
"Maksud kau gimana? Kau ngusir kita, Bang?!" Ardi mendekati kakaknya.
"Iya! Keluar semuanya!" Zuhdi langsung mendorong dada adiknya.
"Gini, gini, gini. Masuk dulu deh." Chandra merangkul pamannya, karena ia tengah menggendong adiknya.
"Hei, Bang. Kita pun anak cucu abu dan ma, kita ada hak di rumah ini." Adik perempuan Zuhdi terlihat begitu berani.
"Oh ya? Ada buat pondasi rumah? Ada patungan untuk beli batu bata? Pasir? Kayu? Semen? Keramik dan lain sebagainya? Apa ada yang buat saluran air juga? Ada yang buat septictank dan WC juga? Bukan mau berpuas diri, bukan menyombongkan apa yang aku punya. Tapi asal kalian tau aja, rumah ini aku yang bangun ulang! Suami kau buka usaha, sekolahin surat rumah ini. Suami kau kabur, aku yang nebus rumah ini di Bank! Tak pernah aku ngerti, kenapa kalian ngelunjak sampai kek gini. Kalau aku nakal, udah dari dulu rumah ini aku balik nama." Zuhdi menunjuk adik perempuannya.
"Kau menantunya teungku haji, Di. Sedangkan kita, kita cuma orang biasa." Satu-satunya kakak Zuhdi keluar dari rumah, wajahnya begitu mirip dengan almarhum ibunya.
"Memang kenapa? Yang kaya mertua aku? Yang dapat warisan, istri aku. Bukan aku! Kau tak tau malunya aku, masa istri minta beras ke orang tuanya dulu. Apa kalian ada bantu? Apa kalian ada nanya kita makan belum? Kalian tak pernah ada di susahnya aku! Masa dulu terang-terangan aku minta bantuan untuk bantu biaya nikah aku dan Giska, kalian angkat tangan. Aku nikah dengan adiknya, tapi kakak-kakak mereka yang bantu biaya dan segala macam barang yang kurang. Kalian ke mana? Tau, kalau kalian tulang kecil, aku pun merasakan sendiri. Setidaknya, kenapa kalian masa itu harus membebani dengan ucapan rokok untuk melekan tak ada, kopi kosong, cemilan tak ada? Hei, cemilan kiloan seperempat sepuluh ribu pun kalian tak mau jatuhkan kan? Rokok paling murah pun, kalian tak mau sumbangkan kan? Anak kau lahir, kau minta stroller harga dua juta ke Giska. Pantas kah kau begitu? Makin ke sini, kalian ini makin ngelunjak." Zuhdi menunjuk saudara-saudaranya satu persatu.
"Orang kaya kok pelit? Kok perhitungan? Begitu ya rupanya ajaran mertuanya?" Aini semakin membuat panas suasana di sini.
"Ya, kami pelit. Ya, kami perhitungan. Ya, memang ajaran nenek buyut moyang kami. Kalau perlu diingat, besok tak usah kerja ya? Nanti dianterin kok pesangonnya. Tak apa cuma buruh juga, juragan yang pelit ini tetap kasih pesangon kok," ucapan Chandra menjadi pemutus nyali-nyali mereka.
"Tak begitu, Bang. Maksudnya kan, Bang Zuhdi ini tak sebaiknya ungkit-ungkit yang udah-udah. Ibaratnya, itu shodaqohnya. Kenapa dibahas, kan malah jadi ria," jelas kakak perempuan Zuhdi dengan nada yang mendadak bersahabat penuh kelembutan.
"Kau tau aku sedekah ke kalian? Kenapa tak terima aja? Kenapa malah nuntut? Asal kalian tau aja, ajaran mertua aku begini! Mertua aku! Kalian ingat! Utamakan saudara dan tetangga untuk bersedekah. Kalian perlu ingat itu, kalian perlu hafalkan itu. Kalau bukan karena nasehat beliau, udah aku shodaqohkan di tempat yang semestinya. Bukan di saudara, yang malah melunjak dan tak tau diri begitu." Zuhdi menatap satu persatu keluarganya dengan tatapan nyalang.
"Dah tuh, rapi-rapi. Dibongkar aja rumah ini, Bu. Daripada ditempati, tapi malah jadi begini." Chandra menyenggol lengan paman iparnya tersebut.
__ADS_1
"Diam ya kau, Chandra!" Aini mengacungkan jarinya ke arah Chandra.
"Iya, aku akan diam dan tak akan pernah dengarkan permohonan kalian lagi besok." Chandra merangkul pamannya. "Ayo, Bu." Chandra mengajak pergi Zuhdi dari rumah itu.
