Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA116. Izza drop


__ADS_3

"Kau tak apa?" Izza nampak begitu pucat, saat ia baru keluar dari dalam alat tersebut. 


"Pusing." Izza menekan pelipisnya. 


Cukup lama ia berada di dalam sana, pucat pasi kini menghiasi bibirnya. Izza seperti mendadak tengah sakit parah, aku panik melihat keadaannya. 


"Untuk hasilnya, nanti diinformasikan lewat dokter Fardan ya, Bu?" Izza mendapat tensi dari petugas kesehatan yang tadi. 


"Dokter Fardan itu yang dokter kandungan itu ya?" Aku memastikan namanya, karena memang aku tidak tahu nama dokter laki-laki tersebut. 


"Iya benar, dokter Fardan Salahudin." Perawat tersebut mengecek mata Izza. 


Duh ngeri juga, sampai dicek matanya. Aku yakin, pasti ada efek tertentu sampai mata pun dicek. 


"Bisa langsung pulang dan istirahat ya, Pak? Cantumkan nomor telepon di sini, biar dihubungi oleh pihak asisten dari dokter Fardan sendiri." Perawat menyodorkan data Izza padaku. 


"Di mana nulisnya?" Karena datanya sampai hampir memenuhi kertas. 


"Ia bagian atas saja, Pak." Ia menunjukkan letaknya. 


Aku membubuhkan nomor teleponku di situ, kemudian kami dipersilahkan untuk keluar karena ada pasien lainnya. Izza tidak mau langsung pulang, ia merasa pusing dan tidak tahan berada di dalam mobil. Ia memilih untuk duduk di bangku taman rumah sakit, dengan menikmati terpaan anginnya.


"Apa mau makan?" Aku bingung, karena minum pun ia menolak. 


"Jalan kaki aja yuk pulangnya." Ia tersenyum padaku. 

__ADS_1


"Kenapa sih?" Aku kaget mendengar permintaan konyolnya. 


"Kek mendadak sesak napas kalau di ruangan s****t, masih kebayang-bayang di dalam sana." Izza geleng-geleng kepala. Seperti mendadak memiliki Claustrophobia istriku ini. 


"Mau telpon Zio aja kah, ke sini suruh bawa motor. Nanti Zio yang pulangnya bawa mobil, tukeran gitu." Karena sudah satu jam kami duduk di sini. 


"Jangan buat susah orang lain deh, aku naik ojek aja gitu."


Memang bisa pilihan seperti ini, tapi kan ia sedang sakit. Masa aku tidak menemaninya? Masa aku malah enak di mobil? Kan tak begitu caranya menurutku. 


"Tak ah, kasian." Aku membelai pelipisnya. 


"Abang tuh sering betul ngomong kasian ke aku. Aku ini memelas betul kah? Padahal aku tak banyak ngeluh." Izza cemberut padaku. 


"Ya namanya ke istri sendiri, tak tega lah." Aku merangkulnya dan Mengusap-usap tubuhnya. 


"Jendela mobilnya nanti dibuka aja, biar kena angin. Kau tengok keluar aja, biar tak ngerasa sesak." Saat Cala mabuk kendaraan, ayah selalu melakukan pilihan seperti itu.


"Ya gitu pun tak apa deh. Daripada nelpon Zio suruh ke sini pakai motor, tak enak mana tau dia sibuk." Ia tersenyum manis. 


"Ya tak usah mikirin tak enak kali, kan adik ipar sendiri." Aku bangkit dan menuntunnya untuk berjalan juga. 


"Kan dia mau jadi pengantin, lusa dia sebar undangan. Kan dia tak boleh ke mana-mana tuh, Bang."


Eh, iya. Aku lupa dengan hal itu. 

__ADS_1


Mau menikah pun, dia tetap bekerja dan kuliah. Jadi, kadang aku lupa ia akan memiliki hajat besar. 


Harusnya aku mengikuti langkah-langkah seperti Zio, seperti cek darah terlebih dahulu dan segala macam. Bukan untuk menggagalkan pernikahan, jika diketahui pasangan kita tengah sakit. Tapi untuk mencegah lebih dini dan mengobati lebih dini, untuk mencegah hal-hal buruk yang ditimbulkan setelah pernikahan. 


Tapi namanya juga menikah buru-buru, boro-boro terpikirkan hal seperti itu.


