
"Assalamu'alaikum…." Aku mencoba seramah mungkin di sini.
Ada security, ada semacam penjara pintu juga. Tapi heran, anak gadis mereka bisa kebobolan.
"Silahkan duduk dulu, Pak. Nanti dipanggilkan nona Yananya." Seorang ART yang menggunakan seragam, mempersilahkan kami duduk.
Heran, tidak ada yang menjawab salam. Padahal, salam itu wajib dijawab. Ya sudahlah, mungkin bukan seiman pikirku.
"Itulah, Bang. Makanya kenapa aku tak berani bertamu, anak pejabat dia," bisik Kaf saat kami baru saja duduk.
"Hah? Serius? Pejabat mana? Kok Abang tak tau?" Kita bagaikan di angkot, satu sofa besar diduduki jejer bertiga.
"Pejabat luar daerah, Bang. Tapi anak istrinya diboyong di sini, padahal mereka resmi sih. Maksudnya, bukan nikah siri begitu." Kaf mempertahankan untuk bisik-bisik saja.
"Oh ya? Terus kau ajak dia siri begitu? Kok kocak sekali?" Aku terkekeh kecil.
"Bang, tak ada polisi kan?" Bunga menggandeng tanganku, meski ia telah duduk di sampingku.
"Tak ada keknya, security adanya. Kenapa memang?" Aku menoleh ke arah Bunga.
"Ngeri, takut ditilang. Tadi kita tak ada yang bawa helm."
Anak polos, aku jadi ingin menjitaknya.
"Kaf, kalau keluarga resmi. Kenapa tak tinggal di rumah dinas?" Seperti terkesan disembunyikan menurutku.
"Tak paham, Bang. Aku tak pernah nanya begitu." Kaf mengedikkan bahunya.
Akhirnya, si nona muncul juga.
Ia memasang senyum, kemudian mengajak kami untuk mengikutinya. Rumah besar seperti tak berpenghuni, malahan beberapa lampu sudah dimatikan.
"Ngobrol di kamar aja," ujarnya ketika kami semua sedang menaiki tangga.
"Tak apa memang?" Kaf menyetarakan langkahnya agar selaras dengan kekasihnya.
"Tak ada orang, ibu lagi keluar kota."
Ah, sudahlah. Aku tidak mengerti agenda keluarga orang, karena ibuku selalu di rumah saja.
"Ohh, kenapa tak di ruang tamu aja, Kak?" Si kecil Bunga selalu nyempil di ketiakku.
__ADS_1
"Banyak pengawas, kita tak akan bebas ngobrol." Dayana menoleh sekilas padaku dan Bunga yang berjalan di belakangnya.
Kamarnya mirip dengan furniture milik nenek dan kakek, terlihat mewah dengan ukiran kayu ranjang yang rumit. Seperti kamar di zaman kerajaan, juga furniture lainnya seperti nakas dan beberapa sofa.
"Kau sendirian di rumah?" tanyaku setelah mengagumi bentuk kamar ini.
"Iya, Bang." Dayana berjongkok dan mengambil sesuatu di tembok yang penuh ukiran.
Ternyata, ada lemari pendingin mini di sana. Beberapa kaleng minuman bersoda Dayana keluarkan, kemudian ia memberikan satu persatu masing-masing pada kami.
"Gimana?" Dayana duduk di tepi ranjang bersama Kaf. Sedangkan aku dan Bunga, duduk di sofa yang seperti pelaminan modern.
"Mama ada ngomong apa? Maaf ya seminggu ini tak nemuin kau." Kaf menggenggam tangan Dayana.
Aduh, aku yang risih sendiri melihatnya.
"Tenang, Bang. Ada aku, Bang." Bunga langsung memelukku.
"Dodol." Aku terkekeh kecil.
"Mau cium juga, Bang?" Bunga mendongak memandang wajahku.
"Tak!" Aku meraup wajahnya dan tertawa renyah.
"Mama tak banyak ngomong, mama cuma dengerin aku aja. Cuma ada bilang, masa depan kita masih meraba. Kalau yakin ambil keputusan nikah sekarang, apa yakin nantinya tak akan gagal. Sedangkan, aku pun paham kalau jadi dokter itu diusahakan dulu jangan dulu nikah." Dayana menunduk sendu.
Pasti ia merasa rumit sekali sekarang.
"Katanya ada ngajak USG?" Kaf masih menggenggam tangan Dayana, Bunga pun masih menggenggam tanganku.
"Iya, USG dan cek bagian itu. Terus juga, ada cek darah dan cek urine." Dayana menarik tangannya.
