
"Anak asuh ayah, anak tirinya biyung. Ceysa sama Jasmine itu satu ayah, tapi beda ibu. Jasmine itu, anak istri pertamanya almarhum mangge Lendra. Sedangkan, Ceysa anak mangge Lendra sama biyung." Key tidak mungkin membocorkan aib keluarganya, ia jelas memperhalus kalimatnya.
"Ohh, gitu. Kenapa tak sama ibunya, masa mangge Lendra tak ada?" Izza memperhatikan Key dengan seksama.
"Amanat mangge Lendra sendiri." Key tidak tahu pasti, kenapa Jasmine bersama ibu sambungnya. Jika dirinya lebih memilih Canda, karena ia diberi pemahaman sejak dulu jika ayahnya adalah ayah kandungnya. Jadi, ia tidak punya banyak alasan untuk bertanya lagi. Lagi pula, ia merasa nyaman tumbuh kembang di lingkungan ini.
Izza merasa kehabisan topik pembicaraan, tapi ia ragu untuk membuka percakapan baru dengan topik mertua. Ia ingin tahu pengalaman Key memiliki mertua, agar ia bisa berkaca dari pengalamannya sendiri.
__ADS_1
"Mertua Kakak masih komplit?" Izza mulai membuka topik baru.
"Alhamdulillah, masih komplit. Kalau tiap hari minggu jalan-jalan, ya ngunjungin orang tua bang Fa'ad. Selalu diminta nginep, tapi aku tak cocok sama ipar. Mereka nampak iri, mereka beranggapan bahwa aku metik hasilnya aja. Gaji bang Fa'ad tuh, aku bagi dua untuk tambahin kebutuhan dapur biyung juga mertua. Masa iya, aku harus kasih kebutuhan dapur untuk mereka juga? Tiap aku main, tiap kepala anaknya aku kasih seratus ribuan. Kalau aku main, buah tangan pasti aku bawa. Lebaran, baju anak-anaknya dan juga uang lebaran juga. Masa iya anaknya mau aku zakatin juga? Dikira besar sendiri kali, sampai aku beli mobil mahal beli tanah luas. Bukannya sombong, nyatanya tuh uang dari bang Fa'ad cukup untuk kebutuhan kita aja. Aku pun tak bodoh, setiap pembelian barang mahal begitu, selalu pakai nama aku. Mertua sih ngerti berapa penghasilan bang Fa'ad, berapa kebutuhan kita. Mertua juga paham, kalau aku dari keluarga berada, yang otomatis kebiasaan asupan makanan pun mereka mikirnya pasti mewah. Jadi mereka ngerti, kalau gaji anaknya ya cuma sekedar cukup aja. Pakai emas aku ke sana, disindir di status WA sama ipar. Serba salah sama ipar ini, makan ati kalau di sana. Makanya, lebaran pun aku tak mau nginep. Aku bilang ke bang Fa'adnya, gimana saudaranya ke aku. Mereka berpendapat bahwa aku metik hasil dari pencapaian dirinya, sedangkan gimana ayah yang harus ikhlas anaknya yang selama ini dia biayai, malah hidup dengan laki-laki lain. Bang Fa'ad diam aja pas itu. Awalnya dia marah, aku minta cepat pulang kalau main, aku tak mau nginep. Tapi, sejak aku ngomong gitu dia nurut aja kalau aku minta cepat pulang atau tak mah nginep. Aku berpikir simpel aja. Kalau memang dia lebih berat sama saudaranya dan egonya, ya udah pulangin aja aku ke ayah. Bukan sombong karena punya orang tua kaya, atau karena punya warisan usaha. Aku paham itu hanya titipan. Tapi aku tak ikhlas diri aku disia-siakan sama laki-laki begitu. Aku terlalu berharga, untuk dijadikan budak cintanya." Izza malah fokus dengan kalimat terakhir yang Key ucapkan.
