
"Hei! Ngapain kau dengus-dengus gitu?!"
Hadi tidak mempedulikan seruan dari kakak sepupunya. Ia semakin menghirup aroma tubuh Ceysa, untuk memastikan aroma yang ia nikmati kala malam itu. Rasa haru mengerubunginya seketika, rasa bersalah bercampur aduk dengan rasa menyesalnya.
"Ya Allah, anak Ayah." Hadi langsung menciumi kepala anaknya yang terlihat dari apron penutup menyusui tersebut.
Geraman Dayyan yang tak mau diganggu, membuat Hadi bertambah gemas. Harusnya ia cepat memahami, kala seorang bayi begitu mirip dengan dirinya seperti ini. Sayangnya, ia tidak mudah mengerti keadaan karena ia merasa bukan Ceysa yang ia percaya.
Ia baru mengerti, jika anak yang Ceysa susui adalah anak mereka. Bukan Hadi tidak mau mengakuinya, hanya saja Hadi tidak mengerti teka-teki ini semua.
"Maafin Hadi, Ces. Hadi tak tau, kalau perbuatan Hadi buat Ceysa mengandung." Hadi langsung merangkul Ceysa melewati tengkuk Ceysa dan bersandar pada bahu kiri Ceysa.
"Yang penting Hadi mau ngakuin Dayyan di depan ayah." Ceysa tidak ingin mempersulit keadaan mereka.
Hadi mengangguk. "Tapi takut, Ceysa."
Ceysa tepuk jidat. Ia selalu menghadapi Hadi yang lemah mental sejak kecil.
"Bilang ma abu kau berani?" Chandra memperhatikan interaksi keduanya.
"Sama Ceysa juga, Bang."
Ceysa terkekeh, kemudian ia memukul lutut Hadi pelan. "Dari kecil, tetap aja begitu."
"Ya iya, nanti kalau kau ditanya itu anak kau sama siapa, bingung lagi kau jawab kalau Ceysa tak ikut." Chandra pun mengerti, jika yang menghadap ke orang tua itu harus mereka berdua.
"Aduh, ya ampun. Ceysa…. Hadi bahaya betul untuk Ceysa. Ceysa tak apa kah hidup sama Hadi nantinya?" Hadi berpikir, bahwa sekali berbuat akan terus membuat Ceysa hamil dan hamil kembali.
"Kan ada yang namanya KB, Hadi," jelas Keith halus.
"Hadi mampu tak kasih makan anaknya ini? Namanya Gau Rezky Dayyan." Ceysa memperhatikan wajah Hadi dari samping dengan mempertahankan senyumnya.
"Kok namanya kek serigala?" Hadi mengerutkan keningnya dengan mengusap-usap kepala anaknya.
"Serigala dari mana? Dayyan kok serigala?" Chandra tidak mengerti dengan pola pikir Hadi.
"Gauuuuuuuuuuuuuu…."
__ADS_1
Semua orang terbahak, dengan guruan kecil dari Hadi.
"Maaf ya, Ceysa? Maaf ya Dayyan, anak Ayah?" Hadi kembali mendekati Ceysa dan mengusap kepala anaknya. "Hadi bener-bener tak tau, Ceysa. Maaf, tak respon Ceysa kemarin. Karena Hadi tak tau, kalau Hadi berbuat sama Ceysa." Hadi tidak bisa mengungkapkan penyesalannya.
Ceysa melepaskan anaknya yang sudah tidak menikmati ASI kembali. Ia membenahi pakaian, kemudian memperhatikan wajah Dayyan yang penuh dengan keringat. Mata kosong anak tersebut menatap tidak tentu, Dayyan terlihat lebih tenang di tengah-tengah orang tuanya.
"Dayyan, mirip betul sama Ayah. Takut tak diakui kah, Nak?" Hadi mengusapi keringat di dahi anaknya.
"Tenang…." Hadi melirik Ceysa. "Siapa panggilan Dayyan ke Ceysa?" tanyanya kemudian.
"Ibu," jawab Ceysa cepat.
Hadi mengangguk, ia fokus kembali pada anaknya. "Tenang, Ibu cuma perlu jelasin. Ayah langsung percaya, tanpa tes-tes lainnya. Ayah yakin, Dayyan anak Ayah," aku Hadi dengan nada begitu bahagia.
"Syukurlah." Chandra bersyukur, karena Hadi tidak sulit diyakinkan seperti bayangannya.
"Coba Hadi gendong. Tapi, di ke bahuin ya? Dia harus sendawa." Ceysa tidak kurang-kurangnya mencari pengetahuan tentang keadaannya saat ini.
"Iya, Cantik. Bantuin aja."
"Bang, kapan pulang?"
Chandra menoleh kembali ke arah mereka, saat pertanyaan dari Hadi terlontar untuknya. "Katanya, kau masih mabuk kendaraan?" tanyanya kemudian.
