
"Loh? Memang tak apa langsung pulang, Pak Wa?" Kal terlihat bingung, kala Kenandra mengizinkan Givan untuk kembali ke rumah.
"That's called shock!" Kenandra meraup wajah keponakannya.
"Eh, iya kah? Kok Ayah sampai ngantuk gitu, aku takut Ayah koma." Kal mengutarakan kekhawatirannya yang berlebihan.
"Pak Wa jadi takut mau lepasin klinik ini untuk kau, khawatir kau main rujuk-rujuk aja pasien yang datang. Lagi pun kau bisa telpon Pak Wa, kalau Ayah sakit. Kau kenapa repot-repot bawa Ayah ke sini? Dia lagi lemas, karena darah mendadak turun. Tapi, kesannya kek orang mau bersalin aja. Sampai anak-anaknya pada ikut, tak sekalian bawa diapers dan kain jarik juga kah? Anak Ghifar suruh jadi dokter, kok was-was sendiri Awak?" Kenandra mengusap-usap dadanya.
Kal terkekeh malu. "Tengok dong darah dokternya! Anak Kinasyah Salsabila dokter IGD." Kal menyombongkan dirinya.
"Anak Aca yang cerewet! Sana tebus vitaminnya! Ayah sampai rumah suruh baring-baring dulu, biar darahnya normal kembali." Kenandra membantu Givan untuk bangun.
"Iya, kok bingung juga aku. Biasanya pun, Cala sakit kau bisa ke rumah. Tapi, aku sampai dibawa pergi ke sini." Givan duduk di atas brankar tersebut, dengan mengerutkan keningnya dan menggaruk pelipisnya.
"Nah itu, namanya juga Kalista binti Ghifar!" Kenangan menepuk dahi keponakannya.
"Kirain tadi mau dibawa ke rumah sakit." Givan menurunkan satu persatu kakinya.
"Kau sekarang udah tak apa kan?" Kenandra membantu Givan untuk berjalan.
"Tak apa, dingin aja kepala ini." Givan masih merasa lemas.
"Iya, shock itu begitu. Kau dengar apa sih? Kau dikagetkan siapa?" Kenandra memperhatikan wajah adik angkatnya itu.
Givan menggeleng. Ia merasa belum waktunya untuk menceritakan masalahnya untuk keluarga luar, karena istrinya saja belum tahu.
"Tak apa." Givan melepaskan rangkulan Kenandra.
"Baik-baik ya? Telpon aja kalau gejalanya makin kompleks." Kenandra tersenyum ramah dengan memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Memang kau buka terus?" Givan sudah disambut oleh Chandra di luar kamar pemeriksaan.
__ADS_1
"Klinik ini sih ada dokter jaganya, dokter baru gitu. Jadi bisa berobat kapan aja. Cuma kan, aku sesekali aja ke Malaysia. Ya ada di rumah terus. Tinggal buka pintu aja, ada pintu penghubungnya untuk ke klinik ini." Kenandra membenahi kacamatanya, kemudian memasukkan kembali tangannya ke saku.
Givan menggerakkan kepalanya berulang. "Oke." Ia keluar kamar dengan langsung disambut oleh Chandra.
"Gimana, Pak Wa?" Chandra memandang Kenandra.
"Gratis," jawab Kenandra membuat mereka semua tertawa bersama.
"Maksudnya, Ayah udah tak apa kah?" Chandra memperjelas maksudnya.
"Tak apa, jangan dikaget-kagetkan terus. Usia Ayah itu udah tak mudah lagi, Bang. Udah lima puluh tahun, udah rentan karena ada keturunan hipertensi juga. Almarhum kakek Hendra ada hipertensi, kalau hipertensi itu biasanya keturunan." Kenandra memberikan sedikit pesan.
"Iya, Pak Wa. Makasih." Chandra merangkul ayahnya.
"Oke, ati-ati." Kenandra mengangguk dan mempersilahkan keponakannya untuk keluar.
"Olah panik kau! Dokter kok panikan?!" Kenandra mengusap kepala keponakannya, ketika melewatinya.
"Itu udah takdir, Kal." Kenandra menutup kembali pintu pemeriksaan itu.
"Tapi kita sebagai dokter kan penyambung umur, penyelamat kematian yang bisa diundur." Kal melangkah meninggalkan Kenandra.
"Tapi kau harus ingat juga, kalau kematian itu yang paling dekat dengan kita." Kenandra berbicara pelan dengan memperhatikan mereka yang menjauh.
"Bang! Keluyuran aja! Pegangin dulu! Mau mandi sholat!" seruan dengan suara khas Kenandra dapatkan lagi.