"Ketek Abang bau baccarat, mantap." Bunga menunjukkan ibu jarinya.
"Dodol, ada aja." Aku membekap mulutnya.
"Kalian cocok sih." Dayana memandang kami dengan senyuman.
"Masa? Waktu kecil dia sering narik-narik baju, mewek-mewek terus kalau tak ditemani." Gemasnya aku pada Bunga kecil, ia cengeng seperti Cani.
Ah, aku jadi rindu adik-adikku. Mereka akan pulang, khususnya Ra. Karena ia sudah lulus SMA dan akan melanjutkan pendidikan universitas di sini, sedangkan Cani memiliki masalah yang hanya ayah dan pihak pesantren yang tahu. Katanya sih, masalah sepele saja.
__ADS_1
"Mereka kakak beradik." Kaf tertawa renyah.
"Oh ya? Kok tak mirip ya?" Dayana tertawa dengan menutupi mulutnya.
"Adik asuh aja ini, terlantar dia dari kecil, makanya aku sayangi sampai besar." Aku miris dengan kehidupan Bunga.
"Aku juga sayang sama Abang. Nanti kenalin ya kalau ada perempuan yang dekat sama Abang, biar aku seleksi dengan wawasan aku." Bunga mencubit-cubit pipiku.
"Yuk OYO." Aku mulai mengisenginya kembali.
"Abang!!!" Bunga langsung mencubit perutku.
Tawaku renyah sekali. Namun, aku jadi terpikirkan tentang pandangan Bunga soal Jessie. Apa sebaiknya, aku bercerita dengannya? Apa sebaiknya, aku curhat juga tentang ketertarikanku pada Jessie? Sepertinya, Bunga memang tidak ada feel denganku. Melainkan, dia hanya ingin ada kakak laki-laki yang selalu ada untuknya. Mirip Jessie, yang membutuhkan seorang teman saja.
"Sok kasih tau, Kaf." Aku menyandarkan punggungku mencari kenyamanan.
"Abang aja yang ngomong."
Lah? Padahal tidak ada orang tuanya, masih tak berani ngomong juga.
"Kaf ngajakin nikah siri tuh," ucapku langsung.
Dayana memandang Kaf dalam sekali. "Kalau aku punya anak, nanti gimana dokumennya? Keknya kita udahan aja, Bang. Kalau kita lanjut pacaran, bukan tak mungkin kalau kejadian kemarin terulang lagi."
Hah?
Jangankan Kaf, aku dan Bunga saja saling memandang dengan wajah panik. Ia gila atau bagaimana? Nanti siapa yang bertanggung jawab, jika keadaan sudah jebol begitu? Apa suaminya nanti akan menerimanya? Apa ia akan mendapatkan masa depan yang aman dengan kondisinya?
"Mama ngomong apa? Kenapa kau sampai punya pemikiran begitu?" Kaf mengguncangkan kedua bahu Dayana.
"Mama tak banyak ngomong, kek yang tadi aku bilang. Mungkin pas awal, aku terlalu panik aja. Aku butuh seseorang yang dengerin masalah aku, karena dengan begitu aku bisa tenang dan nyikapin semuanya dengan bijak. Mama Abang panutan, dia bisa nenangin tanpa buat pikiran aku bertambah buruk. Mama pun ada bilang, kabari Mama kalau udah siap untuk nikah, Kaf tak akan kabur katanya. Aku dikasih nomor WAnya dan kita sering komunikasi hanya sebatas nanggapin story WA aja." Dayana menjelaskan dengan senyuman.
"Kau yakin mama aku tak ngancam kau?"
Kenapa Kaf meragukan ibunya?
"Tak ngancem, Yang. Mama baik betul, aku kepengen punya mama yang kek mama Aca. Habis kita dari rumah sakit pun, aku diajak perawatan terus warnain rambut bareng. Tapi pisah di depan salon sih, soalnya mama dimarah-marah sama papa, papa jemput paksa mama karena katanya udah malam. Papa galak ya, Bang?"
Jika aku perhatikan, suami-suami dari keluargaku memang galak pada istrinya. Diizinkan untuk pergi, tapi tidak boleh lama. Malahan, beberapa dari mereka suka melarang istrinya pergi termasuk ayah. Jika tidak dengan ayah, biyung harus pergi dengan saudara yang jelas dan bisa menjaga biyung. Seperti mama Aca, tante Giska, yang terlihat fisiknya kuat untuk menemani biyung.
"Jadi, kau malah minta putus gitu? Ya ampun, Yana. Gimana aku?" Kaf mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
...****************...