
"Sini Papa bantu. Mau ke kamar mandi kah?" Napas papa Ghifar sampai ngos-ngosan.
Papa Ghifar lima tahun lebih muda dari ayah, papa Ghifar seumuran dengan biyung. Tapi wajahnya lebih terlihat tua dari biyung, mungkin karena papa Ghifar berkulit hitam manis dan juga ia laki-laki.
"Mau main ke Papa, bosen di rumah." Aku tersenyum lebar.
"Ayo." Papa Ghifar langsung mendorong kursiku. "Mata kau kek sedih gitu, kenapa?" tanyanya lirih, dengan merangkulku.
"Teras kau tinggi, kau harus turun dulu."
Aku langsung menggunakan tenagaku, untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Aku didudukan di tangga teras, kemudian papa Ghifar membawa kursi rodaku untuk turun lebih dulu. Setelah turun, aku dibantu untuk turun dan duduk lagi di kursi roda.
"Abid setelah nikah, sering ada bekas merahnya di lehernya. Kok kau bersih aja?" Papa Ghifar mendorong kursi rodaku untuk melewati halaman samping rumah ini. Ada pintu penghubung juga, seperti pintu penghubung yang terbakar itu. Kanan dan kiri halaman samping ini, terhubung pintu besi.
Aku tidak mungkin mengatakan jika Izza ingin dipuaskan saja.
"Izza tak bisa buat." Jawabanku membuat papa Ghifar tertawa renyah.
"Papa sama mama Kin dulu, sama-sama perawan dan bujang. Tapi bisa kok, malah akhirnya Papa sering tau beres." Pengakuan papa Ghifar membuatku iri.
"Tipe perempuan Papa itu, yang kek mama Kin ya? Dari ketiga istri, apa mama Kin yang terbaik?" tanyaku hati-hati.
__ADS_1
Kami sudah berada di halaman rumah papa Ghifar. Di bagian samping kanan, terpasang baja ringan untuk naungan mobil. Aku duduk di kursi roda, dengan papa Ghifar duduk di tangga lantai teras.
"Plus minus semuanya. Ya mama Kin masuknya terbaik, di ranjang oke, di pekerjaan rumah oke, di dapur oke, tapi tak bisa didik agama ke anak, bisanya ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah. Ditambah, mama Kin lebih suka menguasai waktu Papa. Biar Papa betah, anteng tuh ya dikangkangi terus. Nurutnya tiada dua. Waktu biyung kau sakit, urus untuk makanannya, Papa suruh antar dan pulang lagi. Mama Kin tak suka Papa terlalu lama di luar, membatasi Papa meski untuk keluarga. Minusnya di situ tuh. Kalau mama Aca, bebas mau ngapain juga, asal izin, asal cerita. Berangkat izin, pulang cerita. Begitu, kalau mama Aca. Mau uang, waktu, bebas. Minusnya, mageran kek biyung kau. Ranjang sih oke, tapi dapur sama rumah ya apa kata nanti aja. Masak tetap diusahakan, tapi harus berdasarkan request makanan. Tak ada yang request, ya tak masak pun dilakuin. Katanya bingung, mau masak apa. Kalau mama Kin berkreasi, yang tak pernah coba masak, pasti diusahakan tuh." Papa Ghifar bercerita, dengan memandang lurus ke depan.
"Kau ada masalah sama istri kau? Tentang apa?"
Aku langsung memandang ke arah wajah papa Ghifar. Aku tidak tahu, jika ia tengah memperhatikanku.
"Bingung, Pa." Aku bingung untuk memulai bercerita.
"Inti masalahnya apa?" Papa Ghifar berdekhem setelah bertanya.
Sepertinya beliau kurang fit.
"Kau harus sadar, bahwa kau pun pasti sedikit melenceng dari harapan orang tua. Apalagi, tentang kau bohongi perihal wisuda."
Benar sekali perkataan papa Ghifar. Tapi aku sudah berusaha menasehatinya, hanya saja Izza tak mau memahami keadaan ini.