"Memang Kakak tak cinta sama bang Fa'ad?" Izza merasa bahwa dirinya budak cinta suaminya.
"Gimana dengan aku yang sebatang kara, Kak?" Izza menelan ludahnya dan tertunduk.
__ADS_1
"Memang keluarga Chandra jahat ke kau? Mertua baik, ipar care, apa yang jadi beban untuk kau? Chandra? Dia setia selama sepuluh tahun belakang kan? Masalah karakter dia, kau udah hafal dong gimana Chandra ini? Masa, malah dijadikan beban. Sibuknya Chandra? Wajar kali karena dia laki-laki. Bang Fa'ad berangkat kerja dari jam setengah tujuh pagi, pulang paling cepat itu jam satu, pulang paling malam jam sepuluh malam. Jadi bisa dibilang, sepertiga hidupnya itu kerja, istirahat, baru keluarga. Kau kalau tau cerita ayah sibuk, pasti bad mood sendiri. Untungnya, orangnya biyung yang hobinya rebahan. Dibawa ke Kalimantan contohnya. Ayah kerja nih, biyung itu di kamar pribadi yang ada di ruang kerja ayah. Berapa rengekan biyung, berapa banyak air mata biyung, karena ayah pernah lupa kalau biyung di kamar ruang kerjanya. Dia malah pulang ke rumah. Pernah begitu tuh. Enak itu sekarang, masa mereka tua. Muda sih, ya punya waktu itu sebentar. Itu rutinitas laki-laki, Za. Kau harus maklumin, meskipun Chandra anak orang kaya, dia harus tetap kerja dan berusaha untuk mempertahankan segalanya dan memajukan apa yang diberikan untuknya. Kau harus tau, fakta laki-laki itu tuh ya begitu. Jadi kau jangan berharap dierami aja, itu tandanya laki-laki malas tuh. Kakek dulu pernah cerita, dia diusir dari rumah, karena nenek mau kakek kerja. Kan kakek peladang, kerjanya apa sih namanya juragan? Tapi ngecek itu hal yang penting untuk nenek, jadi sampai tiap hari ada kegiatan tuh jadinya. Kata nenek laki-laki di rumah aja tuh nampak malesnya, bikin malu kesannya kek pengangguran. Nanti malah tak terlatih, kalau ada masalah di lapangan, misal ia hanya di rumah aja nerima hasil. Paham pengantin baru, aku pun merasakan juga. Malah bang Fa'ad masa itu jadi dosen biasa, belum ada tugas tambahan dan bayaran tambahan. Hari esoknya, kita udah bahas tentang rencana kedepannya biar tak cuma gaji dan tunjangan aja. Lusanya bang Fa'ad mulai cari informasi ini itu, yang benar-benar nyita waktunya untuk aku. Tak masalah, aku paham dia punya tanggung jawab untuk memenuhi kehidupan aku. Bahkan, dia beberapa kali bolak-balik ke rumah orang tuanya karena kalau abis akad itu ada aja kerunyaman di rumah. Entah rumah masih berantakan, beberes, buang sampah kan sampai karung-karungan, mau tak mau ya bang Fa'ad tindak. Kalau kau beranggapan itu masalah, kau siap-siap jadi tulang punggung sedangkan Chandra bertelur di rumah. Kau keknya kurang dewasa deh, Za. Kau tak pernah dengar nasehat orang tua, atau pengalaman orang lain kah?" Key begitu mudahnya berbicara banyak dan cepat.
Izza merasa apa yang dikatakan oleh kakak iparnya adalah masalahnya. Ia merasa ucapan kakak iparnya itu benar, sedangkan pemahamannya kemarin itu salah. Unek-uneknya seolah dikupas dengan satu pembahasan dengan Key saja.
"Aku tak pernah dengar. Memang rumah tangga itu gimana?" Izza memusatkan perhatiannya pada Key.
...****************...
__ADS_1