedepannya, tapi Ayah yakin Bunga terkendali di tangan keluarga kita dan diri kau. Dia cuma butuh kasih sayang, lepas itu dia bakal bisa menjadi kodratnya yang sebenarnya. Mungkin Ayah terlampau kolot sama kau, Bang. Tapi kau harus tau, kalau kau anak biyung kau. Biyung kau yang taat beragama, pandai dengan norma keagamaan dan jauh dari zina. Kalau tak Ayah perkosa dulu, biyung kau tak akan merasakan s**s pranikah. Itu pun dia korban, terpaksa."
Aku langsung menoleh cepat pada ayahku. Jadi, inikah alasan mengapa pacar papa Ghifar dinikahi oleh ayah? Jadi, ini alasan papa Ghifar tak bisa bersatu dengan biyung?
"Ayah tau tak sih, kalau Ayah ini sejenis setan?" Aku marah pada ayahku sendiri, karena ia berani berbuat jahat pada ibuku.
Telingaku langsung dijewer. Kemudian, ayah menaikkan dagunya. "Laki-laki setan, tak mau anaknya jadi setan juga. Setan-setan banyak yang pengen gauli manusia dan tabur benihnya di rahim manusia, berharap biar anaknya bisa jadi manusia yang jelas lebih suci darinya. Apa yang ada di pikiran kau ini? Kau pikir masa lalu Ayah kau keren, sampai kau ingin mencicipi masa kelam itu? Tolonglah, jangan jadi bodoh."
"Aku tak pengen begitu, Ayah." Aku sudah gemetar saja mendapat amarah ayahku.
Mentalku tidak bisa diadu dengan ayah.
"Terus pengen jadi apa? Antara Bunga dan Jessie, itu Ayah cuma ambil perbandingan aja. Kalau kau memang mau menikah, ya Ayah bakal jodohkan kau dengan perempuan baik-baik yang ada di kampung kita. Tapi kalau kau maksa-maksa betul pengen dapat yang rusak, ya udah Bunga aja sekalian. Kasihan, dia butuh perhatian dan kasih sayang." Nada suaranya sedikit tegas, tapi tetap lirih.
"Yah, aku belum berani berkomitmen. Aku pengen sesukses pakcik Gavin dan Ayah." Mereka panutan terdekatku.
"Begitu???" Ayah memberi jarak duduk.
Aku mengangguk samar, aku bertahan untuk tetap tertunduk.
__ADS_1
"Kalau begitu, ya jangan selalu suruh Jessie datang. Berteman bisa sewajarnya, bukannya rutin jalan-jalan begitu. S**s itu tak butuh waktu lama, lima menit selesai. Jadi kau alasan keluar sebentar, itu tetap jadi kecurigaan Ayah. Tapi dengan kau bilang begini, Ayah tak akan banyak negur lagi. Silahkan, kau bebas bermain. Tapi satu syarat dari Ayah, kau harus buat jarak dengan Jessie. Tau, kalian cuma berteman. Tapi Ayah dan mantan-mantan Ayah dulu pun, awalnya memang berteman. Di lain waktu, bukan teguran lagi yang Ayah kasih, tapi tentang kesadaran kau. Ayah tak mau kau jadi setan, sekalipun kau sebut Ayah kau setan. Ayah tak mau kau pandai berzina, sekalipun Ayah sampai punya anak hasil Zina. Ayah tak mau kau salah pergaulan, sekalipun Ayah terjerumus dalam pergaulan yang kurang sehat. Stay halal, Bang. Tak kuat-kuat sekali dengan b***** kau, tolong sampaikan ke Ayah kalau kau butuh seorang istri. Ayah bakal carikan wanita yang baik, untuk jadi ibu dari anak-anak kau dan jadi tempat kau menumpahkan b***** kau dengan halal. Ayah bakal carikan, tapi kau patutnya tak memaksa kalau orangnya harus Jessie. Ayah keberatan, Bang. Jaringan DJ itu luas sekali, bukan hanya tentang pros*****i, karena bisa jadi dia yang jadi bandar juga. Jaman sekarang, memang DJ tak kenal penampilan, karena musik itu seni. Banyak juga sekarang DJ YouTube yang berhijab, tapi kan pergaulan tentu beda. Dari mana asal usulnya, belajar dari mana DJnya, belum lagi di lingkungan bagaimana ia mengekspor bakat ngeDJnya. Ini hanya penilaian subjektif Ayah, Ayah pun minta maaf kalau penilaian Ayah berbeda dengan fakta yang ada di diri Jessie. Tapi dari pergaulan Ayah dulu, Ayah tau bagaimana cara kerja dunia malam dan aktivitas di dalamnya. Bukan hanya tentang k***** dan minuman keras, tapi Ayah pun kenal narkotika di sana. Ayah sayang sama kau, Ayah tak mau anak biyung jadi bangsat. Kau mahal, Bang. Kau berharga dan kau harapan kami, ingat adik-adik kau perempuan semua dan Ayah udah tua." Ayah merangkulku dan bersandar di bahuku.
...****************...