"Aku pengen cepat nikah." Hadi mengagumi wajah Dayyan, yang ia sangga di depan wajahnya.
Anak itu telah bersendawa. Dayyan terlihat nyaman pada tangan ayahnya. Mata yang masih kosong tersebut, terus mengedarkan pandangannya ke arah lain dan memandang kosong pada wajah ayahnya.
"Manis betul, Masya Allah Tabarakallah." Hadi begitu mengagumi keturunannya tersebut.
"Ayo pulang, Bang." Hadi bangkit dan menggendong anaknya dengan benar.
"Kau serius, Di? Kau tak butuh makan? Kau tak pengen istirahat dulu?" Chandra heran, karena Hadi terlihat langsung bertenaga.
"Aku pengen langsung nikah, Bang. Aku pengen ikut andil ngurus Dayyan, aku pengen serumah bareng-bareng." Hadi fokus pada buah cintanya.
Ia tidak menyangka, ia sudah memiliki anak di usia muda.
__ADS_1
"Kalau boleh saran, mending nikahnya di sini. Karena kalian di sana bakal kena sanksi tegas." Penuturan Keith membuat Ceysa dan Hadi tersadar, bahwa mereka telah berbuat dosa.
"Bakal kena cambuk." Pandangan Hadi langsung kosong membayangkan kejadian buruk yang akan menimpanya nanti.
"Bisa aman, kalau mulut kita diam-diam." Karena Chandra tahu sendiri, beberapa warga sering ia ketahui lebih cepat bersalin dari jarak pernikahan mereka.
"Kata siapa? Ini Dayyan sebagai bukti. Ditambah hukum tentang khamar, kalian benar-benar tak bisa lepas gitu aja." Keith bukan menakut-nakuti, hanya saja ia ingin mereka tetap di sini untuk menyelamatkan mereka.
"Jadi gimana baiknya?" Ceysa terlihat cemas, karena ia tidak biasa untuk memanipulasi keadaan. Apalagi, memanipulasi anak yang telah dilahirkannya.
"Kalau Saya pulang dan ke sini dengan ajak ayah sama abu gimana?" Keith mengajukan diri untuk memberikan solusi.
"Tapi, biyung sama ma?" Hadi ingin kedua orang tuanya menyaksikan jika ia benar menikah di sini.
"Maksudnya, rundingan dulu." Keith tak berpikir agar langsung menikahkan mereka. Karena pasti repot untuk mengurus pernikahan di luar negeri. Ayah-ayah mereka dikumpulkan, untuk mendiskusikan permasalahan anak-anak mereka ini.
"Golongan orang darah tinggi." Chandra menggosok wajahnya, kemudian menopang dagunya.
"Kalau sekalian aja gimana, Bang?" Ceysa ingin masalah mereka terselesaikan dengan baik.
"Masalahnya, masih hawa lebaran. Masa kedua orang tua, tak ada semua di rumah?" Keith berpikir, karena kedudukan ayah lebih mampu memberikan keputusan yang tepat untuk anak-anaknya.
"Memang Abang tak masalah kalau harus ke ayah?" Chandra khawatir merepotkan orang lain.
"Tak apa, sekalian lebaran ke mereka." Keith hanya menarik alasan lain.
"Kalau kita pulangnya ke rumah mangge yang di Pintu Rime aja gimana, Bang? Setelah lebaran sepi, aku diminta pulang ke sana." Ceysa memberikan opsi lain.
"Kalau saran aku begini, Bang. Gimana, kalau kita pulang lagi aja? Kita ceritakan gimana kejadian ini terjadi dan keinginan mereka setelah ini. Soalnya, Hadi pun punya ikatan dengan perempuan lain. Setelah mereka benar-benar clear dan orang tua sepakat, ya Hadi dan Ceysa menikah di daerah ladang sawitnya Ceysa berada. Karena orang kampung kan, taunya mereka sama-sama single. Di daerah sawitnya Ceysa, tak ada yang tau status Ceysa maupun Hadi. Setelah itu pun, Ceysa kan dilepaskan untuk urus usahanya sendiri. Hadi bisa ambil kuliah yang Sabtu Minggu aja itu kan? Jadi dia tak perlu bolak-balik ke daerah orang tuanya." Chandra merasa rencananya ini lebih menghemat waktu. Orang tua pun tak terlalu khawatir atau dibuat repot dengan urusan mereka.
"Begitupun tak apa. Tapi, Dayyan tak boleh diketahui warga kampung." Keith hanya khawatir mereka dihakimi.
"Aku siap nanggung akibatnya, Bang. Karena tak mungkin Dayyan disembunyikan. Kita yang aib, bukan Dayyan. Kita yang hina, bukan Dayyan." Ceysa berdiri dan menyentuh lengan Hadi dari belakang.
Hadi menoleh ke arah Ceysa. Chandra menggaruk kepalanya, ia bingung karena adiknya sulit diatur. Karena menurutnya, paling aman adalah saran darinya.
...****************...
__ADS_1