
"Ini Abang kau nih, namanya Bang Chandra. Tak pernah ketemu ya sebelumnya?" Om Vendra merangkulku dan mengenalkanku pada dua pemuda bermandikan tato.
Aku takut, sobat. Tato memang seni, tapi lebih baik tatonya c*****an saja. Karena apa? Karena aku takut melihatnya, sepertinya orang garang begitu.
"Dehen." Laki-laki yang memiliki anting di telinganya, mengulurkan tangannya padaku.
"Chandra." Aku tersenyum ramah.
"Balawa." Laki-laki yang tak memiliki anting, tapi memiliki tato juga di sedikit area pelipisnya mengenalkan dirinya dengan berjabat tangan padaku.
"Chandra." Aku mengulangi untuk menyebut namaku sendiri.
Aku memahami itu nama mereka, bukan bahasa mereka untuk mencoba mengenalkan diri.
"Yang antingan, itu abangnya. Ini yang adiknya, Bang." Om Vendra menepuk satu persatu bahu anaknya.
"Dehen, kakak. Balawa, adik," terang Balawa dengan tersenyum ramah.
Mereka ini apa? Apa intel juga? Atau malah penjahatnya? Rupanya sangar sekali, mak. Mentalku yang cemen, atau memang mereka yang membuatku segan?
"Oh, oke." Aku bingung jika sok akrab.
"Umurnya di bawah kau, Bang. Ada beda lima tahun sih, tapi kek seumuran ya? Boros-boros memang muka anak-anak Om." Om Vendra ramah seperti biasa.
"Aku baru mau dua puluh empat tahun, Om. Mereka umur berapa?" Aku tidak percaya sih, jika mereka jauh di bawah umurku.
"Ohh, berarti beda lima tahunnya sama aku, Pah. Kalau sama Kakak, beda tiga tahun aja." Balawa menoleh ke arah kakaknya.
"Iya, aku dua puluh satu tahun." Dehen memperjelas semuanya.
Terserahlah, intinya mereka adik sepupuku.
"Entah anak sama yang mana, yang beda lima tahunan itu." Wanita seimut biyung terlihat manyun dan melirik sinis om Vendra.
"Aduh…." Om Vendra meleyot, merangkul manja istrinya. "Yang resmi kan satu," lanjutnya kemudian.
Serius kah bercanda ini?
"Tenang, Mah." Om Vendra mencium kepala istrinya yang terlapisi hijab.
__ADS_1
"Mamah sih tak mau diajak ke Makassar, jadi masa Makassar punya bahan pelampiasan deh." Dehen terkekeh kecil.
"Tante tinggal di mana?" Aku memperhatikan wanita yang seperti suku Chinese itu.
Matanya sipit, kulitnya putih. Tapi tidak mirip nenek Dinda, karena urat muka nenek Dinda itu masam seperti Ra. Sedangkan urat wajah istrinya om Vendra itu ramah, ayu seperti biyung.
"Di Kalimantan, Bang. Ayo ke rumah ayah kau, Tante kangen pengen ketemu kakak ipar. Dulu kakak ipar di Kalimantan bawa Ceysa aja ya?" Istrinya om Vendra beralih di sampingku, kemudian kami berjalan bersama.
"Kapan, Tan? Tante namanya siapa ya? Aku bingung nih manggilnya, tante aku banyak soalnya." Orangnya asyik, sepertinya enak diajak ngobrol.
"Tante Ninawa, Bang. Biasa dipanggil Nina. Waktu Ceysa masih kecil, biyung kau tinggal di Kalimantan." Tante Nina selalu memajang senyum ketika berbicara denganku.
"Oh iya kah? Iya sih, dari kecil aku dititipkan terus, Tan. Tak pernah diajak-ajak, liburan ya masa liburan sekolah aja. Sekolah tak libur, ya tak pernah dibawa pergi." Miris memang jadi sulung, tapi aku malah suka jarang diajak.
Karena aku tidak suka perjalanan jauh. Aku tidak mabuk perjalanan, tapi lelahnya tidak hilang tiga hari. Bahasa kerennya jetlag mungkin, padahal masih Indonesia juga.
"Kau sama Key ya yang sama ibu sama nenek terus tuh?" Tante Nina terkekeh geli. "Kalau Tante tanya biyung kau, mana yang besar. Katanya sama neneknya, sama ibu juga."