Lusanya saat Zio menebar undangan, Izza malah jatuh sakit. Ia jatuh pingsan secara tiba-tiba, saat tengah membuat sarapan untukku. 


Pak wa langsung dihubungi. Yang datang tidak hanya pak wa, Bunga pun datang dan langsung membantu biyung menyelesaikan pekerjaan Izza. 


Izza sebelumnya beraktivitas seperti biasa, sebelum kejadian tahu ia memiliki fibroid rahim pun ia memang sering melamun. Jadi, aku tidak begitu risau karena memang itu sudah seperti perubahan lama. 


"Tukak lambung, plus kurang darah. Ini sesuatu yang fatal, Van." Pak wa geleng-geleng kepala setelah mengecek keadaan Izza. 


"Jadi gimana? Dibawa ke rumah sakit kah? Aku tau itu fatal, aku ingat mamah pernah ngalamin juga." Ayah terlihat khawatir memperhatikan menantunya yang belum juga sadarkan diri. 


"Dia ini ada stress keknya, terus jadi kurang tidur. Bisa pingsannya ini, karena kurang darahnya." Pak wa membereskan alat-alat medisnya. 


"Jalan keluarnya gimana, Bang?" Ayah menoleh ke arahku sekilas. 


"Kalau dibawa ke rumah sakit, takutnya tak nyaman dengan suasana di sana dan dia nambah stress. Lagi ada masalah keluarga kah? Diselesaikan gitu loh, damai aja. Biar dia plong gitu." Pak wa menatapku. 


"Tak ada masalah, Pak wa. Izza tuh kena fibroid rahim, dua hari yang lalu selesai MRI. Mungkin dia was-was nunggu hasilnya, atau kepikiran sakitnya itu terus. Sekalipun dokter bilang dia tak apa, penyakit itu tak ganas. Tapi mungkin dia kepikiran terus, Pak wa. Padahal aku udah nasehati tiap kali mau tidur, tak apa tenang aja. Tapi pikiran dia terlalu ke mana-mana, segala mikirin aku nikah lagi tak kalau dia tak bisa kasih anak," ungkapku kemudian. 


"Kalau pikirannya seburuk itu, risiko lebih buruk bisa terjadi ke dirinya. Apalagi ada tukak lambung, udah fatal kalau dibarengi dengan kurang darah begini. Siang nanti cek HB di klinik Pak wa ya? Semoga HBnya juga tak rendah. Kalau rendah juga, Pak wa sarankan tunda aja dulu penyembuhan fibroidnya. Tunggu dia siap, tunggu dia tenang. Karena memang fibroid tuh memang tak apa, lima dari enam perempuan tuh pasti menderita fibroid. Kenapa perbandingannya enam? Karena tak seluruh perempuan di dunia memiliki keadaan seperti itu, soalnya ini genetik. Jadi tak akan habis masanya, karena satu perempuan yang memiliki fibroid genetik, akan melahirkan beberapa perempuan dengan fibroid genetik juga. Gitu tuh, Bang. Kadang ada yang tak menyadarinya, sampai habis umurnya. Yang nyadarin, biasanya tempat fibroidnya mengganggu pertumbuhan janin atau kesuburan, makanya ditindaklanjuti. Ada juga yang tau dia punya fibroid, tapi dibiarkan aja ya ada. Macam-macam keadaannya, satu jenis fibroid tak akan sama pertumbuhannya di tubuh yang berbeda. Ada yang puluhan tahun, nambah beberapa milimeter. Ada yang baru kisaran berapa tahun aja, udah hampir menyentuh angka kilo. Yang punya fibroid tuh, biasanya tak cuma ada satu fibroid, bisa puluhan juga dengan ukuran yang berbeda. Kalau lanjut penanganan, keadaan Izza lagi tak memungkinkan. Pasti ditunda lagi, ditunda lagi. Karena tindakannya nunggu badan sehat dan pikirannya yang positif. Soalnya, tindakannya ini beresiko pendarahan. Kalau ditambah tubuh tak fit, takutnya dia yang ngedrop di ruang operasi." Andai penjelasan dokter bisa sedikit menenangkan seperti pak wa. 

__ADS_1


Andai Izza bisa me-manage pikirannya. Andai ia bisa tidak memikirkan penyakitnya. Pasti, maagnya tidak akan sering kambuh dan ia tidak kurang darah. 


...****************...


__ADS_2