"Iya, iya, iya." Ia berbelok ke arah pintu penghubung antara klinik dan rumahnya. Ia geleng-geleng kepala, melihat perempuan yang tengah menggendong bayi tengah cemberut padanya.
"Bang…." Givan mengusap tangan anaknya yang tengah mengemudi.
"Ayah tenangin diri aja dulu, Yah." Chandra menoleh sekilas pada ayahnya.
__ADS_1
Ia merasa tubuhnya kurang fit, karena perjalanan jauh dalam waktu dekat. Perubahan waktu dan sedikit perbedaan cuaca, membuatnya merasa tubuhnya tidak dalam keadaan sehat.
"Itu bukan takdir Ces, Bang." Givan mengusap wajahnya.
"Ceysa kenapa memang?" Kal melongok ke depan, ia penasaran dengan obrolan yang tidak ia mengerti tersebut.
"Kepo!" Givan melirik keponakannya sinis.
Kal terkekeh, kemudian ia bergelayut di lengan kakak dari ayahnya tersebut. "Sehat-sehat Ayah sayang, aku masih pengen Ayah nengokin aku di mes aku." Kal amat ketakutan terjadi sesuatu dengan Givan.
"Doain Ayah sehat terus." Givan mengusap kepala Kal.
"Eh, turun di sini aja aku, Bang. Ada mama tuh, pasti mau beli sayur. Aku mau ikut milih belanjaan." Kal langsung duduk kembali, ia bersiap turun dari kendaraan tersebut.
"Ya, Kal." Chandra menginjak pedal gas dengan menepikan kendaraannya di jalanan kampung tersebut.
"Dadah, Yayah sayang." Kal keluar dari dalam mobil.
Givan memperhatikan Kal yang berjalan girang ke arah ibu sambungnya. "Jadinya dominan Aca, padahal cuma ibu sambung. Beda loh Kal kecil, Bang."
"Ya kek Zio gitu lah, alim kek biyung meski laki-laki." Chandra bisa bercermin dari saudaranya sendiri.
"Jadi Ceysa itu gimana, Bang?" Givan kembali memperhatikan anaknya yang tengah mengemudi.
"Ceritanya panjang, Yah. Ada satu orang lagi yang harus dilibatkan, karena gara-gara dia semua itu terjadi. Ditambah lagi, dia ambil keuntungan dari kejadian yang tak Hadi sadari. Dia bukan perempuan baik." Chandra menggeleng samar, kala teringat seorang Sekar.
"Maksud kau gimana? Dari awal teka-teki ini buat Ayah bingung, karena tak pernah Ayah rasain sebelumnya." Menurut Givan, cara anak-anaknya bermain terlampau rapi dan menyimpan rahasia besar.
"Waktu itu Ceysa usia tujuh belas tahun, Hadi hubungi Ceysa katanya mau ngerayain ulang tahun Ceysa. Agak kesal aku, karena Hadi datang dengan perempuan. Sebelum malam kita keluar, Hadi cerita kalau perempuan itu sepupunya dari pihak ayahnya, masa itu mereka cuma berteman tapi mereka sering dipojok-pojokan. Malam itu, kita datang ke club malam. Aku udah nolak, dengan alasan ngap asap rokok. Sebenarnya, aku udah ada feeling bahwa itu gak akan berakhir baik. Masa kita lagi nikmati minuman dan musik, sambil duduk di meja bundar begitu. Si teman perempuann Hadi ini izin ke kamar mandi, tak lama Ceysa susul karena khawatir dia tersesat. Tak taunya, Ceysa ini lihat teman perempuannya Hadi ini lagi ada di meja bar panjang depan bartender. Dia naruh sesuatu di satu gelas minuman, dari empat gelas minuman. Ceysa ikutin, sampai dia balik lagi ke meja bundar kita. Si teman perempuannya Hadi ini, kasih minuman itu untuk Hadi. Singkat cerita, Hadi mulai payah dengan ngeluh gerah. Kami inisiatif ambil kamar yang berbeda, tapi Ceysa kan kasian terus sama Hadi, jadi dia antar Hadi ke kamarnya dengan kursi roda. Ceysa dapat serangan tuh dari Hadi, menurut pengakuan Ceysa juga, Hadi tak ngelakuin sekali aja malam itu. Hadi benar-benar berhenti, masa dia benar-benar lemas." Chandra menyingkat cerita yang ia dapatkan dari adiknya.
"Jadi, maksud kau Hadi dikasih obat perangsang?" Givan mencoba mengerti dan menebak cerita singkat tersebut.
__ADS_1
...****************...