Ibu adalah nenekku juga, nenek dari biyung. Tapi aku memanggilnya biyung, bukan nenek seperti pada nenek Dinda.
"Iya betul, suruh sekolah aja aku tuh." Ayah berkata tak apa tidak pintar, yang penting rajin sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran.
"Alhamdulillah, ayah disiplin galak juga, tapi bener tuh, Tan. Memang Dehen sama Balawa lagi fokus apa? Masih kuliah kah?" Karena aku pikir, umur segitu masih kuliah.
"Tak juga, Bang. Kita ini hidup di pedalaman, ditambah kakeknya Dehen sama Balawa itu orang berpengaruh di suku kami. Mereka berdua itu cuma sampai SMP pendidikannya, karena kakeknya campur tangan didik mereka. Sedangkan bapak Tante, tak bolehkan Tante keluar pulau. Makanya tak bisa ikut om kau tugas. Kalau kita bisa dibawa, mungkin Dehen sama Balawa sampai kuliah juga."
Aih, begitulah?
"Terus, kesibukan Dehen sama Balawa ini apa?" Aku jadi terpikirkan tentang istri siri yang om Vendra sebutkan itu.
"Pengobatan tradisional, Bang. Nerusin profesi kakeknya, semacam tabib."
Tabib di Kalimantan bertato ya? Tabib di sini sudah seperti wali, sampai memakai sorban di kepalanya.
"Kenapa, Bang?" Tante Nina menggandeng lenganku.
"Tak ada bayangan, Tan. Maksudnya tabib yang bagaimana?" Aku menoleh ke arah tante Nina yang awet muda seperti biyung ini.
"Kau pernah lihat pengobatan Ida Dayak?"
__ADS_1
Tidak terasa, akhirnya sampai ke parkiran juga.
"Ida Dayak?" Aku familiar, seperti tahu tapi tidak ingat jelas.
"Iya, yang pengobatan tulang langsung sembuh itu. Dehen sama Balawa pun bisa, operasi penyakit pun bisa."
Heh? Aku jadi tidak membuka-buka pintu mobil karena tercengang.
"Dokter kah?" Jujur saja, aku tidak begitu memahami pengobatan tabib.
Sakit ya dokter, panas lebih tiga hari ya rumah sakit. Begitu saja sejak kecil, jadi tidak pernah mendatangi tabib. Di keluarga kita pun, tidak pernah ada yang kesurupan meskipun rumahnya dekat ladang kopi yang luas. Mungkin kita sejenis setan, jadi setan enggan masuk ke badan. Melamun, malah teringat kenangan karena tidak memiliki hutang. Mungkin jika ada hutang, kita melamun ya malah teringat hutang.
"Bukan, tabib tradisional lah pokoknya begitu. Udah kau jangan mikirin hal yang terjangkau logika kau, susah memang kalau tumbuh kembang luar negerian."
Aku tertawa lepas mendengar ucapan tante Nina, kemudian aku memasuki mobil. Diikuti dengan om Vendra dan kedua anaknya.
"Mobil siapa ini, Bang? Kemarin tak ada lihat di halaman rumah kau." Om Vendra duduk di bangku belakang, tante Nina yang malah di sampingku.
Tante Nina seperti memiliki hubungan yang kurang baik dengan om Vendra, lirikan tante Nina tidak santai pada suaminya.
"Mobil papa Ghifar, mobil di rumah kecil." Aku mulai menjalankan mobil perlahan. Mobilnya besar menurutku, aku kurang bisa menghitung batas jalanan.
"Mah, mau rumah di sekitar sini kah? Maksudnya, untuk peranti liburan aja tuh."
Aku melihat tangan om Vendra mengusap lengan tante Nina.
"Atur aja, mau sembunyikan di sini pun tak apa. Abang tak pulang-pulang lagi pun tak apa." Jutek sekali jawaban tante Nina.
"Hmm, salah terus." Om Vendra membuang napasnya.
"Memang Papah benarnya sebelah mana?" Itu suara Balawa.
Masalah keluarga ini.
"Ya pikir aja sendiri, tak mungkin jadi gini kalau tak ada sebabnya," sahutan om Vendra seperti ayah yang tengah pusing.
"Terus mau nyalahin siapa? Nyalahin bapak?" Tante Nina meninggikan suaranya.
...****************...
__ADS_1