"Aku udah nasehati, tak jarang aku dorong dia untuk berbaur. Bukan sesekali aku yang tarik adik aku, untuk dekati dia. Tapi, Izza tetap tak mau berubah. Dia jawab aja tiap kali aku ngomong, aku takut mulut aku kepeleset." Aku merasa mulutku sulit sekali mendeskripsikan masalah ini.
"Kenapa bisa berimbas ke ranjang? Papa sering berantem sama mama Aca, di ranjang ya akur karena Papa butuh. Mau tak mau minta maaf, rayu, baikan, kelonan lagi tetap sih."
__ADS_1
Nah, kenapa aku tidak seperti itu?
"Mood kali ya, Pa? Aku kalau udah gondok, jangankan n****, berdiri pun tak bisa." Aku bertopang dagu.
"Hmm, Papa ingat masalah Papa dulu. Papa dulu mengidap disfungsi e*****, dari muda, dari bujang. Sembuh sama perempuan yang liar aja, sama tante Novi dulu ya masalahnya ini, Papa tak bisa berdiri, tante Novi kurang bisa juga. Coba ke psikiater aja ya? Kau bisa dapat bimbingan dan arahan, kau pun bakal tes kesehatan, hormon dan segala macam."
Aku kaget mendengar fakta ini. Jadi, dalam turunan keluarga Riyana ternyata ada yang seperti itu?
"Papa tak punya saran lain, sebelum aku benar-benar harus ke psikiater?" Aku memandang beliau kembali.
Ia terdiam, seperti memikirkan sesuatu yang lebih jauh. "Kau harus tau penyebab utamanya dan kau bereskan dulu masalah utama itu. Waktu itu Papa sadar penyebab utamanya, terus biyung kau dibawa pergi ke Kalimantan sama ayah kau." Kalimat itu terdengar berat untuk papa Ghifar.
Aku tahu jika papa Ghifar adalah mantan pacar biyung. Ya memang sejahat itu ayahku dan akulah adalah titisannya.
"Izza ingin waktu aku, dia bilang aku tak sayang dia dan tak punya waktu untuk dia. Dia marah aku berbaur dengan keluarga, dia marah tiap kali biyung atau ayah panggil aku. Barusan dia bilang, anak ayah bukan aku aja. Awalnya masalah tempat tinggal, berlanjut ke masalah ini." Perdana, aku mengungkapkannya pada papa Ghifar. Semoga papa Ghifar tidak ember pada ayah dan biyung.
"Berapa jam kau kerja?" tanya papa Ghifar kemudian.
"Delapan jam di luar, tiga jam di rumah tanpa ganguan. Pa, sejak Subuh tuh aku udah nempel ke dia. Bantu dia masak, entah jemur baju. Sore pun ketemu, bergurau, ngobrol di kamar. Maksud aku, ayo ke luar gitu ngobrol sama yang lain. Sejak sore tuh, udah di kamar aja sampai besok Subuh aktivitas lagi. Ayah panggil, aku ke luar kamar untuk bahas kerjaan, itu Izza marah. Nanti dia sakit, aku yang disalahkan ayah." Aku merasa sudah cukup memberinya waktu.
"Papa punya saran, ditambah keadaan kau pun butuh seseorang yang mengurus begini. Jadi gimana, kalau kau ke tempat lain dulu? Ke penginapan nenek, atau tempati rumah Izza dulu. Nanti Papa bantu alasan ke ayah kau. Tadi di depan rumah pak cek kau, om Vendra cerita. Menurut Papa, tak apa kau pindah rumah dulu sementara alasan rumah kau diperbaiki. Kau harus tau, dalam satu atap itu hanya boleh satu ratu dan satu raja. Mungkin penyebabnya, karena kau masih satu atap sama orang tua kau. Biar kau bisa saling mengerti, saling menata dan saling melengkapi."
__ADS_1
Benarkah?
...****************...