"Mereka tak usah dikasih M I E A Y A M lagi!!" lantang Cala yang merangkulkan tangannya melewati tengkuk kakaknya untuk berpegangan.
Perut Chandra dan Zuhdi bergelombang menahan tawa karena mendengar ucapan anak kecil tersebut. Mereka memaklumi Cala adalah anak yang belum mengerti apa-apa, tapi tidak harus ia berkata di tengah-tengah emosi mereka. Karena menurut Chandra dan Zuhdi, sangat tidak etis jika tertawa setelah membentak-bentak.
"Ya Allah, anak kakak ipar Canda." Zuhdi tetap tertawa akhirnya, setelah cukup jauh dari pekarangan rumah orang tuanya.
"Maklum ya, Bi? Anak bungsu soalnya, sisa-sisa betul begitu ibaratnya," sahut Chandra membuat Zuhdi tertawa lepas begitu renyah.
"Dia begini coba, Bang." Cala membingkai wajah panutan yang menggendong tubuhnya itu, kemudian ia melebarkan matanya semaksimal mungkin.
"Heeeeehhhhh, belum tau aja itu mereka kalau buka mata terlalu lebar biji mata bisa menggelinding."
Chandra mengeluarkan tawa lepasnya, adiknya yang berusia sembilan tahun itu tetap terlihat lucu menurutnya. Bahkan adik perempuan itu selalu ia gendong, meski sudah bertubuh tinggi.
"Udah, Dek. Abu bisa bengek nyampe rumah nanti." Zuhdi mereda tawanya.
"Gemes betul sama Adek nyoe, cuma kita yang mirip ayah." Chandra menciumi pipi adiknya.
"Abang mirip biyung ininya." Cala menyentuh kelopak mata kakaknya.
__ADS_1
"Adek yang mirip ayah betul." Zuhdi mencubit pelan pipi Cala.
"Dayyan mirip Abu." Cala menunjuk wajah Zuhdi.
"Kata Abang sih mirip kakek." Chandra berpendapat sendiri.
"Mirip Hadi sama Ceysa. Kalau dibilang Ceysa sama orang lain, malah Abu tak percaya. Karena Dayyan banyakan mirip Hadinya." Zuhdi mengatur nafasnya yang lelah karena tertawa.
"Pastilah mirip Hadi, malam itu digarap habis-habisan. Ibarat kata, dia kuras stock keperjakaannya. Dari cerita Ceysa tuh, Hadi ngelakuin berulang sampai dia tak sadarkan diri. Pas keluar pun, masih tertanam lah itu punyanya. Udah keburu tepar duluan dia ini." Chandra sesekali memperhatikan jalanan karena sudah tidak rata lagi.
"Abu waktu dulu itu malah sakit, jadi ditunda beberapa hari. Setelah udah fit, perempuannya susah betul dibujuk. Alesan pipis, di kamar mandi dia malah ngumpet tak keluar-keluar. Drama betul malam pertama itu, Bang. Nanti malam pun kau ngerasain sendiri." Zuhdi menggeleng teringat kenangannya.
"Ayah udah kasih stepnya, udah kasih catatan apa yang harus dibeli." Chandra terkekeh kecil.
"Abu dulu dikasih sama ayah kau, semacam pelumas begitu. Eh, entah sama kakek kau. Ingat betul pesan kakek, yang minta Abu jangan maksa anaknya, tapi bujuk. Sampai capek mulut ini, Bang. Dibawa pulang ke rumah orang tua Abu, namanya orang kaya, ngerengek aja tidur di kamar seadanya dengan kamar mandi pun yang belum ada klosetnya. Sehari itu aja nginep di mertua ma kau itu, pasti dia bisa sesuaikan, tapi Abu yang tak tega."
Chandra menangkap cerita tersebut dengan pemahaman lain. Ia langsung teringat akan keinginan Izza yang ingin tinggal di rumahnya sendiri, mungkin karena akan sulit untuk Izza menyesuaikan dirinya dengan lingkungan keluarganya. Meski berbeda rumah, pasti tetap saja Izza akan sering mengurung diri karena tak nyaman. Chandra kini memikirkan bagaimana mereka ke depannya nanti, sedangkan ia tidak akan pernah untuk pergi dari pondok tersebut. Meski berbeda rumah, tapi tetap satu pagar dan satu halaman.
"Jadi Abu yang ngalah ya?" Chandra sempat berpikir ia akan mengalah jika kelak nanti mengalami hal seperti itu.
"Sementara mengalah, tapi…
...****************...
__ADS_1